Dokter Jenius Bermoth

Dokter Jenius Bermoth
bab 27 Orang-orang Ini Masih Bisa Diselamatkan


__ADS_3

"Apa? Obat palsu?" Klinik Tongfang meledak lagi. Raut muka Via berubah drastis. Menjual obat palsu? Ini bukan lelucon.


Jika obat benar-benar bermasalah, konsekuensinya tidak hanya klinik medis harus ditutup, tapi Via juga harus bertanggung jawab secara hukum.


Vincent juga tahu tentang ini. Jika obat-obatan ini baru masuk dan belum pernah digunakan pada pasien, dia tidak akan mengungkapkannya di depan umum.


Namun, obat-obatan ini telah masuk selama tiga hari dan telah diresepkan kepada pasien. Jadi, hal ini tidak mungkin bisa dirahasiakan.


Sekarang klinik tidak seharusnya mengutamakan reputasi, melainkan harus mencari solusi untuk mengatasi masalah.


Via gemetar ketakutan. Dia bergegas ke rak obat, mengambil ginseng di tangan Vincent dan memeriksanya. Namun, setelah melihatnya beberapa kali, dia tidak menemukan kejanggalan apa pun.


"Obat-obatan ini... tidak terlihat seperti obat palsu!" Via berkata dengan heran.


"Kamu bahkan bukan dokter, apa yang kamu bicarakan di sini? Obat palsu? Klinik Tongfang selalu beli bahan obat dari pemasok sah! Bagaimana mungkin ada obat palsu? Jangan memfitnah orang!" Janur tersadar kembali.


Dia bangun dari kursi dan meraung pada Vincent. Vincent mengerutkan kening.


"Dokter Nur, siapa pemuda ini sebenarnya?" Pria tua yang sedang menunggu untuk diperiksa Janur tidak tahan untuk bertanya. Janur mendengus dan mencibir: "Pekerja paruh waktu. Dia cuma pernah baca beberapa buku medis. Dia adalah pria yang malas. Istrinya mendatangi Dokter Melken dan meminta Dokter Melken untuk memberinya pekerjaan. Jadi, dia pun bekerja di klinik kami."


"Jadi, dia bukan dokter?" Pria tua itu tertegun.


"Tentu saja bukan!" Kata Janur dengan nada hina, volume suara sedikit meningkat. Pasien di Klinik Tongfang tidak bisa duduk diam begitu mendengar kata-kata itu.


"Bocah, kalau kamu bukan dokter, jangan membuat masalah di sini!"


"Ada banyak pasien di pagi hari. Dokter Melken dan Dokter Nur sudah sangat sibuk, tapi kamu malah membuat masalah di sini! Sungguh kelewatan."


"Meskipun Dokter Nur belum lama bekerja di sini, tapi keterampilan medisnya sangat bagus. Sekarang Dokter Melken sudah bilang bahwa obatnya tidak bermasalah. Apakah kamu lebih hebat daripada Dokter Melken dan Dokter Nur ?" "Dokter Melken terlalu baik hati. Kalau aku adalah Dokter Melken , aku tidak akan mempekerjakan orang seperti kamu!"


"Terlalu kelewatan!" Pria dan wanita tua pada mengkritik Vincent. Beberapa orang paruh baya di kerumunan menggelengkan kepala.


Dalam sekejap, Vincent menjadi sasaran kritik publik dan disorot oleh banyak orang. Vincent mengernyit, tidak membantah. Dia memang tidak punya ijazah dan tidak termasuk dokter. Siapa yang akan percaya pada perkataannya?


" Vincent, aku tahu kamu paham sedikit tentang keterampilan medis, tapi hal ini tidak boleh dijadikan lelucon. Aku sudah memeriksa ginseng ini, sepertinya tidak ada masalah."


"Dokter Melken ."


"Sudah, lanjut kerja. Jangan bilang lagi. Kalau tidak, keadaan akan lepas kendali." Via langsung menyela Vincent. Karena Vincent, keduanya tidak dapat memeriksa pasien. Masih ada banyak orang yang mengantri. Jika ini terus berlanjut, semua orang akan kehilangan kesabaran untuk menunggu. Nantinya klinik ini tidak akan bisa bertahan lama. Ekspresi Via tampak tidak natural. Jelas sekali bahwa tindakan Vincent membuatnya sangat tidak senang.


Dia merasa dirinya telah mewarisi sedikit keterampilan dari kakeknya. Bagaimana mungkin dia tidak bisa membedakan apakah ginseng itu asli atau palsu.


Dia dibesarkan di botol obat. Vincent tidak mungkin lebih profesional darinya, bukan? Apakah Vincent ingin menghancurkan Klinik Tongfang ?


Semakin dipikir, Via semakin marah. Tapi dia merasa segan untuk memarahi Vincent. Alhasil, dia hanya bisa cemberut. Sudut mulut Janur terangkat. Dia diam-diam mencibir di dalam hati: Bocah, mau lawan aku? Kamu masih terlalu polos! Keduanya lanjut memeriksa pasien.


Vincent tidak mengucapkan sepatah kata pun, mengambil obat tanpa bersuara.


Pada saat ini, seorang pasien meminta agar obat tidak diambil oleh Vincent. Setelah serangkaian kejadian, pasien tidak percaya pada Vincent lagi. Via tampak tidak berdaya. Dia hanya bisa memeriksa pasien sambil mengambil obat. Vincent dipanggil ke bangku dingin di sebelahnya. Vincent menggelengkan kepala, meminggir dan duduk, merasa senang karena tidak perlu kerja.


"Bocah, ini bukan tempat untukmu. Kamu bisa berinisiatif mengusulkan pada Dokter Melken untuk meninggalkan sini." Ujar Janur dengan menyipitkan mata ke arah Vincent.


"Kamu terjebak masalah." Kata Vincent dengan tenang.


"Aduh? Kamu mau balas dendam padaku?" Janur mencibir.


"Aku tidak bermaksud seperti itu."


"Lalu apa maksudmu?" Janur tersenyum.


Begitu suara itu terucap, tiba-tiba ada keributan di depan pintu Klinik Tongfang.


Beberapa orang bergegas masuk dengan membawa tandu. Seorang pria tua terbaring di atas tandu tersebut. Pria tua itu dalam keadaan koma dan sekarat. Begitu melihat itu, semua orang tercengang.

__ADS_1


"Dokter abal-abal di Klinik Tongfang mencelakai nyawa orang! Kalian bunuh ayahku! Klinik Tongfang, beri aku keadilan!"


" Klinik Tongfang, bayar aku sebuah keadilan!"


"Bayar aku keadilan!" Kerabat pria tua itu berteriak dengan marah. Ada orang yang berbaring di atas pria tua dan menangis dengan sedih. Via tercengang. Janur juga terkejut. Tidak lama setelah orang-orang itu menangis dan mengeluh, sekelompok orang lainnya masuk. Mereka juga membawa tandu dan berteriak dengan marah.


"Orang-orang dari Klinik Tongfang, keluar!"


"Lihat apa yang terjadi pada ibuku setelah meminum obat yang diresepkan kalian!"


"Ibuku telah menjadi pasien vegetatif. Kalau hari ini Klinik Tongfang tidak beri kami penjelasan, jangan berharap untuk membuka klinik ini lagi!" Ini belum berakhir.


Beberapa kumpulan orang bergegas masuk lagi.


" Klinik Tongfang membunuh orang! Bayar uang!"


" Klinik Tongfang, bayar uang!"


"Bayar uang!" "Kalau kalian tidak beri kami penjelasan, kami akan lapor polisi!" Teriakan penuh emosi terus terdengar.


Beberapa orang mulai membanting barang. Untungnya, mereka ditahan oleh pasien. Namun, situasi telah sepenuhnya lepas kendali. Seluruh klinik penuh dengan orang. Ada banyak orang yang lewat berkumpul untuk menyaksikan keramaian.


"Apa yang terjadi?" Mata Via membelalak. Dia melihat pemandangan di depan dengan tidak percaya. Kaki Janur melunak. Via bergegas maju untuk memeriksa pasien di atas tandu. Namun, dia tidak bisa menemukan apa pun.


Denyut nadinya.. terlalu berantakan!


"Kalau hari ini kalian tidak memberi kami penjelasan dan tidak menyembuhkan ayahku, kami tidak akan melewatkan masalah ini begitu saja!" Seorang pria botak meraung dengan marah.


"Benar, kami tidak akan melewatkan masalah ini begitu saja!" Orang lainnya ikut berteriak. Raut muka Via berubah drastis. Dia agak panik.


"Semua tenang dulu, tenang!"


Pada saat ini, terdengar sebuah teriakan. Semua orang menoleh ke arah suara. Mereka menemukan seorang pria muda berjas Tang keluar dari kerumunan.


"Dokter Messi adalah Dokter jenius. Walau berusia muda, dia sudah bisa memeriksa pasien sendirian."


"Aku dengar bahwa keterampilan medisnya dihargai oleh seorang pemimpin besar."


"Tahu-tahu aku pergi ke klinik Dokter jenius Renz saja! Dengan demikian, ayahku pun tidak akan menjadi seperti ini. Aku bersalah pada ayahku, uhu."


Kemunculan Messi mengejutkan banyak orang, juga mengejutkan Via.


"Dokter Renz, mengapa kamu ada di sini?" Via bertanya dengan alis berkerut.


"Aku diundang oleh pasien Elva. Aku akan meminta keadilan kepada Klinik Tongfang atas nama pasien-pasien ini. Jika Klinik Tongfang tidak memberikan jawaban yang memuaskan, maka masalah ini pun hanya bisa diselesaikan melalui prosedur hukum." Messi berkata dengan tenang.


"Sekarang kita belum bisa memastikan apakah kondisi pasien ini disebabkan oleh Klinik Tongfang. Masalah ini perlu diselidiki oleh departemen terkait." Ujar Via sambil mengertakkan gigi.


"Tidak usah. Aku sudah memeriksanya! Ini disebabkan oleh Klinik Tongfang." Messi mendengus dan berkata dengan dingin


"Obat-obat yang diresepkan Klinik Tongfang untuk para pasien ini adalah obat palsu, contohnya ginseng, tanduk rusa, musk, dan lain-lain. Pasien menjadi seperti ini karena meminum obat palsu yang diresepkan kalian!"


"Apa?" Via seolah tersambar petir.


Pasien di klinik juga terbengong. Mereka semua melihat ke arah Vincent. Wajah mereka masing-masing dipenuhi dengan kekagetan. Kata-kata Vincent benar?


Messi adalah dokter terkenal. Kata-katanya tidak mungkin palsu.


"Kamu!" Via tiba-tiba menoleh ke belakang, memelototi Janur dan berkata, "Kamu.. yang memalsukan obat-obat ini?"


"Aku, aku, aku.. aku tidak melakukannya. bagaimana mungkin aku memalsukan obat?" Janur panik hingga tergagap-gagap. Dia tiba-tiba teringat sesuatu, buru-buru berkata: " Via, jangan lupa bahwa hubungan antara Klinik Tongfang dan Klinik Gendam adalah saingan bisnis. Messi pasti datang dengan tujuan tertentu. Dia pasti datang untuk menjelek-jelekkan kita. Bagaimana mungkin obat kita adalah obat palsu? Pasti begitu!"


"Apakah obat itu palsu, kita akan tahu setelah diperiksa rekan dari penilai forensik. Pasti masih ada stok obat di klinik kalian. Kita akan tahu faktanya begitu memeriksakan obat-obat itu ke pusat penilaian." Wajah Via memucat.

__ADS_1


Janur ketakutan hingga berkeringat dingin. Dia hampir tidak bisa berdiri stabil. Via diam-diam mengertakkan gigi.


Dia seperitnya teringat sesuatu, buru-buru berlari ke komputer di depan konter dan memutar rekaman pemantauan selama beberapa hari terakhir.


Pada hari kedua setelah obat masuk, Janur menukar semua bahan obat berharga ketika dia sedang pergi ke luar untuk memeriksa pasien.


"Kenapa ini bisa terjadi?" Via terhuyung-huyung ke belakang, pandangan menjadi kabur.


"Kebenaran sudah terungkap." Ujar Messi dengan santai. Janur jatuh terduduk di lantai..


" Janur, apakah kamu punya hati nurani?"


"Kamu mencelakai nyawa orang!"


"Kamu mampus sudah! Aku sudah lapor polisi!"


"Habiskan sisa hidupmu dalam penjara!" Semua pasien memarahi Janur. Janur langsung tenggelam dalam lautan air liur.


Messi melambaikan tangan, memberi isyarat kepada semua orang untuk diam, kemudian berkata pada Via : "Dokter Melken , sekarang bukan saatnya menyalahkan orang. Pasien-pasien ini sangat berbahaya. Meskipun kamu tidak perlu bertanggung jawab atas masalah ini, tapi Klinik Tongfang tetap tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Kamu harus bertanggung jawab kepada pasien-pasien ini."


"Aku akan segera mengobati mereka." Kata Via dengan terburu-buru.


"Tidak ada gunanya." Messi menggelengkan kepala:


"Sebagian besar dari pasien ini baru saja dipindahkan dari rumah sakit kota. Beberapa dari mereka telah menjadi pasien vegetatif dan tidak dapat diobati. Beberapa dari mereka sangat sulit untuk diobati, serta diperlukan biaya pengobatan setinggi langit. Aku sudah memeriksa kondisi mereka. Bahkan aku pun tidak dapat mengobati mereka. Aku rasa kamu juga tidak akan bisa menyembuhkan mereka!"


"Lalu. apa yang harus aku lakukan?" Via panik.


"Aku kasih kamu dua saran. 1. Minta kakekmu untuk segera datang dan mengobati mereka. Berdasarkan keterampilan medis Dokter jenius Melken , mereka mungkin masih bisa diselematkan. 2. Mengambil tanggung jawab yang sesuai dan mempersiapkan kompensasi dalam jumlah besar." Usul Messi.


"Aku akan segera menelepon kakek!" Via segera mengeluarkan ponsel.


Tapi saat ini..


"Uh.." Terdengar rintihan. Seorang pasien yang terbaring di atas tandu tiba-tiba berkejang-kejang.


"Ayah, ada apa denganmu?"


"Celaka! Dokter! Dokter! Selamatkan orang!" Jeritan menggelegar. Kerumunan kembali panik.


"Baringkan dia!" Messi segera mengobati pasien tersebut. Setelah beberapa tusukan jarum, pasien kejang beberapa kali dan kemudian berhenti bergerak.


Raut muka Messi sangat jelek: "Maaf, aku sudah melakukan yang terbaik."


"Ada yang mati!" Suasana meledak total. Via juga tercengang.


Terjadi korban jiwa? Mampus!


"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif!"


Suara wanita yang menjengkelkan terdengar di ponsel. Via pasrah. Apa yang harus dilakukan. Kakek, apa yang harus aku lakukan sekarang?


Tubuh mungilnya bergemetaran. Air mata terus mengalir dari sudut matanya. Sejak belajar medis, dia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini. Suasana sepenuhnya lepas kendali. Keluarga pasien bergegas masuk dan memukul orang. Wajah Janur langsung ditonjok beberapa kali. Via berpenampilan cantik, sehingga pria merasa tidak enak untuk memukulnya.


Namun, cemoohan dan kutukan para ibu-ibu telah melanda dirinya. Messi juga tidak bisa mengendalikan situasi. Klinik Tongfang kacau balau. Pada saat ini, terdengar suara jernih.


"Semuanya, harap tenang dulu! Pasien-pasien ini masih bisa diselamatkan! Kita bisa segera menyembuhkan mereka!"


Begitu kata-kata itu terucap, suasana yang kacau menjadi agak tenang.


Via bergidik sambil menoleh ke arah Terlihat


Vincent berjalan keluar dengan tangan memegang sapu..

__ADS_1


__ADS_2