Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Epson 100 ~ MUSIM KEDUA Part 26 - SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA


__ADS_3

JANGAN LUPA VOTE YA, HARI SENIN INI HEHE


**


Di sisi lain Melisa kini tengah menatap texpack dalam genggamannya, menunjukkan dua garis. Selama ini saat bersama Edzard, dia selalu menggunakan pil pencegah namun tidak saat bersama Dexter. "Aku harus menghubungi Dexter sekarang juga, dia perlu tahu kalau aku hamil calon anaknya, "


Melisa menyambar ponselnya, menekan tombol hijau, mulai menghubungi nomor Dexter. Melisa mengumpat berkali kali karena nomor pria itu tidak aktif sekarang ini. Dia menyambar ponselnya, bergegas ke luar dari kamar dan menuruni anak tangga. Dia berjalan melewati ruang tamu, di mana kedua orang tuanya berada.


"Lho sayang kamu mau ke mana nak? " tanya Mami.


Melisa berhenti, menoleh kearah sang Mami sejenak. "Aku akan menemui Dexter Mami, aku hamil anak dia! Dia berbalik dan melenggang pergi tanpa melihat reaksi kedua orang tuanya.


Melisa kini melajukan mobilnya kencang, menuju ke apartemen Dexter dengan raut wajah cemas dan khawatirnya. 30 menit akhirnya dia sampai di depan apartemen Dexter, Melisa segera turun dari mobilnya.


Tok tok tok Dia mengetuk pintu apartemen dengan tak sabarannya. Cklek terbukalah pintu apartemennya, Melisa tersenyum lebar melihat Dexter yang ke luar namun senyumnya langsung luntur melihat wanita di sisi Dexter.


"Dexter, aku ingin bicara sama kamu, hanya berdua! ujarnya penuh penekanan.


Dexter menyuruh Selly pergi setelah itu mengajak Melisa ke dalam. Melisa segera memberikan texpacknya pada Dexter, Dexter menerimanya dengan raut terkejut.


" Aku hamil Dex, calon anak kamu! jelas Melisa dengan senyum di bibirnya.


Dexter menatap Melisa dengan raut wajah tak percaya, kemudian dia tersenyum miring. "Kamu wanita murahan, mana mungkin itu anakku, jangan jangan anak itu anaknya si Edzard atau pria lain diluaran sana. " elak Dexter dengan santainya.


Melisa merasa tidak terima atas ucapan Dexter barusan. Brak dia menggebrak meja dengan keras, matanya memerah menahan amarahnya yang berkobar. "Jelas jelas ini anak kamu Dexter, aku tak menggunakan obat saat melakukan itu denganmu. " bentak Melisa emosi.


"Sorry Mel, aku tak bisa menerima janin dalam kandunganmu. "


Melisa langsung bangkit, menghampiri Dexter dengan sorot mata penuh amarah. Plak dia melayangkan tamparan ke pipi ayah dari calon anak yang dia kandung. "Kamu pengecut ya Dex, berani menikmati aku tapi enggak mau bertanggung jawab. " ujar Melisa dengan nada kecewanya.


Dexter langsung bangkit, dia menghela nafas kasar dan kembali menatap kearah Melisa. "Sorry, tapi aku belum siap memiliki anak Mel!


Plak

__ADS_1


Melisa lagi lagi menamparnya, dia menatap Dexter sambil bercucuran air mata. Dia berbalik dan berlari ke luar dari apartemen Dexter. Melisa melajukan mobilnya kencang, menuju ke rumahnya dengan perasaan campur aduk.


Hiks hiks hiks


" Dexter, aku sangat membencimu. " teriaknya sambil sesegukan.


Skip


Setibanya di rumah, Melisa melangkah gontai menghampiri kedua orang tuanya. Mami Tya segera bangkit dan mendatangi puteri kesayangannya itu dengan raut cemas. "Gimana sayang, Dexter mau 'kan bertanggung jawab sama kamu!


" Hiks hiks Mami, Dexter menolaknya Mi. Dia enggak mau tanggung jawab. " gumam Melisa sambil menangis.


"Apa bagaimana bisa, harusnya kamu melakukan segala cara untuk merayunya Mel. " teriak Mami sambil mengguncang bahu puterinya.


Melisa semakin menangis histeris, Mami memijat pelipisnya yang terasa pusing. Dia menatap kesal kearah puterinya itu dengan raut marahnya. "Harusnya kamu semakin berusaha


Mel bukannya pasrah kayak gini. "


"Tapi Mami aku sudah berusaha!


Papi segera menghampiri Mami lalu merangkulnya, dia menatap sinis kearah puterinya itu. "Sebaiknya kamu pergi dan temui Dexter lagi Mel, bagaimana caranya dia harus mau bertanggung jawab kalau tidak kamu pergi saja dari rumah ini. "


"Ayo Mi kita ke kamar. " Papi langsung mengajak Mami pergi, Melisa menatap nanar kepergian orang tuanya.


"Hiks Mami, papi kenapa kalian tega sama aku, selama ini aku selalu menuruti keinginan kalian berdua. " gumam Melisa. Melisa menghapus air matanya kasar, dia bergegas menuju ke kamarnya.


Melisa memasukkan pakaiannya ke dalam koper dengan buru buru, setelah selesai dia mengambil tabungannya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia segera ke luar dan menuruni anak tangga sambil menyeret kopernya. Melisa terus memandang kearah kamar orang tuanya, tak lama papi ke luar dan menemuinya.


"Kamu enggak perlu pakai mobil kembalikan kunci mobilnya sama papi, setelah itu pergilah! Melisa kembali menangis, dia menyerahkan kuncinya pada sang papi setelah itu pergi.


Melisa berjalan kaki melewati jalanan yang terasa masih ramai meski hari mulai gelap. Dia terus menangis, meratapi nasibnya yang sangat malang. Terbuang bagaikan sampah oleh keluarganya dan juga kekasihnya Dexter.


" Edzard, apa sebaiknya aku menemui dia ya, dia masih sah menjadi suamiku. " gumam Melisa.

__ADS_1


Melisa segera memesan taksi, tak lama taksi datang dan melisa langsung masuk. Taksi melaju kencang menuju kediaman milik Edzard. Dia mengusap air matanya, berusaha tenang karena masih memiliki Edzard, suaminya pikirnya.


***


Setelah membayar taksi, Melisa turun sambil mengeluarkan kopernya. Dia berjalan cepat memasuki halaman rumah Edzard.


Tok tok tok


Pintu terbuka lalu keluarlah Edzard, Edzard menatap datar kearah wanita yang masih menjadi istrinya itu. Melisa tersenyum kearah pria yang menjadi suaminya. "Edzard, aku baru saja di usir oleh Papi dan Mami, bisakah aku tinggal di sini, aku masih istrimu!


" Istri, istriku hanya satu yaitu Jenny Calista Romanov bukan kamu Melisa. Oh ya aku sudah mengirimkan gugatan ke pengadilan beserta buktinya, mungkin dua hari lagi kamu menerima surat cerai dari ku. " jelas Edzard panjang lebar.


Melisa sangat terkejut mendengar penuturan suaminya, dia melepaskan kopernya lalu memegangi tangan Edzard. "Please Edzard jangan ceraikan aku, aku tengah hamil saat


ini. " pinta Melisa sambil memohon.


"Hamil, tapi aku sangat yakin jika janin itu bukan milikku Mel, jangan kau kira aku bisa kamu bodohi hah. " bentak Edzard. Edzard langsung menepis tangan Melisa, dia segera memanggil bodyguard untuk mengusir Melisa.


"Bawa Melisa pergi dari sini!


" Siap tuan. " Kedua bodyguard itu membawa paksa Melisa pergi dari sana. tak lama Jenny ke luar setelah mendengar suara teriakan dari luar, dia menghampiri sang suami.


"Mas ada apa kenapa kamu teriak? " Edzard menoleh, merangkul bahu sang istri kemudian mengajaknya ke dalam.


**


Di ruang tamu, Edzard mengatakan semuanya pada sang istri mengenai Melisa. Jenny membekap mulutnya, terkejut mendengar penjelasan sang suami. Dia menurunkan tangannya, mengenggam tangan sang suami kemudian tersenyum. "Mas harus tenang, jangan selalu menggunakan emosi!


" Dia terkena karma sayang, atas apa yang di lakukannya pada aku dan keluarga kita serta Jingga dan tante Senja. " geram Edzard.


Jenny menghela nafas panjang, meraih tangan suaminya lalu menaruhnya ke atas perutnya. "Calon anak kita kaget sayang, kalau kamu marah dan teriak teriak terus. "


Edzard mengulas senyumnya, tangannya mengusap lembut perut sang istri setelah itu mencium kening Jenny dengan lembut.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2