
Tebasan Doni ini sangat mematikan.
Tidak heran dia sangat marah, berita apa yang terjadi padanya kemarin malam sudah tersebar luas, kali ini, tidak hanya Tuan Kudos yang memperlakukannya dengan tidak sopan, tetapi bahkan banyak orang yang diam-diam juga mentertawakannya.
Bisa dibilang bahwa harga dirinya benar-benar sudah hancur, bagaimana mungkin dia tidak marah?
Jadi kali ini dia tidak mempertimbangkan konsekuensinya.
Tentu saja, alasan utamanya adalah dia juga sedikit mengerti tentang suami Jane ini.
Dia pernah dengar bahwa pria ini adalah seorang menantu tidak berguna yang hanya bisa menganggur, dia dipandang rendah bahkan oleh istrinya sendiri.
Hanya dengan latar belakang seperti itu, Doni tidak akan takut pada apapun!
Kenapa bocah rendahan ini tidak bergerak sama sekali?
Namun, tepat saat pisau ingin menyentuh lengan Vincent, pria di sebelahnya tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menekan lengan Doni.
Pisau itu masih menggantung di bahu Vincent seketika, dia tidak bisa diturunkan lebih jauh lagi...
Semua orang terkejut.
Vincent juga cukup penasaran.
Dia siap untuk melawan, tetapi dia tidak pernah mengira bahwa akan ada yang menyelamatkannya?
“Abdul, apa yang sedang kamu lakukan?” Doni menatap pria di sebelahnya dengan tidak senang.
“Tuan Kayaraya, jangan marah dulu, coba lihat ke luar.” Pria bernama Abdul itu menunjuk keluar dengan mulutnya.
Ketika Doni dan yang lainnya melihat keluar, mereka melihat sebuah Bentley diparkir di sebelah restoran di luar kafe, kemudian beberapa pria berjas turun dari dalam mobil.
Ekspresi semua orang menegang.
“Paman Brazi datang!” Mirna berbisik.
“Apa yang paling dibenci Paman Brazi adalah perkelahian dan pembunuhan, Tuan Kayaraya, jika kamu ingin mendiskusikan bisnis dengan Paman Brazi, kamu tidak boleh membuat dia melihat situasi seperti ini, jika tidak, bukankah bisnismu akan kacau?” Pria bernama Abdul itu tersenyum.
“Betul juga, tidak baik kalau harus menumpahkan darah sekarang! "Doni berkata dan menyerahkan pisau ditagannya kepada orang di sebelahnya.
Orang-orang di sekitarnya segera bersembunyi.
"Nak, tetap duduk tenang disini, kalau tidak, aku juga akan menghilangkan kedua kakimu, setelah aku selesai berurusan dengan tamuku, aku akan menyelesaikan masalahku denganmu perlahan-lahan!"
Doni berkata dengan dingin.
Kemudian dua orang di sebelahnya mendorongnya ke kursi dan melarangnya untuk pergi.
Doni berlari ke pintu depan dan membukanya.
“ Paman Brazi, haha, sini, sini, silahkan masuk!” Doni berkata dengan penuh semangat sambil tersenyum lebar.
“Ada apa? Kenapa restoran milikmu ini tutup? Bagaimana bisa kamu melakukan bisnis seperti ini?” Pria tua yang dipanggil Paman Brazi mengerutkan keningnya.
"Itu karena kamu datang, jadi aku mengosongkan restoran ini lebih cepat dari biasanya, sehingga aku bisa memuaskan Paman Brazi." Doni buru-buru berkata sambil tersenyum.
Paman Brazi tidak menjawabnya lagi.
__ADS_1
"Lewat sini, Paman Brazi, tolong kemari!"
Doni membawa lelaki tua itu ke meja bundar di tengah dan duduk terpisah dari Mirna dan yang lainnya.
Paman Brazi melirik pria dan wanita di meja lain.
" Paman Brazi !"
" Paman Brazi !"
Banyak orang memaksakan senyumnya untuk menyapa lelaki tua itu.
"Kenapa kalian duduk disana? Cepat sini kita duduk bersama." Kata lelaki tua itu dengan santai.
"Tidak, tidak usah, kamu dan Tuan Kayaraya masih ada urusan yang harus dibicarakan, kami hanya akan duduk disini!"
" Paman Brazi, kamu mau makan apa? Katakan saja!"
Orang itu berkata sambil tersenyum.
"Tidak usah, aku sudah sarapan! Langsung ke topik utamanya saja!"
Orang tua itu selesai berkata, dia tiba-tiba melirik Vincent di meja sana.
Karena Vincent hanya memunggungi dia, lelaki tua itu tidak bisa melihat Vincent dengan jelas, tetapi punggungnya itu… jelas memberi lelaki tua itu perasaan akrab yang tak bisa dijelaskan.
Orang ini adalah...
Orang tua itu masih tidak yakin, matanya langsung terkunci pada tubuh Vincent.
Doni berkata dengan penuh semangat, lalu mengambil sebuah dokumen dari orang di sebelahnya dan menyerahkannya di depan orang tua itu.
Tapi … lelaki tua itu tidak terlalu memperhatikannya, dia masih menatap Vincent di meja seberangnya.
" Paman Brazi ? Paman Brazi..."
Doni bahkan memanggilnya beberapa kali, tetapi lelaki tua itu sepertinya tidak mendengarnya.
Hal ini membuat Doni dan beberapa orang lainnya jadi bingug.
Saat ini, dia melihat bahwa Paman Brazi menoleh, menatap Doni dan menunjuk pada Vincent: "Apakah itu temanmu juga?"
“Yang itu?” Doni terkejut, tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, jadi dia hanya bisa mengangguk perlahan : “Iya… iya…”
"Dia adalah..."
"Oh, namanya Vincent Bermoth, aku baru saja bertemu dengannya hari ini … Paman Brazi, ada apa? Apakah orang ini sudah cari masalah denganmu?" Doni bertanya dengan hati-hati.
Teorinya, tidak mungkin seseorang seperti Paman Brazi mengenal suami sampah dari Jane, kan?
Orang rendahan seperti dia … bagaimana mungkin ada hubungannya dengan Paman Brazi...
Paman Brazi pasti salah orang!
Doni menenangkan dirinya dalam hati.
__ADS_1
Saat ini, Paman Brazi bangkit berdiri dan berjalan menuju Vincent di meja seberang.
Dia berjalan perlahan, matanya terus menatap Vincent.
Mirna dan yang lainnya di meja itu sangat terkejut melihat Paman Brazi datang, mereka semua sangat gugup dan segera bangkit berdiri.
Hanya Vincent yang masih duduk di sana, memunggungi Paman Brazi, tidak bergerak sama sekali.
Semua orang sangat penasaran.
Namun, dia melihat Paman Brazi berjalan perlahan ke sisi Vincent dan melirik wajah Vincent dengan gugup.
Namun, setelah melihat sekilas, Paman Brazi berseru, "Tuan Bermoth?"
"Um?"
Vincent menoleh dan sedikit terkejut, meatap lelaki tua yang dipanggil Paman Brazi dengan bingung, dia berkata dengan santai, "Apakah kita saling kenal?"
“Tuan Bermoth, ternyata memang kamu ! Haha, kamu lupa ya, terakhir kali kita bertemu di Grup Vallamor?” Paman Brazi berkata dengan penuh semangat.
Vincent mengerutkan kening.
Ketika dia sudah sampai di Grup Vallamor, dia biasanya tidak pernah memakai penyamaran apapun, hanya ketika dia pergi keluar dari Grup Vallamor dan pulang ke tempat Jane atau Via, dia akan mengubah penampilannya, tetapi dia tidak pernah menyangka bahwa lelaki tua ini pernah melihat dirinya sendiri setelah penampilannya yang disembunyikan.
“Waktu itu, aku sedang bicara dengan Tuan Saul di ruang rapat, kamu datang dan kita juga berjabat tangan.” Kata Paman Brazi buru-buru.
Vincent mulai mengingat-ingat, dia tiba-tiba terkejut.
"Oh, aku ingat, ternyata kamu..."
"Tuan Bermoth benar-benar pria yang sangat pelupa!!"
Paman Brazi tertawa.
Faktanya, dia tidak kenap Vincent sama sekali, dia hanya punya hubungan sepihak.
Alasan kenapa dia bersikap sangat sopan adalah bahwa orang ini bisa mengganggu rapat penting dengan Frank Saul dengan santai, dan … ketika dia berjalan ke ruang rapat, dia melihat Frank buru-buru bangkit berdiri, berlari untuk menuangkan teh untuknya, bahkan menyiapkan tempat duduknya,...
Di Grup Vallamor, berapa banyak orang yang bisa membuat Frank melakukan hal seperti itu?
Paman Brazi tidak tahu.
Tapi Paman Brazi cukup mengerti!
Orang ini… sama sekali bukan orang biasa!
Pasti dia orang yang luar biasa!
Mungkin jika bisa menjalin hubungan dengan baik denganya, pasti bisa juga menjalin hubungan baik dengan Frank, lalu tujuan bekerja sama dengan Grup Vallamor bisa tercapai!
Paman Brazi sedang berpikir, lalu dia menoleh dan berkata kepada Doni: "Doni! Aku tidak pernah mengira kamu berteman dengan Tuan Bermoth! Kenapa kamu tidak pernah bilang dari dulu?"
"Apa?"
Doni tercengang.
__ADS_1
"Jika kamu sudah bilang dari dulu, apakah kita masih perlu bicara panjang lebar dan membuang banyak waktu? Aku bahkan tidak perlu membaca dokumen darimu, semuanya akan langsung disetujui, ayo segera tanda tangan kontrak sekarang!" Paman Brazi melambaikan tangannya.