
tepat pukul 06.00 sore
Mommy dan Daddy berkunjung ke mansion Zayn dan Senja, kedua paruh baya itu membawa mainan untuk Jingga.
"Jingga sayang. " panggil Mommy pada sangat cucu.
Jingga tersenyum lebar, berlari kearah opa dan omanya. Opa langsung menggendongnya, membawanya ke ruang tamu dan duduk di sana. Oma langsung mengeluarkan boneka teddy bear dan memberikannya pada Jingga.
"Ini sayang boneka buat kamu. "
"Telimakasih oma, Jie sangat suka dengan bonekanya. " Senja dan Zayn mengulas senyumnya, melihat kebahagiaan yang di rasakan puteri kecil mereka. Jingga memeluk erat boneka teddynya yang di berikan oleh sang oma. Oma dan opa turut senang melihat cucu pertama mereka itu suka dengan bonekanya.
"Jingga, nanti tidur sama oma dan opa ya!
" Ya oma, bialkan daddy dan mommy tidul beldua cama calon dedek bayi, kalena Jingga sudah besal! Oma tersenyum mendengar ucapan sang cucu, dia meraih Jingga ke atas pangkuannya.
"Ya sudah Jie sama opa dulu ya, oma mau nyiapin makan malam. " Jingga mengangguk, dia langsung beralih di pangkuan sang opa. Oma bangkit dan berlalu pergi ke dapur. Senja tak henti hentinya tersenyum melihat Puteri kecilnya yang sangat lucu sambil mengusap pertama buncitnya.
"Jingga sayang kalau dedek bayi lahir, jingga bakal sayang sama dedek bayi bukan? " tanya Senja dengan nada lembut.
"Tentu saja sayang mommy, asalkan mommy dan daddy beli aku dedek bayi tiga. " jawabnya sambil menunjukkan jemarinya yang membentuk angka tiga.
Zayn tergelak mendengar ucapan sang puteri, Senja melotot horor mendengar pernyataan Puteri kecilnya. Jingga tertawa melihat reaksi mommy kesayangannya itu, dia langsung bertos ria dengan sang opa. Senja langsung menatap kesal kearah daddy mertuanya itu sambil berkata. "Ayolah Daddy Erland, daddy yang ajarin jingga 'kan!
" Sudahlah sayang, apa yang dikatakan Puteri kita itu benar. " sahut Zayn sambil tersenyum miring kearah istrinya. Senja berdecak, dia kembali mengusap perutnya yang membuncit. Opa bangkit dan berlalu sambil menggendong Senja disusul Zayn yang menuntun sang istri.
Di meja makan
"Oma, oma Jie sangat cuka sama kak Edzald. " ucap Jingga dengan polos.
Oma tertawa pelan mendengar pernyataan polos cucu cantiknya itu begitu juga dengan yang lain. "Emangnya Ji tahu apa itu rasa
suka? "
__ADS_1
"Tahu Oma, sepelti Daddy yang memakan bibil Mommy. " ucapnya dengan jujur.
Oma langsung melirik Zayn dan Senja secara bergantian, Zayn dan Senja tersenyum canggung atas ucapan Puteri mereka itu. Opa tertawa melihat reaksi yang di tunjukkan putera dan menantunya itu. "Makanya kalau mau melakukan sesuatu pintu di kunci nak. " ledek Opa.
"Cucu oma yang cantik, kamu masih kecil sayang, kalau sudah dewasa kamu baru boleh suka sukaan sama anak laki-laki, Jingga paham 'kan ucapan oma. " ujar Oma
Jingga terlihat bingung namun mengangguk, Oma tersenyum hangat dan kembali menyuapi cucunya itu. Mereka melanjutkan makan malam mereka di temani suara cadel Jingga yang terus mengoceh. Senja bernafas lega, setidaknya puterinya itu tak bertanya hal hal yang aneh lagi.
"Astaga malu banget, jadi saat aku dan mas Zayn ciuman, Jingga selalu melihatnya
astaga. " batin Senja.
Selesai makan malam, Oma dan Opa mengajak Jingga ke kamar mereka. Setelah kepergian mereka, Senja menoleh dan menatap kesal sang suami. "Kamu sih mas, kalau cium aku tak tahu tempat, hingga Jingga melihat kita berciuman. " protes Senja.
"Jangan ngomel terus sayang, nanti lama lama kayak nenek nenek. " ledek Zayn.
Senja mengerucutkan bibirnya, Zayn membantu dirinya berdiri dan pergi dari meja makan. Keduanya kini berada di kamar lantai bawah, Zayn tak ingin istrinya kelelahan karena bolak balik ke atas.
" Iya Daddy! Senja menirukan suara anak kecil, Zayn kembali mencium kening dan bibir Senja sekilas.
"Sayang kamu belum nyiapin nama kedua bayi laki laki kita. " Ya Senja ternyata hamil anak kembar laki laki dan keduanya sangat senang mendapat kabar itu. Rasa rasanya sedikit tak percaya mengingat keluarga mereka tak ada yang kembar.
"Aku sudah punya namanya, em bagaimana kalau Jeffran dan Jefferson gimana sayang? "
Senja mengangguk, menyetujui saran nama dari suaminya itu. Zayn tersenyum tipis, membantu istrinya berbaring di kasur sambil berkata. "Sebaiknya kita istirahat sayang, hari sudah larut malam!
" Tapi aku belum mengantuk!
Zayn menatap tajam istrinya, Senja menghela nafas pelan lalu memejamkan kedua matanya. Zayn tersenyum kecil, istrinya keras kepala, perlu di beri peringatan dan kini terdengar dengkuran halus. Dia meletakkan tangannya di perut sang istri dengan pelan sesekali mengelus nya dan tak lama dia ikut terbang ke alam mimpi.
***
Esok harinya pagi pagi buta Zayn meminta jatahnya pada sang istri, mau tak mau Senja melayani suami mesumnya daripada terus merengek padanya.
__ADS_1
Tok tok tok
"Mommy, mommy. " teriak Jingga sambil menggedor pintu.
Zayn mengusap wajahnya kasar, sebenarnya dia ingin mengulang kegiatan panasnya bersama sang istri, tapi si setan kecil sudah berada di depan pintu sambil berteriak. Zayn segera membawa istrinya ke kamar mandi.
Skip setelah selesai mandi dan beres beres, Zayn membuka pintu kamarnya. Diapun langsung jongkok, terkekeh melihat puterinya yang tengah merajuk sekarang. "Kenapa princessnya daddy, pagi pagi sudah bangun dan juga wangi!
" Jie nungguin mommy dan daddy lama sekali tadi, kalian ngapain saja sih di dalam sana! ucap Jingga sambil menggerutu.
"Eh maafin daddy sayang, tadi kami baru selesai ber.. "
"Jie sayang ayo turun. " sahut Senja, Senja melitik tajam kearah sang suami dan Zayn hanya nyengir dan segera menyingkir. Dia langsung menyusul sang istri dan puterinya, menuju ke meja makan.
Di meja makan
"Senja sayang kenapa wajahmu terlihat kesal nak? " tanya Oma pada sang menantu.
"Enggak papa Mommy, biasa Mas Zayn membuatku lelah pagi ini! Oma langsung menatap tajam kearah puteranya itu, Zayn hanya tersenyum tanpa dosa membuat Senja mendengus pelan.
Mereka sarapan bersama di pagi ini dan suara cadel Jingga memecah keheningan pagi ini. Senja mengusap kepala puterinya dengan lembut, setelah itu mengusap bibir Jingga yang belepotan.
Selesai sarapan oma dan opa memandang kearah Zayn dan Senja secara bergantian. " Sayang kami berdua pulang dulu ya, Oh ya Senja mengenai ayah kamu, beliau merindukan kamu dan Jingga. "
"Iya Mommy nanti kami akan ke rumah ayah dan Ibu!
Oma dan opa pun berpamitan pulang, sebelum itu keduanya memeluk dan menciumi cucu mereka Jingga, setelah itu berlalu pergi. Zayn menoleh dia memandang istrinya yang kini terlihat bersedih, segera di genggamnya tangan sang istri dengan erat dan Senja pun menoleh kearahnya.
" Aku yakin ayah pasti baik baik saja sayang dan sembuh, lalu berkumpul bersama kita. ? "
"Iya Daddy kamu benar! Senja mencoba tersenyum, menyembunyikan kekhawatiran terhadap sang ayah di hadapan suaminya.
bersambung
__ADS_1