
Jane menatap Vincent dengan takjub, merasa sedikit bingung.
Dia pikir dia salah dengar.
Hanya Tuhan yang tahu bagaimana Vincent bisa tiba-tiba mengeluarkan kalimat seperti itu...
Asal tahu saja, dia hanyalah seorang menantu biasa!
Dengan istri yang begitu cantik yang bisa hidup mandiri, apa lagi yang dia inginkan?
Meskipun istrinya hanya sebatas nama dan status saja...
Tapi berapa banyak orang yang ingin menjadi pasangan Jane, tetapi tidak ada yang bisa … dalam hal apa lagi dia harus tidak puas?
“Apakah kamu… punya wanita yang kamu suka?" Jane mengerutkan keningnya dan bertanya dengan suara pelan.
"Tidak."
"Lalu apa maksudmu berkata seperti itu?"
“Aku hanya tidak ingin memperlambat dirimu! Karena kamu dan aku adalah suami istri, jadi kamu tidak pernah berani melewati batasan! Ini bukan hal yang baik untukmu, kita jadi sepasang suami dan istri hanyalah sebagai status saja, sebuah kebohongan punlik, kenapa kamu harus terus menderita? Terus bersikap keras kepala? Bukankah itu sangat melelahkan?" Vincent berkata dengan tenang.
"Apa? Kamu sudah tidak tahan lagi dengan semua ini? Atau kamu tidak menyukaiku?"
Mata Jane memerah entah kenapa, lalu dia berdiri dan menatapnya dengan sedih.
Keduanya berhadapan dengan sangat dekat.
Vincent bisa mencium aroma tubuh Jane, dia juga bisa melihat air mata sudah berkumpul di matanya.
Dia menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan tenang: "Dari awal sampai akhir, bukan karena aku membencimu, tetapi kamu … yang membenciku, iya kan?"
Jane terdiam.
Memang betul.
Dari awal hingga akhir, kapan Vincent pernah tidak menyukai Jane?
Bukankah Jane, Jackson, Katrina, bahkan seluruh Keluarga Dormantis, tidak ada yang menyukai Vincent?
"Siapa yang harus disalahkan akan hal ini? Bukankah kamu yang harusnya disalahkan? Jika kamu bisa berdiri sediri, jika kamu bisa bekerja lebih keras, kamu bisa setidaknya melakukan sesuatu, siapa yang akan merendahkanmu? Tidak bisakah kamu menjadi serba bisa? Seperti Minos ? Tidak bisakah kamu menjadi seperti orang lain dan memiliki pekerjaan normal, bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore daripada hanya berkeliaran tidak jelas setiap harinya? Tidak bisakah kamu membuat kedua orang tuaku kagum padamu??"
Jane gelisah, suaranya terdengar gemetar.
Vincent tidak mengatakan apa-apa.
Dia tidak tahu bagaimana harus bersikap.
Memang betul.
__ADS_1
Karena sengaja menyembunyikan status dan identitas sebenarnya, sudah pasti banyak orang yang akan merendahkannya.
Vincent menghela nafas dan berkata dengan suara berat: "Jane, suatu hari nati, kamu akan tahu yang sebenarnya."
"Yang sebenarnya apa?"
"Kamu akan tahu nanti."
Vincent tidak melanjutkan.
Jane menahan emosinya dan menatapnya dengan berlinang air mata.
"Aku tidak peduli apa dengan apa yang kamu pikirkan, selain itu, aku tidak akan mengizinkanmu membahas perceraian lagi!"
"Tapi apa gunanya terus berjalan seperti ini?"
“Apakah dengan hubungan kita yang seperti ini, apakah kamu merasa tidak nyaman?” Jane bertanya lagi, air mata sudah siap membanjiri dirinya kapan saja.
"Bukan itu maksudku..."
Vincent ingin menjelaskan.
Tetapi saat ini, Jane tiba-tiba melangkah maju, memeluk Vincent, lalu berjinjit, bibirnya langsung menempel di mulutnya.
Sentuhan lembut dan hangat langsung saling bertukar.
Tak lama kemudian, bibir mereka berpisah.
Pipi Jane merah, tetapi air matanya juga sudah memenuhi wajahnya, dia menatap Vincent, suaranya bergetar dengan sedikit tersedak "Sekarang, apakah kamu puas?"
Begitu saja?
Vincent ingin menjawabnya, tetapi dia memilih untuk tidak bicara yang tidak-tidak.
"Aku tahu bahwa kamu juga sangat dirugikan ketika memiliki hubungan seperti ini denganku, kamu juga telah menanggung cacian dari banyak orang selama bertahun-tahun, kamu pasti juga sangat sedih, tapi apa yang bisa kulakukan? Aku tidak bisa mengubahmu begitu saja, hanya kamu yang bisa melakukan perubahan! Jika kamu memang berniat untuk berjuang demi hubungan kita, apakah kita akan jadi seperti ini?"
Setelah Jane selesai bicara, dia berbalik masuk ke kamarnya.
Vincent duduk di sofa, merasa sedikit bingung.
Dia tidak menyangka Jane begitu berani.
Dia bisa melihat ekspresi gugup dan bingung wanita polos itu.
Ini adalah ciuman pertama mereka kan?
Dari mana dia mendapatkan keberanian itu?
__ADS_1
Vincent sesekali melirik kedalam kamar, Jane sudah berbaring di tempat tidur, tapi dia menutupi kepalanya dengan selimut.
Suasana di dalam ruangan menjadi sedikit canggung.
Vincent tidak tahu harus berkata apa, jadi dia hanya berdiri di depan jendela dan menyalakan sebatang rokok.
Berharap waktu bisa mencairkan segalanya.
Tapi jika dia bisa memutar ulang waktu, dia tidak menginginkan ciuman ini.
Karena … dia tahu bahwa dia dan Jane tidak sama.
Dengan kata lain, bukan dari dunia yang sama.
Saat ini...
Ding dong!
Bell pintu berbunyi.
"Siapa?"
Vincent buru-buru mematikan rokoknya, berteriak, lal membuka pintu kamarnya.
Terlihat seorang pelayan berdiri di pintu.
“Apakah kamu Tuan bermoth?” Pelayan itu bertanya sambil tersenyum.
"Iya saya sendiri, ada apa?"
“Jadi begini, Tuan Bermoth, Tuan Kayaraya ingin mengundangmu untuk makan malam, bisakah kamu pergi ke ruangan VIP lagi di lantai tiga? Tuan Kayaraya menunggumu di sana!” Pelayan itu tersenyum.
" Tuan Kayaraya ? Tuan Kayaraya yang mana?" Vincent bertanya dengan bingung.
“ Tuan Kayaraya yang minum denganmu siang tadi!” Kata pelayan itu.
“Aku tidak kenal!” Vincent mengerutkan keningnya dan langsug menolak.
" Tuan Kayaraya bilang, tidak peduli apa yang kamu katakan, kamu harus pergi ke sana, jika kamu menolak untuk pergi, maka kami akan membawamu kesana dengan segala cara." Kata pelayan itu dengan tegas.
"Oh?"
Vincent sedikit terkejut, tetapi dia tidak pernah berpikir bahwa Tuan Kayaraya memiliki keberanian seperti itu...
“Hmm, kalau memang begitu, maka aku akan datang kesana dengan istriku.” Vincent menjawab dengan tenang, dia ingin datang untuk melihat apa yang ingin dilakukan oleh Tuan Kayaraya.
Namun, pelayan itu melambaikan tangannya lagi dan lagi.
__ADS_1
“Tidak, tidak, tidak, Tuan Bermoth, kamu sudah salam paham, Tuan Kayaraya hanya mengundangmu ke acara makan malam ini, Direktur Dormantis, dia tidak mengundangnya!” Pelayan itu tersenyum.