
"By, udah denger belum katanya Binar tengah hamil saat ini. " ucap Delima merasakan geli saat lehernya diciumi sang suami.
"Iya sayang, Bara memberitahuku tadi. " jawab Galen.
Delima membalikkan tubuhnya, bibirnya langsung di sergap suaminya. Dia membalas ciuman Galen, menepuk dada sang suami agar berhenti, Galenpun menurut. Selama dirinya hamil suaminya itu terus bertingkah manja, tak ingin jauh jauh darinya.
Merekapun menoleh, mommy Zi melipat tangannya sambil menatap keduanya sambil tersenyum. "Mesranya, mommy jadi ingat waktu muda dulu, saat mommy dan daddy seperti kalian. "
Delima melepas pelukan suaminya, menghampiri sang mertua kemudian mendekapnya. Galen mencebik kesal melihat istrinya yang kini memeluk Mommy. "Mommy kok gak bilang mau menyusul kami. "
"Susprise sayang, bagaimana dengan Galen apa dia masih manja sama kamu sayang? " tanya mommy sambil melirik puteranya yang merajuk.
"Masih mom, tuh Mas Galen ngambek kayaknya. " Delima terkikik, melihat wajah cemberut suaminya. Mommy Zinnia memperhatikan puteranya kemudian tersenyum geli melihatnya.
Mereka ke luar dari dapur, mengobrol di ruang tengah. Galen memeluk sang istri sambil menciuminya, Mommy Zi hanya bisa menggeleng dengan kelakuan puteranya itu.
daddy Aaron datang menyusul mereka, pria itu tergelak melihat wajah masam puteranya. "Son, ikut daddy kita bicarakan bisnis. " ujar Daddy pada sang putera. Galen meninggalkan istrinya, mengikuti sang daddy ke ruangan kerja miliknya.
"Mom, Dua hari lagi ulang tahun Galen kira kira hadiah apa yang akan kita berikan padanya mom? " tanya Delima pada sang mertua. Mommy Zi mengulas senyumnya, mengatakan rencananya dan Delima mengangguk setuju. Delima begitu antusias menyiapkan kejutan untuk sang suami.
drt
drt
Delima mengambil ponselnya, menatap heran pesan dari nomor yang tak dia kenal.
from xxx
Aku kembali, kau hanya MILIKKU!
"Siapa yang mengirim pesan ini? " gumam Delima pelan. Dia segera menghapusnya, mungkin saja hanya orang iseng yang mengerjai dirinya pikir Delima. Delima menaruh ponselnya, berganti mengusap perutnya yang menonjol.
__ADS_1
"Kenapa sayang, apa yang kamu
khawatirkan? " tanya Mommy lembut.
"Ada orang iseng yang mengirimi pesan padaku. " Delima mengatakan semuanya pada sang mertua, mommy terkejut dan langsung memeluknya dengan erat. Delima membalas pelukan sang mommy, dia harus tenang dan jangan panik meski sebenarnya ada rasa takut dalam dirinya.
"Sebaiknya kita katakan pada suamimu nak, mommy khawatir kamu dan calon bayimu kenapa kenapa. " ujar mommy yang di angguki oleh Delima.
"Nanti Delima akan bicarakan pada mas Galen mom. "
"Ya lebih cepat lebih baik nak. "
"Mom, aku ke kamar dulu ya. " Delima bangkit, meninggalkan ibu mertuanya menuju ke kamarnya. Dia taruh ponselnya di atas meja, menatap lekat foto pernikahannya dengan Galen yang berada di dinding kamar mereka.
"Apapun yang terjadi, aku akan berjuang demi keutuhan rumah tangga kita mas. " ucap Delima dengan tekad bulatnya.
Sementara itu Bara dan Binar tengah menahan emosinya melihat kedatangan dua manusia menyebalkan, Rifaya dan Dika. Keduanya terus mengintimidasi Rifaya dan Dika yang berusaha merecoki kehidupan rumah tangga mereka. "Kau punya harga diri 'kan, datang ke sini hanya ingin meminta tanggung jawab dari suamiku. " sindir Binar.
"Kau bercinta dengan pria lain tapi meminta tanggung jawab dari Mas Bara, apa kau waras Rifa. " maki Binar.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini, perutku mual melihat kalian. " usir Binar dengan geram. Rifaya yang kecewa, bangkit dan pergi dari sana. Dikapun menyusulnya, namun pria itu sempat memberi ancaman pada Bara.
Setelah kepergian mereka Binar merasa sangat lega, bersandar di bahu sang suami. "Aku capek mas, mereka selalu datang untuk mengacaukan rumah tangga kita. " keluh Binar pada suaminya.
Barapun paham mengenai perasaan istrinya yang sensitif semenjak hamil. Pria itu mendekapnya, berusaha menenangkan sang istri tercinta. "Aku hanya ingin hidup tenang selama kehamilan dan mas ngidamku mas. " gumam Binar lirih.
"Apa kita pindah saja sayang, .kita tempati salah satu Villa yang aku miliki, nanti aku akan meminta bodyguard untuk berjaga. " tawar Bara.
"Iya mas. "
"Bibi, Bibi. " panggil Bara setengah berteriak pada pelayannya.
__ADS_1
"Iya Tuan. " Bibi datang menghampiri kedua majikannya itu.
"Bereskan pakaian kami Bi, kami akan pindah ke Villa mulai hari ini. " titah Bara. Bibi menuruti keinginan Bara, Bara kembali memeluk istrinya itu. Dia akan melakukan apapun asalkan istrinya bahagia, nyaman dan aman. Binar begitu suka menghirup aroma mint dari tubuh suaminya.
Bara melepaskan pelukannya, mengusap perut rata istrinya, lalu di kecupnya pelan. Binar menghelan nafas panjang, teringat pesan dokter jika dirinya tak boleh stress.
"Kita ke kamar yuk sayang. " Bara mengedipkan sebelah matanya, Binar tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah nakal sang suami.
Siang yang panas semakin panas karena aktivitas sepasang suami istri yang berbagi peluh. Bara melakukannya hati hati, mengingat keadaan janin dalam perut istrinya.
Bara mencium bahu polosnya, membelai wajah cantik istrinya itu. Binar membiarkan suaminya menciumi dua bulatan kenyalnya itu dari dalam selimut. Dia begitu bahagia memiliki suami seperti Bara, memberikan kenyamanan, kebahagian untuk dirinya.
"Mas, nanti kita ke rumah adik aku ya Vano kangen sama si kembar. " ucap Binar dengan senyuman manisnya.
"Iya sayang asalkan kamu tetap tersenyum seperti ini ya jangan bersedih lagi apalagi marah marah. " ujar Bara.
"Maaf mas, hanya saja perasaanku begitu sensitif selama hamil ini. "
Keduanya terus mengobrol, saling terbuka satu sama lain. Bara sengaja menggesekkan tubuhnya, Binar melototinya dengan ekspresi lucu. "Udah mas aku capek, kamu kok mesum terus sih. " ucap Binar tak habis fikir.
"Itu wajar sayang, aku menduda hampir dua atau tiga tahun jadi ya hasratku tak terbendung semenjak memiliki kamu sebagai Istriku!
"Aku harap Adrian tidak mesum seperti kamu mas, kasihan pasangannya nanti. " ujar Binar setengah meledek.
Bara mengulas senyumnya, kembali mencium bibir istrinya lembut. Mereka begitu menikmati momen momen berdua seperti sekarang, mengingat Adrian tengah di bawa opa dan omanya liburan. "Kalau nanti anak kita lahir, kamu mau laki laki apa perempuan mas? " tanya Binar menatap lekat wajah suaminya.
"Apapun itu jenis kelaminnya, aku menerimanya sayang asal kamu dan calon anak kita sehat sehat saja. "
"Makasih ya mas sudah ngertiin aku, kamu selalu mengalah demi aku yang terlalu egois mungkin. " gumam Binar.
__ADS_1
"Tapi aku suka sayang, kamu yang cemburu, posesif dan takut kehilanganku, artinya kamu benar benar mencintaiku. " sahut Bara. Binar setuju,apa yang di katakan Bara barusan memang benar. Bara begitu tampan dan memiliki segalanya, pasti banyak wanita yang menginginkan di posisinya sebagai istri Bara Yuda Wiratama.
tbc