
Sekolah Kaisen berdiri di atas gunung Mesto disamping kota Mesto.
Gunung Mesto adalah sebuah gunung tua, memiliki lahan yang luas, terlihat begitu hijau, pepohonan membentuk hutan yang rimbun, merupakan area yang dilindungi negara, didalam hutan ada banyak hewan yang dilindungi, juga ada Jamur Ganoderma yang langka, merupakan lahan yang begitu berharga, setiap tahunnya ada banyak orang yang datang untuk memetik rumput obat, juga ada banyak pendaki yang datang untung berpetualang, namun banyak yang mengalami kecelakaan, bahkan banyak kasus orang hilang dan tidak ditemukan jejaknya.
Bagi Sekolah Kaisen, gunung Mesto ini merupakan harta karun yang besar!
“Sekolah Kaisen setiap tahunnya akan mengutus orang dan membentuk kelompok untuk datang ke gunung Mesto memetik obat, dan setiap kalinya selalu bisa menemukan banyak tanaman obat yang berharga, kabarnya mereka pernah menemukan ginseng liar yang sudah berusia 700 tahun, itu merupakan kejadian yang begitu menggemparkan!” Dai Anwen yang duduk disamping kursi pengemudi berkata dengan wajah tersenyum.
Yang dijual dipasaran sekarang selalu dikatakan sebagai ginseng yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun, namun pada kenyataannya mana mungkin ada begitu banyak ginseng yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun? Kebanyakan adalah produk palsu, namun yang didapatkan Sekolah Kaisen kali ini sudah pasti barang asli.
“Gunung Mesto? Memang benar-benar tempat yang bagus.” Vincent melihat keluar jendela sambil mengangguk pelan.
“Oh iya guru, kenapa tidak ada angin tidak ada hujan anda ingin mengikuti acara Konferensi Raja Kedokteran ini? Aku ingat anda tidak suka ikut serta acara seperti ini?” Dai Anwen merasa aneh, dan pada akhirnya bertanya.
Vincent terdiam sejenak, lalu tiba-tiba bertanya: “Anwen, menurutmu kalau aku sampai bermusuhan dengan Sekolah Kaisen, apa yang akan terjadi?”
Nafas Dai Anwen langsung terhenti. Kemudian dia menggeleng: “Tragis.”
“Sekolah Kaisen?”
“Yang aku maksud guru.” Ucap Dai Anwen lirih: “Jaringan koneksi Sekolah Kaisen sangat kompleks, disana merupakan sarang orang berkuasa, kalau anda hanya ingin bersaing dengan salah satu orang di Sekolah Kaisen, masalahnya tidak akan besar, namun kalau anda ingin menjadikan seluruh Sekolah Kaisen musuh...ini sangat tidak realistis..”
“Begitu ya...”
“Guru, sebenarnya apa tujuan anda datang ke Sekolah Kaisen?” Dai Anwen merasa ada yang tidak beres.
“Menjadikan Sekolah Kaisen musuh.” Ucap Vincent dengan tenang.
Tubuh Dai Anwen agak gemetar.
“Apakah... Sekolah Kaisen menyinggungmu?” tanya Dai Anwen dengan senyum pahit.
“Sekolah Kaisen sudah mulai menghadapi Grup Vallamor, kalau aku tetap diam saja, hanya akan habis ditelan Sekolah Kaisen.” Ucap Vincent datar.
Wajah Dai Anwen yang sudah keriput menjadi tegas: “Ternyata.”
“Apakah kamu tahu sesuatu?”
“Aku juga hanya mendengar beberapa kabar burung yang beredar, guru juga tahu, aku sudah sangat jarang ikut campur urusan luar, meskipun terdaftar di Sekolah Kaisen, kalau tidak ada urusan aku sama sekali tidak akan pulang ke Sekolah Kaisen. Dan beberapa waktu yang lalu, aku mendapat sebuah kabar, mengatakan kalau orang-orang dari Sekolah Kaisen tertarik pada kedua resep obat yang ada ditangan guru, mereka berniat untuk membacanya, namun barang seperti ini bagaimana mungkin diperlihatkan pada orang lain, aku yakin Sekolah Kaisen juga tahu ini, sehingga mulai mengganggu Grup Vallamor..”
“Kalau mereka bersedia bicara baik-baik padaku, aku bisa memperlihatkannya pada mereka, namun kalau mereka berbuat seperti ini, hanya akan merugikan semua pihak.” Vincent menggeleng.
Begitu Dai Anwen mendengarnya, dia segera berkata: “Guru, kalau anda benar-benar bersedia membiarkan kedua resep ini dibaca oleh Sekolah Kaisen, aku bisa langsung menghubungi Sekolah Kaisen, aku yakin mereka pasti akan berhenti mengganggu Grup Vallamor, bagaimana pun tujuan mereka hanya kedua resep itu, semua orang pasi akan berharap semua bisa diselesaikan dengan tenang.”
“Tidak perlu, sudah tidak ada gunanya.” Ucap Vincent dengan wajah datar: “Karena mereka sudah mulai bergerak, maka aku juga tidak akan menyerah, karena begitu ada satu kali, maka akan ada yang berikutnya, hanya melawan balik, baru bisa memberi peringatan dan juga menyelesaikan masalah, kedamaian yang didapatkan dari memohon tidak akan bertahan lama.”
“Tetapi..” Dai Anwen tetap ingin membujuk.
Namun Vincent sudah memejamkan matanya, tidak lagi banyak bicara dengan Dai Anwen.
Dai Anwen menghela nafas panjang.
__ADS_1
Guru sungguh gegabah. Bagaimanapun guru masih sangat muda, kalau sampai membiarkan guru bertikai dengan Sekolah Kaisen, kemungkinan aku juga tidak akan bisa melindunginya...
Tidak bisa, harus mencari cara untuk mencegah guru melakukan hal ini.
Masalah ini harus diselesaikan dengan tenang.
Namun untuk sementara harus memanfaatkan waktu yang ada.
Dai Anwen berpikir sejenak, mengeluarkan ponsel, diam-diam mengirimkan pesan.
Sekitar satu jam setelahnya, mobil berhenti dengan lancar disamping Sekolah Kaisen.
Posisi sekolah ini berada di bukit gunung Mesto, disampingnya ada sebuah kota kecil, dan fasilitas di kota ini sangat lengkap, hotel sampai tempat karaoke serba ada, dan kabarnya didanai oleh Sekolah Kaisen.
Dai Anwen mengatur Vincent tinggal disebuah hotel cantik disamping sekolah untuk beristirahat.
Namun begitu mobilnya berhenti, alis Vincent langsung mengkerut.
Melihat pintu mobil yang dibuka, seorang gadis yang mengenakan gaun hitam panjang dengan rambut panjang terurai sedang berdiri disamping mobil sambil tersenyum dengan gembira, matanya melengkung indah, berkata sambil menatap Vincent: “Kak Bermoth, hai!”
“Kenapa Dai Anmei juga datang?” Vincent berkata dengan datar sambil melihat kearah Dai Anmei. “Aku kan juga mau masuk Sekolah Kaisen.” Senyum Dai Anmei .
Dai turun dari mobil dan segera menjelaskan: “Dai Anmei juga belajar ilmu kedokteran, dan dia termasuk yang berbakat, sehingga aku membiarkannya masuk Sekolah Kaisen untuk memperdalam ilmu, kali ini dia juga akan ikut acara Konferensi Raja Kedokteran, semoga bisa lulus dengan lancar.”
Karena kakeknya saja sudah bergabung di Sekolah Kaisen, tidak masuk akan cucunya tidak ikut masuk.
Vincent mengangguk, dia juga bisa memahaminya.
“Dai Anmei, guru ada urusan sendiri sehingga datang ke Sekolah Kaisen, kamu ajaklah dia untuk mengenal Sekolah Kaisen terlebih dahulu, kakek masih ada urusan, harus pergi dulu.” Ucap Dai Anwen sambil tersenyum.
“Baik kakek.” Dai Anmei tersenyum dan menjawab dengan lembut.
“Guru, kalau begitu aku pamit undur diri dulu.”
“Pergilah.”
Dai Anwen langsung pergi.
“Kak Bermoth, apakah kita perlu berkeliling Sekolah Kaisen? Aku mendengar tiga hari sebelum acara digelar, para guru di Sekolah Kaisen akan mengadakan beberapa kelas terbuka, kita bisa datang untuk mendengarkan sedikit.” Ucap Dai Anmei sambil tersenyum, senyumnya begitu sejuk bagaikan angin dimusim semi.
“Baiklah.” Vincent tidak menolak.
Dai Anmei langsung menarik tangan Vincent dna berjalan ke depan.
Alis Vincent langsung bergerak, dia ingin melepaskan tangannya, namun gadis ini menggenggamnya dengan sangat erat seolah tidak boleh dilepaskan.
“Kak Bermoth, kamu harus menggandengku dengan erat, kalau tidak nanti akan tersasar, disini sangat luas. Ucap Dai Anmei dengan lembut.
Vincent menghela nafas tanpa bicara.
Sebenarnya mana mungkin dia tidak paham apa yang dipikirkan oleh Dai Anmei?
__ADS_1
Namun dendam ibunya masih belum dibalas, dia benar-benar tidak tertarik dengan semua ini.
Keduanya masuk ke dalam Sekolah Kaisen
Saat ini didalam sekolah dipenuhi banyak orang, sangat ramai.
Semuanya adalah orang yang datang untuk ikut acara Konferensi Raja Kedokteran, ada mahasiswa kedokteran yang baru lulus, juga ada banyak ahli pengobatan tradisional.
Konferensi Raja Kedokteran ini adalah sebuah acara yang menguji, dalam acara pemilihan ini, siapa yang terpilih, maka hidupnya sudah tidak perlu khawatir lagi, juga bisa bisa mendapatkan ketenaran dan kesuksesan.
Dai Anmei dibalut oleh gaun hitam panjang, ditambah dengan parasnya yang cantik juga rambutnya yang panjang, langsung menarik perhatian banyak orang, namun ketika melihat tangannya menggandeng Vincent, ada banyak orang yang meringis.
“Bagaikan bunga diatas kubangan!” ada orang yang diam-diam mengumpat.
Vincent mengerutkan alis, dia mengambil topi yang sudah dia siapkan dan memakainya.
Pada saat ini, di depan gerbang terdengar keributan.
Ada banyak orang yang berlari ke depan gerbang, kebanyakan orang mengeluarkan ponsel, lalu memotret bagaikan paparazzi, suara jeritan histeris juga terdengar.
“Calvin Dominic datang!”
“Astaga, dokter berbakat ternama di negara kita?”
“Katanya umurnya masih muda, namun sudah memiliki klinik sendiri, bahkan mendapatkan pengakuan banyak dokter besar ternama, ilmu pengobatannya juga sangat hebat!”
“Wah, dia tampan sekali! Seperti aktor yang ada di film.”
Banyak orang disekitar yang membicarakannya dengan semangat, bahkan ada juga wanita yang melihat kearah sana dengan ekspresi terkesima.
“Calvin Dominic? Siapa dia?” Vincent sedikit bingung.
“Murid terkenal di Konferensi Raja Kedokteran, merupakan orang yang dianggap akan lolos masuk Sekolah Kaisen, berada di urutan ke-10 untuk kategori 10 dokter berbakat termuda di dunia. ” Dai Anmei menjelaskan sambil tersenyum.
“Dokter berbakat?” Vincent agak terkejut.
Dia sungguh tidak pernah mendengar kalau didunia media ada hal seperti ini.
Namun melihat Calvin yang berjalan masuk dengan senyum ramah pada semuanya, awalnya dia hendak langsung berjalan masuk ke dalam, namun tidak sengaja melirik ke arah Dai Anmei, matanya langsung berbinar dan mendekat dengan cepat.
“Haha, Dai Anmei, lama tidak jumpa!”
Calvin terlihat begitu bersahaja, namun ketika melihat tangan Ava yang menggandeng Vincent, sekilas sorot matanya menjadi dingin...
Vincent menyadari tatapan Calvin, namun tidak bergeming.
“Hai Tuan Dominic!” Ucap Dai Anmei dengan tersenyum.
“Hai, Dai Anmei, ada apa denganmu? Kita baru berapa tidak bertemu, kamu langsung menjadi begitu asing terhadapku? Panggil aku Calvin saja, eh? Ini adalah... pacarmu?” Calvin menatap Vincent dengan wajah tersenyum.
“Iya.” Jawab Dai Anmei tanpa ragu.
__ADS_1
Begitu mendengar ini, senyum Calvin langsung menjadi kaku, lalu menggeleng sambil tersenyum pahit dan berkata: “Kalau begitu gawat... gawat...”