Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 647 Juara Karate?


__ADS_3

Mendengar berita yang menghebohkan itu, semua orang langsung bangkit berdiri dari tempat duduk mereka dan menatap Jenice dengan kaget.


Dari segala arah, banyak pasang mata yang tak terhitung jumlahnya.


Bahkan orang yang lewat berhenti dan melihat ke arah sini.


Jenice tercengang.


Vincent mengerutkan keningnya, dia tidak pernah menyangka Dessy akan mengatakan kata-kata mengerikan seperti itu kali ini.


Untuk sesaat, banyak bisikan yang tak terhitung jumlahnya terdengar di sekitar.


"Astaga, apakah pria itu kakak ipar Jenice?"


"Ada apa? Kenapa dia dan kakak iparnya makan di tempat seperti ini?"


"Luar biasa, ini berita terbesar tahun ini!"


"Wanita ini benar-benar tidak punya malu!"


"Cepat, keluarkan ponsel kalian untuk mengambil gambar, segera sebarkan berita ini!"


"Selingkuh dengan kakak ipar sendiri! Ck ck ck, sudah kubilang Jenice ini bukan wanita baik-baik, memang penampilannya terlihat polos, tapi sebenarnya seorang wanita ******!"


Segala macam kata-kata kasar terus diucapkan, wajah Jenice menjadi semakin pucat, napasnya sangat cepat, bahkan dia kesulitan untuk berdiri tegak sekarang ini.


“Omong kosong, kamu… kamu hanya bicara omong kosong! Kau hanya memfitnahku!” Teriak Jenice dengan keras.


“Fitnah? Tapi memang benar kamu pergi berduaan dengan kakak iparmu untuk makan disini kan? Apakah kamu yakin sepupumu Jane tahu tentang ini? "Dessy mengangkat bahunya.


"Ini ..." Jenice terdiam, dia tidak bisa berkata-kata.


Tetapi Vincent segera melangkah maju dan berkata dengan dingin: "Jane sudah pasti tahu tentang hal ini, jadi jangan bicara yang tidak-tidak disini! Aku bisa langsung meminta istriku untuk datang dan membuktikan bahwa kami tidak bersalah! Kuberitahu ya! Jika kamu terus menjebak kami seperti ini dan merusak reputasi kami, aku akan memilih untuk segera memanggil polisi!"


"Yo? Mau menggunakan polisi untuk menakut-nakutiku? Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa aku akan takut? Seorang pria dan wanita berduaan sambil minum bir, sedang berselingkuh, bagaimana mungkin ada orang yang tidak boleh membicarakannya? "Dessy mencibir dan melawan argumen Vincent dengan telak.


“Dessy!! Tutup mulutmu!” Jenice begitu emosional hingga ingin melangkah maju dan melakukan sesuatu padanya.

__ADS_1


“Apa? Apakah apa yang kukatan itu salah? Bukankah kalian memang sedang berduaan dan selingkuh?" Dessy tersenyum dengan mata melotot.


"Kamu … kamu … kamu wanita brengsek!"


Jenice meledak, mengambil botol bir diatas meja dan menuangkannya ke Dessy dengan cepat.


Dalam sekejap, riasan tebal di wajah Dessy langsung berantakan, dia langsung terlihat mengerikan.


"Kamu … kamu berani melakukan ini padaku? Kamu berani bersikap seperti ini padaku?" Dessy berteriak.


Pria di dalam BMW di pinggir jalan merasa ada yang tidak beres, dia segera membuka pintu dan bergegas turun.


"Dessy, apa yang sudah terjadi?" Pria itu bertanya dengan cemas.


"Jonru! Sepasang pria dan wanita tukang selingkuh ini sudah menggangguku! Kamu harus membantuku memberi mereka pelajaran! Hajar prianya dan robek pakaian si wanitanya! Robek!" Dessy dengan marah menunjuk kearah Jenice dan bergegas maju.


Jenice tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menghentikan Dessy, tetapi pria di sebelahnya selangkah lebih maju darinya dan mengulurkan tangannya untuk menarik Dessy.


Jenice merasa lega saat melihat ini.


Pria ini tampaknya lebih waras daripada Dessy ...


Plakkk!


Suara tamparan yang nyaring terdengar.


Bekas tamparan berwarna merah cerah terlihat di wajah cantik Jenice dalam sekejap.


Dia menutupi wajah kecilnya dan melangkah mundur, menatap pria itu terkejut.


Mata Vincent menjadi dingin di sebelahnya.


"*****, berani kamu menggangu wanitaku? Cari mati ya? Aku tidak peduli siapa kamu! Cepat segera berlutut!" Teriak pria itu.


Sangat sombongnya!


Semua orang di sekitar terkejut, bahkan bos pemilik warung makan tidak berani melakukan apa-apa.

__ADS_1


“Jenice, kamu tidak apa-apa?” Vincent segera memeluk Jenice dan bertanya.


“Aku tidak apa-apa, kakak ipar, aku … ayo pulang saja!” Jenice menangis dan ketakutan.


"Kamu sudah diperlakukan seperti ini, jika kakak iparmu pergi begitu saja, bukankah akan sangat memalukan?"


Vincent berkata dengan tenang, menatap pria itu dengan tatapan kosong.


"Ada apa? Nak? Mau coba melawan? "Pria itu menyipitkan mata dengan jijik.


"Heh, Bang Sabem adalah juara karate seprovinsi, dia adalah pengawal pribadiku! Kuberitahu ya, Vincent, kamu sebaiknya tidak membuat masalah ini semakin besar! Jika tidak, jika Bang Sabem mematahkan tangan dan kaki kamu nanti, kami tidak akan tanggung jawab!" Dessy tersenyum bangga dengan tangan di pinggangnya.


"Wow? juara karate seprovinsi? Luar biasa!"


"Sepertinya begitu!"


"Juara karate? Apa itu artinya dia bisa menang 1 lawan 10 orang?"


"Jika kakak ipar Jenice bertarung dengannya, mungkin dia akah kalah dalam satu serangan?"


Orang-orang di sekitarnya terkagum dan mulai banyak bicara.


Beberapa orang mulai memberi saran Vincent:


"Nak, cepat pergi saja, jangan sampai kamu dipukuli sampai mati!"


"Betul, nak, cepat segera pergi! Orang bijak pasti tahu situasinya!"


"Jika kamu tidak pergi lagi, kamu mungkin harus berbaring di rumah sakit untuk waktu yang lama!"


Semua orang terus menasihati, terutama bos pemilik warung ini, dia ingin mengusir Vincent, jika sesuatu terjadi padanya di tempat ini, mungkin bisnisnya akan terkena efeknya.


Namun, Vincent menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju Jonru itu dengan santai.


"Adik iparku telah dianiaya, bagaimana bisa aku pergi begitu saja? Tidak apa-apa memintaku untuk pergi, tapi kalian harus minta maaf terlebih dulu! Kalau tidak, mungkin kalian akan terbaring disini dan tidak bisa pergi kemana-mana!"


Kata ini diucapkan!

__ADS_1


"Hahahaha..."


Terdengar suara tawa yang menggelegar dari sekitar …


__ADS_2