
Dua hari berlalu, Meira memilih membiarkan semuanya berjalan semestinya termasuk kedekatannya dengan Aiden. Kini gadis itu mengajak si kecil Alana ke puncak bersama dengan Darren, liburan bersama.
"Mami, kenapa kita ke sini bersama Uncle Darren, kenapa tidak dengan papi? " ucap Alana dengan polos. Meira tersenyum kikuk, dia usap kepala Alana dengan lembut.
"Papi kamu sedang sibuk sayang!
"Tapi Lana pengennya sama papi, Mi! Meira menghela nafas panjang, dia hanya tersenyum pada gadis kecil kesayangannya itu. Dari jauh Darren berjalan kearah mereka, berusaha menyesuaikan diri dengan Alana.
"Bagaimana kalau kita jalan jalan berdua sama Uncle, biarkan mami kamu istirahat? " tawar Darren dengan lembut.
"Baiklah, Lana mau om. Mami aku pergi sama uncle Darren ya. " Meira mengangguk, Pria itu langsung membawa pergi Alana. Gadis itu mengambil ponselnya, terlihat banyak panggilan masuk dari Aiden namun dia tak berniat menghubunginya balik.
Meira sangat suka suasana sepi, tenang dan asri seperti di Villa ini. Alasan selain liburan, dia ingin menenangkan dirinya dan berniat menghapus bayang bayang Aiden dalam pikirannya. Selama ini Meira meyakinkan dirinya sendiri, jika rasa yang dia rasakan itu hanya sebatas kagum tidak lebih.
"Amor. "
Meira menoleh, terkejut melihat Aiden di depan matanya. Dia mencubit pelan tangannya, lalu meringis. Nyata, sosok Aiden pria yang selalu dia pikirkan kini berada di hadapannya sekarang. Gadis itu langsung beranjak dari duduknya, tanpa sadar langkahnya mendekati Aiden.
Grep
"Kenapa kamu menghindariku Amor? " bisik Aiden yang tengah memeluk tubuh Meira.
Meira tersadar dari keterpakuannya, gadis itu berupaya melepaskan diri dari dekapan si lebah jantan ck. Aiden tak akan membiarkan gadisnya kabur, menjauh dari jangkauannya lagi.
Cup
Meira terkejut, ciuman Aiden seolah melemahkan syarafnya dan setidaknya pria itu menahan tubuhnya yang lemas tak bertenaga. Gadis itu membalas ciuman Aiden dengan tak kalah panasnya. Aiden menyudahi ciumannya, tangannya mengusap bibir Meira dengan lembut.
Tatapan mereka saling bertemu, terlihat jelas keduanya menahan sebuah kerinduan yang besar. Meira mengangkat tangannya, menyentuh wajah tampan teman dekatnya itu.
"Bee, teman tidak seharusnya berciuman. " pungkas Meira sambil menatap lekat Aiden.
__ADS_1
"Teman? " seringai Aiden terbit, pria itu melepaskan pelukannya dan mulai melepas kancing kemejanya, lalu melempar kemejanya ke lantai. Meira merasa gugup, dia hendak mengambil langkah seribu namun dipatahkan niatnya oleh Aiden. Pria itu menggendongnya ala bridal, lalu keduanya jatuh ke kolam renang.
Byurrr
"Bee, dressku basah. " pekik Meira kesal. Aiden terkekeh, pria itu menyugar rambutnya ke belakang. Tetesan air membasahi tubuh kekarnya, membuat pria itu semakin seksi. Meira yang melihatnya segera memalingkan wajahnya.
Tatapan pria itu begitu nakal, sesekali Aiden mengerlingkan matanya dan pandangannya fokus pada dress Meira yang menerawang. Meira menunduk, dengan sigap kedua tangannya menutupi dadanya.
Buah persikku begitu besar ternyata, rasanya aku ingin melahapnya pikir Aiden.
Meira hendak naik ke atas, namun Aiden menahan pinggangnya. Hembusan nafas berat terasa di telinganya, membuat Meira meremang sekaligus geli. Aiden menurunkan resleting gaun Meira namun gadis itu berbalik dan mencegahnya.
"Kita belum resmi Bee, kondisikan tanganmu serta sembuhkan luka hatimu dulu. " tegas Meira menatap tajam Aiden. Gadis itu segera naik ke atas, pergi meninggalkan Aiden yang kini membuang nafas kasar. Pria itu langsung naik ke atas dan menyusul Meira.
"Mei, aku belikan buah favoritmu. " Darren kembali bersama si kecil Alana yang tengah makan es krim. Meira mengambil buah segar tersebut lalu segera di kupas.
Melihat bagaimana tanggapan Meira membuat Aiden mendengus sebal. Tatapan tajamnya kini beralih pada Darren, namun Darren tak mempedulikannya. Pria itu hendak mengambil tempat di sebelah Darren, Aiden mendorongnya dan dialah yang duduk lebih dulu.
"Kau. " geram Darren. Meira menghela nafas panjang, tak habis pikir dengan kelakuan Aiden yang begitu kekanakan.
"Jangan tersenyum padanya Amor, " jerit Aiden dalam hati. Huh lagi lagi Aiden harus menahan rasa marah dan cemburunya, melihat Meira mengobrol dengan Darren.
Drt
drt
Aiden mengumpat kecil, mengambil ponselnya yang terus berdering.
"Ya kak Aaron? "
"Kau Di mana Aiden, kau tahu Valerie datang dan membuat kekacauan di kediaman daddy. "
Rahang Aiden langsung mengeras, dia menutup ponselnya. Meira tersenyum kecut, melihat Aiden yang kini langsung bangkit dan berpamitan pada si kecil Alana dan dirinya, namun pria itu tak memandangnya.
__ADS_1
"Ternyata memang benar, kau masih memiliki rasa pada masa lalumu itu Bee. " Darren menyentuh tangan Meira, membuat gadis itu menoleh kearahnya.
"Are you okey Meira? "
"Enggak papa kok Ren. " Meira memaksakan senyumnya di hadapan Darren, pria itu langsung mengangguk percaya begitu saja. Aiden yang melihatnya hanya tersenyum sinis kemudian pergi begitu saja.
Duda tampan itu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam paperbag, lalu menyerahkannya pada Meira. "Teeimalah dan bukalah hadaih dariku ini Meira? "
Meski bingung Meira tetap membuka kotaknya, terkejut melihat sebuah kalung berlian ada di dalam kotak tersebut. Gadis itu menatap Darren dengan raut bingungnya. Sudut bibir Darren terangkat, dia perhatikan lekat wajah Meira.
"Aku pasangkan ya Mei! Tanpa menunggu respon Meira, Darren memasangkan kalungnya di leher gadis itu. Meira menahan nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Mei, apa kamu menyukai pria tadi? "
"Em aku, entahlah Darren aku juga bingung! Meira belum bisa mengenali rasa yang kini mekar dalam hatinya. Darren mengenggam tangan gadis di hadapannya, raut wajahnya terlihat serius.
"Aku mencintaimu Meira!
"Apa? " Meira sangat syok mendengar ungkapan cinta Dari Darren. Darren kembali mengungkapkan cintanya pada gadis pujaannya itu.
"Tapi Ren, aku belum tentu bisa membalas cinta kamu. " cicit Meira merasa tidak enak hati pada temannya itu.
"Tak apa Mei, aku akan berjuang sebisaku mendapatkan hatimu. " ujar Darren dengan tegas. Lagi lagi terdengar helaan nafas berat keluar dari bibir tipis Meira.
Meira POV
Haruskah aku menolak langsung Darren, aku tak sanggup melihatnya kecewa namun aku juga tak mungkin memberinya harapan. Sementara hatiku sendiri telah terukir nama seseorang, seseorang yang mungkin tidak bisa aku miliki. Rasanya sesak jika mengingatnya, jika orang yang membuat kita nyaman masih terus terbayang masa lalunya.
AIDEN WESTLEY LIEM
"Kenapa kau hadir dalam hidupku Bee, jika nyatanya kamu belum tentu bisa membalas cintaku. " batin Meira miris.
"Daripada suntuk kita jalan jalan saja, Alana ajak sekalian. " tawar Darren dengan nada lembut. Meira menimbang nimbang tawaran Darren, kemudian mengangguk kecil. Merekapun beranjak dari teras dan bwrjalan kaki menyelusuri Villa.
__ADS_1
Darren tersenyum simpul, memperhatikan interaksi Meira dan Alana, dia semakin kagum dengan sikap dewasa gadis pujaannya itu.
tbc