
Dua hari kemudian
"Farrel, kau siapkan apa yang aku sebutkan tadi, aku ingin semuanya terlihat sempurna dan berkesan. " ujar Bara tegas.
"Ada lagi Tuan Bara? " tanya Farrel
"Sudah. " Bara memutuskan sambungannya, pria itu tampak senyum senyum sendiri. Dia memasukkan ponselnya dalam saku, Bara membayangkan reaksi Binar nantinya. Diapun kembali ke ruangan kerjanya, begitu semangat mengingat moodnya pagi ini sedang bagus.
Brak
"Rayyan. " teriak Bara kesal, sementara sang pembuat onar hanya cengengesan. Bara mengusap dadanya, pria itu begitu terkejut mendengar pintu ruangannya di buka kasar. Rayyan menarik kursi, duduk dengan santai tanpa merasa bersalah sama sekali. Bara hanya bisa mengumpat kelakuan sahabat laknatnya ini.
"Jangan marah marah bro, ingat uban di rambutmu semakin bertambah. " ledek Rayyan.
"Sialan kau. " Bara melempar bolpoinnya kearah Rayyan, pria itu begitu gesit menangkapnya sontak membuatnya semakin kesal.
"Apa kau tahu? ".
"Tidak. " ketus Bara. Rayyan mendengus kasar, ingin sekali memukul kepala sahabatnya ini.
"Kemarin malam aku bertemu Rifa di Bar, dia mabuk dan meracau menyebut namamu. " Rayyan mengatakan kejadian kemarin pada Bara, ekspresi Bara terlihat tenang dan terlihat tak tertarik padanya.
"Aku tak peduli Yan, cinta tidak bisa di paksakan. Jika aku menanggapinya, sama saja aku memberikan harapan pada Rifa. " tegas Bara. Rayyan mengangguk, dia membenarkan ucapan sahabatnya itu. Ryan merasa tak percaya melihat perubahan sikap sahabatnya itu meski masih menyebalkan.
"Well sepertinya kau sudah menemukan pawangmu, pengganti Liliana. " tebak Rayyan dengan seringainya. Bara menoleh, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, membayangkan wajah Binar yang cantik, manis dan tak lupa tubuh gitar spanyol.
Ck dasar Duda!
"Dari ekpsresimu berarti iya, aku jadi penasaran siapa gadis itu? "
"Nanti juga kau akan tahu, awas saja kau Yan memandang gadisku itu. " ancam Bara dengan mata melotot.
Tok tok
Farrel masuk ke dalam mengantar Binar dan si kecil Adrian. Kedua pria itu terkejut dengan kedatangannya, Bara langsung bangkit dan berjalan kearahnya. "Sayang kamu ngomong sama aku kalau mau ke sini? "
"Kejutan mas. " senyuman manis Binar melelahkan hati Bara. Dikecupnya bibir sang kekasih, beralih di kening puteranya. Bara mengajaknya duduk di sofa, Rayyan sedari tadi menggerutu kesal merasa di abaikan.
"Sayang, kenalkan dia Rayyan sahabatku. "
__ADS_1
"Aku Rayyan. " sapa Rayyan singkat.
"Binar. " jawab Binar pendek, Rayyan menoleh, melirik sahabatnya itu dengan tatapan menggoda.
"Kau sangat cantik dan manis nona, Bro kau benar benar sangat beruntung mendapatkan dirinya. " goda Rayyan dengan usil. Dia bangkit, mengambil alih keponakan tampannya. Tangan mungil Adrian menepuk nepuk pipi unclenya
itu.
"Uncle Layyan jelek, Daddy Bala lebih tampan dali uncle. " ucap Adrian dengan polos. Bara dan Binar tertawa mendengar ucapan putera mereka, Rayyan memasang wajah masamnya. Rayyan hanya bisa mengumpat dalam hatinya, dia tak habis pikir anak dan bapak sama sama suka mengejeknya.
"Like Father like son. " batin Rayyan.
"Ayo kita jalan, daddy dan mommy kamu tidak kasihan pada uncle. " adu Rayyan pada sj kecil Adrian. Rayyan membawanya ke luar. Bara masih tergelak mendengar ucapan puteranya tadi, Binar langsung mencubitnya agar berhenti.
Hup
Bara membopongnya, menaruh Binar di pangkuannya. Pria itu meremas bokong seksi kekasihnya itu dengan tatapan sulit di artikan. "Aku enggak suka kamu memakai dress seksi kayak gini sayang di tempat umum. " geram Bara.
"Maafkan aku mas!
Binar mengulum senyumnya, melihat tingkah posesif Bara membuatnya merasa dicintai dan dihargai.
tok tok
Bara membaringkan niatnya yang ingin mencium sang kekasih, pria itu mengumpat pelan. Binar terkekeh pelan melihat raut kesal di wajah Bara.
"Masuk. "
Ternyata Farrel yang mengetuk pintunya, Bara langsung menatapnya tajam. Farrel menggaruk pelipisnya yang tak gatal, melihat sorot mata bisanya yang begitu menakutkan.
"Ada apa? "
.
"Nyonya Marissa dan Tuan Rangga ingin bertemu dengan anda di restauran hari ini
tuan. " ujar Farrel.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang!
Bara mengandeng tangan Binar, membawanya pergi diikuti Farrel dari belakang. Dia juga menghubungi Rayhan agar membawa Adrian ke Restauran.
Di Restauran
Dengan raut datarnya, Bara menunggu apa yang ingin dikatakan oleh orang tua Rifaya itu. "Bara, dua hari ini Rifa terus menyebut namamu, dia tengah sakit dan ingin bertemu dengan kamu nak. " bujuk Nyonya Marissa.
"Saya tidak mau Tante, sekali lagi saya tegaskan jika saya tidak mencintai Rifa sama sekali, hanya menganggapnya teman. "
"Tapi nak Tante mohon. " Nyonya Marissa terus membujuk Bara agar menyetujui permintaannya. Nyonya Marissa menoleh, memperhatikan Binar dengan lekat lalu kembali fokus pada Bara.
"Maaf saya tidak bisa, saya hanya mencintai Binar. " Bara merangkul erat tubuh Binar di didepan pasangan paruh baya itu.
"Nak Binar, tante mohon bujuk Bara agar mau menemui Rifaya, puteri tante! Nyonya Marissa menggenggam tangan Binar dengan tatapan memohon. Binar merasa kasihan melihat Nyonya Marissa yang terus memohon padanya, namun diapun menghela nafas berat.
"Saya juga tidak bisa Tante, seharusnya tante tak memaksa bara seperti ini. " tolak Binar dengan halus.
"Kenapa kamu menolak, apa kau takut akan kehilangan Bara atau kehilangan harta Bara hah. " sarkas nyonya Marissa dengan emosi meledak, menunjuk kearah Binar. Rayyan segera mengajak keponakan tampaknya menjauh dari sana.
"Jaga Bicara Tante, saya bukan gadis seperti itu. " tegas Binar emosi. Binar merasa tidak percaya ternyata pepatah benar.
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sama halnya nyonya Marissa dan Rifaya yang memiliki sikap yang sama. " batin Binar.
"Cukup, saya tak peduli dengan Rifaya dan sekali lagi Tante menghina Binar, akan kupastikan perusahaan kalian hancur dalam sekejap. " ancam Bara. Nyonya Marisa dan Tuan Rangga langsung pucat mendengarnya, Bara mengajak Binar dan Rayhan pergi dari sana.
"Bagaimana nih Pah, kita gagal merayu Bara. " kesal Nyonya Marissa.
"Sebaiknya kita pulang mah. " Tuan Rangga mengajaknya pergi, selama perjalanan pulang nyonya Marissa terus saja marah marah.
Keduanya turun dari mobil, masuk ke dalam dan pergi ke ruang tamu. Rifaya datang menghampiri kedua orang tuanya itu. "Bagaimana Pah, Bara mau 'kan datang menjenguk aku?
"Gagal sayang, ini semua gara gara gadis bernama Binar yang menolak untuk membujuk Bara. " ujar Nyonya Marissa kesal. Rifa melotot, gadis itu mengumpat Binar, rasa bencinya semakin besar pada rivalnya itu. Diapun menjatuhkan dirinya di sofa, memikirkan ide lain agar rencana yang mereka susun berhasil.
"Cari ide lain Pah, Mah dan aku tak mau mengalah dari gadis sialan itu. " pungkas Rifaya. Rifaya yang kehabisan ide, mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Dia tak akan membiarkan Binar berbahagia dengan Bara.
"Bara hanya milikku, hanya milikku. "
Rifa melempar ponselnya ke sofa, memijit pelipisnya yang terasa pusing. Nyonya Marisa segera menenangkan putrinya,bersama sama mencari cara lain. Tuan Rangga bangkit, meninggalkan anak dan istrinya menuju ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
tbc