Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 422 kamu termasuk siapa


__ADS_3

“Vincent, kamu mau kemana?” Jane menatap ke suaminya dengan bingung.


“Lihat cuaca ini, sepertinya sudah mau hujan. Kondisi ibu semakin memburuk, kita istirahat di bawah jembatan dulu, aku coba memeriksa kondisi ibu!” Vincent berkata.


Melihat langit yang gelap, Jane pun mengangguk.


Jembatan ini baru saja dibangun, sisi kanannya belum dibuka untuk lalu lintas, jadi masih lumayan sepi. Bawah jembatan termasuk lumayan bersih, Vincent meletakkan Elva ke atas lantai dengan posisi sadar ke dermaga.


Tubuh Elva mulai pulih dari mati rasa, secara perlahan dia membuka matanya.


“Anakku... apakah ibu sudah mati?” Elva menatap Vincent dengan lemas, bertanya dengan suara serak.


“Bu, kamu tenang saja, ada aku, kamu akan baik-baik saja” Vincent tersenyum, kemudian mengeluarkan sebuah jarum perak dan menusuknya ke leher Elva.


Nafas Elva yang kacau dan lemas mulai tampak agak stabil.


Vincent mengangkat tangan Elva, setelah memeriksa nadinya, ekspresi Vincent pun menjadi menggelap.


“Vincent, bagaimana dengan kondisi ibu?” Jane bertanya.


“Ada tanda memburuk..” Vincent berakta.


“Memburuk?” Setelah diam sejenak, Jane pun berkata: “Vincent, atau tidak kita bawa ibu berobat ke Izuno saja. Sini adalah kota Azuka, keluarga Lavore itu sangat berkuasa di sini, warga biasa seperti kita mana mungkin bisa melawannya? Mendingan kita pergi secepatnya!”


Kemarahan memenuhi kepala Vincent, tapi dia harus mengaku bahwa kata-kata Jane benar.


Karena datang dengan buru-buru, jangankan persiapan jumlah orang, Vincent sendiri saja tidak membawa jarum perak dan pil obat yang dia buat sendiri. Kalau Vincent ada bawa sebagian pil obat yang dia buat sendiri, kondisi Elva tidak akan memburuk sampai begini.


Terus berada di sini sangat membahayakan, hal pertama yang harus dilakukan adalah meninggalkan kota Azuka secepat mungkin.


“Jane, kata-katamu benar, aku langsung pesan tiket pesawat pulang ke Izuno”


“Kamu masih ada uang? Aku yang pesan, kamu simpan uangmu saja, jangan sembarang menemui pasien lagi... Selain itu, apakah kondisi ibu sekarang bisa naik pesawat? Aku khawatir... akan terjadi insiden” Jane berkata.


“Tubuh ibu sangat lemah sekarang, sebelumnya rumah sakit juga hanya menekan proses pemburukan penyakitnya dengan sementara. Kalau tidak mengobatinya secepat mungkin, nyawa ibu akan dilanda bahaya setiap saat” Vincent berkata.


“Apa? Jadi kita harus buat apa sekarang?” “Aku bisa mengobati ibu sekarang.

__ADS_1


“Jane, kamu pergi ke klinik terdekat, bantu aku beli satu set jarum perak, kemudian beli sedikit obat tradisional juga.. obat barat juga beli sedikit.” Vincent berkata.


Setelah mendengar dengan serius, Jane mengangguk, kemudian berputar balik badan untuk pergi beli obat.


Pada saat ini, Vincent yang teringat dengan sesuatu pun berteriak: “Jane, tunggu sebentar”


“Kenapa?” Jane melihatnya dengan wajah tidak mengerti.


Setlah berpikir sejenak, Vincent berkata: “Lupakan saja, kamu tinggal di sini jaga ibu saja. Aku khawatir klinik tidak mau jual kalau kamu yang pergi, lebih baiknya aku yang pergi”


“Benar juga, takutnya keluarga Lavore itu melakukan hal licik lagi.. Tapi, bagaimana kalau klinik tidak mau jual obat?” Jane bertanya.


“Tenang saja, mau bagaimanapun aku pernah belajar tentang kedokteran. Kalau memang tidak bisa, aku bisa beli dari petani farmasi. Keluarga Lavore tidak mungkin sampai pergi mengancam farmasi petani juga”


Jane mengangguk, menjilat bibirnya dan berkata dengan lembut: “Baiklah, mau bagaimanapun, kamu harus hati-hati. Cepat pergi cepat pulang, aku dan ibu tunggu kamu di sini”


“Kalau ada masalah, harus segera telpon aku!”


“Tenang saja, kamu cepat pergi, akan kutunggu!”


Hanya saja.


Begitu Vincent pergi, sebuah mobil sport pun berhenti di tepi jembatan.


Jane tercengang sejenak.


Setelah mobil berhenti, pintu mobil terbuka dan seorang wanita dengan rok sangat pendek dan stoking hitam turun dari ferarri berwarna merah.


Wanita itu melepaskan kaca mata hitamnya, berjalan menuju Jane dan Elva.


Dia menatap kepada Elva dengan sikap arogan, kemudian melirik ke Jane.


“Eh? Bukannya ini tante Elva? Kenapa? Kenapa kamu menjadi tampak seperti pengemis di jalan?” Wanita itu berkata dengan suara mengejek.


Elva mengangkat kepalanya dengan susah payah, melihat ke orang yang datang.


Jane mengerutkan alisnya, berdiri dan melirik wanita itu dengan marah: “Nona ini, ada urusan apa?”

__ADS_1


“Kamu siapa?” Wanita itu melihat Jane dari atas sampai bawah dengan matanya yang penuh riasan.


Dia sudah memperhatikan Jane dari tadi, meskipun tidak memakai baju bermerek, wajah Jane tampak seperti hasil karya dewa. Mau wanita pun yang melihatnya, mereka akan merasa iri sampai menggila.


“Elva adalah ibu mertuaku!” Jane berkata dengan serius.


“Ibu mertua?” Wanita itu diam sejenak, setelah menyadari sesuatu, wanita itu menunjuk kepada Jane sambil tertawa: “Hahaha, aku ingat, aku ingat, kamu adalah wanita bodoh yang menikah dengan anak dibuang keluarga Bermoth? Hahaha, benar-benar sangat lucu”


“Anak yang dibuang oleh keluarga Bermoth?” Jane tampak bingung, dia tidak tahu apa itu keluarga Bermoth.


“Waktu berada di keluarga Lavore, Elva terus mengomel tentang Vincent si sampah itu setiap hari. Aku dengarnya, suami sampahmu menikah bersamamu dan dihidupin keluargamu. Aduh, benar-benar sangat tidak berguna, kenapa kamu bisa menahan dengannya? Kalau aku itu kamu, aku sudah meninggalkan sampah tidak berguna sejak dulu” Wanita itu melirik Jane, berkata sambil tertawa.


Kemarahan memenuhi otak Jane, tetapi dia tidak bisa buat apa-apa, karena kata-kata wanita ini memang benar.


Tidak bisa membantahnya, Jane memilih untuk mengabaikan wanita ini, berdiri di samping Elva untuk menemaninya.


Tetapi, wanita ini mana mungkin akan melepaskan Elva begitu saja?


“Heh, gadis, cepat bawa tikus ini kembali ke sarang tikusnya! Sini bukan tempat yang dia bisa tinggal!” Wanita itu berkata kepada Jane.


“Nona, tolong berkata dengan sopan!” Jane berusaha untuk sabar.


Tetapi begitu mendengar kata-kata Jane, wanita itu langsung menamparnya di muka.


Pak!


Suara tamparan yang jernih berdering.


Bekas telapak tangan yang merah langsung muncul di pipi Jane.


Jane memegang wajahnya dengan kaget, kepalanya terasa kosong.


Elva juga merasa cemas, dia berdiri dengan kesusahan dan berteriak: “Sasha... ber...berhenti...”


Suara Elva terdengar sangat lemas, tapi wanita itu sama sekali tidak mau mendengarkannya.


“Bajingan bau, sini tidak ada giliran kamu berbicara. Kamu termasuk siapa? Berhak meminta aku berbicara dengan sopan? Percaya tidak, aku bisa membuat kamu tidak bisa meninggalkan kota Azuka hari ini” Wanita itu menunjuk ke Jane, berteriak dengan marah.

__ADS_1


__ADS_2