
“Vincent?!”
Begitu menyadari Vincent sedang bergegas kemari, Estela terkejut dan segera berdiri.
Pada saat dia baru membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu, ekspresi Vincent yang dingin membuat Estela menelan kata-katanya ke dalam perut, tidak bisa berkata sama sekali...
Tatapan Vincent tampak sangat tajam, dia berjalan ke sisi Elva dengan buru-buru dan membantunya untuk berdiri.
“Tante Elva jatuh tadi, bagian belakang kepalanya berdarah. Vincent kamu cepat cari cara!” Estela berkata dengan panik.
Vincent memeriksa bagian belakang kepala Elva, rambutnya sudah dibasahi oleh darah segar, tampak sangat menakutkan.
Vincent sama sekali tidak berani menunda, dia langsung berteriak: “Ambilkan air yang bersih, kemudian pergi ke apotek terdekat beli beberapa jarum jahit, alkohol dan kain kasa!”
“Baik!” Estela segera mengangguk.
Tidak lama kemudian, Estela pun kembali dengan sebuah kantong plastik.
Vincent langsung melakukan disinfeksi dan menjahit luka Elva di tempat. Pada saat yang sama, Vincent juga mengambil beberapa jarum perak dan menjahit beberapa jahitan di bagian lengan dan leher Elva.
Pada saat itu, nafas Elva yang sudah hampir menghilang semua baru pulih sedikit.
Adegan ini membuat Estela menghela nafas lega.
Vincent juga menyeka keringat di dahinya.
Vincent mengangkat kepalanya, menoleh ke Jane yang masih duduk di atas lantai. Lengan dan wajah Jane memiliki lumayan banyak goresan, rambutnya yang berantakan membuat dia tampak sangat kasihan.
Matanya yang cantik dibasahi oleh air mata, membuat orang yang melihatnya merasa sakit hati.
Pupil Vincent mengerat, dia diam-diam mengepalkan tinjunya, menghampiri Jane dan melepaskan jaket untuknya.
“Maaf...” Vincent berkata dengan suara serak setelah meragu sejenak.
Begitu mendengar kata-kata Vincent, Jane baru mengangkat kepalanya, menatap ke mata Vincent sambil menggelengkan kepalanya: “Seharusnya aku yang minta maaf, aku.. aku sudah gagal melindungi ibu!”
Kata-kata Jane membuat jantung Vincent mengerat dengan kuat.
Jari tangannya menggenggam telapak tangannya dengan kuat, kulit telapak tangannya sudah hampir terluka karena kukunya. Kebencian dan kemarahan meledak dan menyebar ke seluruh hatinya.
Vincent mendingan melihat Jane menggila, mendingan melihat Jane memukul, memarah dan berteriak kepadanya. Vincent mendingan melihat Jane melampiaskan marahan kepadanya. Kalau begitu, setidaknya hati Vincent akan terasa lebih enak.
__ADS_1
Tetapi, Jane ujung-ujungnya tetap adalah Jane.
Dia merasa dirinya tidak berguna, gagal melindungi Elva..
Vincent tidak bisa menahan diri dan tersenyum, senyumannya sangat kacau, tampak kesakitan dan marah.
Jane menyeka darah di sudut bibirnya, menatap ke Vincent dan berakta: “Vincent, kita hanya orang biasa yang tidak ada latar belakang kuat. Tempat ini bukan tempat yang bisa kita tinggal, orang-orang ini juga bukan orang yang bisa kita provokasi... Ayo kita pulang... pulang ke kota Izuno.. kita tidak mungkin bisa melawan mereka”
“Baiklah, tapi Jane, sekarang bukan waktunya pulang. Kondisi ibu sekarang masih tidak cocok untuk perjalanan panjang. Aku akan buka kamar di hotel terdekat dulu, kamu dan ibu istirahat sebentar, aku akan urus lukamu, kemudian kita pulang” Vincent berkata dengan suara serak.
Jane tidak menyadari kemarahan di mata Vincent.
“Iya..” Jane tidak membantah, cahaya melintas melewati matanya, dia sudah tampak sangat kecapekan.
“Vincent, lebih baiknya antar tante Elva pulang dulu” Setelah meragu sejenak, Estela tetap memilih untuk mencoba membujuk Vincent.
“Tidak perlu. Estela, aku akan mengurus masalah ini”
Vincent mengeluarkan ponselnya, menelepon ke seseorang.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil menuju kemari, di dalam mobil duduk seorang wanita muda. Wanita tersebut mengangguk kepada Vincent tanpa berkata apa pun.
Vincent mengendong Elva ke dalam mobil, kemudian Jane juga.
Vincent mengambil tempat di tempat penumpang.
Estela tampaknya masih tidak mau menyerah, dia segera berlari kemari dan berkata: “Vincent , kalau kamu membawa tante Elva pergi lagi, keluarga Lavore tidak akan memaafkan kamu! Kamu hanya akan aman kalau kamu bawa tante Elva pulang, hanya solusi ini yang akan membantu tante Elva tidak kena masalah lagi! Dengarkan kata-kataku, antar tante Elva pulang!”
“Antar dia pulang?” Vincent meliriknya dan berkata, “Kamu mau aku membuang ibuku di ruang bawah tanah yang kecil, sempit, kotor dan bau, membiarkan dia tunggu mati di sana?”
“Ini..” Estela tidak tahu harus berkata apa.
“Mulai dari hari ini, aku dan keluarga Lavore tidak ada hubungan apa pun lagi. Untuk masalah hari ini, aku akan meminta sebuah penjelasan kepada keluarga Lavore hari ini” Vincent berkata dengan suara rendah, kemudian mobil pun mulai bergerak laju, menghilang di depan mata Estela.
Sudah berakhir!
Kali ini benar-benar sudah berakhir!
Estela sangat cemas, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Setya Lavore dengan panik.
Setelah menelepon 3 kali berturut-turut, telepon baru tersambung.
__ADS_1
“Siapa?” Suara pria yang rendah berdering melalui telepon.
Estela segera berkata, “Bang Windu, aku Estela, Estela!”
“Oh, ternyata nona Estela ya. Ada urusan apa?” Suara pria bertanya dengan tenang.
“Bang Windu, aku ada urusan penting mau diskusi dengan kakek, tolong segera berikan ponsel kepada kakek, cepat.” Estela berkata denan panik.
“Nona Estela, tuan tua sedang istirahat. Dia ada memerintah tadi, tidak ada yang boleh mengganggunya. Kalau urusan yang mau dibicarakan masalah keluarga, kamu tinggal beri tahu aku saja” Suara pria tersebut menjawab.
“Tidak ada guna memberi tahu kamu, bukan masalah keluarga! Cepat beri ponsel kepada kakek, sudah tidak sempat! Kalau terlambat, akan terjadi masalah besar!” Estela berkata dengan panik.
Setelah meragu sejenak, pria tersebut baru berkata: “Kalau begitu, baiklah, silahkan tunggu sebentar”
Mendengar jawaban ini, Estela baru menghela nafas lega.
Setelah keheningan sejenak, sebuah suara pria tua berdering melalui telepon.
“Gadis kecil, apa yang terjadi? Sampai kamu bersikap keras kepala harus berbicara denganku?”
“Kakek, kamu harus membantuku, bantu aku selamatkan Vincent!” Estela sudah cemas sampai mau menangis.
“Selamatkan Vincent?” Setya tercengang sejenak: “Vincent yang kamu katakan adalah dokter jenius Bermoth yang menyelamati aku kemarin?”
“Iya..”
“Apa yang terjadi?” Setya berbatuk dua kali, kemudian bertanya.
Estela segera memberi tahu kejadian hari ini kepada Setya.
Setya merasa sangat kaget.
“Dokter jenius Bermoth, terlibat ke dalam masalah Elva?!”
“Iya, selain itu, hari ini... Sasha juga ada datang dan dia bahkan menyentuh tante Elva. Kalau bukan karena keterampilan medis dokter jenius Bermoth hebat, takutnya tante Elva akan meninggal begitu saja.” Estela berkata sambil menjilat bibirnya.
“Terlalu kelewatan! Benar-benar terlalu kelewatan!” Setya marah sampai jenggotnya bergetar.
“Kakek, apa yang harus aku lakukan sekarang? Dokter jenius Bermoth pasti sangat marah sekarang, aku khawatir dia pergi ke rumah Lavore mencari masalah, kalau dia benaran pergi ke sana, aku takutnya dia tidak bisa selamat nanti..” Estela berkata.
Setya juga sangat panik: “Estela, aku akan segera pulang ke rumah Lavore sekarang. Kamu pergi cari dokter jenius Bermoth dan beri tahu dia, aku akan memberi dia penjelasan mengenai hal ini!”
__ADS_1
“Baik!” Estela segera mengangguk, kemudian mengakhiri telepon.