
Hola othor balik lagi setelah beberapa absen up karena kelelahan karena kerja di dunia nyata.
Like, vote dan komen thanks 😘
Sama halnya dengan pasangan Bara dan Binar yang tengah mesra mesranya, Galen kini tengah di repot kan oleh ngidamnya sang istri namun pria itu terlihat menikmatinya. Keduanya karena sempat terlibat salah paham ketika Galen bertemu dengan klien wanitanya, Delima begitu cemburu melihat sang suami bersama wanita itu.
Tanpa merasa malu Galen menciumi kedua pipi sang istri dengan gemas. Delima tersenyum geli, menatap lekat wajah sang suami. Dia usap dada Galen yang terbalut kemejanya, dengan senyumnya dia menggoda suaminya itu.
"Hentikan rayuanmu sayang,jika tidak aku tak akan berhenti dan membawamu ke atas ranjang sekarang juga!
"Ish dasar mesum!
"Kita kembali ke hotel yuk Yank lalu berenang. " ajak Delima pada suaminya. Galenpun mengangguk setuju, mereka pergi meninggalkan restauran. Di hotel justru Delima hanya duduk memperhatikan suaminya yang berenang, dia sangat suka menjahili sang suami tercinta.
Galen menggerutu kesal dengan kelakuan super jahil istrinya, harapannya yang ingin bercinta dengan istri telah pupus seketika. Delima tertawa pelan melihat wajah masam suaminya. "Daddy kamu tengah merajuk sayang. " gumamnya sambil menyentuh perutnya yang masih rata.
drt
drt
Delima mengambil ponselnya, terlihat sang mertualah yang menghubungi dirinya. "Halo mommy ada apa? " tanya Delima dengan lembut pada sang mertua.
"Binar dan Bara kecelakaan nak, kalau bisa kalian pulang ya sayang. "
"Apa mommy, lalu bagaimana keadaan Binar sekarang? "
"Entahlah nak dokter lagi memeriksanya. " sambungan terputus, Delima bangkit dan buru buru menghampiri suaminya.
"By cepatlah naik, kira harus pulang sekarang. " ujar Delima dengan panik. Galen segera naik ke atas, wanita itu mengatakan sebenarnya pada sang suami.
"Ayo kita bersiap sekarang. " Mereka berdua kembali ke dalam dan bersiap. Setelah itu mereka check out dari hotel, Galen melajukan roda empatnya dengan kencang.
Sementara itu Binar menangis dalam pelukan ibu mertuanya. Kecelakaan yang menimpa suaminya membuatnya ketakutan, itu terjadi karena Bara menolongnya hingga pria itulah yang tertabrak dan lukanya cukup parah. Nyonya Aditama berusaha menenangkan menantunya meski hatinya ikut hancur. "Mami yakin Bara pasti akan melewati masa kritisnya nak!
"Hiks Mi, ini semua karena Binar kalau saja mas Bara enggak nolong aku pasti kejadiannya tak seperti ini. " sesal Binar dengan beruraian air mata.
__ADS_1
"Jangan berbicara seperti itu sayang, Bara pasti marah mendengar ucapanmu. " Nyonya Aditama berusaha menguatkan hati Binar dan dirinya sendiri hingga dokter ke luar setelah beberapa jam berlalu.
Binar melepaskan pelukannya, bergegas menemui dokter. "Dokter bagaimana keadaan suami saya dokt? "
"Begini nyonya kecelakaan yang menimpa tuan Bara cukuplah parah dan serius apalagi di bagian kepala. Dengan berat hati saya katakan jika tuan Bara kehilangan memorinya, jenis penyakit ini termasuk jenis amnesia disosiatif.
Amnesia Disosiatif
Amnesia jenis ini merupakan kondisi ketika pengidap tidak mampu untuk mengingat berbagai informasi pribadi yang bahkan dinilai sangat penting. Pengidap amnesia jenis ini bisa saja lupa siapa nama dan segala hal yang erat kaitannya dengan pribadinya.
Biasanya, pengidap amnesia jenis ini pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan trauma pada kepalanya, atau bisa juga karena mengalami kondisi stres.
"Apakah bisa di sembuhkan dokter? " tanya Binar dengan nada bergetar. Hatinya hancur mendengar penjelasan dari dokter mengenai kondisi Bara saat ini.
"Tentu bisa nyonya asalkan tuan Bara harus menjalani psikoterapi atau melalui terapi keluarga secara rutin. Dokterpun pergi, tubuh Binar luruh ke atas lantai dan wanita itu menangis histeris. Nyonya Aditama ikut hancur mendengar keadaan puteranya, wanita itu langsung memeluk tubuh menantunya.
"Mom hiks kenapa, kenapa ini terjadi pada mas Bara mom. Aku benar benar pembawa sial mommy, gara gara aku mas Bara harus mengalami kejadian seperti ini. " racau Binar menangis sesegukan.
"Binar sayang. " keluarga Liem besar datang, mami dan papi langsung datang memeluknya dengan erat. Nyonya Meira begitu hancur melihat puterinya yang terpuruk.
"Sabar sayang. " Mami ikut menangis, merasakan hancur seperti apa yang di rasakan puteri bungsunya. Berlin menangis dalam pelukan suaminya, menyaksikan betapa hancurnya hati sang adik. Tubuh Binar jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan maminya, semua orang panik. Tuan Kenan membopong puterinya dan di bawanya ke ruangan lain.
"Engh. " Binar membuka matanya, menatap sekelilingnya lalu bangun. Teringat suaminya dia kembali menangis histeris, Mami berusaha menenangkan puterinya itu.
"Mami,aku benar benar pembawa sial Mi!
"Binar. " bentak Mami tersulut emosinya. Binar kembali menangis, Mami menghela nafas kasar kembali memeluk Binar dengan erat. Dia meremas dadanya yang terasa sesak, teringat penjelasan dokter mengenai kondisi Bara. Binar melepaskan pelukannya, menatap wajah mami nya dengan sendu.
"Mami, aku ingin ke ruangan suamiku!
"Tapi sayang tubuh kamu masih lemah
sayang. " tolak mami dengan lembut.
"Aku gak papa mami, aku ingin melihat keadaan mas Bara. " desak Binar. Mamipun mengalah, membantu puteranya bangun lalu menuntunnya menuju ke ruangan Bara. Dari luar Binar melihat suaminya yang telah sadar dan tengah di suapi sang mertua.
"Masuklah sayang, temuilah suamimu!
__ADS_1
Binar mendorong pintunya, semua orang menoleh kearahnya termasuk Bara. Dengan ragu ragu wanita itu berjalan mendekati ranjang sang suami.
"Dia siapa mom? " tanya Bara pada ibunya. Binar tersenyum kecut mendengarnya namun dia tetap memasang senyum palsunya. Nyonya Aditama tampak merasa kasihan pada sang menantu.
"Dia istrimu nak, Binar namanya."
Bara mencoba mengingatnya namun justru kesakitan yang dia dapat. Binar segera mencegahnya, menggeleng kearah Bara agar jangan memaksakan diri. "Jangan paksakan dirimu untuk mengingatku mas. " lirihnya.
"Maaf. "
"Mom bisakah kita pulang sekarang. " pinta Bara pada sang ibu yang di balas anggukan oleh nyonya Adhitama. Binar menuntun suaminya ke luar di bantu sang mertua. Tuan menunggu mereka di parkiran, setelah siap melajukan roda empatnya.
Binar mengantarkan suaminya sampai di kamar mereka. "Istirahatlah mas, aku akan ke luar dan tak menganggumu. "
Binar berbalik dan hendak ke luar, suara Bara menghentikan langkahnya. "Kemarilah dan duduk di sebelah aku!
Wanita itu tak bergeming, hanya diam dan menatap lurus kearah Bara, membuat pria itu kesal. "Kau tidak mau,atau jangan jangan kau hanya orang yang mengaku ngaku sebagai istriku!
Nyut
Hati Binar mencelos mendengar tuduhan Bara barusan, matanya nampak berkaca kaca dan melangkah kearah Bara. Dia duduk persis di sisi kiri Bara, pria itu terus melihat kearahnya sambil mengingat ingat dan lagi lagi berakhir dengan erangan kesakitan.
"Bagaimana awal pertemuan kita? " tanya Bara.
"Aku dulunya bekerja di perusahaan kamu mas Bara sebagai sekertaris. " jawab Binar singkat.
"Berarti kamu menggoda aku hingga aku menikahimu 'kan, ayo jawab? " desak Bara tanpa menyadari jika tuduhannya menyakiti hati Binar. Binar merasakan sesak yang teramat sangat mendengar penuturan Bara barusan.
"Bukan. "
"Lalu apa bukankah kebanyakan wanita seperti itu, menggoda boss hanya demi posisi yang dia inginkan. " lanjut Bara dengan wajah datarnya.
Binar memilih diam, dia menangis pelan dan tak ingin Bara melihatnya. Bara yang kesal membalik tubuhnya, menemukan Binar yang tengah menghapus air matanya. "Kenapa kau menangis, harusnya kau senang bisa menikah denganku!
"Hentikan mas. " pekik Binar dengan nada tinggi, menatap lekat wajah Bara. Bara merasakan kekecewaan dari manik mata Binar. Tangis Binar seketika pecah, hatinya hancur berkeping keping dan dia bangkit, memilih ke luar dan pergi ke kamar yang lain. Bara menatap kepergiannya dengan raut tak terbaca, entah apa yang tengah di pikirkannya saat ini.
tbc
__ADS_1