Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Epson 121 ~ Extra Part 5 Melisa Story CHAP 4


__ADS_3

Sore harinya Melisa memutuskan ke luar kamar, dia bergegas menemui Adam di ruang kerjanya.


Tok


tok


tok


Cklek Melisa membuka pintunya dengan ragu ragu, lalu mengintip kearah Adam setelah itu masuk ke dalam. Dia berjalan pelan mendekat kearah Adam yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Apa yang ingin kamu katakan Mel? "


"Tuan eh maksudku mas Adam, bisakah kamu mengantarkan aku pulang. " ujarnya ragu ragu.


Adam menoleh dan menatap datar kearah Melisa yang menunduk. "Bukankah mommy sudah mengatakan padamu, jika aku tidak mengizinkanmu pulang sebelum kamu sembuh. "


"Tapi aku ingin pulang mas. " desak Melisa kekeh dengan keinginannya.


Adam bangkit dari kursinya, dia berjalan menghampiri Melisa dan memasang wajah datarnya. "Aku hanya tidak mau kamu melakukan hal bodoh seperti di pantai tadi, itu alasanku kenapa kamu dilarang pulang nona Melisa. "


Melisa terdiam mendengar pengakuan dari Adam mengenai alasannya. Tanpa berkata apapun, dia segera ke luar dari ruang kerja Adam dan pergi dari sana. Adam menyusulnya, dia tidak mau terjadi sesuatu pada Melisa.


Dari jauh Adam memperhatikan Melisa yang melamun di teras, hal itu membuatnya menghela nafas panjang. "Sangat sulit untuk mengajak Melisa berbicara, dia sangat terkesan menghindari aku dan ini pasti tak bisa membantunya melupakan masa lalunya. "


Puk Adam menoleh, mommy lah yang menepuk pundaknya, dia memberi kode untuk pergi, Adam mengangguk dan pergi dari sana. Mommy menghampiri Melisa, lalu duduk di sebelahnya. "Melisa sayang, nak tante bukannya mau ikut campur, tapi cobalah kamu lupakan masa lalu dan bukalah lembaran baru. Kamu tidak bisa terus terusan terpuruk seperti ini. " ujar mommy.


"Ingat nak tidak semua pria itu jahat, contohnya seperti om Tommy atau Adam misalnya. Jangan terlalu membentengi dirimu sendiri nak, kamu berhak bahagia juga. " ucap mommy dengan lembut.


Melisa termenung, memikirkan ucapan mommy Alea barusan. Dia kembali memandang wanita paruh baya di depannya dengan tatapan lembut. "Iya Tante terimakasih atas nasehatnya. "


"Sama sama nak, oh ya gadis yang ada di restauran tadi dia sepupu kamu? "


"Iya Tante namanya Vanilla, " jawab Melisa dengan ramah. Mommy Alea mengangguk angguk, beliau bangkit dan masuk ke dalam. Tak lama Adam datang dan menghampirinya, Melisa mendongak dan menatap pria yang menolongnya.

__ADS_1


"Mas, bisakah kamu mengantarku pulang, aku ingin mandi dan berganti pakaian!


"Aku setuju, setelah itu kita ke mall dan salon membeli pakaian baru untukmu serta merubah penampilanmu, kamu harus benar benar membuka lembaran baru. " seru Adam.


Melisa mengangguk, dia bangkit dari duduknya dan mereka bersama sama ke luar dari penthouse Adam. Adam tancap gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Melisa bersandar di jok setelah memasang sabuk pengamannya.


Melisa POV


Aku sudah terlalu banyak merepotkam Adam dan orang tuanya. Mereka sangat baik padaku tapi aku harus membalas kebaikan mereka dengan cara apa! Aku kira tidak ada lagi orang baik yang menolong sesamanya tanpa menghina masa lalu orang tersebut, ternyata pemikiranku selama ini salah.


Skip


Selesai belanja, Adam membawa Melisa ke sebuah salon ternama. Dengan sabar pria tampan itu menunggu sambil memainkan ponselnya.



Melisa ke luar dan menemui Adam, Adam menoleh dan tersenyum tipis kearahnya. Dia bangkit dan menghampirinya kemudian memasangkan sebuah syal ke leher Melisa. Melisa tertegun dengan tingkah Adam yang tiba tiba. "Hari sudah mulai gelap, mungkin sebentar lagi akan hujan. " ujar Adam.


Tes


tes


tes


Rintikan hujan mulai turun dan semakin lama semakin deras, Adam dan Melisa segera masuk ke dalam mobil. Adam berusaha menyalakan mobilnya namun terdengar suara umpatan dari bibir pria itu, Melisa menatapnya dengan raut bingung. "Kenapa dengan mobilnya Mas Adam? "


"Sepertinya mogok Mel dan kita akan terjebak disini sampai besok pagi. "


Adam mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi orang tuanya, namun tak ada sinyal dan hal itu membuatnya kesal, kembali menyimpan ponselnya dalam saku.


"Kita pindah ke belakang saja Mel!


Adam dan Melisa memilih duduk di jok belakang, dengan sengaja pria itu merapatkan tubuh mereka. "Mas bisa tidak duduknya di beri jarak mas, aku enggak nyaman. "

__ADS_1


"Jangan takut Mel, aku enggak akan nyakiti kamu kok, aku janji!


Melisa bersandar di dada Adam, mencari kenyamanan dan kehangatan di sana, Adam memeluknya dengn erat. Diam diam dia tersenyum tipis, entah kenapa dia sangat senang bisa berdekatan dengan Melisa.


"Mas Adam, kenapa kamu bersikap baik sama aku, padahal jelas jelas kita baru saling mengenal dan kamu tahu masa lalu aku. " gumam Melisa memandang lekat kearah Adam.


"Entahlah Mel, mungkin saja kamulah takdirku begitu juga sebaliknya, kita diketemukan mungkin saja untuk saling melengkapi satu sama lain. " ujar Adam dengan lembut.


Melisa mendorong pelan tubuh Adam, dia menatap kearah luar jendela dan ternyata masih hujan deras. Dia menghela nafas panjang, memilih bersandar di jok tanpa berkata apapun pada Adam.


"Ada yang salah dengan ucapanku Mel, kenapa kamu hanya diam saja? "


"Cukup mas jangan membicarakan lagi hal hal menjijikkan seperti itu, lebih baik pikirkan cara untuk pulang. " tegas Melisa tanpa menoleh kearah Adam.


Adam mendengus pelan melihat sikap Melisa barusan, tak menyangka hati wanita di sampingnya kembali beku seperti es. Melisa kembali memijit kepalanya yang terasa pusing hal itu tak luput dari pandangan Adam. "Jangan terlalu keras kepala Melisa, apa yang kamu benci mungkin saja menjadi garis takdirmu kelak, lupakan masa lalu kelammu itu dan jika kau berhasil aku yakin hatimu akan lega. "


***


Di sisi lain Viona memperhatikan suaminya yang melamun di ruang tamu. Dirinya sadar jika pernikahannya dengan Alex hanyalah keterpaksaan, mungkin saja suaminya memang tak bahagia bersamanya. Apalagi suaminya belum pernah menyentuhnya selama mereka menikah. Merasa diperhatikan Alex menoleh dan tersenyum kearah istrinya. "Sayang kemarilah kenapa kamu diam di situ? "


Viona berjalan pelan mendekati Alex lalu duduk di sebelahnya. "Apa mas Alex masih kepikiran sama mbak Melisa? " ucapnya pelan, takut menyinggung hati suaminya. Alex terdiam mendengar penuturan dari istrinya ini, Viona msmeganh tangan Alex.


"Jika mas Alex masih cinta sama mbak Melisa, harusnya dulu mas perjuangin cinta kalian dan yakinkan orang tua mas. " pungkas Viona.


"Kamu itu ngomong apa sih Vi, aku tidak memikirkan Melisa. " balas Alex dengan kesal. Viona kini tak lagi bersuara, dia merasa semakin yakin jika suaminya ini tengah memikirkan Melisa, mungkin saja dirinyalah benalu diantara Alex dan Melisa.


Melihat istrinya yang terdiam, membuat Alex menghela nafas kasar. Keduanya kini saling mendiami satu sama lain, sesekali Alex melirik kearah Viona, istrinya. Vionapun bangkit, sebelum pergi dia menoleh kearah suaminya.


"Jangan sampai bergadang mas Alex dan juga jaga kesehatan, selamat malam mas! Viona tersenyum sekilas lalu berbalik dan melangkah pergi ke kamarnya di lantai atas. Alex menatap kepergian istrinya dengan tatapan sendu, saat ini dia tengah dilema.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang. " gumamnya lirih.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2