
Itu juara karate! !
Bagaimana bisa orang biasa menanganinya?
Lihatlah saja Vincent ini, lengan dan kakinya terlihat kurus, lemah, tidak terlihat punya otot sama sekali! Berani sekali dia bicara seperti itu pada seorang juara?
Bukankah ini lucu?
Semua orang di sekitar tertawa.
Yang lain terus memberi nasihat pada Vincent, menyuruhnya untuk tidak bertindak gegabah.
Namun, Vincent mengabaikannya, menutup telinga terhadap segala omongan banyak orang.
"Sungguh orang yang ceroboh, bahkan jika kamu tidak mati hari ini, kamu pasti tidak akan bisa hidup dengan normal lagi kedepannya!"
"Betul! Kamu jelas tidak sadar diri!"
Orang-orang mulai mencacinya.
"Lebih baik segera panggil ambulan dari sekarang, kalau tidak, kamu tidak akan bisa diselamatkan jika terlambat sedikit saja!"
Seseorang menggelengkan kepalanya dan menghela nafas.
Jenice tersadar dari mabuknya dan buru-buru menarik lengan Vincent dan berkata, "Kakak ipar, ayo kita pulang saja, jangan menambah masalah lainnya, jika kita bertarung dengannya, kita pasti akan kalah."
“Jenice, kapan kakak iparmu pernah kalah?” Vincent berkata dengan suara serak.
"Tapi..."
“Kamu masih belum tahu kemampuan kakak iparmu? Seorang juara karate juga tidak akan bisa melawan kakak iparmu ini! Terlebih lagi, jika dia sudah berani memukulmu di depan kakak iparmu, itu artinya dia juga sudah memukulku secara tidak langsung, jika aku tidak membalas perbuataannya hari ini, bukankah itu sama saja dengan meremehkanku?"
Vincent berkata dengan tenang, kemudian maju selangkah dan berjalan menuju Bang Sabem.
Seorang juara karate akan bertarung dengan orang kecil?
Sangat gila kan?
"Kakak ipar!"
Jenice langsung menarik Vincent.
Tapi dia tidak bisa menghentikannya sama sekali.
Suara-suara di sekitarnya berangsur-angsur menjadi lebih tenang.
Mereka semua melihatnya dengan antusias, menahan napas, menatap Vincent dengan bingung.
__ADS_1
Tidak ada yang mengira bahwa bocah konyol ini benar-benar ingin menantang seorang juara karate! Kukira dia hanya menggertak awalnya ...
"Dessy!" Bang Sabem menatap Vincent dan berteriak.
"Ada apa?"
“Segera telepon ambulan 120.” Bang Sabem tersenyum pada Dessy dan maju selangkah dengan tangan terlipat.
“Jangan bunuh dia, patahkan saja kaki atau tangannya! "Dessy melirik Vincent dan berkata dengan jijik, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon nomor ambulan 120.
"Awalnya, aku tidak tega untuk menindas orang biasa, tapi kamu sudah cari masalah dengan wanitaku, maka jangan salahkan aku, jangan bilang kalau aku tidak memperingatkanmu, kamu silahkan serang aku duluan, akan kulihat tinju kecilmu itu apa bisa meninggalkan luka di tubuhku!" Bang Sabem berkata sambil tersenyum dan membanggakan dirinya.
“Aku tidak pernah meninggalkan bekas luka saat memukul seseorang.” Vincent mempercepat langkahnya dan berjalan menuju Bang Sabem.
“Sepertinya memang kamu sangat lemah.” Bang Sabem tersenyum santai.
Ketika kata-kata ini terucap, Vincent sudah melangkah di depannya, dia langsung melancarkan tinjunya ke bahu Bang Sabem.
Bang Sabem terlihat sangat merendahkannya, dia mengangkat tangannya untuk menahan tangan Vincent.
Dukk!
Bang Sabem cukup cepat, dia bisa menggenggam pergelangan tangan Vincent dengan tepat, dia bisa memegang lengan yang sedang melaju kearahnya.
Namun, kekuatan pukulan itu tidak berhenti … dia sadar bahwa pukulan Vincent tidak bisa dihentikan sama sekali, kemudian langsung melesat lagi tanpa ada halangan.
"Hah?"
Detik berikutnya.
Krekkk!
Suara tulang yang patah terdengar.
Yang terjadi selanjutnya adalah jeritan dari Bang Sabem bergema di mana-mana.
"Arghhhh!!!"
Dia memegang lengannya sendiri dan berteriak histeris, seluruh tubuhnya langsung berguling di tanah, terus bergerak tidak karuan.
Ketika situasi ini terjadi, semua orang tercengang.
Mereka hanya melihat Vincent mengarahkan tinjunya ke bahu Bang Sabem, dilihat dari tinju Vincent, memang tidak terlihat terlalu kuat, tapi bisa membuat Bang Sabem terus berteriak tanpa henti.
Apa yang sudah terjadi?
Apa yang sudah dilakukan Vincent?
__ADS_1
Bagaimana bisa seorang juara karate dikalahkan?
Semua orang bingung.
Dessy bahkan lebih terkejut, dia bergegas untuk membantu Bang Sabem.
“Jangan sentuh bahuku!" Teriak Bang Sabem.
"Bang Sabem, kamu … ada apa denganmu? Apakah kamu baik-baik saja? "Dessy cemas, air matanya mulai mengalir.
"Bahuku… sudah retak ..." Bang Sabem berteriak kesakitan.
“Retak?” Dessy langsung terkejut.
Semua orang juga tampak terkejut.
Entah kenapa, bagaimana bisa bahu Bang Sabem retak?
Mungkinkah Vincent sudah melakukan sesuatu?
Tetapi di bawah tatapan mata semua orang, Vincent hanya melakukan pukulan biasa! Apa artinya pukulan biasa dimata seorang juara karate?
Tidak ada yang tahu jawabannya.
Tapi di detik berikutnya, Vincent tiba-tiba datang lagi dan menendang dada Bang Sabem itu.
Uhuk!
Bang Sabem memuntahkan darah segar di tempat, tubuhnya terdorong sejauh 3 sampai 4 meter, sampai akhirnya berhenti di ujung jalan, beberapa tulang rusuk di dadanya langsung patah.
"Hah?"
Semua orang terkejut.
Dessy berteriak ketakutan.
Vincent tidak berani terlalu banyak menunjukan kemampuannya, jika terlalu mengejutkan maka akan sulit menjelaskan, lagi pula, semua orang menonton adegan ini, jadi cara yang digunakan hanya cara biasa seperti perkelahian jalanan pada umumnya.
Dia mengambil kursi kayu tebal di sebelah meja dan berjalan menuju juara karate yang sudah tergeletak di tanah, setelah mendekat, dia langsung membantingnya dengan keras.
Setiap serangan yang dilakukan menggunakan seluruh kekuatannya … dia tidak menahan diri
Dakk! Dakk ! Dakk! Dakk...
Suara nyaring terus terdengar.
Kemudian terdengar tangisan menyedihkan dari Bang Sabem.
__ADS_1