
Binar Almahyra Liem, gadis berusia 23 tahun. Tumbuh menjadi gadis cantik tanpa kasih sayang seorang Daddy. Berkat Mami Meira dan
Berlin yang memberitahu dirinya tentang sosok mendiang daddy mereka. Sifat ceria Binar berubah setelah mendengar kejadian kecelakaan yang menimpa sang daddy saat dirinya kecil, dia menganggap dirinya sebagai pembawa sial hingga mereka kehilangan Daddy Aiden.
Binar memutuskan pergi dari kediaman Liem waktu itu, kini sudah sejak dua tahun berlalu. Gadis itu dibayangi rasa bersalahnya, mungkin mami Meira begitu kecewa padanya, namun ini sudah menjadi keputusannya untuk menenangkan diri. Kini Binar bekerja di salah satu perusahaan terbesar di negara X.
Setelah memeriksa berkasnya, gadis itu segera mengantarkannya ke ruangan CEO.
Tok
tok
"Masuk. "
Binar membuka pintunya, masuk ke dalam ruangan bosnya dan menyerahkan berkas yang dia bawa. Pria itu Bara Yuda Adhitama, pemilik perusahaan Adhitama Corp yang berstatus duda yang memiliki seorang putera. Nampak jelas Bara begitu memperhatikan sekertaris cantiknya, Binar hanya diam dengan wajah datarnya.
"Kalau begitu saya permisi pak. " pamit Binar dengan sopan.
"Tunggu. "
Binar menoleh kearah Bara, menunggu apa yang ingin di katakan Bara padanya. "Nanti kau temani saya makan siang di restauran. " titah Bara.
"Iya Tuan, saya permisi. " Binar ke luar dari ruangan Bara dan kembali ke ruangannya sendiri. Bara menatap kepergian Binar, pria itu justru menghembuskan nafas kasar. Melihat sikap Binar yang berbeda, entah kenapa dia merasa sedikit tertarik pada gadis itu.
...Visual Bara Yuda Adhitama...
Saat jam makan siang Bara mengajak Binar makan siang di sebuah Restauran. Binar merasa tidak nyaman kala Bara terus melihat kearah dirinya. Dering telepon barulah membuat pria itu mengalihkan perhatiannya.
"Daddy, Adli lindu daddy. "
__ADS_1
"Daddy juga rindu sama kamu son, suruh pak sopir antar kamu ke Restauran ya. " Sambungan terputus, pria itu tampak mengulum senyumnya mendengar ucapan cadel putera semata wayangnya itu. Mereka makan siang bersama sambil berbincang membahas pekerjaan.
"Daddy. " pekik bocah kecil. Bara segera bangkit, menggendong puteranya itu lalu membawanya duduk. Si kecil Adri menatap lekat wajah Binar.
"Dad, ini mommy? " tunjuk Adrian pada Binar. Binar nampak terkejut mendengar ucapan polos dari bocah yang dia ketahui sebagai putera dari bossnya. Bara melirik kearah Binar sekilas, lalu kembali menatap Adrian.
"Iya ini mommy son!
"Yey Adli punya mommy dan mommy akhilnya pulang juga. " pekik bocah tampan itu. Melihat kebahagiaan di wajah Adrian, Binar merasa tidak tega jika mengatakan jika dirinya bukan mommy bocah itu. Binar mengambil alih Adrian, memangku nya kemudian menyuapinya dengan makanan.
Selesai makan Adrian memeluk erat tubuh Binar, Binar mengusap kepalanya lembut tanpa banyak bicara. "Mommy jangan pelgi pelgi lagi ya, Adli janji tak akan nakal lagi. "
"Iya Adri sayang, mommy janji!
Mata Binar nampak berkaca kaca, Adri sama halnya seperti dirinya yang kekurangan kasih sayang, Adri kehilangan ibunya sejak bayi sedangkan dirinya kehilangan Daddynya.Bara mengulas senyumnya, merasa hangat melihat keakraban Adri dan Binar.
Mereka bertiga meninggalkan restauran, Bara memutuskan mengajak keduanya jalan jalan. Setelah seharian bermain, Bara dalam perjalanan pulang menuju ke mansion mewahnya. Adri merengek tak ingin di tinggal Binar lagi, bocah itu begitu erat memeluk tubuh Binar.
Mereka segera membawa Adri ke dalam, Bara mengambil alih Adri yang telah terlelap dan membawanya menuju ke kamar. Tak lama Bara turun ke bawah, menemui Binar di ruang tamu. "Terimakasih, kamu mau di panggil mommy oleh Adrian. " ucap Bara.
"Kalau begitu saya pamit pulang Tuan Bara. " ucap Binar hendak ke luar dari mansion, Bara menahan tangannya. Binar melihat tangannya yang di pegang Bara, Bara langsung melepasnya.
"Biar saya antar!
"Tidak usah saya bisa sendiri. " Binar segera pergi dari sana, Bara menatap kepergian gadis itu dengan raut kecewanya.
Tiba di rumah sewaannya, Binar segera membersihkan dia kemudian mengganti pakaiannya. Gadis itu memilih duduk di sofa, teringat dengan Adrian bocah tampan yang menggemaskan. "Kasihan kamu sayang, nasib kamu tidak jauh beda dari tante dan sekarang aku merindukan daddy Aiden. "
"Daddy, aku merindukanmu sangat. " gumam Binar tanpa sadar menitikkan air matanya. Tak di pungkiri Binar ingin merasakan kasih sayang dari sosok Daddynya meski itu hanyalah mustahil.
"Seharusnya aku tidak lahir Dad, pasti Daddy masih ada sampai sekarang. " ujarnya penuh penyesalan. Binar merasakan sesak yang teramat sangat setiap kali teringat mendiang daddynya.
Selama ini Binar selalu menjauh dari orang orang termasuk pria, dia hanya tak ingin. membawa kesialan untuk orang lain. Hidupnya selalu dia habiskan hanya untuk bekerja, supaya menghilangkan rasa bersalahnya. Binar bangkit, segera mengambil tasnya kemudian bergegas ke luar. Binar nampak terkejut melihat sosok kakak sepupunya Galendra, terlihat wajah pria itu tampak datar.
__ADS_1
"Kak Galen. " gumam Binar nyaris pelan.
"Sudah puas kau menenangkan diri adik kecil. " ketus Galen pada adik sepupunya itu. Mata Binar tampak berkaca kaca, gadis itu terdiam untuk beberapa saat.
"Apa kamu tidak rindu pada Bibi Meira dan Berlin? " ujar Galen dengan nada dinginnya. Berlin berjalan mendekatinya, menghela nafas kemudian menatap Galen.
"Aku rindu mereka kak tapi aku tak ingin membuat orang lain mengalami kesialan karena aku. " jawab Binar pelan.
"Bullshit, pemikiran macam apa itu Binar. Sudah kakak bilang berulang kali, kalau kau bukan pembawa sial. " tegas Galen. Binar menggeleng, gadis itu menundukkan kepalanya dan terdengar suara isak tangis. Galen segera menariknya ke dalam pelukannya.
Pria itu melepas pelukannya, Binar menghapus air matanya kasar. "Aku ingin melihat ibu dan kakakku kak, antar aku pulang!
"Baiklah ayo. " mereka masuk ke dalam mobil, meninggalkan kediaman Binar. Tanpa mereka sadari ada yang memperhatikan keduanya, ya Bara melihat keduanya dari dalam mobil. Bara memiliki alamat tempat tinggal Binar dari asistennya.
"Siapa pria yang bersamanya, apakah pria itu kekasih Binar? " tanyanya entah pada siapa. Bara melajukan mobilnya kencang dengan perasaan campur aduk.
"Binar kenapa kamu bekerja di perusahaan lain dari pada perusahaan kakak atau perusahaan. mendiang paman Aiden. " cecar Galen sambil fokus menyetir.
"Aku hanya ingin mandiri kak, memulainya dari nol tanpa bergantung pada keluarga. " jawab Binar dengan jujur. Galen terus mencintai tadinya, Binar menjawabnya dengan malas dan tak ingin berdebat dengan kakak sepupunya.
Mobil Lamborghini itu terhenti, keduanya turun dan segera masuk ke dalam. Binar begitu merindukan mansion kedua orang tuanya ini, beralih menatap ke depan hingga keduanya berada di ruang tamu.
"Binar sayang, puteriku. " wanita paruh baya itu bangkit, menelisik penampilan puterinya kemudian mendekapnya penuh kerinduan. Binar tak kuasa menahan tangisnya, memeluk erat wanita yang telah melahirkan dirinya. "Maafin Binar Mami, maaf. "
Nonya Meira melepas pelukannya, menuntun putrinya untuk duduk. Wanita itu menatap lekat wajah puteri bungsunya, raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan, kesedihan sekaligus merasa lega melihat putrinya baik baik saja. "Kenapa kamu tidak hubungi mami nak, apa kamu tidak sayang lagi sama Mami? " tanya Mami dengan sorot mata sendunya.
"Sekali lagi maafin Binar Mami, Binar merasa bersalah karena kelahiran Binar, daddy meninggalkan kita semua. " gumam Binar dengan pilu.
"Sayang please jangan berbicara seperti itu nak, mami tak suka. Mami sangat sakit jika kamu berfikiran seperti itu, daddy pergi untuk selamanya karena takdir bukan karena kamu!
Binar kembali memeluknya, Nyonya Meira menciumi kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. Galen dan lainnya ikut senang melihat kepulangan Binar di kediaman Liem.
"Kak Berlin ke mana Mi? " tanya Binar penasaran.
__ADS_1
"Kakak kamu masih dalam perjalanan pulang sayang. " jawab mami dengan nada lembutnya.
tbc