
Melihat pemandangan ini, Via menarik nafas, tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Kakek!" Dia segera berteriak keras. Tapi Gusron sudah keluar. Pintu tertutup rapat.
"Kelihatannya Gusron cukup mengerti situasi." Jotaru tersenyum tipis mengatakannya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Via terus mundur ke belakang, bertanya dengan tubuh gemetaran.
"Melakukan apa?"
Jotaru membuka kipas lipat, tersenyum pelan sambil berkata : "Kamu tenang saja, jika aku sungguh ingin melakukan sesuatu padamu, maka tidak akan memilih tempat seperti ini!"
Via diam-diam merasa agak lega, menggertakkan gigi melototi Jotaru sambil berkata : "Lalu, apa yang ingin kamu katakan padaku?"
"Bukannya ingin membicarakan apa-apa padamu, melainkan ingin memperingatkanmu akan beberapa hal."
"Peringatkan?"
"Aku hanya bertanya satu kali padamu, kamu mau ikut aku pulang ke Sekolah Kaisen atau tidak?" Jotaru bertanya.
"Tidak!" Via hampir tanpa keraguan mengatakannya, kedua matanya menatap Jotaru erat-erat, wajah kecil luar biasa serius. Tapi begitu kata-kata ini terlontarkan.
Prakkk!
Satu tamparan dilayangkan ke wajah Via.
Di wajah Via langsung muncul bekas telapak tangan merah, dia tidak waspada sehingga terjatuh ke lantai, sudut mulut bahkan mengalirkan sedikit darah.
"Kamu memukulku?" Via memandang Jotaru dengan tidak percaya.
"Memangnya kenapa kalau memukulmu? Apakah kamu pikir di sini adalah Keluarga Melken maka aku tidak berani melakukan apa-apa padamu?" Jotaru menyipitkan mata mengatakannya, ada keganasan di dalam pupil matanya
"Kakekmu dan Sekolah Kaisen sudah memiliki strategi kerjasama yang sangat penting, Keluarga Melken kalian tidak mungkin menyinggung Sekolah Kaisen kami, tapi selama bukan hal keterlaluan, Keluarga Melken tidak akan bersuara sedikit pun, jadi kamu jangan berharap Keluarga Melken datang menyelamatkanmu."
"Memukul orang apakah masih tidak termasuk keterlaluan?" Via bertanya sambil membelalak.
"Selama tidak pukul sampai mati, Keluarga Melken dan Sekolah Kaisen bisa menyembuhkannya, termasuk ini? Terlebih lagi, kamu sudah akan menikah denganku, menjadi bagian anggota Keluarga Kujo, aku memukulmu hanya caraku mengajari istri, siapa yang berani mengatakan sesuatu?"
Kata-kata terlontarkan, Jotaru melayangkan satu tamparan lagi ke arah wajah Via. Via menarik nafas, segera menghindar.
"Berani menghindar?" Mata Jotaru menunjukkan kenikmatan yang ganas dan membara, lalu menendang lagi ke arah Via.
Via lengah, perutnya mendapat satu tendangan, membuat dia kesakitan hingga tengkurap di lantai, bahkan kesulitan untuk bangkit.
Pada saat ini Via baru mengerti, ternyata Jotaru memiliki kecenderungan untuk melakukan pelecehan.
Dibandingkan melakukan hal itu, dia lebih nikmat ketika menyiksa dan memukul orang, dia lebih menikmati ekspresi menderita orang lain yang ditunjukkan di hadapannya.
Ini adalah orang abnormal! Orang abnormal yang nyata!
Via mengertakkan gigi, tidak tahu tenaga dari mana, dia terburu-buru berbalik dan lari menuju ke arah papan leluhur.
"Ingin lari? Heh, hari ini tidak baik-baik memberi pelajaran pada wanita murahan seperti kamu, aku Jotaru masih memiliki hak apa untuk menjadi priamu?" Jotaru sambil mencibir, menyimpan kipas lipatnya, meraih sapu tipis di sampingnya, lalu berlari ke arah Via.
Di sini tidak ada tempat bersembunyi, satu-satunya hanya kotak penyimpanan yang ada di tengah aula keluarga.
__ADS_1
Tanpa berpikir Via langsung masuk ke dalam kotak penyimpanan itu, tapi kunci kotak itu rusak. Dia tergesa-gesa mengirimkan sebuah pesan pada Vincent, lalu menggunakan kedua tangan menarik pintu kotak erat-erat.
"Setelah masuk ke Keluarga Kujo, maka harus belajar satu hal, yaitu patuh mendengar kata-kata suami adalah titah kaisar, kamu harus melakukan apa yang aku suruh kamu lakukan, aku menyuruhmu pergi ke timur, kamu tidak boleh pergi ke barat!"
Kata-kata terlontarkan, Jotaru langsung menjatuhkan tongkatnya ke tangan Via yang menahan pintu kotak itu.
Rasa sakit yang hebat membuat Via terkesiap.
"Tolong!" Via berteriak panik. Tapi tidak ada orang yang meresponnya.
"Walaupun orang dari Keluarga Melken mendengar kamu minta tolong juga tidak akan menolongmu, kamu menyerah saja! Sekarang, kamu cepat merangkak keluar, jilat sepatuku, dengar tidak?" Jotaru sambil tersenyum mengatakannya.
"Meskipun aku mati, juga tidak akan menurutimu!" Via berteriak keras.
Tapi setelah kata-kata terucapkan, tongkat sapu itu dengan keras dilayangkan ke sini lagi. Jari-jari Via yang terlihat dari celah dalam sekejap membiru, rasa sakit membuat dia menggigil.
"Keluar atau tidak?" Jotaru bertanya sambil menyipitkan mata.
"Kamu akan berakhir tragis!" Via berteriak lagi. Tapi detik selanjutnya.
Prakkk!
Tongkat sapu menyerangnya lagi.
"Ah." Rasa sakit yang hebat membuat Via tidak bisa menahan diri untuk berteriak.
"Keluar atau tidak!" Jotaru berteriak ganas.
Via menggertakkan gigi, tubuh indah terus menggigil kesakitan, tapi tetap memegang pintu erat-erat, bagaimanapun tidak bersedia melepaskan tangan!
Krakkk. Via bisa merasakan dengan jelas suara yang dikeluarkan saat jari-jarinya patah. Dia sudah hampir pingsan kesakitan. Tidak tahu sudah berlalu berapa lama.
Tok tok tok!
Terdengar suara ketuk pintu di aula keluarga.
"Ya?"
Senyuman di wajah Jotaru jadi kaku, mulai mengerutkan kening melihat ke arah pintu.
"Siapa?"
"Tuan muda Kujo, tuan meminta Anda ke sana sebentar." Di luar pintu terdengar suara orang Keluarga Melken.
"Kenapa? Gusron merasa kasihan? Hehe, baiklah, hari ini aku akan melepaskan nona kalian, tunggu setelah nonamu menikah denganku, aku baru pelan-pelan membuat perhitungan dengannya." Jotaru tersenyum pelan, kemudian membuang sapu yang penuh darah itu, berbalik keluar dari ruangan.
Begitu Jotaru pergi, beberapa anggota Keluarga Melken menerobos ke dalam.
"Nona, Anda tidak apa-apa bukan?" Seorang pelayan bertanya sambil terisak.
"Aku.aku tidak apa-apa." Setelah Via menunjukkan senyuman canggung, lehernya miring langsung pingsan.
"Cepat, bantu nona perban dan bawa nona pergi istirahat." Beberapa orang sibuk berteriak.
Setelah beberapa saat, kedua tangan Via diperban hingga besar sekali, orangnya juga sudah dibawa ke kamar untuk beristirahat. Dia telah sadarkan diri, tapi wajahnya penuh ketakutan.
__ADS_1
Jotaru ini begitu abnormal dan menakutkan, tidak mengatakan masalah Via menikah atau tidak dengannya, dalam situasi seperti ini, jika dia menikah ke sana, bisa bertahan hidup atau tidak masih sebuah pertanyaan?
Tubuh indah Via menggigil pelan, namun di dalam benaknya sudah membuat keputusan.
Kabur! Pasti harus kabur! Jika tidak bisa kabur maka langsung bunuh diri. Walau bagaimanapun tidak boleh menikah ke sana.
Tapi pada saat ini, mendadak kepala pelayan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar.
"Nona! Mohon segera ikut aku pergi ke aula utama!" kepala pelayan berkata.
"Untuk apa?" Via bertanya sambil gemetaran.
"Tuan sudah selesai menegosiasikan mas kawin dengan tuan muda Kujo, nona, mohon Anda segera ganti pakaian dan lakukan ritual penghormatan teh, kermudian menikah ke dengan Keluarga Kujo di Sekolah Kaisen."
Begitu kata-kata terlontarkan, Via bagaikan disambar petir, tercengang di tempat.
"Kakek, apakah begitu tidak sabar ingin aku mati?" Suara Via terisak-isak.
"Nona, tuan juga demi kebaikan dirimu dan Keluarga Melken, semoga kamu bisa memahaminya." kepala pelayan berkata dengan suara pelan, berbalik dan berbicara pada orang di sebelahnya
"Bantu nona ganti pakaian, cepat bawa ke aula utama, waktu mendesak jangan sampai menunda lagi!" Selesai bicara, langsung keluar dari ruangan.
Via dituntun untuk berdiri, bagaikan boneka dipakaikan gaun pengantin oleh orang lain. Tapi jelas sekali dia tidak bersedia diatur orang seperti ini, saat ganti pakaian, dia diam-diam menyembunyikan gunting di bawah lengan bajunya. Kira-kira sepuluh menit kemudian, Via dibawa ke aula.
Melihat sepuluh jari-jari Via yang terbungkus kain kasa serta bekas merah telapak tangan yang belum menghilang itu, tidak ada perubahan besar pada ekspresi wajah Gusron.
Jotaru duduk di atas bangku, sedang minum teh dengan santainya dan menggoyangkan kipas. Melihat Via berjalan ke sini, di dalam matanya penuh gejolak bergairah.
"Kakek, mengapa mau memperlakukanku seperti ini?" Mata Via menunjukkan penderitaan, bertanya dengan wajah penuh air mata.
"Kakek juga memiliki kesulitan sendiri, pokoknya asalkan kamu tahu, kakek tidak akan mencelakaimu." Gusron berkata dengan serak
"Sudahlah, cepat ke sini untuk bersujud pada calon suamimu nantinya!"
"Bersujud? Tidak mungkin!"
"Kelihatannya pelajaran barusan masih belum cukup!" Jotaru meletakkan cangkir teh, berkata sambil tersenyum.
Ekspresi Via berubah, tiba-tiba menggertakkan gigi berkata : "Baik, aku akan bersujud padamu!"
"Oh? Sudah jelas memikirkannya ya? Baiklah, ayo kemari!" Jotaru merasa agak terkejut.
Via tidak bicara lagi, hanya selangkah demi selangkah berjalan berjalan ke arah Jotaru.
Tapi pada saat dia mendekati Jotaru, Via tiba-tiba mengeluarkan gunting yang dia sembunyikan di bawah lengan baju, dengan kejam menusuk ke arah Jotaru.
"Kamu pergi mati saja!"
"Via!"
"Nona!"
Orang-orang di sekitar terkejut sekali. Tidak ada yang mengira ternyata Via sekuat ini.
Tapi Jotaru tidak panik. Karena tangan Via sudah terluka, dia sama sekali tidak bisa memegang gunting dengan stabil, pada saat gunting sudah mendekat, tiba-tiba Jotaru dengan cepat sekali memegang gunting itu dengan tangan terbalik, kemudian dengan kejam menusuk ke perut Via.
__ADS_1
Via tidak waspada, gunting langsung menusuk ke dalam perut dan darah segar mengalir ke bawah...