
Hujan turun dengan derasnya namun Melisa mengabaikan hal itu, hawa dingin kini mulai menerpa kulit halusnya. Melisa menangis terisak teringat nasib malang yang menimpanya.
Diapun segera berteduh di dekat rumah kosong, dia menggosok tubuhnya yang mulai menggigil. Melisa menunduk ke bawah, mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut. "Maafin mamah ya sayang, mamah sempat kepikiran untuk mengugurkanmu. Meski mamah sangat membenci papah kamu, tapi mamah tetap akan mempertahankanmu. " gumam Melisa lirih.
"Edzard, Jingga dan semuanya maafin aku hiks maaf atas sikap jahatku sama kalian. " batin Melisa menyesal.
Melisa kembali berjalan sambil menyeret koper miliknya. Tiba tiba kepalanya merasakan pusing, pandangannya mulai mengabur dan bruk dari jauh seseorang berlari kearahnya, menembus derasnya hujan. Tanpa ragu pria itu langsung menggendong tubuh Melisa, lalu menaruhnya ke dalam mobil.
**
Skip
Di Apartemen
Pria itu adalah Alexi Drax Cavero, Alex membaringkan tubuh Melisa ke atas kasur. Dia segera memanggil pelayan dan menyuruhnya mengganti pakaian Melisa.
"Ganti pakaiannya sebelum dokter datang ke sini. " perintah Alex.
"Baik Tuan!
Alex langsung pergi ke kamarnya, tak lupa dia menghubungi dokter Fahri. Satu jam kemudian dia kembali dan terlihat telah mengganti pakaiannya. " Bagaimana keadaan wanita ini Fahri? " tanya Alex penasaran.
"Wanita ini tengah mengalami stres, harus bed rest total mengingat wanita ini tengah hamil muda. Eh Lex, emang di mana kamu menemukan wanita ini? " tanya Fahri.
"Di jalan! Fahri menatap penuh selidik kearah sahabatnya itu dengan tatapan curiganya.
" Aku kira kamu menculik wanita ini dari suaminya. " celetuk Fahri mendapat pelototan dari Alex. Fahri langsung nyengir, menyerahkan obatnya dan setelah itu kabur. Alex beralih memperhatikan Melisa yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Nina. " panggil Alex.
"Ya tuan Alex ada apa? " Alex menyerahkan obatnya pada Nina, sang pelayan.
"Ini obat untuk wanita ini. " Nina mengangguk, Alex langsung ke luar dari kamar yang di tempati oleh Melisa..
***
Cahaya mentari menyinarkan sinarnya, pertanda hari mulai pagi. Melisa membuka kedua matanya, bangun dan menatap sekelilingnya yang terlihat sangat mewah. Cklek pintu terbuka, lalu masuklah Nina dengan membawakan satu set pakaian wanita.
__ADS_1
"Em nona, bolehkah saya tahu nama nona? " tanya Nina.
"Aku Melisa, panggil saja Elly. "
"Ini pakaian ganti buat nona Elly, selesai mandi cepatlah turun nona, anda di tunggu tuan di bawah! Nina membungkukkan badannya, berbalik dan melangkah ke luar. Melisa turun dari ranjang, mengambil pakaian itu lalu membawanya ke kamar mandi.
Selesai bersiap, Melisa pun ke luar dari kamar, menuruni anak tangga dengan hati hati, mengingat kandungannya lemah. Dengan ragu ragu dia melangkahkan kakinya menuju ke meja makan, di mana seorang pria tengah menunggunya. Alex tersenyum tipis melihat kehadiran Melisa.
"Duduklah, kita sarapan bersama nona!
Melisa mengangguk patuh, dia mengambil nasi dan lauknya kemudian mengunyahnya. Alex nampak memperhatikan Melisa dengan tatapan penasaran. "Kalau aku boleh tahu siapa nama kamu nona? "
"Melisa, panggil saja Elly tuan! Setelah itu tak ada obrolan lagi diantara mereka hingga kegiatan pagi itu berakhir. Selesai sarapan Melisa langsung bangkit, dia menatap kearah Alex dengan senyuman tipisnya.
" Terimakasih telah menolongku Tuan, aku harus pergi sekarang juga. " Melisa menunduk hormat, berjalan melewati Alex namun Alex memegang tangannya. Dia bangkit dan mendekati Melisa, Melisa merasa tak nyaman. Dia tidak ingin jatuh di lubang yang sama seperti saat bersama Dexter, Melisa menepis tangan Alex. "Biarkan saya pergi tuan, aku mohon jangan halangi aku. " pintanya sambil memohon.
"Tunggu biar aku yang antar kamu. "
"Enggak usah biar aku sendiri. " Melisa berbalik dan berjalan melewatinya. Tiba tiba berhenti dan memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Awh. " Alex langsung merangkul pinggangnya Melisa, sebelah tangannya reflek mengusap perut rata Melisa. Melisa terkejut atas apa yang dilakukan oleh Alex, Alex menoleh dan menatapnya penuh kelembutan.
"Harusnya Dexter yang mengusap perutku bukan pria asing ini. " batin Melisa.
Melisa merasa perutnya sudah baikan, entah kenapa dirinya merasa pria di sampingnya adalah pria yang baik. Alex menatap Melisa dengan tatapan khawatirnya. "Apa perut kamu masih sakit Elly, oh ya aku Alexi Drax Cavero panggil saja Alex. "
"Aku sudah baikan tuan, terimakasih atas kebaikanmu padaku. " jawab Melisa dengan tulus. Melisa mengusap usap perut datanya dengan lembut, kini dia sangat menyayangi janinnya meski ayah si janin tak mau mengakuinya. Alex kini merasa lega mendengarnya, diapun melepaskan pelukannya dari tubuh Melisa.
"Sebaiknya kamu tinggalah di sini sementara Elly, kata dokter kamu perlu bed rest total. " jelas Alex. Melisa menggeleng, dia tak ingin merepotkan Alex. Cukup sudah selama ini dia selalu menuruti keinginan orang tuanya, setidaknya dia bebas sekarang meski tak punya tempat tinggal. Melisa ingin hidup mandiri, sambil menjaga janin dalam kandungannya. Dia juga tak akan sudi lagi bertemu pria brensek itu lagi dan mengemis padanya.
"Aku akan mencari tempat tinggal tuan!
" Jangan keras kepala Elly, lagian aku bukan pria jahat jadi jangan takut padaku. Lagian kamu belum kuat untuk berjalan jauh, kasihan janinmu Elly, " Melisa menghela nafas panjang, apa yang dikatakan Alex ada benarnya juga.
Melisa kembali menatap kearah Alex sambil memohon. "Aku mohon tuan, jangan terlalu baik padaku karena aku bukan wanita baik baik hiks. " Alex terlihat sangat kasihan dengan Melisa sepertinya Melisa sangat tertekan pikirnya.
Alex membawa Melisa ke pangkuannya, tangannya kembali mengusap perut rata Melisa, Melisa menyentuh tangan Alex yang berada di perutnya. "Kamu tenanglah Elly, kamu di sini aman dan tak akan ada yang menyakitimu. Jangan terlalu stres dan memikirkan hal hal yang berat hal itu akan berdampak pada janinmu. "
__ADS_1
Melisa terdiam, dia merasakan nyaman dan aman saat bersama Alex. Dia segera menepis pemikiran konyolnya, dia tak pantas bersama pria baik seperti Alex pikirnya.
"Ingat Elly, kamu hanya wanita penghangat ranjang dan wanita bekas Dexter. " batin Melisa lirih.
Alex bangkit sambil menggendong Melisa, membawanya ke luar lalu masuk ke mobil. Alex menyerahkan tas kecil milik Melisa, Melisa menerimanya dan segera mengambil ponselnya.
From Edzard.
Surat perceraian kita aku kirim ke rumahmu, cepat tanda tangani setelah itu berikan pada pengacaraku.
Melisa hanya membacanya tanpa membalas pesan dari Edzard. Mungkin dengan perceraian, semuanya akan baik baik saja dan aku sangat tak layak buat pria sebaik Edzard. "Maafkan aku yang menipumu Ed, aku harap kamu bahagia bersama Jenny!
Melisa segera memasukkan ponselnya kedalam tas, dia menoleh kearah Alex sambil berkata. " Tuan, bisakah anda mengantarku ke rumah orang tuaku!
"Aku akan mengantarmu, tapi jangan lagi memanggilku dengan sebutan tuan!
"Em mas Alex!
"Alamat rumahku jalan xxx no 20? " Alex mengangguk setuju dengan panggilan dari Melisa. Alex segera melajukan mobilnya, menuju ke alamat yang disebutkan Melisa.
***
Sampai di rumah orang tuanya, Melisa di sambut sinis oleh mami dan papinya. "Mami, Papi aku mau mengambil surat ceraiku!
"Ini suratnya! Mami melemparnya, Melisa segera menandatangi surat tersebut lalu menyerahkannya pada pengacara.
"Ini suratnya pak!
"Iya nona terimakasih, kalau begitu aku
permisi. " Setelah kepergian pengacara dari Edzard, Melisa berbalik dan melangkah pergi.
"Dasar anak tak tahu diuntung, menyesal papi membesarkanmu. " maki papi Draco dengan keras. Melisa menulikan telinganya, dia bergegas keluar dari rumah orang tuanya. Dia sangat tak tahan mendengar umpatan dari orang tuanya.
Dia langsung berhambur kepelukan Alex, Alex membalas pelukannya. Terdengar suara tangis Melisa yang terdengar kencang, Alex dengan lembut mengusap punggungnya. "Mas, bawa pergi aku dari sini hiks. "
Alex membawanya masuk ke mobil, lalu melajukan mobilnya kencang meninggalkan kediaman orang tua Melisa.
bersambung..
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, VOTE VOTE YA GAES