
Setelah mengantar maminya pulang ke rumah, Binar menemui teman lamanya di sebuah Cafe. "Del kamu udah nunggu lama? " tanya Binar.
"Baru aja Bi. " jawab Delima sambil menyeruput jusnya.
"Kenapa, mau nanyain kabar kak Galen ya. " ucap Binar dengan senyuman menggodanya. Delima hanya diam mencibirnya, Binar langsung terkekeh melihat wajah kesal sahabatnya.
"Ih kenapa pakai bahas si pria es itu coba. " sahut Delima merengut. Binar tergelak kencang, mereka asyik mengobrol berdua sambil bernostalgia. Tanpa sengaja keduanya bertemu dengan dua perempuan yang ingin mereka hindari sekali.
"Binar binar kenapa kamu mau berteman dengan anak babu kayak dia. " ujar Levi sambil menunjuk kearah Delima.
"Tutup mulutmu. " bentak Binar emosi.
Delima mencoba menenangkan sahabatnya, Levi tersenyum sinis melihat mereka. Levi dan Dania terus mengolok olok kearah Delima, Binar yang melihatnya merasa tidak terima, gadis itu menghubungi kakak sepupunya untuk datang.
"Bi kita pergi aja yuk, jangan dengerin
mereka. " bujuk Delima. Binar menepis tangan sahabatnya, menatap sebal kearah Delima.
"Aku enggak terima kamu di hina kayak gitu
Del. " kesal Binar.
"Cih nyatanya memang benar bukan, Dilema anak seorang pembantu dan ayahnya seorang pemabuk enggak jelas. " timpal Dania dengan sinis.
"Dan kau Binar, kau hanya gadis pembawa masalah hingga.. " ucapan Levi terhenti.
Plak
Binar melayangkan tamparannya, Levi dan Dania merasa tidak terima. Delima langsung menjadikan tameng, kedua gadis itu menyiram Delima dengan jus dan kopi. Mengabaikan pakaiannya yang kotor, Delima menatap Levi dengan sorot tajamnya.
"Kau berhak menghinaku, tapi aku tidak terima kau menghina sahabatku Binar, Levi. " bentak Delima.
"Cih babu miskin sepertimu berani juga ya. " Levi hendak melayangkan tangannya.
Syut
Levi menoleh tangannya di cekal seorang pria, Galen datang dengan aura dinginnya. Galen menghempas tangan Levi, menatap tajam gadis itu.
"Pergilah dari sini sebelum aku menghancurkan kamu. " geram Galen. Levi dan Dania merasa ketakutan, keduanya segera pergi dari sana. Galen segera meneliti keadaan Binar, lalu beralih pada Delima yang menghapus air matanya kasar. Ucapan Levi dan Dania terus terngiang di kepalanya, membuatnya sakit hati.
"Ayo Del kau ikut pulang juga. " ujar Galen pada Dilema. Mereka bertiga ke luar dari Cafe, ketiganya berpapasan dengan Bara. Bara datang dengan nafas memburu, mendatangi Binar, memastikan keadaan gadis itu.
"Mas Bara? "
"Bagaimana keadaanmu Bi, kau baik baik saja 'kan? "
__ADS_1
"Aku enggak papa mas!
"Binar, dia siapa? " tanya Galen dengan sorot tajamnya yang dibalas sengit oleh Bara. Binar menghela nafas pelan, melirik kearah sepupunya yang saling melempar bara api.
"Mas Bara kenalin dia kak Galen, sepupuku dan Delima teman aku. "
"Ini Mas Bara atasanku di kantor kak. " ujar Binar dengan jujur. Galen hanya berdehem tanpa menyapa Bara, Bara kembali melirik Binar dengan tatapan tak bisa dijelaskan.
"Biar Binar ikut saya. " ujar Bara datar.
"Hm jaga adikku dengan nyawamu. " Galen berlalu pergi sambil mengendong Delima. Setelah kepergian mereka, Bara memeluk tubuh Binar dengan erat.
"Syukurlah kalau kamu baik baik saja Binar. " gumam Bara merasa lega sekaligus senang mendengar pernyataan Binar mengenai Galen. Keduanya segera ke dalam mobil, mobil mewah itu melesat kencang.
Galendra Askara Liem
Delima Anastasya.
"Turunkan aku di sini saja kak. " pinta Delima pada Galen.
"Yakin, bukankah rumahmu masih jauh atau jangan jangan kau sengaja menghindariku
"Menghindar apaan sih kak. " elak Delima yang diabaikan oleh Galen. Delima hanya pasrah saat dirinya di bawa ke mansion pria yang berada di sebelahnya saat ini. Galen turun lebih dulu, pria itu hendak kembali menggendongnya namun Delima menolaknya. Bukan Galen namanya jika tak memaksa dan mengancam gadis itu.
Galen menurunkan Delima di depan kamar, Delima akhirnya bernafas lega meski dalam hati merutuki sikap Galen yang seenaknya. "Gantilah pakaianmu, aku tunggu di bawah. " Galen melenggang pergi meninggalkannya.
"Binar Binar, kenapa kamu punya sepupu sedingin kutub utara dan sangat sangat
menyebalkan seperti kanebo kering. " gerutu Delima kesal. Dia masuk ke dalam kamar dan buru buru mengganti pakaiannya. Delima bergegas menemui Galen di ruang tamu, gadis itu langsung duduk berhadapan dengan Galen.
"Terimakasih telah melindungi Binar. "
"Tak usah berterimakasih kak, Binar sahabatku tentu saja aku melindunginya. " balas Delima tanpa basa basi. Galen bangkit, duduk di sebelah Delima, membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Jangan dekat dekat!
"Kenapa, bukankah kau menyukaiku Delima? " tanya Galen sambil mengulas senyumnya. Delima berdecak pelan, berusaha mendorong tubuh Galen namun justru pria itu merapatkan tubuh mereka.
"Suka darimananya yang ada malah illfeel. " jawabnya jutek. Galen tersenyum kecil, tangannya merengkuh pinggang ramping Delima dengan erat. Delima langsung menepisnya kasar, gadis itu bangkit dan menjaga jarak dari pria yang berbahaya bagi kesehatan jantungnya itu.
"Suka cih, mimpi. " umpat Delima dalam hati. Delima berusaha membentengi hatinya, dia tak ingin jatuh cinta pada pria kaya manapun termasuk Galen. Delima mengambil ponselnya, berjalan menjauh Galen dengan langkah gontai. Galen mengamatinya lekat, dia bangkit dan mengikuti kemanapun Delima.
__ADS_1
Delima POV
Aku tak ingin terluka hanya karena seorang pria, sebagaimana dulu pria brengsek yang sialnya ayahku menyiksa ibu, menghina ibu begitu kejam. Seharusnya seorang ayah menjadi cinta pertama bagi putrinya, namun tidak denganku. Aku membencinya, aku sangat membenci pria tua itu karena dia hidup aku dan ibu menjadi hancur berantakan.
"Ibu, Delima kangen sama ibu. " gumam Delima lirih membiarkan air matanya meluncur bebas. Dengan cepat Delima menghapusnya, bangkit dan pamit pada Galen setelah itu memilih pergi.
Sret
"Katakan, kenapa kau menangis Delima? "
"Bukan urusanmu, terimakasih atas bantuanmu dan aku harap setelah ini kita tak bertemu lagi Tuan Galen. " Delima buru buru pergi tanpa menunggu Galen bicara, Galen mendesah kasar menatap kepergian Delima. Ucapan Delima terus terngiang di kepalanya, membuat Galen mengacak acak rambutnya frustrasi.
Drt
drt
"Halo mom, ada apa? "
"Malam nanti datanglah ke rumah, ada hal yang ingin mommy katakan padamu Galen. " ujar Mommy Zinnia.
"Baiklah mom. " sambungan terputus, Galen bersandar di sofa sambil menatap foto Delima dalam ponselnya. Dia menghubungi salah satu bodyguardnya untuk menjaga dan mengikuti Delima secara diam diam.
Delima sampai di rumahnya, perdebatannya dengan Galen membuat moodnya memburuk. Gadis itu langsung masuk ke kamar,berbaring di atas kasurnya. Delima memutar salah satu lagu berharap moodnya segera kembali membaik.
Drt
Binar
Kau sudah sampai rumah Del?
Delima
Udah,kamu lagi ngapain Sekarang?
"Nih bermain bersama putera dari atasanku. " Binar mengirim fotonya bersama si kecil Adrian, Delima mengulas senyumnya. Dia ikut senang melihat keceriaan di wajah sahabatnya.
Binar
Kak Galen tidak menghina kamu lagikankan?
Delima
"Enggak. udah jangan bahas dia Binar!
Delima melempar ponselnya, dia merasa kesepian. Dia mencoba memijit kepalanya yang terasa pusing, Delima berusaha memejamkan kedua matanya. Dia hanya ingin melupakan masalah yang dia hadapi sesama lalu.
__ADS_1
"Levi dan Dania pasti tak akan tinggal diam, aku tak akan membiarkan mereka menghinaku lagi. " geram Delima.
tbc