Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 497 Pinjam


__ADS_3

Setelah keluar dari gedung perusahaan, Jane dan sekretarisnya bergegas lari menuju ke arah Vincent.


“Vincent! Apakah kamu baik-baik saja?”


Jane menarik lengan Vincent, dan bertanya dengan cemas.


Wajah Jane terlihat sangat pucat, kedua matanya memerah, air mata tergenang di matanya, terlihat sangat kasihan sekali.


“Aku baik-baik saja, bagaimana dengan kalian?” Vincent bertanya sambil tersenyum.


“Kamu… Kamu benar-benar bodoh sekali!” Jane menutup mulutnya, meratapi dada Vincent yang berdarah, air matanya tidak berhenti mengalir.


Jane tidak pernah menyangka, berada di kondisi yang seperti ini, Vincent akan bergegas menyelamatkan dirinya tanpa ragu, meskipun orang tersebut membawa pisau, bahkan membawa pistol…


Apakah pria ini… tidak pernah memikirkan dirinya?


Apakah pria ini… tidak takut bahaya?


Jane sambil menyeka air mata yang di sudut matanya, sambil meratapi Vincent dengan tatapan mata yang penuh perasaan yang beragam.


Jane menyadari bahwa dirinya telah salah menilai pria ini.


Apakah dia adalah seorang pecundang?


Tentu saja dia bukan.


Vincent adalah orang yang memiliki darah daging juga.


Bahkan… dia lebih berani dibanding orang lain!


Mungkin dari awal, Vincent telah disalah pahami oleh banyak orang…


“Jane!”


Pada saat ini, sebuah suara jeritan, langsung membuyarkan lamunannya.


Sekujur tubuhnya bergemeteran, Jane menoleh ke samping, melihat Katrina dan Jackson bergegas lari menuju ke arahnya.


“Ibu!”


Jane langsung menyeka air mata yang diwajahnya, kemudian berteriak.


Katrina berlari ke depan, dan memeluk Jane, bercucuran air mata, menangis histeris.


“Putriku, apakah kamu tidak apa-apa? Ibu sangat khawatirkan mu! Siapakah yang berani menyandera putriku? Benar-benar cari mati! Masuk neraka! Moga tujuh turunan tidak bisa BAB!”


Katrina sambil menangis, sambil mengutuk Pria Botak itu.


“Katrina, apakah kamu baik-baik saja?” Jackson yang di samping bergegas bertanya.


“Ayah, jangan khawatir, aku baik-baik saja.” Jane bergegas menenangkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Katrina meratapi Jane dari atas hingga bawah, memeriksanya dengan penuh ketelitian, melihat Jane sama sekali tidak terluka, akhirnya merasa sangat lega.


“Baiklah jika tidak apa-apa.” Jackson menghela nafas.


“Ayo, Jane, mari kita pulang, ibu memasak masakan enak untukmu, menenangkan hatimu, kamu pasti ketakutan? Besok kita pergi wihara untuk sembahyang, membuang sial.” Katrina berkata.


“Baiklah, tetapi ayah ibu, kali ini harus berterima kasih kepada Vincent, jika bukan karena dia, aku mungkin …”


“Vincent?”


Jane belum selesai berkata, langsung dipotong oleh Katrina.


Katrina meratapi Vincent, berkata dengan nada dingin: “Jane, aku peringati mu, mulai hari ini, kamu tidak boleh berhubungan dengan pecundang ini, dia, bukan menantu Keluarga Dormantis lagi!”


Begitu selesai berkata, Ekspresi wajah Jane terlihat kaget.


“Ibu, apa… apa yang kamu katakan?”


“Apa? Ayahmu sudah menceritakan semuanya! Apakah kamu tahu apa yang dilakukan oleh bajingan ini? Kalian belum bercerai, dia sudah terburu-buru mencari pengganti, mencari wanita kaya agar dinafkahi oleh wanita kaya selanjutnya!” Katrina memaki-maki.


Vincent mengerutkan alisnya.


“Mencari wanita kaya? Mencari siapa?” Jane merasa linglung.


“Siapa lagi? Bukankah itu sepupumu Jenice? Bajingan ini bukan manusia, bahkan kelinci saja tidak akan makan rumput yang di tepi sarang, dia keterlaluan sekali, dia pergi menggoda Jenice, selama dua hari ini Jenice terus menangis, bibi mu sangat marah! Hampir saja menyalahkan kita!” Katrina berkata dengan penuh amarah.


“Tidak tahu malu, benar-benar tidak tahu malu sekali!” Jackson tidak bisa menahan diri untuk memarahi dirinya, melototi Vincent.


Jane terpana, meratapi Vincent dengan tatapan linglung, seketika dia menyadari sesuatu.


“Apakah kamu sudah melihat? Putriku terlalu berbaik hati, pada saat ini, masih membela pria bajingan, berhati lembut, berbaik hati, seperti aku!” Katrina berkata.


Katrina sama sekali tidak percaya kata-kata Jane.


Jackson menarik Jane ke samping, dan berkata: “Jane, ayah tidak tahu kenapa kamu masih peduli dengan Vincent, tetapi terkadang kamu harus belajar untuk melepaskan tangan, ngerti? Vincent tidak pantas untukmu! Dia hanya memanfaatkan mu saja, kenapa kamu masih memperdulikan pecundang yang seperti dia? Dengar nasihat ayah, segera mengurus akta cerai dengan dia, ngerti?”


Jane terdiam.


Bahkan orang yang seperti Jackson saja memandang rendah Vincent… hal tersebut terbukti bahwa betapa buruk kesan Vincent kepada orang lain.


“Ayah, ibu, apakah kalian tidak mendengar omonganku, masalah ini tidak ada hubungannya dengan Vincent, dia tidak menganggu Jenice!” Jane akan menggila karena kedua orang tuanya, dia sekarang merasa sangat emosional.


Begitu Katrina melihat, langsung berkata: “Baiklah, kami sudah tahu, Jane jangan marah, ayo, mari kita pulang, mari kita bicarakan dirumah saja!”


“Boleh, tapi Vincent harus ikut aku pulang!” Jane menggertakkan giginya, berkata kepada Katrina dengan ekspresi wajah serius.


“Buat apa kamu menyuruh bajingan itu datang ke rumah kita? Kapan kalian akan mengurus akta cerai? Biro urusan sipil masih buka, bagaimana kalian pergi sekarang?” Katrina berkata sambil mengernyit.


“Tidak akan! Aku tidak akan bercerai! Semakin kalian berkata seperti itu, aku tidak akan bercerai!” Sekujur tubuh Jane bergemeteran, dan berteriak.


“Jane…” Katrina dan Jackson tertegun.

__ADS_1


Tiba-tiba Jane membalikan badan, menarik lengan Vincent dan masuk ke dalam mobil mewahnya.


Teriakan Jackson dan Katrina sama sekali tidak berguna.


Sepanjang perjalanan, Jane tidak berkata satu katapun, kedua matanya memerah, tangannya menggenggam lingkaran setir dengan kuat.


Mobil melaju ke tepi sungai, kemudian berhenti.


Jane berjalan ke tepi sungai, meratapi sungai besar, tatapan mata yang penuh perasaan yang beragam.


“Nanti masuk angin.” Vincent membuka mantelnya, mengenakan mantel di bahunya.


“Lukamu…” Jane berhenti berkata.


“Hanya sedikit lecet saja, jangan lupa, aku adalah seorang dokter, aku tahu batasnya.”


“Hm…” Jane menggigit bibirnya, meratapi wajah Vincent, hatinya berdebar kencang.


Tidak tahu kenapa, Jane menyadari bahwa Vincent tidak menyebalkan seperti dulu.


Ada apa denganku hari ini?


Apakah itu adalah efek jembatan gantung?


Jane mengelus pipinya, merasa sedikit linglung.


Mungkin ini hanya kesedihan sementara saja…


Citttt!


Pada saat ini, sebuah mobil maserati berhenti di belakang mereka, suara rem membuyarkan lamunan mereka berdua.


Jane dan Vincent melihat ke arah sana.


Ini adalah sebuah mobil maserati baru, belum ada plat mobil.


Setelah mobil berhenti, seorang wanita paruh baya tergesa-gesa turun dari mobil.


“bibi?”


Setelah Jane melihat jelas orang yang berjalan menujunya, dia langsung berteriak.


Ternyata orang yang turun dari mobil.. Adalah ibu Jenice, Greni !


“Jane, rupanya kamu disini, tadi aku melihat mobilmu mengemudi ke arah sini, tadi ibumu meneleponku! Ayo, pulang, jangan membuat ibumu khawatir!” Greni berkata kepada Jane dengan nada tidak sabar.


“Bukan…bibi, mobil… mobil ini dari mana? Jane meratapi mobil maserati yang di depannya dengan linglung, kemudian bertanya.


“Tentu saja aku yang beli! Bagaimana, cantik?” Greni berkata dengan anggun.


“Kamu yang beli?”

__ADS_1


Kedua mata Jane membelalak, meratapi Greni dengan tatapan linglung, kemudian bertanya: “Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu?”


“Pinjam!” Greni berkata sambil tersenyum.


__ADS_2