
“Anmei, kamu jangan khawatir, masalah ini, Kakek akan urus, nanti Kakek akan telepon Ayah dan Ibumu, Kakek akan suruh mereka datang jemput kamu, kamu pulang ke Provinsi Etihad dulu, Kakek akan diskusi dengan Keluarga Shihab dulu, Kakek ingin tahu apa yang mau dilakukan oleh mereka.” Dai Anwen berkata dengan marah.
“Kakek, masalah Tuan Naga, aku juga tahu dikit.” Dai Anmei berkata dengan suara rendah.
“Apa yang kamu tahu?” Dai Anwen langsung menatapnya.
“Meskipun Tuan Efesus Naga jarang terlihat di Sekolah Kaisen, tetapi prestasinya pun selalu terdengar di Sekolah Kaisen, berdasarkan yang aku tahu, dia sangat bela orang-orang yang dekat dengan dia, terdapat seorang direktur di Sekolah Kaisen yang pernah singgung dia, akhirnya orang itu langsung dipecat, bahkan masih terdapat seseorang yang lukai murid Sekolah Kaisen, latar belakang orang itu juga sangat kuat, awalnya kekuatan Sekolah Kaisen juga tidak bisa lakukan apa-apa, palingan juga hanya bisa suruh orang itu untuk minta maaf, setelah masalah ini diketahui oleh Tuan Naga, orang itu pun langsung disuruh minta maaf kepada Sekolah Kaisen, jadi pada hari berikutnya, orang itu berlutut di depan Sekolah Kaisen, orang itu berlutut di sana selama tiga hari, setelah pulang juga masih dikerjain lagi...” Dai Anmei berkata dengan suara rendah.
Naga adalah orang legendaris di Sekolah Kaisen, meskipun jabatannya hanya sebagai Wakil Presiden, tetapi pengaruh dia terhadap Sekolah Kaisen jauh lebih besar dari dekan.
Keluarga Dai yang kecil di depan orang seperti ini, sama sekali seperti perbedaan antara semut dan pohon besar.
Kali ini Keluarga Dai melukai Umar Shihab, berdasarkan sifat Naga yang membela orang dekatnya, tampaknya Tuan Naga akan melampiaskan amarahnya kepada Keluarga Dai.
Dai Anwen tidak bisa duduk dengan tenang, wajahnya juga terlihat panik.
Setengah hari berlalu, Dai Anwen sudah menelepon banyak orang.
Setelah mengetahui orang itu adalah Naga, orang-orang yang ditelepon Dai Anwen pun langsung mengakhiri panggilannya.
Dai Anwen juga tahu, saat ini tidak terdapat siapa pun yang bisa membantunya.
Dai Anwen menghela nafas, wajahnya terlihat sangat khawatir.
“Kakek, sudah malam, kamu tidur dulu, masalah ini biarkan aku yang urus saja.” Pada saat ini, Dai Anmei tiba-tiba berkata dengan sambil tersenyum.
“Anmei, apa yang akan kamu lakukan?” Dai Anwen bertanya.
“Nikah dengan Umar, bukannya masalah ini akan selesai?” Dai Anmei berkata.
“Ini...ini mana boleh? Apakah aku harus diselamatkan oleh cucu perempuanku di usia seperti ini?” Dai Anwen berkata dengan marah.
“Selain ini, kita masih ada cara lain?”
Dai Anmei tersenyum pahit: “Kakek, aku tidak boleh libatkan keluarga kita.”
“Tetapi..”
“Kakek, aku sudah putuskan, sebenarnya Umar juga tidak seburuk itu, jika sudah tidak ada pilihan lain lagi, aku juga tidak akan tolak.” Dai Anmei langsung memotong perkataan Dai Anwen, dan berkata dengan sambil tersenyum.
“Ini.., lupakan saja, kamu putuskan sendiri saja, tetapi kamu harus ingat, jika kamu tidak mau, tidak ada orang yang bisa paksa kamu, nyawa Kakek juga tidak penting lagi, dan Kakek pasti akan lindungi kamu.”
Melihat wajah Dai Anmei tampak tenang, Dai Anwen pun menghela nafas, dan kembali ke dalam kamarnya.
Dai Anmei mengangkat kepalanya, dia melihat ke langit yang luas, kemudian dia memejamkan kedua matanya, dan menghela nafas, setelah itu dia pun kembali ke dalam kamarnya.
Sepanjang malam, Dai Anwen pun tidak bisa tidur. Dai Anwen berguling dan bolak balik di atas tempat tidurnya, dia tidak bisa tidur.
Jika hanya Keluarga Shihab saja, Keluarga Dai masih bisa melawannya, tetapi sekarang ditambah dengan seorang Naga lagi...sungguh susah!
__ADS_1
Keluarga Shihab menutupinya dengan sangat baik! Ternyata mereka masih terdapat seseorang di belakang.
Hanya saja...apakah Anmei akan menyetujuinya dengan tulus? Dai Anwen merasa ada yang aneh.
Berdasarkan yang Dai Anwen tahu mengenai cucu perempuannya, Dai Anmei adalah sosok yang keras kepala, hal yang sudah diyakini oleh dia pun tidak akan berubah lagi.
Seperti Dai Anmei mengetahui Vincent sudah menikah, dia pun masih tetap mencintainya, meskipun dia tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya kepada Vincent, tetapi dia juga membuktikannya dengan tingkah lakunya. Ini juga membuat Vincent merasa sakit kepala.
Wanita seperti ini akan menjalani apa yang sudah diyakini oleh dia, tidak peduli seperti apa, dia pasti tidak akan pernah berubah pikiran.
Tetapi kenapa Dai Anmei tiba-tiba akan berubah pikiran? Dai Anwen merasa sangat bingung, tetapi karena sudah berusia, akhirnya dia pun tertidur.
Pagi keesokan harinya.
“Anmei, waktunya bangun! Kita pergi ke Kampus Medis dulu, jika masalah ini tidak berhasil, kamu juga tidak perlu ikut Konferensi Raja kedokteran lagi!” Setelah selesai cuci muka, Dai Anwen berteriak kepada Dai Anmei yang ada di dalam kamar.
Tetapi setelah berteriak sejenak, di dalam pun tidak terdapat suara sama sekali.
Dai Anwen tertegun.
Biasanya Dai Anmei bangun lebih pagi daripada dirinya, kenapa hari ini masih belum bangun?
Apakah karena bergadang?
Dai Anwen merasa bingung, tetapi dia pun pergi siapkan sarapan.
Setelah jam delapan, sarapan pun sudah disiapkan, Dai Anwen pergi ketuk pintu lagi.
Setelah berteriak berulang kali, Dai Anmei juga tidak meresponnya.
Sebuah firasat yang tidak baik pun dirasakan oleh Dai Anwen. Dai Anwen langsung membuka pintu.
Begitu pintu dibuka, Dai Anmei berbaring di tempat tidur, berpakaian rapi, kedua matanya sama tidak pernah berkedip, dan di tangannya masih ada secarik kertas.
“Anmei....”
Mata Dai Anwen memerah, dia berteriak, dan segera bergegas ke sana.
Dai Anwen juga memeriksa denyut nadinya. Sudah tidak ada lagi.
“Dai Anmei ..”
Dai Anwen berteriak dengan penuh kesakitan, tetapi Dai Anmei tetap tidak bangun. Dai Anwen mengambil kertas yang ada di tangan Dai Anmei, itu adalah Catatan bunuh diri...
Catatan itu hanya terdapat tulisan: “Kakek, jika aku sudah mati, aku rasa Tuan Naga dan Keluarga Shihab tidak akan lakukan sesuatu terhadap Keluarga Dai lagi?Bantu aku sampaikan ke Kak Vincent, maaf, aku sangat cinta dia...”
Catatan itu pun penuh dengan noda air mata, dan ditulis oleh Dai Anmei dengan penuh kesedihan...
Melihat kata-kata itu, Dai Anwen terisak-isak, dia berlutut di atas lantai, dan menangis dengan seperti seorang anak kecil.
__ADS_1
Dai Anwen mana mungkin pernah pikirkan Dai Anmei akan mengakhiri semua ini dengan cara seperti ini. Dai Anwen merasa sangat kesal.
“Dai Anwen, kamu di dalamn ya? Kapan kita pergi ke Sekolah Kaisen!” Pada saat ini, suara Vincent terdengar dari luar.
“Guru, aku di dalam..” Dai Anwen berteriak dengan suara serak.
Vincent yang berada di luar, langsung masuk ke dalam, lalu dia pun melihat Dai Anmei yang sudah berhenti bernafas, pada saat itu ekspresi wajahnya juga langsung berubah.
Vincent bergegas menuju ke sana, dia langsung meletakkan tangannya di leher Dai Anmei, sejenak kemudian, Vincent mengeluarkan sebuah jarum baja dari leher Dai Anmei.
Jarum baja itu..pun dilumuri dengan racun!
“Dai Anmei bunuh diri!”
Vincent menatap Dai Anwen, dan bertanya dengan dingin: “Dai Anwen, apa yang terjadi, kenapa Dai Anmei mau bunuh diri?”
Dai Anwen meneteskan air mata, dan dia pun menceritakan semua kejadian kemarin.
“Kamu bilang apa?”
Kedua mata Vincent terbuka lebar, dia mengepalkan kedua tangannya, dan urat merah di matanya pun terlihat.
Sejenak kemudian, Vincent tertawa, dia tertawa dengan penuh kesedihan, dan ekspresi terlihat datar...
Dai Anwen tidak pernah melihat Vincent mengeluarkan suara senyuman seperti ini. Ekspresinya...terlihat sangat mengerikan...
“Tampaknya aku sudah salah, aku salah, seharusnya aku tidak sembunyikan apa pun, mungkin saja keputusan Ibu... salah...”
“Guru..”
“Dai Anmei sudah mati sekitar lima jam, Dai Anwen, cepat, pergi ambil jarum baja untuk aku! Sebanyak-banyaknya, cepat!” Vincent tiba-tiba membalikkan kepalanya, dan berkata dengan serius.
“Jarum baja, untuk apa?” Dai Anwen tertegun.
“Pergi ambil saja!” Vincent berkata.
Dai Anwen tidak berani merasa ragu, dia langsung berlari ke luar.
Kemudian, Vincent pun langsung mengeluarkan jarum baja yang dibawa oleh dia, dia mengangkat lengan Dai Anmei, dan mulai menusuk jarum itu ke tubuh Dai Anmei ...
Beberapa saat kemudian, Dai Anwen masuk dengan membawa sekantong jarum.
Melihat Vincent mulai menusuk jarum, Dai Anwen pun tertegun.
“Guru, Anmei .masih bisa diselamatkan?”
“Apakah kamu pernah dengar Raining Needle?” Vincent berkata.
“Raining Needle? Bukannya itu adalah rumor?” Dai Anwen tertegun sejenak, lalu dia pun tiba-tiba mengatakan: “Guru, apakah anda.”
__ADS_1
“Keluar dulu, biarkan aku untuk coba.” Vincent berkata.
Dai Anwen langsung berbalik dan pergi, lalu dia pun menutup pintu.