
Vincent adalah orang yang sangat pelit, ada kalanya sangat perhitungan akan hal kecil, terlebih lagi Cadre itu tidak berniat baik.
Jika Jane sungguh menyetujui Cadre, dengan kekuatan Cadre, ingin meniduri Jane, bukankah itu adalah hal yang mudah sekali?
Jane mana bisa menang melawan orang seperti Cadre?
Meskipun mereka berdua sudah menyepakati waktu untuk bercerai, tapi sekarang belum bercerai, maka Vincent tidak mungkin bisa mentolerirnya.
Setelah bercerai, terserah apa yang ingin Jane lakukan, tidak ada hubungan dengannya, tapi sebelum bercerai, maka setiap gerakan Jane juga mewakili dia!
Melihat sikap Vincent, Jane merasa agak canggung.
Dia tercengang melihat Vincent, mulut kecil yang merah itu terkatup rapat-rapat, mata yang memerah itu meneteskan air mata.
“Tampaknya kamu tidak terlalu berinisiatif mengajukan perceraian denganku, sebelumnya mengungkit hal ini juga mempertimbangkannya demi diriku, sedangkan kali ini, kamu karena marah, jadi baru mengatakan bercerai, benar tidak?” Jane bertanya sambil berlinang air mata.
“Iya.” Vincent memejamkan mata dan berkata dengan datar.
“Vincent! Bermoth!” Jane tiba-tiba menghentakkan kaki dan berteriak keras.
Orang-orang yang lewat memperhatikan, tapi tidak terlalu peduli, masih berpikir pasangan suami istri sedang bertengkar.
Vincent membuka kedua matanya.
Tapi malah melihat Jane penuh penderitaan mengatakan: “Kamu pikir hanya kamu yang menderita? Kamu pikir hanya kamu yang tidak ingin dipermalukan? Aku juga manusia! Aku juga ingin menggapai kesuksesan! Sekarang ada peluang di hadapanku, apakah aku tidak boleh menghargainya?”
Selesai bicara, malah melihat dia mengangkat tangan, berkata dengan suara serak: “Kamu lihat, apa ini?”
Vincent merasa agak tidak mengerti memandang tangan Jane, tapi melihat tangannya kosong, tidak ada apa pun.
Namun, tepat pada saat ini, Vincent tiba-tiba memahami sesuatu, seketika matanya tercengang, bergegas meraih tangan Jane, malah mengeluarkan sebuah pisau kecil yang tajam di lengan bajunya itu.
“Mengapa kamu menyembunyikan pisau di bawah lengan baju?” Vincent melirik pisau tajam yang lebih panjang dari jari-jari ini, bertanya dengan keheranan.
“Ini aku persiapkan khusus untuk acara ini.” Jane menyeka air mata di sudut matanya, berkata dengan suara serak.
Vincent merasa agak terkejut.
“Vincent, jangan berpikir hanya kamu saja yang pintar! Tidak ada orang yang bodoh, juga bukan hanya kamu sendiri yang bisa melihat semuanya dengan jelas, Cadre adalah klien yang aku temui belum lama ini, Lavishta memiliki kerja sama dengan perusahaan yang ada dalam naungannya, awalnya kerja sama kecil ini tidak akan sampai menggerakkan bos besar seperti dirinya, namun, dalam salah satu acara bisnis, Cadre secara tidak sengaja bertemu denganku, lalu mengundangku menghadiri acara kali ini, Vincent! Apakah kamu tidak paham aku orang seperti apa? Aku sudah bertemu banyak pria yang memiliki pemikiran padaku, dan itu jauh lebih banyak dari apa yang kamu bayangkan, sebenarnya asalkan aku bersedia, sejak lama aku sudah bisa berjaya, untuk apa harus sampai hari ini seperti seekor anjing yang hidup begitu Rendahan? Tapi aku Jane bukan wanita seperti itu, aku hanya akan mengandalkan diri sendiri! Aku akan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, sejak awal aku juga sudah membuat persiapan, aku tidak ingin kehilangan kesempatan kali ini, jadi aku akan mencoba untuk kembali ke acara tersebut, membicarakannya dengan Cadre, lihat apakah bisa mendapatkan kesempatan untuk Lavishta! Jika dia mengajukan permintaan yang tidak masuk akal, menurutmu apakah aku akan menyetujuinya? Apakah aku adalah tipe wanita yang akan menjual tubuh sendiri?” Jane bertanya sambil terisak-isak.
Jika dia menginginkannya, sejak awal dia sudah menjadi nyonya kaya, untuk apa harus menunggu sampai sekarang.
“Tapi, bagaimana jika dia menggunakan cara tercela untuk memaksamu? Kamu harus bagaimana?” Vincent bertanya dengan suara berat.
__ADS_1
“Aku akan mengeluarkan pisau ini!” Jane mengertakkan gigi mengatakannya.
“Pisau ini? Takutnya tidak bisa menghadapi Cadre bukan?” Vincent melirik pisau kecil yang ramping ini, berkata sambil mengerutkan kening.
“Kamu salah, pisau ini bukan digunakan untuk menghadapi Cadre.” Jane menggeleng.
“Lalu untuk apa?” Vincent tercengang menanyakannya.
“Untuk mempertahankan kesucianku.” Jane menurunkan alis mengatakannya.
Begitu kata-kata ini terlontarkan, Vincent tertegun di tempat.
Maksud Jane...ternyata adalah bunuh diri?
Dia bahkan berpikir mati untuk menjaga kesucian dirinya?
“Kamu sudah gila?” Vincent tersadar dan segera mengatakannya.
“Aku tidak gila!” Jane melotot balik padanya.
Sepasang mata berair mata itu penuh ketidakberdayaan dan penderitaan.
Vinvent agak tercengang.
Dia sama sekali tidak menyangka, demi mendapatkan sebuah kesempatan, Jane bahkan menggunakan nyawanya sebagai taruhan...
Vincent mengambilnya dan begitu melihatnya langsung tercengang.
“Kamu...kamu bahkan ingin memberikan 10% saham perusahaan Lavishta padaku?” Vincent tercengang.
“Sebagai pengusaha tidak perlu membicarakan kata martabat, demi mendapatkan bisnis, berhasil menegosiasikan proyek, maka aku harus tunduk dan merendahkan diri, memaksakan diri untuk tersenyum, melakukan beberapa hal yang membelakangi keinginan sendiri, kamu orang yang sombong, pasti tidak bisa berbisnis, walaupun kelak kamu membuka klinik juga tidak akan bertahan lama, dengan memiliki saham 10%, setidaknya bisa menjaminmu tidak mati kelaparan, namun, untuk saat ini Lavishta masih belum maju, saham-saham ini juga belum bernilai, kamu simpan dulu, beberapa tahun lagi, seharusnya sudah cukup.”
Vincent memegang kontrak, terdiam sejenak, lalu mengembalikannya: “Aku tidak mau.”
“Pegang saja!”
“Apakah kamu ingin menggunakan ini untuk membujukku nengizinkanmu pergi berdansa dengan Cadre?”
“Tidak, aku sudah memutuskan untuk tidak pergi.” Jane menarik nafas dalam-dalam, menyeka air mata di sudut mata: “Apa yang kamu katakan sangat masuk akal, aku hanya memikirkan bisnis, tidak mempertimbangkan perasaanmu, kamu adalah seorang pria, tentu saja tidak dapat terima istrimu berhubungan dengan pria lain, kamu benar, Seven Lipbalm ini.. aku tidak mau lagi.”
Vincent menatap Jane dengan tatapan kosong.
Kali ini, perasaannya campur aduk, perasaan pada wanita ini juga tidak bisa dijelaskan, tidak tahu bagaimana...
__ADS_1
“Jane, kamu tenang saja, Lavishta International akan berkembang jaya, jika kamu sungguh ingin mewakili Seven Lipbalm, aku akan membiarkanmu mendapatkan apa yang kamu inginkan.” Vincent menarik nafas dalam- dalam sambil mengatakannya.
“Jangan memberi harapan kosong padaku, siapa pun bisa membual, jika orang lain yang mengucapkan kata-kata ini, mungkin aku akan sedikit lebih memperhatikannya, tapi jika itu kamu, sudahlah.” Jane berkata dengan suara pelan.
Meskipun dia telah menyerah, tapi rasa kecewa dalam matanya masih terlihat jelas sekali.
Vincent terdiam
“Baiklah, jangan banyak omong kosong lagi, kamu tunggu di sini, aku naik ke atas dulu untuk berpamitan dengan tuan Cadre, meskipun tidak bersedia tetap tinggal di tempat pertemuan itu, setidaknya juga harus menyapa sebentar? Lagipula, kami berdua adalah mitra kerja sana! Bagaimanapun, tetap harus bertemu.”
“Baik, kalau begitu aku tunggu kamu di Sini.”
“Beberapa menit kemudian aku akan turun!” Jane mengangguk, merapikan rambutnya sejenak, setelah menyeka air mata yang ada di sudut mata, lalu terburu-buru berlari ke lift.
Vincent memandang ke arah lift perginya Jane, muncul aura dingin di dalam mata, diam-diam mengepal erat tinjunya.
Setelah beberapa saat, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon sebuah nomor.
Di dalam lift, Jane berusaha mengusap kedua matanya, menyeka pipi, tidak ingin membiarkan orang lain melihat dia menangis.
Setelah keluar dari lift dan masuk ke ruang pertemuan, wajah Jane penuh senyuman lagi.
“Wah, Nona Dormantis, anda sudah kembali? Sini, sini, tuan muda ada di sebelah sana! Tuan muda, Nona Dormantis sudah datang!” Seorang bawahan Cadre dengan wajah penuh senyuman menyambut Jane pergi ke arah Cadre.
Jane juga berencana ke sini untuk pamitan, jadi tidak menolak keramahannya.
Saat ini, Cadre sedang mengobrol dengan Smith.
Melihat Jane yang mengenakan gaun malam cantik mempesona berjalan ke sini, wajah Cadre langsung muncul senyuman, terutama saat ini mata Jane yang agak memerah dengan tampang menyedihkan, lebih membuat pria menggila.
“Nona Dormantis, akhirnya kamu kembali juga, sini, aku perkenalkan padamu, ini adalah Tuan Smith, Tuan Smith, ini adalah Nona Dormantis yang aku katakan itu.” Cadre berkata dengan wajah tersenyum.
Kedua mata Smith berbinar, segera mengeluarkan tangan sambil tersenyum berkata: “Nona yang cantik, apa kabar!”
Selesai bicara, dia lalu meraih tangan Jane dan menciumnya sebagai tanda sopan santun.
Raut wajah Jane canggung sekali, tanpa sadar menarik kembali tangannya.
Cadre diam- diam mengerutkan kening, tapi tetap tersenyum sambil mengatakan: “Nona Jane, tidak apa-apa, ini hanya sebuah etika dasar saja.”
“Aku tidak terlalu terbiasa.” Jane memaksakan diri tersenyum sambil mengatakannya.
Namun, pada saat ini, Smith yang ada di sebelah sana seluruh tubuhnya bergetar, tiba- tiba menoleh melihat ke arah Cadre, bertanya: “Cadre, barusan kamu memanggil nona ini...apa?”
__ADS_1
“Nona Jane, Tuan Smith, apakah ada masalah?” Cadre bertanya dengan aneh.
Dalam sekejap Smith tercengang, membelalakkan mata melihatnya: “Kamu bilang dia bernama Jane?”