Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
JMC BAB 1 TOKOH


__ADS_3

SEQUEL KISAH AIDEN Dan Pengenalan Tokoh


..."JANGAN MEMBENCI CINTA "...


Cast JMC


.


Aiden Westley Liem merupakan adik dari Aaron dan kakak dari Axel. Pria matang di usianya yang menginjak 30 tahun, kedua saudaranya telah menikah dan memiliki anak. Ya dulu selama empat tahun dia mengejar Valerie, puteri dari Tuan Edzard dan Nyonya Jenny. Namun perjuangan itu berakhir dengan kekecewaan, Valerie memilih pergi tanpa membalas perasaannya. Sejak kejadian itu sikap Aiden berubah, pria tampan itu tak lagi mempercayai akan artinya cinta.


Sarasvati Roselani, gadis cantik berusia 25 tahun, baru bercerai dari mantan suaminya. Dia tidak sanggup menjalani rumah tangga bersama sang suami karena mendapat tekanan dari mertuanya itu di tambah suaminya berselingkuh.


Valerie Hester Romanov, gadis cantik yang ambisius, manja dan keras kepala. Apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan, begitulah prinsipnya.


Dean Anderson, asisten kepercayaan Aiden dan tempat kekesalan dari Aiden saat pria itu marah dan kesal. Dia merupakan pria lajang yang usianya 29 tahun di bawah boss laknatnya itu. Sikap konyolnya mampu membuat Aiden langsung darah tinggi meski begitu tak lantas membuat Aiden memecatnya, paling ya potong gaji haha ( ̄へ ̄)


Lollita Evelyn, sahabat Saras yang judes dan galak meskipun begitu sebenarnya dia baik. Hanya saja dia memiliki mulut yang pedas melebihi cabe, saat dia berbicara.


Ryan Ellio Barack, mantan suami Saras yang berselingkuh dengan Velove.


Velove Agnetta, wanita yang dicintai Ryan dan merupakan musuh Saras dan Lolli.


HAPPY READING


Empat tahun kemudian


Waktu berjalan dengan cepat, Aiden Wesley kini menggantikan kakaknya Aaron memimpin perusahaan di dampingi asisten Dean. Banyak hal yang berubah dalam hidup pria dewasa dengan manik kelam itu, termasuk hatinya.


"Boss, ayolah come on hidupmu terlalu monoton. Sesekalilah pergi ke club, cari perempuan atau laki laki buat hiburan. " celetuk Dean asal.


Tuk Aiden melempar polpennya kearah asistennya, tepat mengenai kepala Dean. Dean meringis kesakitan, menatap sang boss dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Astaga boss kepalaku benjol. " gerutu Dean dengan kesal.


"Berhentilah mengoceh Dean, aku bosan mendengarnya. Ck apa apaan kau memintaku mencari laki laki, kamu pikir saya Gay hah. " geram Aiden.


Dean hanya bisa menelan salivanya kasar, mendengar semprotan pedas dari sang boss. Aiden menghela nafas panjang, lalu kembali fokus pada laptopnya. "Oh ya hari ini jadwal saya apa, apa ada pertemuan penting Dean? "


"Tidak ada tuan, kalau besok ada pertemuan dengan Tuan Alan. "


"Hn. "


Dean hanya menghela nafas panjang, mendengar nada bicara irit sang boss, dalam hati dia hanya bisa mengumpatinya. Pria itu segera pamit dan ke luar dari sana, Aiden melanjutkan pekerjaannya hingga selesai.


Di sisi lain seorang wanita menangis di luar rumah sambil menggendong puteri kecilnya. Keduanya baru di usir oleh seorang wanita paruh baya, merupakan mertua wanita itu.


"Saras, cepat pergi dari sini dan jangan lagi kembali. Aku tidak mau memiliki menantu miskin sepertimu. " teriak Ibu Dori.


Saras menangis sesegukan, wanita itu langsung membawa puteri kecilnya Lana pergi dari sana. Alana ikut menangis melihat sang mama menangis, sesekali gadis cilik itu menghapus air mata Saras. "Mama jangan nangis ya, Alana ikut nangis nih. " ucap Kanaya sendu.


"Alana tidak mau Ma, Nenek jahat sama


mama. " balas Kanaya polos. Saras tersenyum getir mendengar penuturan puteri kecilnya.


Saras langsung memeluk puterinya, dia bergegas menaiki bus. Kini Saras memilih tinggal di rumahnya yang dulu, keduanya masuk ke dalam. "Sayang kita tinggal lagi di rumah ini ya kamu enggak papa kan Lana? "


"Enggak papa Ma, asalkan sama Mama, Lana seneng kok. Mama janji jangan tinggalkan Alana ya ma. " rengek Kanaya. Saras mengangguk, wanita itu mengecup kening puterinya lalu kembali mendekapnya erat. Beberapa saat kemudian Saras melepas pelukannya, tersenyum hangat pada puteri kecilnya.


"Ma, Alana ke kamar ya mau mandi? "


"Perlu mama bantu enggak sayang!


"Enggak Ma, Lana sudah enam tahun bukan bayi lagi. " Lana langsung melenggang pergi ke kamarnya, Saras terharu dengan tingkah puterinya yang begitu pengertian dan dewasa di usianya sekarang.

__ADS_1


Saras PoV


Maafin mama ya Lana, mama belum bisa jadi mama yang baik dan bahagiain kamu nak. Beruntungnya mama, kamu hadir di hidup mama sayang, kamu puteri kecil kesayangan mama selamanya.


Lagi dan lagi Saras menghapus cairan bening di pelupuk matanya. Dia tidak menyalahkan kejadian yang terjadi pada hidupnya saat ini, Saras begitu pasrah dengan hidupnya dan percaya suatu saat nanti akan ada pelangi setelah badai. Tiba tiba dia teringat mantan suaminya, pria yang masih sampai saat ini masih di cintainya.


"Mas Ryan, kenapa kamu begitu tega padaku dan puteri kita. Apa kamu tidak sayang sama Kanaya, hingga kamu memilih Velo daripada aku dan Alana. " gumam Saras dengan lirih.


Saras mengusap wajahnya pelan, diapun bangkit dan pergi ke dapur membuat makanan untuk Alana. Alana ke luar dari kamar, bergegas menyusul ke dapur. Saras tersenyum kecil memdengar celotehan puterinya, dia membawa makanan ke ruang tamu. "Ayo sayang kamu makan, bukankah daritadi kamu bilangnya lapar!


"Mama suapin ya sayang!


"Iya Ma. " Saraspun dengan sabar menyuapi Alana, Alana tersenyum lebar menatap mamanya itu. Selesai makan Alana menatap sang mama dengan lekat, ada yang ingin dikatakan gadis cilik itu namun masih ragu ragu.


"Ma, apa Papa tidak sayang sama Lana? "


Deg


Hati Saras mencelos sakit mendengar pertanyaan puterinya, wajahnya berubah mendung namun dia simpan agar tidak membuat puterinya bersedih. Saras mengusap kepala puterinya dengan lembut. "Papa sayang kok sama Lana, kenapa Lana berfikiran seperti itu? "


"Kalau sayang, kenapa Papa bersama tante jahat itu Mama. Kenapa tidak bersama kita, Mama dan Lana. " lanjut Kanaya masih penasaran. Suara Saras tercekat di tenggorokan, diapun tidak bisa menjawab pertanyaan Kanaya.


Melihat sikap diam Mamanya membuat Alana merasa bersalah, dia meraih tangan ibunya lalu di genggamnya erat. "Maafin Alana ma, Alana bikin mama sedih. " sesal Lana.


"Tidak papa sayang, mama mengerti kok. Naya enggak boleh benci papa ya, Papa Ryan tetap papanya Lana. " Lana terdiam sejenak, dia kembali menatap sang mama lalu mengangguk pelan. Saras bangkit, membawa piring kotornya ke dapur setelah itu pergi ke kamar.


Sementara Alana, gadis cilik itu terdiam. Entah apa yang tengah di pikirkannya saat ini, tak lama gadis itu tersenyum penuh arti. Di dalam kamar Saras memandang sendu foto pernikahannya dengan Ryan dulu yang tampak bahagia namun semuanya berubah sekarang.


"Kamu benar benar pria brensek mas Ryan. " batin Saras.


tbc

__ADS_1


__ADS_2