
“Gawat? Apa maksudnya?” tanya Dai Anmei dengan tenang.
“Dai Anmei, kamu juga tahu, Tuan muda Warren selalu sangat baik padamu, kamu juga tahu perasaannya, sebenarnya aku juga tahu kamu mungkin tidak tertarik pada Tuan muda Warren, namun ada masalah yang jauh lebih baik dijauhi daripada dijadikan masalah, kamu tidak seharusnya membawa pacarmu datang, kalau tidak takutnya kamu dan juga pacarmu akan mendapat masalah.” Calvin berkata sambil menghela nafas.
“Kamu salah, pacarku bukan aku yang membawanya, dia yang datang sendiri, dia juga akan ikut acara Konferensi Raja Kedokteran kali ini.” Ucap Dai Anmei.
“oh? Pacarmu juga dokter?” Calvin sedikit terkejut.
“Tidak salah, Tuan Dominic, kalau tidak ada urusan kamu pergi dulu, sampai jumpa.” Ucap Dai Anmei dengan lembut, lalu menggandeng lengan Vincent dan pergi.
Calvin tidak menahannya, hanya menyipitkan matanya melihat kearah tubuh indah itu, lalu tatapannya diarahkan ke Vincent, ada senyum merendahkan yang tersungging di bibirnya.
Dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi sebuah nomor.
“Ada apa?” terdengar suara berat dari seberang sana.
“Coba kamu tebak aku melihat siapa?”
“Aku tidak suka orang lain membuang-buang waktuku! Aku matikan dulu!” ucap pria itu dengan datar dan berniat untuk langsung mematikan telepon.
“Eh, eh, eh, tunggu, tunggu.. haih, kamu ini sungguh tidak asik” Calvin mengangkat bahunya dan berkata dengan tidak berdaya: “Kalau begitu aku langsung saja, aku melihat Dai Anmei dan seorang pria bergandengan!”
Begitu mendengar ini, ekspresi wajah pria diseberang sana langsung menjadi dingin.
“Dimana?” dia bersuara sekali lagi, meskipun hanya satu kata, namun nada bicaranya begitu tegas.
“Masih bisa dimana? Tentu saja di sekolah!”
“Aku sudah dijalan menuju sekolah, suruh orang untuk menarik pria itu menjauh dari Dai Anmei, beritahu Dai Anmei, dia adalah wanita milikku Niji Warren, suruh dia tahu diri sedikit! Mengenai pria itu, serahkan padaku, aku akan tiba dalam 20 menit!” Setelah mengatakannya, telepon langsung dimatikan.
“Ada yang seru.”
Senyum mengembang di bibir Calvin, dia lalu berjalan masuk ke dalam sekolah dengan cepat.
Disisi lain Dai Anmei mengajak Vincent berkeliling Sekolah Kaisen dan mulai memperkenalkan Sekolah Kaisen.
Vincent mendengar dengan seksama, tidak ada yang terlewatkan.
Dan ketika mereka berdua berjalan sampai di depan sebuah gedung, Dai Anmei melihat lampu lobby sekolah yang masih menyala, langsung tersenyum pada Vincent dan berkata: “Sepertinya kelas sudah dimulai, ayo kita masuk untuk mendengarkan kelasnya?”
“Ok!”
Vincent mengangguk dan ikut Dai Anmei berjalan masuk ke dalam lobby sekolah.
Di dalam lobby begitu ramai, karena ini adalah kelas terbuka, semua orang bebas keluar masuk.
Biasanya yang datang tidak akan pergi, malah akan ada lebih banyak orang yang dibuat terkagum dengan ucapan yang diucapkan oleh wanita paruh baya yang berbicara didepan panggung.
Wanita paruh baya ini adalah Mako Aegen, merupakan seorang dokter tradisional di Sekolah Kaisen, lebih terkenal di dalam negeri, dihormati banyak orang, biasanya dia tidak mengajar, kali ini Sekolah Kaisen yang mengaturnya untuk mengajar satu sesi kelas terbuka, dia tidak berdaya, sehingga hanya bisa datang mau tidak mau.
Meskipun Mako hanya bicara dengan datar, namun dalam tatapan matanya tetap terlihat perasaan muak dan tidak sabar.
Dia pada dasarnya bukan dosen, datang kesini hanya untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh atasan saja.
Awalnya ada beberapa mahasiswa yang baru lulus sekolah menanyakan beberapa pertanyaan, namun Mako langsung menolak untuk menjawab.
Orang-orang tidak berani merasa tidak puas, karena bisa mendengarkan kelas yang diajarkan Mako saja mereka sudah berasa sangat beruntung.
Sehingga seluruh lobby sekolah, hanya Mako yang bicara seorang diri.
__ADS_1
Setelah Vincent mendengar sebentar langsung merasa tidak tertarik.
Sementara Dai Anmei malah mendengarkan dengan serius.
Dan tepat pada saat ini terdengar suara teriakan.
“Woi! Apa maksudmu? Guru Aegen sedang mengajar, kamu malah berani tidur? Apakah kamu sedang meremehkan Guru Aegen?”
Suara ini terdengar begitu menusuk telinga, dan langsung memotong pembicaraan Mako.
Semua orang melihat kearah datangnya suara, dan setelah menoleh dia baru menyadari kalau orang yang bicara adalah seorang pria yang berdiri dibelakang Vincent.
Dia memelototi Vincent dengan wajah yang begitu penuh amarah.
Vincent mengerutkan alis dan berkata kearahnya: “Kamu sedang bicara denganku?”
“Kalau tidak dengan siapa?” Ucap orang itu dengan marah.
“Tetapi aku tidak tidur.” Vincent berkata dengan tidak berdaya.
Dan tepat ketika dia bicara, dia merasa ada orang yang diam-diam menarik lengan bajunya perlahan.
Ketika menoleh, ternyata Dai Anmei. “Orang ini adalah orang Calvin.” Ucap Dai Anmei dengan lirih.
Begitu Vincent mendengarnya, dia langsung paham! Orang ini adalah utusan Calvin untuk mencari masalah..
“Keluar kamu sekarang juga!” orang itu menunjuk Vincent sambil berteriak.
Vincent tidak bergeming.
“Ada apa?”
Begitu mendengar ini, Mako langsung marah. Dirinya sudah datang mengajar disini dengan terpaksa, dan sekarang malah ada yang tidur dikelasnya? Bagaimana mungkin dia bisa menahannya?
“Benarkah ini? Kamu tidur ketika alku mengajar? “tanya Mako pada Vincent.
“Aku sama sekali tidak melakukannya.” Vincent menggeleng.
“Kamu masih berani berbohong?
“Semua orang melihatnya!” teriak orang itu.
“Benar, aku juga melihatnya!”
“Aku juga!”
“Kamu terlalu tidak menghargai orang!”
“Ada berapa banyak orang yang ingin mendengarkan pelajaran yang diajarkan qGuru Aegen tetapi tidak punya kesempatan!”
Ada banyak orang sekitar yang bangkit berdiri menjadi saksi, semuanya menunjuk Vincent.
Ekspresi wajah Dai Anmei langsung menjadi dingin.
Dia bisa mengenali dengan jelas kalau orang-orang ini adalah orang Calvin ...
Mereka sedang memfitnah dan menjebak Vincent ..
Mako kesal, wajahnya terlihat begitu dingin, dia menunjuk kearah pintu dan berkata dengan dingin: “Kamu, segera keluar dari sini!”
__ADS_1
Vincent mengerutkan alisnya, ekspresinya tetap sama.
Dai Anmei sudah tidak tahan lagi, berkata sambil menarik tangan Vincent : Kak Bermoth, ayo kita pergi!”
Begitu orang-orang itu mendengar langsung panik.
Calvin meminta mereka untuk membuat Vincent pergi dari sisi Dai Anmei, ini adalah Sekolah Kaisen, mereka tidak berani menggunakan paksaan, sehingga mencari cara, namun kalau Dai Anmei juga ikut keluar, bukankah usaha nmereka akan sia-sia?
Beberapa orang ini berpikir dengan cepat, dan pria yang pertama kali memulai itu seolah terpikirkan sesuatu, lalu mendengus dengan dingin: “Ingin pergi begitu saja? Jangan harap! Guru Aegen begitu terhormat, semua orang begitu menghormatinya, kamu tidur disini, itu sama saja dengan menginjak martabat Guru Aegen! Hei kawan kuberitahu ya, hari ini kalau kamu tidak berlutut dan meminta maaf pada Guru Aegen, kamu hanya akan keluar dari pintu ini dengan digotong keluar, tidak akan bisa berjalan keluar, mengerti tidak?”
Begitu mengatakan ini, mata beberapa orang lainnya langsung terpancar rasa senang
Harga dirinya di rusak! Dipermalukan di depan umum, menjadi bahan tertawaan semua orang?
Kalau sudah begitu, apakah Dai Anmei masih akan bersama dengan manusia tidak berguna ini? Trik yang sungguh jahat.
Vincent menjadi pusat perhatian sekarang, semua orang memihak Mako, tentu saja akan membenci Vincent.
Mako tersentak, dia tidak ingin Vincent sampai melakukan hal ini. Namun beberapa orang Calvin malah mengompori disini.
“Apa yang dikatakan benar, cepat berlutut, minta maaf pada Guru Aegen!”
“Berlutut, minta maaf!”
“Berlutut, minta maaf!”
Seiring beberapa orang yang mulai berseru, semua orang yang ada di lobby sekolah juga ikut berseru.
Semua orang begitu emosional, situasi menjadi semakin panas, bahkan ada yang terlihat begitu marah, seolah Vincent sudah melakukan dosa yang begitu besar.
Awalnya Mako tidak ingin masalah ini menjadi begitu rumit, namun melihat emosi yang begitu meluap di sekitarnya, dia juga tidak bisa menenangkannya.
Apalagi kalau orang ini benar-benar berlutut dihadapannya meminta maaf karena sudah tidur di kelasnya, itu juga meningkatkan harga dirinya, dan ini juga akan menjadi modalnya.
Akhirnya Mako membulatkan tekad, membiarkan si bodoh ini berlutut memang kenapa? Lagi pula disini ada Sekolah Kaisen, anak ini juga pasti datang untuk ikut acara Konferensi Raja Kedokteran, dia tidak perlu takut.
Dan ketika semua orang sedang mendesak Vincent untuk berlutut, tiba-tiba
Vincent berkata. “Dia adalah guru kalian, bukan guruku, memang kenapa kalau aku benar tidur disini? Ini tidak bisa membuktikan aku tidak menghormatinya, karena dia sama sekali tidak pantas mengajariku!”
Begitu ucapan ini dilayangkan, seluruh lobby sekolah langsung menjadi hening.
Sermua orang membelalakkan mata dengan besar dan melihat kearah Vincent.
Detik berikutnya, makian yang bertubi-tubi menggema diseluruh lobby sekolah. “Apa yang kamu katakan? Guru Aegen tidak pantas mengajarimu?”
“Kamu pikir siapa kamu?”
“Dasar sampah, cepat berlutut dan minta maaf, kalau tidak kusobek mulutmu!”
“Dasar binatang yang dilahirkan tanpa dididik orang tua!”
Makian tidak hentinya terdengar. Mako juga langsung meledak.
“Kau... apa yang kau katakan?Maksudmu aku tidak pantas mengajarimu?”) Mako menunjuk Vincent dan bertanya dengan penuh amarah.
Benar.”
Ucap Vincent sambil mengangguk.
__ADS_1