Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
JMC PART 20 EXTRA PART 2


__ADS_3

Di sini Berliana Sasikirania Liem, puteri pertama Meira dan Aiden, Binar Almayra Liem, puteri kedua mereka.


"Mami, Papi adek nakal. " pekik seorang gadis berumur 10 tahun.


"Berlin ada apa sayang? " tanya Meira dengan lembut.


"Ini Mi, adek Bi mencoret buku PRku. " adu Berlin pada maminya. Meira mengeleng kepalanya pelan,beralih menatap kearah puteri keduanya yang menunduk. Dia langsung jongkok sejajar dengan tinggi puterinya, di usapnya kepala so bungsu.


"Binar,kenapa kamu mencoret buku kakak kamu sayang? " tanya Meira dengan lembut. Ya Meira kembali melahirkan bayi perempuan, anak keduanya bernama Binar Almahyra Liem.


"Kak Elin, tidak mengajakku bermain mami. Bi 'kan sedih, apa kakak Elin tidak sayang sama Bi. " ucap Binar dengan polosnya. Mendengar penuturan sang adik, raut kekesalan di wajah Berlin langsung menguap. Gadis itu menarik tangan adiknya lalu duduk di sofa,di usapnya kepala Binar dengan lembut.


"Maafin kakak ya Bi, kakak sibuk dengan urusan kakak sendiri hingga kamu sedih, kakak sangat sayang sama kamu Bi. " ucap Berlin dengan tatapan sendunya. Mata Binar langsung cerah mendengar penuturan kakaknya, gadis cilik itu memeluk tubuh Berlin. Meira mengulum senyumnya, melihat kedua puterinya yang kini berpelukan.


"Bi juga sayang sama kakak Elin. " gumam Binar dengan senyuman di bibir mungilnya.


"Mami juga sayang sama kalian sayang. " sahut Meira membuat kedua bocah itu menoleh dan menghambur ke pelukan Meira. Meira menciumi kedua putrinya secara bergantian.


"Kenapa ini kok berpelukan seperti


Teletubbies. " ucap seseorang. Meira langsung menoleh, tersenyum melihat kedatangan kakak iparnya bersama putera mereka. Aaron dan Zannia bersama Galendra putera mereka.


"Cuma ada salah paham sedikit kak. " jawab Meira sambil tersenyum.


"Galen, ajaklah Berlin dan Binar bermain. " pinta Zinnia pada puteranya.


"Iya Mom. " remaja itu membawa Berlin dan Binar menyingkir dari sana. Zinnia menoleh kearah adik iparnya, dia menghela nafas panjang dan kembali fokus pada Meira.


"Kau tak ingin menikah lagi Ra? " tanya Zinnia dengan pelan takut menyinggung hati adik iparnya. Meira menggeleng, dia telah memutuskan segalanya setelah kepergian Aiden karena kecelakaan suaminya waktu setelah kelahiran Binar puteri keduanya.


Meira telah merelakan kepergian Aiden, dia tak menyalahkan siapapun karena ini adalah Takdir hidupnya yang digariskan Tuhan untuknya.


"Enggak kak Zi, selain karena umur juga karena aku hanya ingin membesarkan kedua


puteriku. " tegas Meira. Zinnia menoleh kearah suaminya, Aaron hanya meliriknya dengan senyuman. Meira memperhatikan kedua putrinya yang tertawa lepas setelah sekian tahun. Dia hanya ingin kebahagiaan kedua princessnya, tak peduli dengan dirinya sendiri.


"Aku harap Berlin dan Binar kelak akan menemukan pria yang begitu mencintai dan menyayangi mereka seperti mendiang papi mereka. " gumam Meira tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tapi Meira, di tetangga sebelahku ada seorang duda lho. " goda Zinnia mencoba mencairkan suasana agar tidak berlarut dalam kesedihan.


"No kakak ipar. " ucap Meira dengan bibir mencabik pura pura sebal lalu mereka tertawa bersama. Zinnia memperhatikan adik iparnya dengan lekat, dia tahu jika selama ini Meira menyimpan kesedihannya sendirian selama ini.


Pelayan datang menyajikan minuman untuk mereka setelah itu langsung pergi. Ketiganya mengobrol banyak hal termasuk bisnis. Setelah beberapa jam berlalu Zinnia dan keluarga kecilnya berpamitan pulang.


Flashback on


"Auh. " Meira meringis kesakitan, dia tengah menyentuh perut besarnya. Dia berusaha menghubungi Aiden.


"Hubby aw, perutku sakit kayaknya aku mau lahiran. "


"Baiklah sayang aku akan menyusulmu. " sambungan terputus.


Meira semakin merasakan sakit. Para pelayan yang melihat majikannya segera menolongnya, salah satu dari mereka menghubungi Zinnia dan Aaron. Mereka datang dan langsung membawa Meira ke rumah sakit.


Di ruang UGD


"Dokter aw perutku sangat sakit. " ucap Meira meringis kesakitan.


"Sabar nyonya pembukaannya baru sampai 7. " ujar dokter. Zinnia berusaha memberi semangat pada adik iparnya itu. Hingga pembukaan kesepuluh Meira berjuang di temani Zinnia untuk melahirkan buah hatinya bersama Aiden.


"Selamat nyonya anak anda berjenis kelamin perempuan. "


Meira tersenyum tipis tak lama memejamkan mata karena kelelahan. Zinnia turut senang mendengarnya, wanita itu ke luar dari ruangan. Aaron datang dengan nafas memburu, Zinnia merasa heran melihatnya. "Dad ada apa, kenapa kamu buru buru? "


"Mom, Aiden mom. " ujar Aaron pada istrinya.


"Aiden kenapa Dad? "


"Dia kecelakaan saat perjalanan ke rumah sakit, sekarang berada di ruang ICU. " pungkas Aiden. Zinnia terkejut, benar benar terkejut. wanita itu menitikkan air matanya, mendengar kabar mengejutkan mengenai Aiden adik iparnya.


"Hiks Dad, bagaimana mungkin. Jika Meira tahu pasti hatinya akan hancur sayang. " gumam Zinnia. Aaron langsung merengkuhnya, mereka menangis bersama di sana. Keduanya bergegas menuju ke ruangan Aiden untuk melihat keadaan pria itu.


Zinnia menangis kencang setelah dokter mengatakan jika Aiden tak selamat, hati mereka hancur seketika. Sementara di ruangan Vip, Meira telah tersadar dari pingsannya, bersamaan dengan suster yang membawa baby girlnya ke dalam. Suster membantunya menyusui bayinya itu.


"Puteri kecil mommy. " Meira menangis, melihat buah hatinya telah lahir ke dunia. Dia menoleh, tak menemukan sosok suaminya.

__ADS_1


"Aiden ke mana ya, kenapa sampai sekarang belum sampai? " tanyanya dalam hati. Meira kembali melihat puteri kecilnya sambil tersenyum manis.


"Mommy akan memberimu nama Binar Almayra Liem. " ucap Meira sambil tersenyum.


Cklek


Aaron, Zinnia dan lainnya masuk ke dalam. Meira menyambut mereka dengan senyuman, mencari sosok suaminya namun tak mendapati sosok yang dia cari.


"Kak Zi, kak Aaron di mana Aiden suamiku? " tanya Meira.


Zinnia hanya diam, wajahnya tampak sendu hal itu membuat Meira heran. Diapun memperhatikan wajah saudara dan saudarinya itu dengan perasaan campur aduk. Zinnia dan Freya datang langsung memeluknya, Aaron menghela nafas panjang kemudian mengatakan kebenaran mengenai Aiden.


"Aiden. " Hati Meira hancur berkeping keping mendengar penjelasan Aaron. Wanita itu menangis dalam pelukan Zinnia dan Freya, baby Binar kini tengah di gendong Aaron.


Setelah kejadian itu Meira sempat down hingga tiga minggu, berkat dukungan para kakak iparnya dia bangkit. Meira membesarkan Berlin dan Binar sendiri, memberikan kasih sayang yang penuh untuk kedua puterinya.


Flashback OFF


"Mom, Are you okay? " tanya Berlin pada sang mommy.


"Eh iya sayang. " Meira tersentak dari lamunannya, menatap lekat wajah puteri sulungnya itu dengan hangat.


"Apa mommy merindukan Daddy? " tanya Berlin dengan hati hati.


"Iya sayang maafkan mommy. " Berlin ikut bersedih, gadis itu langsung memeluk ibunya di susul si bungsu Binar. Berlin dan Binar melepaskan pelukan mereka, menghapus air mata di pipi sang mami tercinta.


"Mami jangan sedih lagi, Berlin rela kok kalau mami menikah lagi. " ucap Berlin sambil tersenyum.


"Kakak benar mami. " sahut Binar dengan wajah polosnya.


"No sayang, mami hanya ingin fokus pada kalian berdua sayang! Meira mengusap kedua pipi puteri putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Mami ambilkan pudding untuk kalian. " ucap Meira mengalihkan pembicaraan.


"Ayo aku bantu Mami. Adek kamu di sini aja ya jangan ke mana mana." ujar Berlin begitu posesif pada Binar. Binar mengangguk kecil, Meira mengajak Berlin ke dapur. Keduanya kembali dan saling menyuapi puding dengan raut bahagia.


Meira PoV

__ADS_1


Aiden lihatlah puteri puteri kita telah tumbuh besar, keduanya begitu cantik cantik. Terimakasih kamu telah memberiku dua orang princess yang begitu pintar. Berlin dan Binar adalah Berlian dan Cahaya dalam hidupku,a ku begitu bahagia memiliki keduanya. Aku harap kamu juga bahagia Aiden di atas sana,aku janji akan menjaga kedua puteri kita dengan baik,hingga mereka dewasa kelak.


End


__ADS_2