Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
JMC PART 4


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN KOMEN 🤗🤗


HAPPY READING!


Pagi yang cerah, secerah hati Meira saat ini. Bibir gadis itu tak henti hentinya melengkung membentuk sebuah senyuman yang begitu indah. Seperti memenangkan lotre, gadis itu bersenandung kecil sambil menyisir rambutnya yang panjang. "Apa aku ke salon saja ya, potong rambut? "


"Oh iya aku harus ke kantor sekarang, sepertinya wanita kemarin itu pasti sudah ke sana. " gumam Meira pelan. Gadis itu bergegas ke luar, tanpa menunggu Aiden bangun dia langsung pergi begitu saja. Dia tidak peduli jika pria gila itu marah padanya, karena pergi tanpa pamit pada pria itu ckck.


Meira menaiki taksi menuju ke perusabaan papanya, namun sebelumnya gadis itu telah mengganti pakaiannya. Dia berjalan dengan anggun memasuki kantor, sang asisten datang menemuinya. "Nona, tadi ada keributan di sini seorang wanita telah diusir dari kantor? "


"Apakah namanya Saras? "


"Iya Nona, kirim nomor wanita itu dan alamatnya ke ponselku Gina!


"Baik Nona. " Perempuan yang bernama Regina itu segera menjalankan perintah atasannya. Meira segera memeriksa ponselnya, setelah itu kembali melihat kearah asistennya.


"Jadwalku hari ini apa Gina? "


"Tidak ada Nona. "


Meira melenggang keluar dari kantor, wanita itu tancap gas dan melajukan mobilnya menuju ke rumah Saras. Setibanya di sana Meira segera mengetuk pintu dan tak lama keluarlah Alana puteri dari Saras. "Hai gadis manis, mama kamu ada sayang? "


"Mama dari tadi belum pulang Tante. " ucap Alana dengan raut sedihnya, Meira yang melihatnyapun ikut bersedih. Gadis itu mengajak Alana untuk duduk, membelai rambut gadis cilik itu denga lembut.


"Tante temenin kamu ya, sampai mama kamu pulang? "


"Oh ya nama Tante adalah Meira, kalau kamu sayang? "


"Alana tante. " Mereka berdua mengobrol, Meira tak henti hentinya merasa gemas sama si kecil Alana. Hingga dua jam berlalu Saras tak kunjung pulang, hal itu membuat Meira merasa cemas dan khawatir. Dia melirik jam tangannya sekilas, lalu kembali menatap Alana.


Tak lama seorang pria datang menemui keduanya, Meira langsung bangkit dan menatap bingung kearah pria itu. "Ada apa pak, kenapa pak Polisi datang kemari? "

__ADS_1


"Begini Nyonya, di ujung jalan tadi ada kecelakaan dan menewaskan seorang wanita, ini identitas wanita bernama Saras itu. " ucap pria berseragam polisi itu. Meira sangat syok dengan kabar yang di sampaikan polisi.


Meira langsung memeriksa dompet Saras, dia terkejut dan langsung berlutut memeluk Alana. Si kecil Alana menangis dalam pelukan Meira, Polisipun langsung pergi setelah menyampaikan kabar kecelakaan mengenai Saras.


"Hiks mama, Lana pengen sama mama tante. " ucap Alana sambil menangis sesegukan. Meira merasa sesak, melihat gadis manis seperti Alana harus kehilangan sang ibu.


"Sst Lana sayang, kita pergi ke makam mama oke biar tante antar. " Alana mengangguk, Meira langsung menggendongnya, membawanya masuk ke mobil. Gadis itupun tancap gas, meninggalkan rumah Saras.


Meira memperhatikan Alana yang menangis di hadapan makam mamanya, hal itu membuat hati gadis itu terasa perih. Diapun langsung jongkok, mengusap nisan bertuliskan nama Saras tersebut. "Hai aku Meira mbak, mbak Saras jangan khawatir Alana aku akan menjaganya dan membahagiakannya. Mbak tenang di atas sana ya dan doakan aku ya mbak agar aku bisa menjaga dan melindungi Alana sekuat tenaga. "


Setelah beberapa waktu Meira mengajak Alana pergi dari sana, kini keduanya dalam perjalanan pulang ke mansion papa Alan. Meirapun berterus terang tanpa menutupi semuanya dari papanya, Papa Alan merasa kasihan sama si kecil Alana. "Lana sayang, kenalkan ini papanya tante, Lana bisa panggil opa Alan. " ucap Meira dengan lembut.


"Opa Alan. " sapa Alana.


Papa langsung mengangkat si kecil Alana, lalu membawanya ke pangkuan. Meira mengulum senyumnya kelihat kedekatan papa dan Alana. "Papa sudah cocok jadi kakek yang tengah membujuk cucunya. " goda Meira.


"Kamu cepat nikah Mei, beri cucu ke papa. " balas Papa dengan jahil. Meirapun langsung nyengir, gadis itu menggeleng pelan kearah sang papa.


"Tapi Opa, Lana kangen sama mama. " Papa langsung bangkit, membawa gadis cilik itu ke kamarnya. Meira menghela nafas panjang, merasa tidak tega melihat Alana yang ingin menangis lagi. Dia berharap papanya itu bisa menenangkan Alana, Meira tidak punya pengalaman sama sekali terhadap anak kecil.


Drt


Pria Gila calling


Meira mengambil ponselnya, menekan tombol hijau dari layar ponsel.


📱Meira : Halo pak? "


📱 Aiden : Kemana kamu, enggak sopan pergi tanpa pamit.


📱 Meira : Saya ada urusan mendadak pak, jadi enggak sempat pamit sama Anda!

__ADS_1


📱Aiden : Lain kali jangan kamu ulangi lagi, sebelum pergi harus pamit dulu sama saya. "


📱 Meira : Ck memangnya Anda suami saya pak, kok ribet banget sih harus pamit pamit segala hadeh.


Tut Meira yang kesal langsung memutus sambungannya begitu saja, dia tidak peduli jika Aiden marah besar padanya. Dia bangkit, melangkah pasti menuju ke lantai atas, di mana kamarnya berada di ujung sebelah kanan.


Sementara Aiden mengumpati Meira, yang memutus sambungan seenaknya saja. Diapun kembali meneguk minuman dinginnya. Pria itu segera mengirim pesan pada sang pelayan pribadinya itu.


to Meira


Datanglah ke sini atau kamu akan tahu akibatnya!


"Dasar pria gila. " pekik Meira kesal sambil bersungut sungut, menghentakan kakinya kesal memasuki mansion Aiden. Aiden menyeringai, melipat tangannya di dada memperhatikan Meira yang kini duduk di hadapannya. Wajah gadis itu terlihat di tekuk, dia masih terlihat kesal dengan sikap Aiden yang suka mengancam dan memaksa.


"Ada apa kau memintaku kemari? " ketus Meira


"Aku kesepian, aku perlu teman untuk menemaniku. " jawab Aiden dengan santainya. Meira mendengus sebal, gadis itu melirik sinis kearah Aiden. Gadis itu menghela nafas panjang, perlu menyetok banyak kesabaran menghadapi pria gila seperti Aiden. Raut wajahnya berubah sendu, memgingat si kecil Alana hal itu tak luput dari manik kelam pria itu.


"Apa kamu punya masalah, terlihat dari wajahmu yang begitu menyedihkan!


"Hemm! Aiden berdecak melihat respon dari Meira, pria itu kembali meneguk minuman dinginnya hingga tandas. Dia tidak memiliki keahlian dalam menghibur seorang gadis, sehingga bingung dengan apa yang harus mesti dia lakukan.


Aiden PoV


Meira tidak seperti Valerie yang begitu blak blakan, gadis di hadapannya ini begitu tertutup terhadapnya. Meskipun begitu dia sangat suka menjahili Meira, membuat gadis itu kesal dan uring uringan sendiri.


"Kenapa melihatku begitu, kamu terpesona padaku!


Aiden tersenyum sinis, mendengar pertanyaan konyol dari Meira yang begitu percaya diri. "Apa otakmu begitu lambat, kamu bukan gadis yang masuk dalam tipeku jadi jangan percaya diri dulu. " kekehnya.


tbc

__ADS_1


__ADS_2