Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Season 3 Part 22


__ADS_3

Dika mengumpat kasar, rencananya gagal dalam meyakinkan Binar. Malam ini dia berada di Bar, sudah beberapa kali meneguk wine sambil meracau nama Binar. Rifaya datang, gadis itu terus menggerutu melihat keadaan Dika yang setengah sadar karena mabuk. Setelah membayar billnya, dia memapah Dika ke luar dari Bar, menaruhnya ke dalam mobil dan melesat kencang. Rifaya membawa pria itu ke apartemen Dika, dengan menggunakan sandi pintu otomatis terbuka lalu masuk ke dalam.


Bruk


"Sialan, dasar menyusahkan kau. " maki Rifaya setelah menjatuhkan tubuh Dika ke atas kasur. Gadis itu tak henti hentinya mengumpatinya karena kesal. Dika menariknya hingga jatuh di atas tubuh Dika.


"Binar, aku mencintaimu kenapa kamu tak memilihku. " racaunya lagi. Rifa berusaha melepaskan diri namun Dika memeluknya cukup erat.


"Hei aku bukan Binar bodoh. " ucap Rifa yang tak dipedulikan Dika.



Bara dan Binar baru selesai berbagi peluh, keduanya masih dalam keadaan polos hanya tertutup selimut. Binar mengusap rambut suaminya, dia tersenyum geli melihat suaminya yang tengah menghisap dua cocochipsnya itu. Bara kembali menyentuh titik titik sensitif sang istri, Binar kembali mendesah menikmati sentuhan suaminya.


"Mas sampai sekarang aku kok belum hamil


ya. " ucap Binar sendu. Bara menghentikan kegiatannya, mengangkat wajahnya dan menatap wajah cantik sang istri yang terlihat bersedih.


"Aku tak mempermasalahkannya sayang, kenapa mesti buru buru hm? "


"Jika aku hamil, ada anak yang akan memperkuat jalinan kita mas, selain itu aku ingin hamil anak kamu, calon adik dari Adrian. " jelasnya. Barapun mengerti dengan perasaan istrinya, mungkin selama ini istrinya tertekan apalagi keadaan dirinya yang amnesia membuat Binar terus bersedih.


"Sayang, besok kita pergi ke dokter ya. " ajak Bara yang di angguki sang istri. Keduanya langsung beristirahat tanpa membersihkan tubuh mereka.


Pagi harinya Di apartemen, Dika membuka matanya sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Dia menatap sekelilingnya kemudian melihat penampilan dirinya yang polos hanya terbalut selimut. Dikapun terkejut, seketika menoleh ke samping,matanya melotot melihat Rifaya dalam keadaan yang sama. "Sial, apa yang aku lakukan semalam dengannya. " umpat Dika.


"Eungh, kau sudah bangun baajingan. " Rifaya bangun sambil memegangi selimut, menatap nyalang kearah Dika. Gadis itu langsung memukulnya dengan keras, melampiaskan kemarahannya.

__ADS_1


"Sialan kau kenapa kamu meniduriku, brenseek. " makinya terus menerus. Dika menahan tangannya agar berhenti melakukan hal sia sia itu.


"Aku mabuk bodoh, kau lupa hah!


"Kau menyebut nama Binar saat merebut hal berhargaku, dasar sialan. " amuk Rifaya lagi pada Dika. Gadis itu emosi melihat sikap santai Dika yang seolah tak terjadi apapun.


"Bukankah ini hal bagus bagimu, kau bisa menjebak Bara lalu menyuruhnya menikahimu, mudahkan!


Plak


Rifaya semakin emosi mendengarnya, dia menampar keras pipi Dika. "Kau pengecut, pecundang sekaligus brengssek dan aku yakin kau tak akan pernah bisa memiliki Binar selamanya. " teriak Rifaya. Dia bangkit, memungut pakaiannya lalu membawanya ke kamar mandi.


Brak


Dika mengusap wajahnya kasar, terdengar hembusan nafasnya kasar. Pria itu segera memakai celananya, tak lama Rifaya ke luar dan langsung pergi meninggalkan Dika dengan raut kemarahan. Rifa melajukan roda empatnya dengan kencang, selama perjalanan dia tak henti hentinya mengumpati sikap pengecut Dika. "Pria sialan itu menggagalkan rencanaku ah sialan. "


"Cukup Mi, aku capek jangan tanya tanya aku dulu. " Rifaya berjalan melewati ibunya, menaiki tangga menuju ke lantai atas. Mami mengerutkan kening,merasa heran dengan sikap putrinya yang terlihat tak biasa.


Brak Rifa membanting pintunya, tubuhnya luruh ke lantai dan terlihat frustrasi sekarang. Ini semua karena Dika, jika seandainya pria itu tak mabuk rencananya pasti akan berjalan lancar. "Jika Mami dan Papi tahu aku yakin mereka akan marah besar!


"Brensek kamu Dika. " maki Rifaya dengan emosi membuncah. Rifa ya sangat kesal rencananya gagal menjerat Bara dalam jebakan nya, ini semua karena Dika si pecundang itu. Gadis itu bangkit, berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Dia berdiri di bawah guyuran shower, menggosok kulitnya dengan keras sambil memaki.


Satu jam berlalu, Rifa segera ke luar dan memakai pakaiannya. Dengan lesu membanting dirinya di atas ranjang, Rifa mengambil ponselnya lalu menghubungi teman lamanya.


"Cepat belikan sesuatu yang aku sebutkan tadi, lalu bawa ke rumahku. " Rifa mematikan sambungannya, mengusap wajahnya kasar. Nasi telah menjadi bubur, semuanya telah terjadi dan tak mungkin kembali seperti semula.


Cklek Kania masuk ke dalam, memberikan barang yang di minta Rifa. Rifapun mengambilnya, segera menelannya dengan segelas air putih. "Kau yakin akan berhasil

__ADS_1


Rifa? " tanya Kania dengan begitu penasaran.


"Ya aku yakin, aku ingat ini belum masuk masa suburku. " jawabnya santai. Kania menghela nafas pelan, duduk di sebelah temannya itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi Rifa? " tany Kania.


Rifaya mengatakannya pada Kania. Kania tentu saja terkejut mendengar masalah Rifa yang cukup rumit. "Lebih baik kau kejar pria pengecut itu Rifa dari pada suami orang, memangnya kamu mau dipanggil pelakor oleh orang orang. " ucap Kania berusaha menasihatinya.


"Kau minta saja pertanggung jawaban dari pria bernama Dika itu, kalau dia menolak ancam saja. Lagipula itu lebih menguntungkan daripada mengejar suami orang yang nantinya hanya akan membuat hidupmu semakin hancur. "


Rifa hanya diam, dia mencerna nasihat dari apa yang di sampaikan Kania barusan. Kania menepuk pundaknya, gadis itu cukup prihatin dengan apa yang dialami Rifaya. "Kau cantik, seksi dan punya segalanya,mengenai cintamu pada pria bernama Bara itu, aku fikir hanyalah sebuah obsesi Fa!


"Tumben bijak, kesambet apa nih. " cibir Rifaya pada Kania. Kania mendelik kearahnya, gadis itu berdecih pelan mendengar cibiran dari sahabatnya.


"Aku masih bingung Nia, tapi pertama pertama aku akan membuat perhitungan dengan pria pengecut yang tak mau bertanggung jawab. " desis Rifa.


"Aku akan membantumu, ayo kita cari dia sekarang. " ajak Kania. Keduanya bangkit, ke luar dari kamar dan segera berpamitan pada orang tua Rifaya. Kania yang menyetir, Rifa memilih memainkan ponselnya, menghilangkan rasa bosan.


Sementara itu Bara dan Binar baru pulang dari dokter, Binar merasa bahagia setelah mendengar dokter mengatakan dirinya hamil. Bara melirik istrinya sekilas sambil tersenyum, Binar tengah menatap hasil usg di tangannya.


"Mulai sekarang jangan lagi gendong Adrian, ingat sayang kamu sedang hamil. " tegas Bara pada istrinya. Binar mengangguk, senyum tak pernah luntur dari wajahnya,dia begitu bahagia saat ini. Dia usap perutnya yang masih rata,tak menyangka buah cintanya dengan sang suami akan hadir dalam perutnya.


"Pantas saja mas dua hari lalu aku begitu manja, sensitif dan cengeng. " gumam Binar.


"Kamu benar sayang tapi kamu tak mual mual seperti ibu hamil pada umumnya. "


"Ciri ciri Kehamilan setiap wanita berbeda mas, ada yang mual dan ada yang tidak seperti aku ini. "

__ADS_1


tbc


__ADS_2