Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
Bab 631 Tamparan Keras Di Depan Umum


__ADS_3

Ekspresi Kiluwa sangat terkejut.



Dia memegang telepon, matanya melebar, mulutnya terbuka sangat besar, dia menatap layar telepon dengan linglung, seolah-olah dia telah kehilangan jiwanya.



Adapun orang-orang di sekitarnya, ekspresinya tidak tergambarkan.



Ada yang terdiam.



Ada yang melotot.



Ada yang membuka mulut.



Ada yang tidak percaya apa yang barusan di dengarnya.



Adapun Dekan Edwin, ekspresinya sangat muram, matanya langsung menatap Kiluwa penuh amarah.



"Apa yang sudah terjadi?"



"Nona Anna bilang dia tidak kenal dengan Kiluwa?"



"Ini cuma salah paham kan?"



"Sepertinya begitu, orang seperti apa memangnya Nona Anna? Bagaimana mungkin dia bisa kenal dengan orang biasa? Terlebih lagi, pria ini berani meneriaki Nona Anna seperti itu, sepertinya dia memang kenal dengannya, Nona Anna pasti sengaja bilang bahwa dia tidak kenal dengannya!"



"Hehe, sepertinya sedang main-main!"



Orang-orang di sekitar mulai berbisik dan mengeluarkan opini masing-masing.



Kiluwa kembali sadar, dia kembali teriak kearah telepon.



"Anna, apa...apa maksudmu? Kamu berani bilang kalau tidak mengenalmu? Apakah Asosiasi Medismu tidak menginginkan sejumlah peralatan medis lagi?"



Wajahnya memerah, ekspresinya sudah terlihat cemas, suaranya juga terdengar bergetar!



Anna sudah seperti memberikan tamparan keras di wajahnya!



Kali ini Kiluwa akhirnya mengerti kenapa Anna memintanya untuk menyalakan speaker!



Itu untuk membuatnya malu di depan umum!



"Peralatan? Peralatan medis apa? Tuan, aku benar-benar tidak kenal denganmu! Tidak ada satu pun temanku yang bernama Kiluwa! Tolong berhenti menggangguku, terima kasih!"



Kata Anna, lalu dia langsung menutup telepon.



"Anna! Anna!!"

__ADS_1



Kiluwa berteriak karena panik.



Tapi hanya suara panggilan yang putus terdengar.



“Persetan!!” Kiluwa sangat marah, dia membanting telepon ke lantai.



Clang!



Ponsel itu langsung hancur di tempat.



Tapi setelah membantingnya, Kiluwa tersadar.



Ini… sepertinya bukan ponselnya sendiri.



"Dekan Edwin..." Kiluwa membuka mulutnya.



“Tuan Grev, ada apa denganmu?” Dekan Edwin tidak bisa lagi menahan emosinya.



Dia sudah tertipu dengan bocah bermarga Grev ini, bahkan bocah ini juga merusak teleponnya!



Asal tahu saja, ada banyak informasi kontak penting di dalam teleponnya.



Kerugian dari rusaknya telepon itu sangat besar.




Tapi Dekan Edwin sama sekali tidak mendengarkannya!



"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun, lagipula, rumah sakit kami sudah menjadi lelucon besar bagi semua orang! Dokter Edward kamu pergi untuk beri tahu wartawan dan teman-teman di luar sana bahwa seminar hari ini akan dibatalkan! Perintahkan agar mereka semua pergi!" Dekan Edwin berkata dengan pasrah sambil memelototi Kiluwa, kemudian berjalan keluar dengan marah.



“Dekan Edwin! Dekan Edwin!” Kiluwa langsung berteriak memanggilnya.



Tapi tidak peduli seberapa keras dia memanggilnya, Dekan Edwin tidak menoleh.



Semua orang yang ada di ruangan itu merasa sangat malu dan tidak bisa berkata-kata.



Kiluwa sudah sangat marah.



“Kiluwa, ini… Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Jane cemas dan segera menatap Kiluwa.



"Jane, jangan khawatir, aku akan mencari jalan keluar lain, aku akan segera menelepon ayahku dan memintanya untuk menghubungi Asosiasi Medis Internasional dan memintanya untuk bertanya kepada Anna apa yang sudah terjadi!" Kiluwa berkata dengan marah.



Tetapi ketika dia baru saja mengeluarkan teleponnya, seorang dokter datang padanya.



"Tuan Grev..."

__ADS_1



“Dokter, ada apa?” Jane bertanya.



"Jadi begini..." Dokter itu terlihat bingung dan berbisik: "Fasilitas dan tingkat kemampuan medis dokter kami relatif terbatas, jadi mungkin tidak bisa banyak membantu kondisi Tuan Dormantis, jadi..."



"Jadi apa?" Kiluwa bertanya.



“Jadi, pihak rumah sakit merekomendasikan agar Tuan Dormantis bisa dipindahkan ke rumah sakit yang lebih memadai.” Kata dokter.



Begitu kata-kata ini diucapkan, Keluarga Dormantis yang berada di tempat kejadian langsung gemetar.



"Dekan Edwin … apa dia sudah berencana untuk mengusir suamiku?" Greni gemetaran dan berkata.



“Bukan Dekan Edwin, tapi rumah sakit kami, tidak usah buru-buru, ini hanya sebuah masukan, karena kalau Tuan Dormantis terus dirawat di rumah sakit ini, rumah sakit kami hanya bisa memberikan perawatan yang paling dasar, pasien tidak akan punya harapan untuk sembuh, tetapi rumah sakit kami tidak bisa memberikan perawatan yang lebih baik lagi, jadi pihak rumah sakit merekomendasikan agar Tuan Dormantis segera dipindahkan ke Rumah Sakit Azuka atau rumah sakit asing, mohon segera dipertimbangkan.” Kata dokter.



Ketika kata-kata ini diucapkan, anggota Keluarga Dormantis yang hadir semuanya langsung memucat.



Jane dan Greni melangkah mundur lagi dan lagi.



Tidak ada yang mengira bahwa pihak rumah sakit akan bersikap seperti itu!



Tapi kalau dipikir dengan seksama, hal ini memang masih bisa dimengerti.



Hari ini banyak orang dari berbagai media berita datang, tetapi Anna akhirnya tidak datang, besok pagi, berita utama pasti akan membahas masalah ini.



Pada saat itu, seluruh rumah sakit tidak hanya akan kehilangan martabatnya, bahkan dekannya pasti akan dipertanyakan!



Bagaimana Dekan Edwin bisa memberikan kesan yang baik tentang orang-orang dari Keluarga Dormantis?



Keputusan yang diambil oleh Dekan Edwin adalah yang terbaik!



Keluarga Dormantis juga sudah mulai berdiskusi.



"Kukira Katrina akan memiliki menantu yang baik, tetapi ternyata hanya seorang pembohong!"



"Sekarang masalah sudah bertambah besar kan?"



"Martabat keluarga kita hilang!"



"Aku takut akan sangat merepotkan bagi keluarga kita untuk mencari seorang dokter kedepannya."



Suara berbisik terus terdengar dari sekitar.



Ekspresi Katrina sudah sangat jelek, dia langsung menatap Kiluwa dan berteriak:


__ADS_1


"Kiluwa! Apa yang sudah kamu lakukan?"


__ADS_2