
"Tuan mudamu? Siapa itu? "Vincent melihat beberapa orang itu penasaran lalu bertanya.
"Jangan banyak tanya, kamu akan tahu nanti kalau sudah ikut!" Pria itu berkata dengan kasar.
Sekelompok orang itu langsung mengepung Vincent, dilihat dari situasinya, jika dia tidak patuh, dia akan diseret secara paksa.
Vincent mengerutkan keningnya, lalu mengangguk.
"Oke, karena tuan mudamu sangat ingin bertemu denganmu, maka aku akan menemuinya."
Setelah selesai bicara, Vincent masuk ke mobil hitam dengan orang-orang ini.
Mobil itu langsung melaju ke sebuah restoran mewah yang hanya berjarak tiga blok dari lokasinya.
Ketika mereka tiba di restoran, orang-orang ini langsung membawa Vincent ke meja paling ujung di dalam restoran.
Sudah ada banyak orang yang duduk di meja.
Ternyata itu Doni dan yang lainnya yang mengundang Vincent untuk minum tadi malam.
Mereka semua terlihat sedang menikmati sarapan, tapi semua yang ada di meja adalah makanan berair, ekspresi setiap orang yang ada disini juga tidak terlalu bagus.
Sudah jelas mereka pasti muntah tadi malam.
Doni menatap Vincent dengan dingin, mata kecilnya itu, seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.
“Tuan Kayaraya, orang itu sudah kubawa.” Pria itu berkata kepada Doni.
“Baiklah, pergi dan segera tutup tempat ini untuk sementara!” Doni berkata dengan tegas.
"Oke, Tuan Kayaraya!"
__ADS_1
Pria itu selesai berkata, para pelayan langsung mengusir tamu yang tersisa dan menutup pintu restoran.
"Halo, Tuan Kayaraya, selamat pagi, tadinya kukira Tuan Kudos yang mencariku! Ada urusan apa kamu memintaku datang ke sini? Apakah kamu akan mengajaku untuk sarapan bersama?" Vincent tidak bersikap terlalu sopan, dia langsung duduk dan mengambil donat lalu memakannya.
"Tuan Kudos itu sangat sibuk, bagaimana mungkin dirinya akan peduli pada orang kecil sepertimu? Pesan saja apa pun yang kamu mau, aku pemilik restoran ini, hari ini kamu bisa makan sebanyak yang kamu mau secara gratis, makanlah sepuasnya! Jangan khawatir! Tidak usah sungkan-sungkan padaku." Kata Doni santai.
“Oh? Benarkah? Kalau begitu aku tidak akan segan-segan!” Vincent tersenyum.
“Untuk apa juga kamu bersikap segan, ini akan jadi makanan terakhirmu, cepat makan yang banyak!” Wanita bernama Mirna di sebelahnya berkata dengan marah.
“Makanan terakhir?” Vincent menatap Mirna terkejut: “Apa maksudnya?”
“Bocah sialan, kamu masih berani pura-pura disini? Jika bukan karena permainan licikmu kemarin malam, apa mungkin kami akan dibawa ke rumah sakit?” Pria berkacamata itu tiba-tiba memukul meja dan menatap Vincent dengan marah.
"Permainan licik? Bro, aku tidak pernah melakukan hal licik apapun! Kalian semua yang ingin minum bersamaku, itu bukan salahku! Ambulan itu juga aku sendiri yang memanggilnya, jika bukan karena aku, kalian mungkin hanya bisa berbaring di tempat tidur, entah bisa hidup atau mati! Kalian sendiri yang tidak kuat minum tapi berani menyalahkanku? "Vincent segera membalas.
"Kamu ini..."
"Nak, kamu terlalu sombong !!"
Semua orang itu langsung marah, mereka tiba-tiba bangkir berdiri, jelas mereka ingin melakukan sesuatu pada Vincent.
"Tenang dulu!"
Saat ini, Doni berkata perlahan.
Semua orang langsung kembali duduk, tetapi kemarahan di mata semua orang tidak bisa dipadamkan.
“Tuan Bermoth, mari kita langsung buka-bukaan saja, memintamu minum tadi malam memang diperintahkan oleh Tuan Kudos! ”Kata Doni setelah menyesap teh miliknya.
"Aku tahu."
__ADS_1
“Kamu tahu? Sepertinya kamu tidak bodoh! Maka kamu harusnya sudah paham juga bahwa tujuan kami ingin membuatmu mabuk adalah berharap agar kamu tidak mengganggu kencan istrimu dengan Tuan Kudos! Tapi kenapa kamu sangat bodoh? Kenapa kamu tidak bisa berpura-pura mabuk saja? Tidak sampai disitu saja, tapi kamu juga malah mengirim kami ke rumah sakit, tahukah kamu bahwa ketika kami dipanggil oleh Tuan Kudos pagi tadi, kami semua sudah kehilangan martabat kami!" Doni marah.
"Kenapa sampai seserius itu? Bukankah itu hanya acara minum?"
Vincent mengangkat bahunya dan berkata.
"Acara minum? Bodoh, menurutmu memang hanya acara minum, tapi bagi kami, ini menyagkut urusan pekerjaan, jika kami tidak bisa melakukan perintah dengan baik dan membuat Tuan Kudos tidak senang, maka habislah riwayat kami! Semua orang di sini melakukan bisnis kerja sama dengan Grup Kudos Lamos, kami semua bergantung pada Grup Kudos Lamos agar bisa makan dan terus hidup, tapi karena ulahmu, Tuan Kudos langsung memutus semua proyek kerja sama yang akan diserahkan kepada kami, kamu sudah membuat kami kehilangan banyak uang, tahu tidak?" Doni bicara dengan keras.
"Lalu apa maumu?" Vincent bertanya.
"Tentu saja aku harus membuat Tuan Kudos senang, kudengar bahwa kamu melakukan permainan yang luar biasa kemarin malam, kamu bahkan membuat kesal tuan Mateo, jadi akan kupotong kedua tanganmu sekarang, Tuan Kudos pasti akan sangat senang ketika dia melihat tanganmu yang hilang, kamu tidak akan ada masalah kan?" Doni berkata dengan tenang, seseorang disebelahnya langsung memberikan sebuah pisau.
Vincent tetap terlihat tanpa ekspresi.
"Kamu tidak usah takut, tenang saja, aku akan memberikan kompensasi berupa uang, tapi hari ini, kamu tidak akan punya tangan lagi."
Setelah Doni selesai berbicara, dia mengambil pisau dan bangkir berdiri.
Kedua pria berbaju hitam itu segera menekan bahu Vincent dan menekan tangannya di atas meja.
Semua orang di sekitar tersenyum.
Vincent juga diam-diam menggerakkan alisnya.
"Apakah kamu sudah selesai makan?"
Doni menatap Vincent sambil tersenyum.
“Sudah mau habis.” Vincent mengangguk.
"Kalau begitu, sekarang saatnya membayar tagihannya!"
__ADS_1
Doni berkata dengan keras, kemudian menebas pergelangan tangan Vincent dengan keras dengan pisau…