Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Epson 140


__ADS_3

"Kevin, kamu enggak perlu membelikan banyak dress kayak gini, hanya buang buang uang kamu saja. " omel Freya kesal dengan sikap sahabatnya ini, yang diomeli hanya tersenyum tanpa dosa.


"Sudahlah Fre, jangan ngomel ngomel entar cepat tua. " canda Kevin. Freya mengeram kesal, ingin sekali memukul kepala pria di depannya namun dia urungkan, dia tak mau dianggap tak sopan. Freya kembali masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Kevin, kini keduanya dalam perjalanan ke pantai, Kevin melaju dengan kecepatan sedang, ingin menikmati waktunya dengan Freya.


Setibanya di pantai, keduanya duduk di atas pasir menghadap kearah air laut. Memandang ombak yang bergerak pasang surut, serta menikmati udara segar. Kevin menoleh kearah Freya, tangannya bergerak menyelipkan anak rambut Freya ke belakang telinga. Diperlakukan seperti itu Freya merasa gugup, hal itu membuat Kevin tersenyum kecil. "Vin kamu jangan perlakukan aku kayak gini, nanti gadis yang kamu sukai cemburu sama aku. " ucapnya polos.


Kevin menghela nafas panjang, sahabat dekatnya ini benar benar polos dan tak peka ya, hanya senyuman manis yang bisa dia tunjukkan. Setelah itu mereka kembali mematap lurus ke depan, sesaat suasana terasa sunyi, keduanya terpaku pada pikiran masing masing.


Drt


drt


drt


Freya mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu menekan tombol hijau. "Iya Zi ada apa, baiklah besok malam aku akan datang, aku turut senang mendengarnya.


(..... )


Freya mengakhiri sambungannya, diapun menghela nafas panjang. Kevin sejak tadi memperhatikannya dengan intens. Freya menoleh dan tersenyum pada sahabatnya. "Zinnia mengundang aku dalam pesta ulang tahun Aaron besok malam, kamu mau ikut


Vin? "


"Baiklah aku akan menemani kamu Freya. "


Freya sangat senang mendengarnya, tanpa sadar dia memeluk tubuh Kevin. Saat tersadar dirinya langsung menjauh, Kevin tersenyum kecil melijat tingkah sahabatnya itu. Tak di pungkiri, hatinya sangat senang saat Freya memeluk tubuhnya. "Maafkan aku Vin, tadi itu Refleks karena aku sangat senang, kamu mau menemani aku pergi ke pesta. " jelas Freya agar Kevin tak salah paham padanya.


"Sudah sore nih, ayo aku antar kamu pulang. " Freya mengangguk, lalu bangkit begitu juga dengan Kevin, keduanya segera pergi dari sana dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Di sisi lain Zinnia kini harus menahan amarahnya, melihat Helena yang mencoba memprovokasinya. "Dengarkan aku kamu hanya masa lalu Aaron, sedangkan aku masa depannya, aku calon istri Aaron apa kamu lupa nona Helena.


"Cih kamu hanya orang asing, wanita yang menggoda Aaron di hotel hingga dia memutuskan hubungan kami. "


Zinnia menghela nafas panjang, sore ini hari yang sangat sial baginya, kenapa juga dia harus bertemu Helena di jalan. Dia memunguti belanjaannya yang berceceran setelah itu memandang datar kearah Helena.


Helena menatap penuh kebencian kearah Zinnia kemudian tersenyum sinis. "Lihat saja, aku akan merebut Aaron darimu, tak akan kubiarkan kamu bersama dengan Aaron. Aaron tak pantas untuk gadis yatim piatu sepertimu. " ujar Helena, setelah berkata demikian wanita itu langsung pergi begitu saja.


"Huft sabar Zi sabar!


Zinnia segera masuk ke dalam taksi, taksi melesat jauh. Tak butuh lama, akhirnya gadis itu sampau di pelataran mansion sang kekasih, dia turun dari taksi dan bergegas masuk ke dalam. Dengan wajah masamnya, Zinnia menghampiri sang kekasih yang berada di ruang tamu, tengah sibuk dengan laptopnya. Aaron menoleh, memperhatikan raut muka kekasihnya dengan tatapan bingung sekaligus penasaran.


"Sweety ada apa, sepertinya kamu tengah kesal? "


"Helena, dia bilang akan menghancurkan hubungan kita sayang. " ucap Zinnia dengan lirih. Aaron langsung menutup laptopnya, beralih memeluk sang kekasih hati, tangannya mengusap lembut pipi Zinnia.


"Wanita gila itu sepertinya mulai menunjukkan taringnya, aku kira dia sudah menyerah setelah kami putus. " balas Aaron sambil melirik kearah Zinnia. Zinnia mendusel manja di dada Aaron, lalu menyentuh tangan sang kekasih yang memeluk perutnya.


"Tentu saja tidak, Helena yang mengejar aku waktu itu dan aku terpaksa menerimanya, dia bisa berbuat nekat jika aku menolaknya. " Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibir Aaron, Zinnia menatapnya dengan lekat lalu membelai rahang Aaron.


"Ya aku mengenal Helena saat di club!


Mendengar kata club, pikiran negatif langsung terbayang di kepala Zinnia. Dia mengangkat wajahnya, menatap tajam kekasihnya itu. Aaron menaikkan sebelah alisnya, terlihat bingung dengan perubahan ekspresi dari gadisnya. "Apa sayang, kenapa kamu menatapku seperti itu!


"Jadi kamu dan Helena sudah pernah making love? "


Tuk Aaron menyentil dahi sang kekasih, Zinnia meringis kesakitan dan menatap kesal kearah Aaron. "Saat itu aku cuma menemani Aiden dan Axel, kebetulan aku bertemu Helena di sana. Memangnya aku pria apaan sweety, bisa bisanya kamu berpikir seperti itu. " balas Aaron sedikit tersinggung. Zinnia langsung nyengir, merasa bersalah karena mengatai kekasihnya itu sembarangan, dia langsung memeluk manja tubuh kekar Aaron.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku hanya terlintas sekilas pikiran itu. " Aaron tersenyum tipis, mengecup sekilas bibir gadisnya dengan lembut, tanpa ada gairah di dalamnya. Dia sangat menyukai moment moment kemesraan mereka berdua, seperti sekarang ini. Pria itu mengeratkan pelukannya, entah kenapa Aaron tidak akan rela jika gadis dalam pelukannya ini menjauh dan lepas darinya.


Drt


drt


drt


Zinnia mengambil ponselnya, Aaron berdecak kesal dan sepertinya pria itu cemburu setelah tahu Rendralah yang menghubungi Zinnia. Seketika Aaron melepaskan pelukannya, auranya berubah dingin dan pria itu kembali fokus pada laptopnya. "Angkat saja, siapa tahu penting! ketusnya.


Zinnia menghela nafas panjang, sebenarnya dia merasa tidak enak hati pada Aaron, namun tak ada pilihan lain. "Ya Halo kak Rendra, ada apa kak tumben kakak menghubungi aku!


"Orang orang yang mempermalukanmu sudah aku pecat, sekarang kamu bisa bekerja di perusahaanku. "


"Terimakasih kak tawarannya, tapi aku sudah mendapatkan pekerjaan. " Terdengar suara helaan nafas membuat Zinnia merasa canggung. Aaron diam diam mendengarkan percakapan gadisnya dengan Rendra.


"Oh ya Zi, Ibuku ingin bertemu kamu lagi, bisakah kamu mengabulkannya. "


"Entar aku hubungi lagi. " Zinnia memutus sambungannya, merasakan aura dingin menguar dari tubuh Aaron. Zinnia menyimpan ponselnya lalu menyentuh lengan sang kekasih namun ditepis Aaron.


"Untuk apa pria itu mengajakmu bertemu ibunya, apa jangan jangan ingin memgatakan jika kamu calon istrinya begitu. " ujar Aaron dengan sewot. Aaron bangkit, dia langsung pergi ke ruangan kerjanya. Zinnia mendesah nafas kasar, melihat sikap Aaron yang tengah cemburu berat padanya.


"Ya ampun Aaron, bisa bisanya dia cemburu ckck, bayi besarku merajuk. " Zinnia bangkit dan bergegas menyusul bayi besarnya yang kini merajuk di ruangan kerjanya.


Cklek Zinnia membuka pintunya lalu ke dalam, mendekati Aaron setelah itu menciumi wajah priamya itu, Aaron mengulum senyumnya, merasa gemas dengan tingkah Aaron.


bersambung

__ADS_1


JANGAN LUPA LEMPAR 🥀🏵 DAN ☕


"


__ADS_2