
“Anda sekalian ada urusan apa?”
Disebuah halaman kecil disamping Sekolah Kaisen, Dai Anwen menatap orang berpakaian hitam yang menerbos masuk ke dalam rumahnya dengan alis mengkerut.
Disaat bersamaan, seorang nyonya kaya yang berdandanan begitu glamour dengan kacamata berbingkas emas berjalan masuk. Dia adalah ibu Umar Shihab, Lagarta!
Dia membentak dengan wajah penuh amarah kearah Dai Anwen: “Lihat perbuatan apa yang sudah dibuat Dai Anmei, oleh cucu kesayanganmu!”
Wajah tua Dai Anwen langsung nenjadi serius.
Masalah hari ini dia juga sudah mendengarnya dari Dai Anmei, meskipun perbuatan Dai Anmei sangat gegabah, namun itu merupakan hal yang sulit dielakkan dalam kondisi seperti itu.
Namun ketika mendengar ucapan yang dikatakan Umar pada Dai Anmei, membuat Dai Anwen merasa ada yang tidak beres.
Sekarang melihat nyonya ini datang, Dai Anwen samar-samar seolah menyadari sesuatu.
“Nyonya Shihab, aku tahu kejadiannya, kami keluarga Dai akan bertanggung jawab atas kejadian hari ini, namun kalau ingin dikupas tuntas, putra anda juga tidak pantas berbuat demikian, apa yang dia inginkan? Apakah keluarga Shihab tidak perlu menjelaskannya pada kami terlebih dahulu?” ucap Dai Anwen dengan tegas.
“Putraku hanya ingin bercanda dengan cucumu, lagipula tidak serius, tetapi cucumu? Apakah dia berniat membunuh putraku?” Nyonya Shihab bertanya dengan penuh amarah.
“Apakah putramu sudah mati?” Dai Anwen mendengus dengan dingin.
“Sedang di unit gawat darurat.”
“Gawat darurat?” Dai Anwen terkejut.
“Tidak mungkin, lukanya hanya luka luar, bagaimana mungkin bisa sampai masuk gawat darurat? Apalagi itu di akademi, ada banyak dokter disana, dia sudah melakukan tindakan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan, bagaimana mungkin sampai di bawa ke unit gawat darurat?” Dai Anmei yang berada didalam rumah segera berjalan keluar dan berkata dengan wajah tidak percaya.
“Anak kurang ajar, kamu masih berani keluar? Kenapa? Apakah kamu pikir kami sedang membohongimu?” ucap Nyonya Shihab dengan dingin.
“Aku ingin melihat laporan luka Umar.” Ucap Dai Anmei.
“Siapa kamu? Atas dasar apa aku harus memperlihatkannya padamu?” ucap nyonya Shihab dengan kesal.
“Kamu datang kesini untuk mengintrogasi kami, apakah kami bahkan tidak punya hak untuk melihat laporan itu?”
“Yang salah adalah kalian! Kalian masih berani mengungkit hal ini? Kalian ingin memberontak?” Nyonya Shihab kesal sampai dadanya naik turun, wajahnya juga memerah.
Setelah Dai Anwen terdiam sejenak, dia berkata dengan suara lirih: “Nyonya Shihab, kalau begitu anda berencana menyelesaikan masalah ini dengan cara apa?”
“Mudah, jadi menantuku, layani putraku maka semua akan baik-baik saja.” Ucap nyonya Shihab dengan senyum tipis.
Ekspresi Dai Anwen dan Dai Anmei langsung berubah.
__ADS_1
Ternyata! Orang keluarga Shihab tetap meminta syarat ini.
Mereka sudah menduganya, semua ini hanya jebakan, Umar memang sengaja mendesak Dai Anmei untuk melakukannya. Sekarang Dai Anmei sudah jatuh ke jebakannya, maka kendali ada ditangan keluarga Shihab.
“Nyonya Shihab, bukankah ini tidak pantas?” ucap Dai Anwen.
“Kalian tidak setuju?”
“Mati pun aku tidak akan menikah dengan Umar, bujuklah putramu untuk menyerah akan hal ini!” ucap Dai Anmei dengan tegas. Wajah mungil itu begitu yakin.
“Haha, bagus! Bagus sekali! Sifat gadis ini keras juga, keras kepala! Sama seperti aku! Sayangnya masalah ini tidak bisa berjalan sesuai ucapanmu!” nyonya Shihab tertawa dingin, sorot matanya terlihat jelas tatapan mengejek.
Dai Anwen tersentak, merasa hal ini semakin gawat. “Nonya Shihab, kalau tidak ada urusan lain silahkan pergi!” dia segera mengusir tamu dengan halus.
“Kenapa? Terburu-buru sekali ingin mengusirku? Kalau aku sampai pergi, maka Keluarga Dai kalian akan dalam masalah!” ucap nyonya Shihab sambil tersenyum.
Nafas keduanya langsung tercekat.
“Apa maksudmu?” tanya Dai Anmei dengan rahang mengetat.
“Hee, ini saja tidak mengerti? Masalah putra kesayanganku terluka sudah tersebar, keluarga Shihab kami sangat marah, ayahnya mengatakan kalau harus mendapatkan keadilan untuknya, kalau bukan aku yang membujuk disampingnya, Keluarga Dai kalian sudah habis sejak awal!”
Begitu mendengar ini, wajah tua Dai Anwen langsung muram.
Namun kalau Keluarga Dai menahannya mati-matian, meskipun akan goyah parah, namun pihak keluarga Shihab juga tidak akan jauh berbeda.
“Tentu saja, pihak keuarga Shihab kami masih belum mempermasalahkannya, kalau tidak terpaksa, kami tidak akan melawan Keluarga Dai, Dai Anwen, kamu jangan terlalu tegang.” Ucap nyonya Shihab lagi.
Namun ucapan ini ditelinga Dai Anwen, ini bukan hal baik.
“Pihak keluarga Shihab ? Kalau begitu pihak lain itu yang mana?” tanya Dai Anwen dengan penasaran.
“Pihak gurunya.”
“Guru Umar?” Dai Anwen tercengang.
Kabarnya guru Umar di Sekolah Kaisen sampai sekarang masih menjadi misteri, tidak ada yang tahu siapa gurunya, ada yang mengatakan Olga, namun Olga mengaku hanya menggunakan namanya saja, kenyataannya dia sama sekali tidak bertanggungjawab untuk mengajar Umar, dia mengatakan kalau kemampuannya sama sekali tidak bisa mengajari Umar.
Ini sungguh membuat banyak orang terkejut.
Ada yang bertanya sampai keakar, ingin tahu siapa guru hebat yang sudah mendidik Umar. Namun Sekolah Kaisen yang begitu besar tidak ada satupun yang berani mengatakannya.
“Guru Umar begitu marah begitu mendengar masalah ini, mengatakan tidak perduli apapun yang terjadi kami harus meminta keadilan, putraku Umar berbakat dan pintar, merupakan ahli yang sulit ditemukan, gurunya begitu menyayanginya, sejak awal sudah terlatih, sekarang malah muncul kejadian seperti ini, gurunya sama sekali tidak bisa tinggal diam, kalau bukan kami yang menahannya, mungkin yang berdiri disini sekarang bukan aku melainkan dia, kalau sampai dia datang, Dai Anwen, Keluarga Dai kecil kalian, mungkin harus lenyap.” Ucap nyonya Shihab dengan dingin.
__ADS_1
“Guru Umar ... siapa? Tanya Dai Anwen dengan bingung.
“Orang ini kamu juga kenal, dia adalah wakil ketua Sekolah Kaisen, Tuan Efesus Naga!” ucap nyonya Shihab dengan tenang.
Begitu mendengar ini, Dai Anwen merasa bagaikan tersambar petir.
“Ap... apa? Efesus? Wakil ketua Naga?” tubuh Dai Anwen gontai dan hampir tidak bisa berdiri dengan tegak.
Dai Anmei yang dibelakang mendengar ini langsung merasa pikirannya kosong bagaikan baru tersambar petir...
“Tuan Efesus sengaja meminta kami datang, Dai Anwen, kalau kamu tidak menyetujuinya, yang kalian hadapi bukan hanya keluarga Shihab kami, melainkan kemarahan Tuan Efesus, kamu yakin ingin melawan kami?” ucap nyonya Shihab sambil tersenyum.
Ada wakil kepala Naga yang menjadi backingnya, dia yakin Dai Anwen akan menyerah.
Masalahnya sudah sampai sini, kalau dipaksa bertahan, yang akan menjadi korban adalah seluruh keluarga besar.
Namun yang membuatnya tidak menyangka adalah Dai Anwen yang begitu keras kepala.
“Jadi maksudmu adalah... aku harus mengorbankan cucuku untuk menukar keselamatan Keluarga Dai kami?” Dai Anwen tersadar dari rasa terkejutnya, lalu berkata dengan tegas.
“Apa maksudmu?” senyum nyonya Shihab terhenti.
“Aku menolak.” Ucap Dai Anwen dengan tegas.
“Kamu sudah gila?” nyonya Shihab terlihat begitu tidak habis pikir.
Dai Anmei juga melihat kakeknya dengan wajah tidak percaya.
“Kakek, kalau wakil ketua Naga ikut campur, kita... Keluarga Dai kita... tidak bisa karena aku.” Dai Anmei berteriak dengan begitu menderita, namun dia tidak bisa mengatakannya.
“Anmei, apakah kamu ingin menikah dengan Umar?” tanya Dai Anwen dengan tegas.
Dai Anmei menggeleng dengan sedih.
“Kalau begitu baiklah, kamu tenang saja, kakek tidak akan bertekuk lutut pada orang ini, meskipun kakek mempertaruhkan nyawa tua ini, aku juga tidak akan menyerahkanmu!” ucap Dai Anwen dengan penuh emosional, matanya membelalak besar seolah akan berperang dengan orang-orang itu.
“Bagus! Bagus! Bagus! Dai Anwen, ini kamu yang mengatakannya sendiri, kalau begitu, kamu jangan salahkan aku!”
Setelah mengatakannya, nyonya Shihab langsung berbalik dan pergi.
“Segerombolan preman! Kamu pikir aku takut pada kalian? Paling-paling aku keluar dari Sekolah Kaisen !” ucap Dai Anwen dengan penuh amarah.
Dai Anmei duduk diatas kursi batu di halaman dengan wajah stres.
__ADS_1
Kondisi sudah sampai tahap sulit untuk dikendalikan..