
Perkataan Dong Min ini langsung mengejutkan semua orang di sekeliling meja.
Bahkan beberapa tamu yang sengaja berdiri lebih dekat itu juga dibuat tercengang.
Otak Greni saat ini langsung terasa kosong, dirinya seperti sudah kehilanagn roh dalam tubuh.
" Sutradara Dong, ini...ada apa sebenarnya? Bukankah kamu sudah memastikan anakku menjadi pemeran wanita utama? Bagiamana tiba-tiba berubah?" Judo juga langsung bangkit berdiri untuk bertanya.
"Ini... Sutradara Dong, apakah ada kesalahpahaman di dalamnya? Apakah karena kesalahan yang kami lakukan? kamu katakan saja, asal kamu katakan, kami pasti akan merubahnya, pasti berubah" Greni yang sudah tersadar itu langsung berkata sambil tersenyum.
"Tidak perlu, Nyonya Greni,Tuan Dormantis, kru kami sudah membuat keputusan, untuk sementara membatalkan peran Nona Jenice, maafkan kami."
Sesudah mengatakan ini, Dong Min bangkit berdiri, menganggukkan kepala meminta maaf dan kemudian membalikan tubuh dan pergi.
" Sutradara Dong ! Sutradara Dong !"
Greni dibuat terkejut hingga wajahnya pucat, bangkit berdiri ingin mengejarnya.
Namun gerakannya ini langsung dihentikan oleh asisten dan staff yang mengikuti Dong Min.
" Sutradara Dong ! Tolong jangan seperti ini, putriku adalah pemeran wanita utama, kamu tidak boleh merubahnya menjadi orang lain! Sutradara Dong !Berikan aku penjelasan!" Greni berteriak, ekspresi wajahnya pun sudah berubah.
Tangan dan kaki Judo menjadi dingin karena sangat terkejut.
Sementara Jenice, kebalikkanya tidak telihat banyak bereaksi.
Karena dia sendiri sudah tidak ingin berakting.
Jika sikap orang tuanya seperti itu, bagaimana dia masih memiliki wajah untuk pergi berakting? Bagaimanapun ini adalah hasil yang diperjuangkan Vincent untuknya!
Lebih baik dianggap mengembalikannya kepada kakak ipar sekarang.
Judo dan keluarganya meninggalkan area jamuan di dalam hotel dengan wajah yang sudah kehilangan roh.
Ada yang mengatakan Greni berjalan keluar hotel dengan menangis kencang, seluruh ruangan hotel itu seakan bergetar oleh suara tangisannya.
Vincent merasa bosan, sesudah menyapa Jenice, dia pun pulang sendiri.
Dia pada awalnya pergi ke Lavishta International, ingin melihat apakah Jane sudah tersadar dari mabuknya, namun ketika dia sampai, dia menemukan pintu terkunci dan kunci yang diberikan Jane tidak bisa digunakan untuk membukanya.
Terlihat jelas, Katrina sengaja menguncinya.
Dalam ketidakberdayaan ini, dia hanya bisa kembali dan tinggal satu malam di Vallamor.
Keesokan paginya, Edwin sudah membawa Ezra datang dan berdiri di depan pintu masuk kantor Vincent.
__ADS_1
Ada yang mengatakan bahwa mereka berdua sudah menunggu di pintu depan kantor sejak pukul empat pagi, ketika pintu dibuka mereka pun pergi menunggu di sana.
Frank juga sudah mendengar masalah ini, dia juga tidak menghentikannya, ketika sudah pukul delapan pagi, dia baru pergi memberitahu Vincent.
"Biarkan mereka masuk."
Vincent duduk di kursi utama, sedang merebus teh dan meregangkan tubuh.
Mereka berdua masuk.
Ezra langsung berlutut di hadapan Vincent dan menampar diri sendiri sepuluh kali.
"CEO Bermoth, semua ini adalah kelalaianku, membuat bawahanku menyinggung anda, tolong kamu bisa memaafkannya." Ezra membenturkan kepala ke tanah, tubuhnya gemetar dan berkata dengan suara yang bergetar.
“Bangunlah, kamu harus lebih memperhatikan hal ini di masa depan, beritahu juga bawahanmu untuk lebih menjaga sikapnya, apakah kamu mengerti?” Vincent berkata sambil menyesap teh.
“Baik CEO Bermoth, terima kasih CEO Bermoth! Terima kasih CEO Bermoth!” Ezra merasa sangat gembira dan langsung membenturkan kepalanya di tanah.
Edwin di sampingnya juga merasa sangat lega.
“Bagaimana kesehatan ayahmu?” Vincent bertanya dengan ringan.
"Terima kasih atas kebaikan CEO Bermoth, tubuh ayahku sudah sehat, dia sudah bisa makan dan minum lagi."
“Orang tua itu sudah semakin tua, jadi harus lebih diperhatikan, ketika keluar dari sini, minta Frank untuk mengambil beberapa suplemen dari Grup Vallamor dan memberikannya kepada tetua, anggap sedikit hadiah dariku. Jika tidak ada hal lain, kalian bisa kembali." Vincent berkata sambil melambaikan tangan.
Edwin juga merasa sangat berterima kasih, pada saat dia akan pergi, tiba-tiba Edwin berkata: "CEO Bermoth, Dong Min sudah membatalkan peran Jenice sebagai tokoh wanita utama."
Vincent terdiam sejenak: "Aku sudah mengetahuinya."
Kali ini Edwin baru pergi.
Pada saat ini Jane menelepon.
“Kamu dimana?” Sepertinya Jane baru terbangun, suaranya masih terdengar sedikit mengantuk.
"Oh, sedang jalan-jalan di luar," kata Vincent dengan santai.
"Cepatlah kembali, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Hal apa?"
Mungkinkah ini berkaitan dengan Jenice?
Vincent ragu-ragu singkat dan langsung berangkat ke Lavishta.
__ADS_1
Pada awalnya dia berpikir bahwa Jane akan berada di kantor, siapa yang menyangka dalam kantor itu kosong melompong, ketika dia mencapai tempat tinggal Jane, Vincent melihat saat ini Jane sedang duduk dengan seorang wanita berambut pendek dan sedang membicarakan sesuatu.
Jane juga masih mengenakan piyama berwarna merah muda, sangat lucu, walau wajah kecilnya sedikit pucat dan masih ada aroma alkohol di tubuhnya.
Wanita dengan rambut pendek yang duduk di hadapannya juga sangat cantik, kulit yang putih, mata cerah dan gigi putih, terutama sepasang kaki ramping yang mengenakan stocking hitam membuatnya terlihat sangat sempurna, pria manapun yang melihat kemungkinan akan sulit mengalihkan pandangannya.
Melihat Vincent yang berjalan masuk, wanita berambut pendek itu menyeka air mata dari sudut matanya dalam diam, kemudian langsung bangkit berdiri dan dengan wajah yang tersenyum berkata: "Jane, ini adalah Vincent suamimu kan?"
"Ya, bagaimana menurutmu?" Jane juga berkata sambil tersenyum.
Wanita itu memandang Vincent singkat kemudian sambil menganggukan kepala berkata: "Cukup bagus kok, jika mengenakan jas pasti tidak akan ada masalah."
"Baiklah kalau begitu, biar Vincent yang mengurus masalah ini bersamamu!" Jane berkata sambil tersenyum.
Vincent yang mendengar ini merasa bingung: "Jane, ada apa?"
"Vincent, dia adalah Quina Yuga, dia adalah teman sekelasku di SMA dan juga sahabat baikku, sebelumnya dia pergi kuliah di luar negeri, kemudian keluarganya mengalami masalah sehingga dia harus pulang untuk membantu keluarganya, beberapa saat terakhir mereka menghadapi masalah yang sulit diselesaikan, sehingga dia pergi mencariku, mungkin kamu bisa membantunya."
"Bantuan apa?"
"Perusahaan keluarga Quina mengalami defisit keuangan, walaupun sudah pergi ke beberapa tempat untuk mengumpulkan uang, berhasil mengumpulkan sebagian, namun pihak kreditur perusahaan sebelumnya juga mendengar informasi ini dan datang untuk menagih hutang, keluarga Yuga ditekan hingga menjadi putus asa, sebenarnya asalkan bisa diundur satu bulan, pinjaman perusahaan bisa dicairkan dan semua hutang ini dapat dilunasi, jadi Quina ingin meminta bantuanmu, berpura-pura menjadi pacarnya untuk berurusan dengan para kreditur ini! " Jane menjelaskan.
Vincent mengerutkan kening: "Apakah kamu memintaku untuk bekerja sama membohongi orang lain?"
" Kak Bermoth, aku juga tidak memiliki pilihan lain, hanya perlu menunggu satu bulan, semua masalah ini bisa terselesaikan, namun masih ada beberapa orang yang tidak memberi keluarga Yuga kami waktu, tolong bantuan anda, asalkan kamu bersedia bekerja sama denganku, sesudah masalah ini selesai, aku akan memberimu sebuah amplop yang besar, bagaimana?" Quina berkata dengan wajah yang cemas.
Vincent merasa ragu-ragu.
Dia tidak ingin menambah masalah untuk dirinya.
Namun pada saat ini Jane melangkah maju ke depan dan berkata dengan suara kecil: "Vincent, bantulah aku kali ini, pada saat aku di SMA dulu, aku pernah pingsan dan Quina lah yang membawaku pergi ke rumah sakit. Aku berhutang padanya. Aku ingin mengembalikan hutang budi ini, jika kamu kali ini bersedia membantuku, apa yang kamu ingin aku untuk lakukan, aku akan menyanggupinya ya?"
Pada saat dia berbicara, wajahnya dipenuhi dengan permohonan.
Jane hampir tidak pernah meminta bantuan pada Vincent.
Ini adalah pertama kalinya dia bisa melihat Jane menunjukkan ekspresi seperti itu.
Vincent menghela nafas, menganggukkan kepala: "Baiklah, ini bukan masalah besar, karena kamu ingin aku pergi, aku akan pergi menemani temanmu, kapan kita pergi?"
"Sekarang!"
Quina mengambil sebuah tas pakaian dari sisinya, menyerahkannya kepada Vincent dengan bersemangat.
Setengah jam kemudian, Vincent yang mengenakan setelan jas berjalan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Mata Quina berbinar, dia langsung menarik Vincent keluar kantor dan menggunakan taxi pergi ke Gedung Lokafuds.