
Sabar mas Bara emang ngeselin wkwk tuker aja ya sama cogan lain 🤣🤣
Hari demi hari hingga bulan berganti bulan Binar lalui hidupnya dengan berat, meski begitu dia tetap bertahan demi Adrian dan calon bayi dalam kandungannya. Kini usia kandungannya memasuki bulan ke lima, meski dirinya tersenyum pada keluarganya namun sebenarnya dia tengah menutupi kerapuhannya.
Tok
tok
Cklek
"Er Tuan Bara. " Maid terkejut sekaligus senang melihat majikannya kembali. Maid membiarkannya masuk ke dalam, segera memanggil Binar. Binar bangkit, terkejut melihat sosok suaminya kembali namun pria itu tak sendirian.
"Mas Bara. " panggil Binar dengan mata berkaca kaca, bergegas menghampiri suaminya. Bara memeluknya dengan erat, keduanya saling melepaskan rindu. Binar melepas pelukannya, beralih pada wanita yang bersama Bara.
"Dia siapa mas? " tanya Binar dengan raut khawatirnya.
"Kita duduk dulu sayang. " ketiganya pergi ke ruang tamu, Binar berharap apa yang ada dalam pikirannya tak terjadi.
"Dia Rasti, perempuan yang menolongku kemarin. Di jalan saat hendak pulang, aku di rampok sayang kemudian mereka menghajarku hingga aku koma. Untungnya Rasti dan orang tuanya menolongku. " ujar Bara panjang lebar.
"Lalu apa maksudnya dia kamu ajak ke sini mas, apa mas mau menikahinya sebagai balas budi. " ujar Binar dengan nada datarnya. Rasti menunduk, merasa tidak nyaman dengan tatapan intimidasi Binar padanya.
"Tentu saja tidak sayang, aku hanya ingin membantu membiayai adiknya yang akan di operasi. " jelas Bara.
"Dengarkan aku mas Bara, jika kamu berani mengkhianati aku maka perceraianlah jalan keluarnya, kupastikan kau tidak akan bertemu aku, Adrian dan calon anak dalam perutku. " tegas Binar.
"Kau tahu selama ini aku selalu menunggu kepulanganmu, aku sangat yakin kau masih hidup mas. Ternyata kamu betah tinggal bersamanya, hingga melupakan istrimu sendiri. " sarkas Binar.
"Sayang, aku sudah jelaskan ke kamu kalau aku mengalami pendarahan di kepala saat di pukul lalu koma. " ujar Bara yang mencoba lebih bersabar menghadapi istrinya.
__ADS_1
"Maaf kak, saya tidak ada maksud apapun dengan mas Bara, suami kakak. " sela Rasti.
"Panggilan saja begitu mesra, sejak kapan kamu mengizinkannya memanggilmu seperti itu mas Bara. " ketus Binar.
"Dengar nona Rasti, saya ucapkan terima kasih karena menolong suami saya tapi tolong jaga sikap kamu. Bara suami saya, calon ayah dari anak dalam kandungan saya. Jadi berhenti memanggilnya mas karena dia bukan abang dan suami kamu, tapi panggil dia dengan Tuan PAHAM TIDAK. " ujar Binar dengan nada sedikit tinggi.
"Sayang. "
"Paham nona, saya permisi. " Rasti pamit, ke luar dari sana meninggalkan pasangan suami istri tersebut. Bara menghela nafas panjang, merasa sangat bersalah membiarkan istrinya menunggu dirinya dalam keadaan hamil.
"Maafkan mas sayang, maaf!
"Menunggu itu melelahkan mas, tahu gitu aku cari pengganti kamu daripada marah marah mendengar kamu tinggal bersama wanita
itu. " racau Binar dengan nada kesalnya.
"Selama ini Adrian selalu mencari kamu, beberapa kali putera kita itu demam mas, berharap ayahnya segera pulang dan dia bisa bermain lagi sama kamu. " jelas Binar sambil berusaha menenangkan dirinya. Rasa bersalah semakin dia rasakan pada istri dan anaknya. Binar merasakan lelah, lelah jiwa dan raganya namun semuanya dia tahan demi Adrian dan calon baby dalam perutnya.
Melihat raut sedih sang istri membuat Bara hanya bisa mengumpat, merutuki kebodohannya. Keluarga besar merekapun datang, mereka semua terkejut sekaligus senang melihat Bara kembali dengan selamat.
Bara bangkit, menghampiri istrinya kemudian berlutut sambil menggenggam tangan Binar. "Maafkan aku sayang, maaf karena membuatmu menunggu dan menangis. Aku memang suami bodoh dan tak berguna untuk kamu. Kau tahu sayang ingatanku pulih sepenuhnya, aku ingat semua kenangan saat kita masih menjadi kekasih dulu. " tukasnya.
"Maafin Daddy sayang, Daddy bersalah membuat mommy kamu menangis dan terus terusan bersedih. " Bara mengusap perut istrinya, orang tua mereka hanya diam memperhatikan interaksi dingin keduanya. Dia bangun duduk di sebelah istrinya, Binar hanya diam tanpa berkata apapun, wanita itu masih marah, kesal sekaligus kecewa pada sang suami.
Binar menatap sendu suaminya, jujur dia begitu merindukan sang suami. Dia menangis tanpa suara, Bara memeluknya namun tak terlalu erat. Tangis Binar pecah dalam dekapan hangat suaminya. Mami ikut menangis melihat puterinya, dia memeluk erat tubuh papi.
Setelah tenang Binar masih dalam kebungkaman, enggan mengajak suaminya bicara. Bara mengerti, istrinya masih marah padanya dan dia tak akan memaksanya. "Please sayang, maafkan aku dan jangan katakan perpisahan karena aku tak mau itu terjadi, aku tidak mengkhianati kamu sayang!
Binar menghela nafas panjang, melihat wajah memohon suaminya diapun merasa kasihan. "Maafkan atas sikapmu tadi mas, aku hanya takut kehilangan kamu. Aku hanya tak bisa membayangkan bagaimana kemarin kamu tinggal bersama wanita itu di luar jangkauanku, itu sungguh menyakitkan. "
__ADS_1
"Bara bawa istrimu ke kamar, Binar perlu istirahat nak. " pinta Mami pada menantunya.
"Iya Mi. " Bara menggendongnya, membawa istrinya menuju ke kamar. Mami Meira bernafas lega, puterinya tak mengalami hal seperti dirinya dulu, kehilangan orang yang dicintainya.
"Binar wanita yang kuat sayang, kamu sangat hebat memiliki puteri secantik dan setegar Binar. " ujar Papi Keenan pada sang istri.
"Terimakasih Pi, Daddy Aiden pasti sangat bahagia di atas sana. " gumam Mami Meira sambil tersenyum. Papi Keenan menanggapinya dengan senyuman, pria itu memeluknya dengan erat.
Berlin bersama keluarga kecilnya datang berkunjung, Mami dan Papi menyambut kedatangan mereka. Mami langsung mengambil alih Vega, cucunya dari gendongan Berlin lalu membawanya ke taman bersama papi.
"Aku kasihan pada Binar mas, sebagai kakaknya aku tak bisa berbuat banyak untuknya. " ujar Berlin pada sang suami. Daniel memeluk bahunya dari samping, paham akan perasaan istrinya saat ini.
"Bara telah kembali sayang, aku yakin setelah ini Binar kembali ceria seperti semula dan aku harap keduanya bahagia lagi. " jawab Daniel dengan tulus.
"Iya. " Berlin mengulas senyumnya, membalas pelukan sang suami. Keduanya mengobrol banyak hal sambil menunggu Bara turun. Tak lama Bara turun, menemui Berlin dan Daniel di ruang tamu.
"Bagaimana kabar kamu Bara? " tanya Daniel pada adik iparnya.
"Aku baik. " Bara menjelaskan yang sebenarnya pada mereka. Berlin menghela nafas panjang, menatap kasihan pada adik iparnya itu.
"Kamu harus bersabar, Mungkin Binar perlu waktu mengingat kamu meninggalkannya lumayan lama. Wajar dia marah kalau kamu kembali bersama seorang wanita, akupun juga akan berfikir sama seperti adikku. " ujar Berlin dengan bijak.
"Kau tahu Bara, selama ini Binar selalu menunggu kepulanganmu. Meski dalam keadaan hamil, dia tetap merawat Adrian saat putera kalian sedang sakit dengan sabar. Mami dan lainnya menyuruhnya istirahat namun Binar tetap menjaga Adrian dengan penuh kasih sayang!
Rasa bersalah semakin di rasakan Bara, mendengar bagaimana perjuangan Binsr selama ini tanpa ada dia di sisi wanita itu apalagi Binar tengah hamil. Dia merasa sebagai suami tak berguna, Bara mengusap wajahnya kasar.
"Aku salah, aku merasa menyesal karena tak pulang lebih cepat. " sesal Bara.
"Binar hanya ingin selama dia hamil, kamu selalu menemani dia Bara, butuh perhatian dan ingin di manjakan sama kamu. "
__ADS_1
tbc