
Walau Tetua Avricon tidak memiliki wibawa seperti Tetua Torini, tapi dalam hal kaligrafi dan lukisan, dia juga sudah mempelajari selama bertahun-tahun. Jika ingin berkembang dalam bidang ini, walau tidak sebanding seperti Tetua Torini, tapi juga tidak akan buruk juga.
Kedua Lukisan Previous Month tadi, sebenarnya Tetua Avricon sudah bisa melihat mana yang asli. Tapi dia memilih untuk tidak mengatakannya. Karena dia tahu hal ini tidak bisa dikatakan. Jika dia katakan, tidak hanya reputasi Keluarga Avricon saja yang hancur, bahkan keluarganya sendiri juga akan malu. Tapi jika tidak dikatakan, akan menyulitkan Jackson.
Tetua Avricon juga sangat sulit, setelah mempertimbangkan sejenak, dia akhirnya memilih mengorbankan Jackson. Lagipula keluarga Jackson juga sudah terbiasa, paling hanya berikan kompensasi yang baik saja untuk mereka di lain waktu.
Tetua Avricon berencana seperti itu. Tapi. Vincent tidak!
Ucapannya ini memang terdengar sedang mengakui, tapi sebenarnya ingin menghancurkan Tetua Avricon !
Jika mengatakan lukisan itu palsu, maka kembalikan saja, tapi masalahnya.. lukisan itu asli!
Karya asli! Bagaimana mungkin dikembalikan?
Bukankah itu artinya ingin mengambil nyawa Tetua Avricon?
Tapi jika dia menolak bukankah dia sudah masuk dalam jebakan Vincent? Membuat orang curiga? Berikan punya Christo pada Vincent?
Tidak bisa, ada Tetua Torini di sini, sama sekali tidak berguna. Dia pernah melihat yang asli, jika memberikan punya Christo padanya, pasti akan ketahuan, saat itu akhir dari kejadian ini akan lebih memalukan.
Bocah busuk ini, sejak kapan berubah menjadi begitu licik. Tetua Avricon terdiam, tapi matanya menatap Vincent.
"Cih, siapa yang menginginkan sebuah lukisan palsu itu, armbil saja kalau kamu mau!" Saat ini, Voila berkata.
"Benar kakek, aku tahu kamu kasihan pada bibi jadi baru menerima lukisan itu, tapi karena Vincent ini tidak tahu diri, kamu jangan pedulikan mereka lagi, kembalikan saja lukisannya pada dia." Yosua juga berkata sambil tertawa.
"Kalian pasti habiskan banyak uang untuk beli barang palsu ini kan? Apa ini akan dikembalikan?"
"Hahahaha." Suara tawa tidak berhenti.
Tetua Avricon awalnya hanya diam, tapi saat bujukan dari orang-orang ini semakin sengit, ekspresi wajahnya semakin sulit dilihat. Tetua Torini sangat pintar, saat mendengar kata-kata orang di sekitarnya, langsung mengerti dengan masalah di tempat ini.
"Tuan Dormantis, sepertinya Keluarga Avricon kalian meremehkan lukisan saudara ini ya, kalau begitu kembalikan saja!" Tetua Torini berkata.
"Tuan Torini, ini adalah masalah keluarga kami, kamu jangan ikut campur." Tetua Avricon berkata sambil mengernyit.
"Aku hanya tidak sanggup melihatnya lagi, siapa kamu, menerima barang palsu? Itu tidak mungkin kan?"
"Kamu..."
"Cepat, kembalilkan." Tetua Torini berkata sambil tersenyum, dia ingin melihat lukisan itu.
"Kembalikan?"
Mata Tetua Avricon melotot, dia berkata dengan marah : "Tidak mau! Aku tidak mau kembalikan!" Bahkan dengan ekspresi sedikit tidak tahu malu.
Semua orang bingung saat melihatnya.
Melihat itu, Tetua Torini juga menjadi panik
"Bagaimana kamu ini? Barang palsu yang diremehkan Keluarga Avricon kalian, malah ingin dikuasai dan tidak bersedia dikembalikan? Apa maksud kalian sebenarnya?"
Kuni, Rinai dan yang lainnya semakin bingung. Christo mengernyit, merasa ada yang tidak beres.
__ADS_1
"Apa urusannya masalah Keluarga Avriconku denganmu? Tetua Torini , aku beritahu kamu, kamu datang untuk minum alkohol, aku menyambutmu, jika kamu datang untuk mengurus masalah keluargaku, silahkan pergi saja!" Tetua Avricon langsung berseru.
"Aduh, Tetua Avricon, aku memanggilmu Tuan hanya untuk memberimu wajah saja, kamu benar-benar kira dirimu hebat? Jika bukan karena melihat hari ini ulang tahunmu, kamu sudah akan aku maki dari tadi, jangan kira aku takut padamu!"
"Ka...kamu."
"Tetua! Jangan kira aku tidak tahu akal busukmu! Bahkan mungkin kamu sudah tahu lukisan yang diberikan saudara Vincent ini adalah asli! Hanya saja kamu sengaja berpura-pura bodoh, mencoba menyelamatkan wajah anakmu, benarkan?" Tetua Torini berkata lagi.
Satu kalimat ini seperti sebuah pisau yang dengan kejam langsung menusuk hati Christo dan yang lainnya. Ekspresi wajah Rinai, Yosua dan yang lainnya sangat pucat.
Kuni seperti tersambar petir. Para tamu tertegun, menatap dengan mulut terbuka.
"Bagaimana mungkin?" Christo menggertakkan gigi, dia segera berjalan maju
"Paman Torini, apa kamu tidak salah? Bagaimana mungkin lukisan Vincent itu yang asli? Jelas-jelas yang dibawa oleh Yosua kami adalah lukisan asli,"
"Dari mana kamu bawa itu?" Tetua Torini menatap Yosua.
"Black market, dibeli dari seseorang bernama Chema!" Yosua menjawab dengan suara rendah,
"Pantas saja."
Tetua Torini menggelengkan kepala : "Lukisanmu itu, palsu."
"Kenapa?" Yosua tidak berani percaya.
"Mudah sekali, karena Chema yang kamu katakan tadi baru saja ditangkap, aku baru menerima informasi kalau dia ditahan karena penipuan dan pembajakan, dan dia juga yang menyebarkan berita bahwa Lukisan Previous Month ada di kota Izuno, dia sengaja memancing orang luar kota untuk datang ke kota Izuno, lalu menjual barang palsu yang sudah dia siapkan sebelumnya pada kalian! Kalian sudah tertipu olehnya."
"Tidak mungkin!!" Yosua berteriak marah.
"Baik!" Christo menggertakkan gigi langsung setuju.
Tapi saat ini Tetua Avricon berkata dengan suara serak : "Tidak perlu lagi!"
"Pa!" Christo menatap Tetua Avricon dengan tatapan kosong.
Tetua Avricon menjilat bibir bawahnya, lalu berkata : "Lukisan yang diberikan oleh Jackson... adalah yang asli."
"Apa?" Christo sekeluarga tercengang. Semua tamu juga kebingungan.
"Kakek, i ini tidak mungkin Pu Punyaku tidak mungkin palsu." Yosua yang duduk di kursi roda berkata dengan terbata-bata.
"Chema yang ditangkap, tidak bisa membuktikan apapun, seorang penjual barang palsu mungkin saja bisa menjual barang asli." Christo masih bersikeras.
"Tapi kertas yang dipakai di lukisanmu itu tidak sama..lukisan dari Dinasti Jin.. tidak memiliki kertas seperti itu." Tetua Avricon menghela napas dan berkata.
Christo langsung tidak bisa berkata-kata. Suasana di ruang perjamuan menjadi sangat aneh. Semua anak Tetua Avricon tampak tercengang. Jackson dan Katrina juga tercengang.
"A Asli? Jackson, lu.. lukisan kita itu ternyata asli?" Katrina berbicara terbata-bata.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Jackson masih tidak mengerti.
"Jackson, Katrina, kemarilah!" Tetua Avricon berteriak memanggil. Jackson dan Katrina langsung membeku, dengan segera berjalan maju ke depan.
__ADS_1
"Pa!" mereka berdua dengan serentak.
Tetua Avricon menatap mereka dengan hati-hati, lalu dia menghela napas panjang dan berkata : "Katrina, Jackson, aku sangat senang kalian bisa memberikan hadiah seperti ini padaku, kalian pasti sudah menghabiskan banyak waktu kan? Kalian sudah memiliki niat, masalah tadi, memang salahku, semoga kalian bisa memaafkan aku, kalian. sudah menderita."
"Bagaimana bisa?"
"Pa, kamu terlalu sungkan!" Mereka berdua terkejut dengan pujian itu, segera menjawab.
"Duduklah di sini, satu meja denganku, aku sudah lama tidak mengobrol dengan kalian sekeluarga!" Tetua Avricon berkata.
Ekspresi wajah semua orang langsung berubah saat mendengar itu. Terutama Christo.
"Pa! Ini..." Dia buru-buru maju ke depan untuk berbicara.
Tapi Tetua Avricon segera mengangkat tangannya, mengisyaratkan dia untuk tidak melawan.
"Kemarilah." Tetua Avricon berkata sambil tersenyum.
"Baik, Pa!" rongga mata Katrina sedikit basah. Dia tidak ingat lagi sudah berapa lama dia tidak makan bersama ayahnya dalam satu meja. Jackson juga seperti itu, juga merasa sangat terharu.
Semua ini berkat Vincent. Dia menoleh dan menatap ke arah Vincent. Dan melihat Vincent sedang mengangguk dan tersenyum. Jackson dan Katrina di undang untuk duduk di meja, ini bisa dikatakan adalah suatu kehormatan besar.
Mata Kuni, Rinai dan yang lainnya memerah, menatap satu keluarga ini sambil menggertakkan gigi. Para tamu saat ini merasa sangat terharu.
"Di mana Jane?" tiba-tiba Tetua Avricon menatap ke segala arah dan berteriak.
"Kakek, aku di sini!" Jane segera menjawab.
"Kamu juga kemarilah! Dan juga kamu, bocah busuk!" Tetua Avricon menatap Vincent sambil berkata.
"Baik, baik!" Vincent berkata sambil tersenyum, lalu berjalan ke depan.
Satu keluarga ini sekarang menjadi pusat perhatian, bisa dikatakan merasa sangat bangga.
Tetua Torini juga dengan tidak tahu malunya duduk di sana, dia malah duduk di samping Vincent sambil berbicara. Saat ini, keluarga Jackson sudah menjadi pusat perhatian. Dan di saat kursi yang diduduki oleh Vincent belum terasa panas, sebuah suara tua terdengar dari luar.
"Agil! Ada apa denganmu? Kenapa satu keluarga ini duduk di sana? Kamu tidak tahu malu, aku masih tahu malu!" Semua orang dengan serentak menoleh ke sumber suara, dan terlihat Nyonya besar yang sudah tua berjalan masuk ke dalam aula, menatap ke arah sini dengan tatapan dingin.
"Nyonya besar sudah datang?" Para tamu berseru,
"Ma!" Ekspresi wajah Katrina langsung berubah, dia segera bangkit berdiri.
"Jangan panggi aku ibu, aku tidak punya putri sepertimu." Nyonya besar berseru.
"Ma, aku akan jelaskan padamu tentang gelang itu nanti malam." Katrina segera berkata.
"Siapa yang ingin membahas tentang gelang denganmu? Kamu kira masalah yang kalian sekeluarga buat hanya ini? Pelayan, usir mereka satu keluarga ini keluar! Jangan sampai kita Keluarga Avricon tidak bisa beri penjelasan saat orang-orang keluarga Sangsung dan keluarga Ifro datang mencari mereka! Suruh mereka urus sendiri masalah yang mereka buat!" Nyonya besar berkata dingin.
"Baik." Beberapa orang Keluarga Avricon langsung maju. Ekspresi wajah keluarga Jackson langsung berubah.
"Apa yang kamu lakukan?" Tetua Avricon berkata marah.
"Apa yang aku lakukan? Agil, jangan kira aku tidak tahu apapun! Menantu baikmu dan juga cucu menantu baikmu baru saja menipu uang miliaran rupiah milik keluarga Sangsung dan keluarga Ifro! Aku baru saja menerima telepon, orang keluarga Sangsung dan keluarga Ifro sedang menuju kemari! Ingin meminta penjelasan pada kita!" Nyonya besar berseru.
__ADS_1
“Apa?" Suasana di ruangan itu langsung menjadi kacau.