
Pagi ini Zinnia berada di taman Mansion milik Aaron, di temani secangkir teh dan camilan. Wajahnya masih terlihat mendung, mengingat Freya masih belum mau membalas chatnya. Dia mendonggak, menatap ke atas di mana langit sangat cerah namun tidak dengan hatinya saat ini. Zinnia kembali mengirim chat pada Freya sahabatnya itu.
...Zinnia : Maaf Fre, aku tahu aku salah, aku enggak berhak melarang kamu jatuh cinta pada Axel tapi aku hanya tidak ingin kamu tersakiti nantinya....
Belum satu menit Freyapun akhirnya membalasnya membuat senyuman lebar terbit di bibir Zinnia.
Freya : Untuk sementara jangan ganggu aku Zi, aku juga perlu privasi.
Senyuman di bibir Zinnia lenyap seketika, lagi lagi dia membuang nafas berat. Aaaron yang sedari tadi memperhatikannya, langsung datang dan duduk di sebelah Zinnia. Aaron memperhatikan lekat kekasihnya itu kemudian tersenyum simpul. "Mungkin sahabatmu itu ada masalah lain hingga perlu sendiri dulu, sebaiknya kamu jangan temui dia!
"Ya kamu benar tuan eh. " Zinnia membekap mulutnya kala tatapan tajam tertuju kearahnya. Aaron mendengus kesal, menatap Zinnia dengan intens. Diapun bangkit, sebelum pergi Aaron menghampiri Zinnia. Spontan Zinnia langsung bangkit dan grep tangan kekar Aaron memeluk pinggangnya.
"Sebaiknya bersiap siaplah, aku akan membawamu jalan jalan sweety! Aaron mengecup bibirnya sekilas, setelah itu pergi begitu saja. Zinnia melongo kemudian tersadar, mengumpati sikap Aaron barusan. Dia kembali ke dalam mansion, pergi ke kamarnya untuk bersiap.
Setelah selesai Zinnia segera menemui Aaron di bawah, keduanya sama sama ke luar dari mansion. Aaron mengenggam tangan Zinnia, kemudian masuk ke dalam mobil.
Drt
drt
drt
Zinnia mengambil ponselnya kemudian mengangkat ponselnya yang berbunyi, wajahnya yang berseri seri membuat Aaron terlihat penasaran padanya. "Halo kak Rendra ada apa, ini mau jalan ke luar? "
"Aku jemput kamu ya Zi!
"Eh enggak usah kak, lagian aku sudah tidak tinggal bareng Freya, Freya lagi marah sama aku. "
__ADS_1
Tin
tin
tin
Zinnia tersentak kaget, mendapati manik kelam Aaron menatapnya tajam. Aaron dengan sengaja menekan klakson mobilnya dengan keras, entah kenapa dirinya tak menyukai Zinnia yang mengobrol dengan pria lain.
Gadis cantik itu mengabaikannya, melanjutkan obrolannya membuat Aaron geram. Pria tampan itu langsung tancap gas, melaju dengan kecepatan penuh. Sambungan terputus, setelah menyimpan ponsel bututnya Zinnia menoleh dan menatap kesal kearah Aaron. "Aaron, pelankan kecepatannya, memangnya kamu mau mati konyol hah. Ada apa dengan kamu sebenarnya Tuan Benedict!
ckit Aaron mengerem mobilnya mendadak, Zinnia mengusap dadanya berdebar kencang. Dia menahan nafas dalam dalam lalu menghembuskannya pelan. Zinnia merasa jengkel dan kesal, segera saja turun dari mobil.
Brak
Gadis itu membanting pintu mobil Aaron dengan keras, Aaron mengusap wajahnya kasar lalu turun dan menyusul sang kekasih.
Zinnia tak mempedulikannya, terus berjalan hingga bus lewat dan berhenti di depannya. Aaron mengumpat berkali kali gagal mengejar kekasihnya itu. Dia kembali ke mobil, melajukannya mengikuti bus yang ditumpangi Zinnia. Setelah turun dari bus, Zinnia masuk ke dalam cafe dan bergegas menemui seseorang.
"Hai kak Rendra, udah lama nunggunya? "
Seorang pria dengan lesung pipinya, tersenyum manis kearah zinnia kemudian menggeleng. Keduanya langsung duduk dan Rendra langsung memanggil pelayan, memesan makanan untuk mereka berdua. Setelah pesanan mereka sampai, Zinnia menatap tak percaya kearah Rendra. "Ternyata kakak masih ingat ya sama makanan dan minuman favoritku!
"Tentu saja, nasi goreng dan jus strawberry. Dua hal yang sangat mudah di ingat, oh ya Zi lalu kamu tinggal di mana sekarang? " Zinnia terdiam kaku, dia bingung harus menjawab apa pertanyaan dari Rendra. Di seberang Aaron menatap mereka berdua dengan tatapan tajamnya, bagaikan dua mangsa yang siap di cincangnya.
"Aku tinggal di tempat sepupu kak. " jawabnya sambil berbohong. Rendra mengangguk sepertinya pria lesung bolong itu percaya saja dengan ucapan Zinnia. Keduanya makan siang bersama disertai canda tawa, namun berbeda dengan manusia di seberang yang kini tengah mengeluarkan aura jahatnya eh dinginnya wkwk.
Aaron hendak menghubungi Zinnia dan memperingatkan gadis itu namun dia lupa tak memiliki nomornya. Lagi lagi dirinya hanya bisa berdecih, merutuki kebodohannya sendiri. Si sulung triplet A itu kembali mengawasi Zinnia yang tengah bersama Rendra. Selesai makan bersama, keduanya bangkit dan bergegas ke luar dari Restauran. Aaron tak tinggal diam, dia langsung menyusul kepergian keduanya.
Drt
__ADS_1
drt
drt
Aaron mengurungkan niatnya mengejar Zinnia, dia mengangkat telepon dari Daddy Adam. Mematikan sambungannya dan melajukan mobilnya kencang, menuju kediaman orang tuanya. Tiba dikediaman Liem, setelah parkir Aaron bergegas masuk ke dalam mansion, menemui daddynya di ruang tamu.
"Ya Dad, kenapa daddy menyuruhku pulang? "
"Duduklah dulu nak? "
Aaron langsung duduk dia sempat melirik kearah ketiga adiknya kemudian kembali memandang sang daddy. Pria paruh baya itu terlihat menghela nafas berat, setelah itu menatap satu persatu putera dan puterinya.
"Daddy ingin menghabiskan masa tua daddy sendiri di desa, setiap kali berada di mansion ini daddy selalu teringat mommy kalian? "
"Apa daddy tak berniat menikah lagi, daddy juga perlu memikirkan kebahagiaan daddy sendiri? " sahut Aletta dengan polosnya.
Daddy Adam menggeleng, dia tersenyum hangat pada puteri kesayangannya itu. Aletta sendiri sosoknya seperti mendiang Melisa, hal itu membuat Daddy semakin merindukan wanitanya yang telah tiada jika menatap puteri tercintanya itu. Aaron menghela nafas panjang, berat rasanya berpisah dengan satu satunya orang tua yang dia miliki. "Dad, Apa yang dikatakan Aletta ada benarnya, daddy boleh menikah lagi agar masa tua daddy ada yang menemani selain kami berempat!
"Haha, nak tumben kau peduli dengan hal hal begini, sepertinya ada yang membuat cara berfikirmu berubah. " ledek Daddy pada putera sulungnya. Aiden dan Axel berusaha menahan tawanya, keduanya tak ingin sampai ketahuan sama kakaknya yang satu itu tahu soal sandiwaranya jika tidak, Aaron pasti akan mengulitinya ckck.
"Mommy di atas sana pasti akan sedih jika melihat kita terpuruk, aku enggak mau itu terjadi. " ujar Aaron dengan wajah seriusnya. Daddy mengangguk, pria paruh baya itu paham akan perasaaan putera sulungnya ini.
"Kok suasana jadi mellow begini, Letta jadi pengen nangis! Daddy dan Aiden langsung memeluknya di susul Aaron juga Axel. Ketiga kakaknya itu langsung menjahilinya, dengan mencubit pipinya yang chubby, membuat Aletta memekik kesal.
"Bukannya dicium kening Letta, malah cubit pipi dasar kakak kakak laknat. " sungutnya. Aiden dan Axel tertawa terbahak bahak, melihat raut kesal adik bungsu mereka. Aaron langsung memeluknya, sesekali mencium kening adik kesayangannya dengan lembut.
"Sudah ya jangan ngambek, jangan hiraukan kedua kakakmu yang jomblo itu. " pungkas Aaron dengan wajah datarnya. Axel dan Aiden melirik sinis kearah kakaknya kemudian berdecih. Daddy Adam menggeleng pelan meluhat kelakuan anak anaknya ini.
bersambung
__ADS_1