Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
JMC Part 17 - TIDAK DI ANGGAP


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


"Setidaknya ada papa yang bisa membuat Alana tidak menanyakan Lily. " Meira sedikit lega, namun kini dia khawatir dengan sahabatnya yang pergi begitu saja. Dia usap perut buncitnya yang kini berusia ke 7 bulan.


"Sayang. " Meira menoleh, tersenyum lebar lalu bangkit dengan susah payah menghampiri kepulangan suaminya. Aiden buru buru mendekatinya, setelah itu membopongnya ke ruang tamu.


"Sebaiknya jangan menyambutku honey, aku merasa kasihan melihat dirimu kesusahan semenjak perutmu kian besar. " pungkas Aiden. Meira tersenyum tipis, dia kecup bibir suaminya sekilas kemudian bersandar padanya.


"Aku enggak papa sayang, jangan khawatir. " balas Meira dengan tenang.


"Bagaimana kalau kita jalan jalan? " tawar Aiden.


Meira mengangguk antusias, hal itu membuat sudut bibir Aiden terangkat. Pria itu segera mengajak istrinya ke luar, menyuruh sopir untuk menyetir.


Di sisi lain Ryan kini tengah mengejar wanita pujaannya. Pria itu kini berada di rumah Lily, Lily merasa berdebar, melihat kedatangan Ryan. Tubuh kekar Ryan mengungkungnya ke tembok, raut wajahnya nampak datar, membuat Lily ketakutan. "Sudah puas kamu ninggalin aku, membuat hidupku berantakan selama beberapa hari ini Lily. "


"Apa kau tahu Alana selalu menangis, mencari keberadaan kamu, untungnya ada om Alan yang menenangkannya. "


Lily nampak berkaca kaca, rasa bersalah bersarang di hatinya terhadap puteri kecilnya itu. Tanpa bisa di tahan, cairan bening turun membasahi kedua pipinya yang mulus. "Maafin aku mas Ryan, maaf. Aku sama tersiksanya kayak kamu, namun selama ini aku berbohong pada diri sendiri jika aku tak menyukai kamu. "


"Aku cinta sama mas Ryan. "


Ryan tersenyum lebar, pria itu begitu bahagia mendengarnya. Inilah yang selama ini dia tunggu terucap dari bibir wanitanya. Pria itu memagut bibir Lily, Lily membalasnya dengan lembut, meluapkan kerinduan di antara mereka.


"Sayang, kita pulang ke penthouseku bagaimana. "


"Aku terserah mas Ryan aja, lalu bagaimana dengan pakaianku. "


"Biarkan di sini saja sayang, di penthouse sudah aku siapkan semua keperluanmu. " Ryan tersenyum manis padanya. Keduanya segera ke luar dari rumah, Ryan melajukan mobilnya kencang.

__ADS_1


Sebelum pulang, keduanya sempat berbelanja buah buahan serta beberapa camilan. Lily menaruh belanjaannya di dapur, wanita itu tersenyum geli melihat sikap kekasihnya yang terus mengekorinya dari belakang.


"Ada apa sih mas, dari tadi kamu ngikutin aku terus. "


"Huft adik kecilku terbangun yank. " rengeknya sambil menunjuk ke bawah. Pipi lily langsung merona, wanita itu menggeleng kearah Ryan.


"Dengar ya kita belum nikah, lagian adik kecilmu itu kasih tahu jangan bangun seenaknya mas. " protes Lily sambil terkikik mendapati wajah masam kekasihnya.


"Mana bisa, kamunya aja menggoda begini. Jangan salahkan adik kecilku jika bangkit kayak gini. "dengus Ryan sebal.


Tawa Lily langsung pecah, dia mengabaikan wajah merengut sang kekasih. Ryan merasa kesal karena di tertawakan wanitanya, pria itu langsung memeluk pinggang Lily. Tubuh keduanya menempel erat tanpa ada celah, Lily bisa merasakan sesuatu di sana yang mengganjal.


"Er mas Ryan, lepasin aku dong. " bujuk Lily pada sang kekasih. Ryan melepaskan pelukannya, pria itu tersenyum geli melihat rait kesal sang kekasih.


"Besok temani aku ya sayang, pergi ke dokter untuk membahas penyakitku. " ujar Ryan.


"Iya mas, mas Ryan harus semangat supaya cepat sembuh. " sahut Lily sambil tersenyum manis kala Ryan menganggukan kepalanya.


"Memangnya mas Ryan bisa masak? " tanya Lily yang seakan meragukan Ryan.


"Enggak percaya, aku tantang ya. Imbalannya kamu cium bibir aku lebih lama oke. " Ryan mengedipkan matanya, pria gagah itu bergegas ke dapur, diikuti Lily dari belakang. Lily mengigit bibir bawahnya, melihat kekasihnya yang begitu cekatan menggunakan alat alat dapur.


"Terlepas dari masa lalu, aku semakin kagum sama kamu mas Ryan. Kamu mau berubah menjadi lebih baik lagi, tampan kaya dan pibtar memasak. " gumam Lily pelan, menatap punggung tegap sang kekasih.


Setelah empat puluh lima menit, Ryan membawa makanannya ke meja makan. Ya Ryan tengah membuat chicken steak dan jus strawberry, sesuai keinginan sang pujaan.


Lily dengan ragu mencicipinya, wanita itu mengacungkan jempolnya, begitu lahap memakan steaknya. Ryan tersenyum kecil, sepertinya masakannya begitu enak, hingga membuat Lily ketagihan.


"Karena masakanku enak, ayo cepat cium bibirku sayang! Seringai terbit di sudut bibir Ryan, Lily berdecak sebal. Wanita itu bangkit, lalu memposisikan dirinya di atas pangkuan Ryan. Dia langsung menyatukan bibir mereka, tautan bibir itu berlangsung lama. Hampir kehabisan nafas, keduanya segera melepaskan diri.

__ADS_1


"Sayang, nanti bersiap siaplah jam 07. 00 kita ke rumah orang tuaku, nanti malam acara aniversary pernikahan mama dan papaku!


"Kenapa kamu baru bilang sayang. " protes Lily yang kini di balas kecupan oleh Ryan. Pria itu telah menyiapkan segalanya termasuk gaun untuk Lily, Lily hanya pasrah mengikuti keinginan Ryan, meski dirinya belum siap bertemu orang tuanya Ryan.


##


Tepat pukul 07.00 malam keduanya pergi ke mansion orang tua Ryan. Ryan menggandeng tangan sang kekasih setelah keduanya turun dari mobil, bersama sama masuk ke dalam.


"Ma, Pa congrat buat aniversary kalian. " ucap Ryan sambil tersenyum.


"Terimakasih nak, oh ya kamu tidak mengajak Alana kemari? " wanita paruh baya itu nampam kecewa, wanita itu merindukan sang cucu.


"Enggak ma, maaf ya. Oh ya ma, kenalin ini Lolitta Evelyn, Lily adalah kekasihku sekaligus calon istriku. " ungkap Ryan dengan wajah sumringahnya. Mama menoleh keaurah Lily, memperhatikannya dari atas sampai bawah,lalu kembali menatap puteranya.


"Tapi nak, mama sudah menemukan calon istri yang cocok untukmu, sebentar mama panggil dia dulu. " Mama pergi sebentar, tak lama paruh baya itu kembali dengan seorang gadis muda. Lily semakin mengeratkan genggaman tangannya, dia tiba tiba merasa tidak percaya diri.


"Ryan, kenalkan ini Sofia, puteri dari rekan bisnis papa kamu. " ujar mama Ratih. Sofia mengulurkan tangannya, Ryan hanya diam tak acuh padanya.


"Ma please, hanya Lily wanita yang aku cinta. Sekali ini saja, mama jangan ikut campur dalam masalah pribadiku. " tegas Ryan.


"Tuan Ryan, jangan berbicara dengan nada tinggi. " sela Sofia dengan nada tenang.


Ryan melempar tatapan tajam pada Sofia, memberi peringatan agar diam. Sofia langsung diam, dokusnya kini beralih pada Lily yang berada di sisi Ryan. Mama menghela nafas panjang, mencoba menutupi kekecewaannya akan penolakan puteranya. Lily semakin merasakan ketidak nyamanan, sepertinya ibunya Ryan memang tidak menyukainya.


"Haruskah aku mundur, membiarkan mas Ryan bersama wanita pilihan ibunya. " batin Lily dilema.


"Em malam tante, maaf kalau kehadiran saya membuat tante tak nyaman, saya ucapkan selamat ulang tahun pernikahan tante dan


om. " ucap Lily dengan tulus.

__ADS_1


"Iya Terimakasih. " Wanita paruh baya itu memilih mengobrol dengan Sofia, Lily tersenyum kecut. Dia benar benar merasakan tidak nyaman di pesta orang tua Ryan, melihat sikap ibunya, Ryan hanya bisa membuang nafas kasar.


tbc


__ADS_2