Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Season 3 Terjerat Cinta Sang Duda Part 2 - Sebuah Janji


__ADS_3

Like, vote dan komen 😍😍❤


"Daddy, Adli mau sama mommy. " rengek Adrian dengan mata berkaca kaca. Bara memijit kepalanya yang terasa pusing, puteranya itu menginginkan kehadiran Binar.


"Tapi nak mommy lagi sibuk sayang. " bujuk Bara.


"Sibuk dengan kekasihnya mungkin. " batin Bara kesal.


"Huwaaa Adli pengen mommy hiks. "


Bara langsung mengambil ponselnya, menghubungi nomor Binar namun tak diangkat. Pria itu terpaksa mengirim pesan pada gadis itu.


"Ini saya Bara, bisakah kamu datang ke mansion saya, Adri mencari kamu. " Bara menyimpan ponselnya dalam saku, dia menggendong puteranya yang menangis sesegukan.


"Mami, aku pergi sebentar ya ada teman yang tengah membutuhkan aku. " ujar Binar setelah membaca pesan dari atasannya.


"Baiklah kamu hati hati sayang. " ucap sang mami. Binar mengangguk, mengecup singkat pipi ibunya lalu pergi. Gadis itu merasa resah selama perjalanan menuju ke rumah Bara.


Sampai di sana pelayan membiarkannya masuk, Binar bergegas menghampiri Bara. Bara tersenyum lega melihat kehadiran Binar, pria itu menyerahkan puteranya yang sedari tadi.


"Cup cup sayang kenapa nangis hm? " Binar dengan sabar mengusap kepala Adri dengan sayang. Adrian berhenti menangis, mengeratkan pelukannya ke leher Binar. Gadis itu membawanya ke ruang tamu di ikuti Bara dari belakang. Bara tercengang melihat puteranya yang berhenti menangis setelah di bujuk Binar.


"Mommy jahat, Adli cali cali mommy sejak


tadi. " ucap Adrian polos.


"Maafin mommy sayang, mommy tadi ada urusan sebentar. " sesal Binar merasa tidak tega melihat wajah sedih Adrian.


"Adri tidur lagi ya dalam dekapan mommy. " rayu Binar. Adli mengangguk, Binar menepuk nepuk bokong bocah tampan itu hingga Adri kembali terlelap dalam dekapan Binar. Binar tampak mengulas senyumnya, melihat wajah tampan pria kecil dalam pelukannya saat ini.


"Adri tak bisa jauh dari kamu, sebaiknya kamu tinggal di sini saja agar Adri tidak menangis lagi mencarimu. " ucap Bara dengan tatapan lekatnya.


"Tapi.. " Melihat keraguan di wajah Binar, Bara hanya bisa berdecak dalam hatinya. Pria itu menampilkan wajah datar dan aura dinginnya, Binar tak kuasa menolak perintah atasannya itu.


"Gajimu akan aku kunaikkan dua kali lipat, semua keperluanmu sudah ada di kamar kamu yang letaknya berdekatan dengan kamar


Adri. " sahut Bara tegas. Binar kembali melirik kearah Adrian lalu kembali melihat kearah bossnya kemudian mengangguk kecil. Bara tersenyum puas, Binar bangkit dan membawa Adri ke kamarnya.


Setelah mengganti pakaiannya Binar memutuskan turun ke bawah, pergi ke dapur membuatkan kopi untuk Bara. Binarpun meletakkan kopinya di meja, gadis itu hendak pergi namun Bara menahannya dan mau tak mau Binar tetap di sana.


Merasa bosan, Binar memainkan ponselnya


dan gadis itu justru asyik chatting dengan teman temannya. Bara menutup laptopnya, menoleh dan tertegun melihat Binar yang terlihat senyum senyum sendiri.


"Apakah pria yang bersamanya yang membuatnya tersenyum? " batin Bara dengan perasaan tak karuan. Pria itu menyeruput kopinya perlahan, mencoba mengabaikan Binar.

__ADS_1


"Sepertinya kau asyik sekali Binar, hingga berani mengabaikan saya yang jelas jelas atasanmu!


Suara bariton milik Bara membuat Binar menoleh dengan alis tertaut heran. Binar segera memasukkan ponselnya, melihat kearah atasannya yang kini menatapnya


tajam. "Kenapa Anda marah marah Tuan


Bara? " tanya Binar keheranan.


"Lupakan saja. " Bara hanya bisa mengumpat dalam hatinya, kembali menikmati kopi buatan Binar. Binar mengedikkan bahunya, merasa aneh dengan tingkah Bara.


"Bersiaplah sekarang. " ujar Bara singkat.


"Ke mana tuan, lalu bagaimana dengan Adrian? " tanya Binar ragu.


"Aku menyuruh pengasuh untuk menjaganya sampai kedua orang tuaku datang. " Binar hanya mengangguk,gadis itu segera bersiap kemudian ke luar bersama Bara.


.



"Untuk apa Tuan Bara mengajakku ke pantai sore sore. " gumam Binar pelan. Dia segera turun dari mobil menyusul Bara yang lebih dulu berjalan mendahuluinya. Keduanya berdiri di tepi pantai tanpa ada obrolan. Bara menoleh, menatap lekat wajah Binar.


"Binar, apa alasan kamu bersedia di panggil mommy oleh puteraku? "


Binar menatap lurus ke depan, di depan orang lain dia tampak tegar,namun sebenarnya Binar tengah menyembunyikan kesedihannya, merindukan sosok mendiang Daddy Aiden.


"Lalu di mana mommy kandung Adrian Tuan? " tanya Binar dengan hati hati.


"Dia meninggal karena kanker setelah berjuang melahirkan Adrian. " jawab Bara menatap lurus kearah Binar. Binar membekap mulutnya mendengar cerita Bara, tanpa sengaja air matanya luruh seketika. Terngiang waktu kecil saat dirinya mendengar obrolan paman dan bibi nya mengenai kecelakaan sang daddy.


"Bi ada apa kenapa kamu menangis? " tanya Bara begitu panik melihat Binar yang berderai air mata.


"Daddy meninggal karena aku, aku pembawa sial hingga Daddy pergi untuk selamanya. " racau Binar, tubuhnya langsung luruh hendak menyentuh tanah namun Bara segera menopangnya. Meski bingung pria itu langsung mendekapnya erat, tangis Binar seketika pecah.


Bara langsung membopongnya, membawanya masuk ke mobil. Pria itu membawa Binar ke pangkuannya, memeluknya erat dan membiarkan Binar meluapkan kesedihannya. Pria itu menyingkirkan anak rambut Binar ke samping, diusapnya air mata gadis itu. Bara kembali menatapnya, ternyata Binar telah terlelap dalam tidurnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu Binar? "


Bara menurunkan Binar ke kursi, pria itu memasang sabuknya kemudian menyalakan mobilnya kencang.


#mansion


Bara menggendongnya ala bridal, membawa Binar ke dalam dan menuju ke kamar gadis itu. Pria itu sempat memberi kode orang tuanya agar tak bertanya padanya untuk saat ini, keduanyapun paham. Pria itu membaringkan tubuh Binar di atas ranjang, melepas hak tinggi yang dipakai Binar. Bara duduk di sampingnya, meraih tangan gadis itu untuk dia genggam.


"Selama dua tahun ini kau begitu fokus bekerja dan terlihat tegar nyatanya semua itu hanyalah topengmu. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan Binar? "

__ADS_1


"Aku akan mencari tahu soal rahasia itu. " dikecupnya singkat tangan Binar, lalu memberikan kecupan di dahi gadis itu.


"Semoga mimpi indah. " bisik Bara dengan lembut. Barapun melangkah pelan ke luar dari kamar yang di tempati Binar.


###


Di sebuah tempat yang indah Binar menatap sekelilingnya dengan raut kebingungan. "Di mana aku sekarang. "


"Binar sayang. " ucap seseorang. Binar menoleh, matanya berkaca kaca melihat sosok yang sangat dia rindukan, gadis itu berlari kearah pria berpakaian putih itu.


"Daddy hiks Daddy, Binar rindu Daddy. " ucap Binar.


"Daddy juga rindu sama Binar, Berlin dan mommy kamu. Ternyata puteri kecil Daddy sudah tumbuh dewasa ya. " seru Daddy sambil tersenyum.


Binar menangis sesegukan dalam pelukan daddynya. Daddy Aiden mengacak acak rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. "Maafin Binar Dad, karena Binar daddy pergi selamanya. " sesal Binar dengan nada pilunya.


"Nak Daddy pergi bukan karena kamu, karena takdir yang Tuhan gariskan. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri sayang, apa kau tidak kasihan pada mommy dan kakakmu!


Mengingat Mommy dan Kakaknya Binar merasa sangat bersalah pada keduanya. Daddy Aiden mengulum senyumnya, menghapus air mata puteri bungsunya itu.


"Mulai sekarang berbahagialah, daddy akan mengawasi kalian dari atas langit. Aku lihat kamu sudah menemukan tambatan hatimu nak, dia begitu tampan. " goda Daddy.


"Maksud Daddy siapa? "


"Waktu Daddy sudah habis nak, ingat pesan daddy dan jangan buat daddy kecewa. " daddy Aiden memeluk tubuh Binar untuk terakhir kalinya, lalu melepasnya dan berjalan menjauhi hingga bayangannya lenyap.


"Daddy. "


"Daddy. " pekik Binar terbangun dari mimpinya. Dia menatap sekelilingnya kemudian menghela nafas kasar.


"Hanya mimpi tapi terasa nyata. " gumam Binar teringat pesan dari daddynya agar berbahagia. Meski dalam mimpi Binar tampak senang bisa bertemu dengan mendiang daddynya. Dia berjanji akan bahagia setelah ini, Binar tak ingin mengecewakan semua orang yang menyayangi dirinya.


Merasa haus Binar ke luar dari kamar, berpapasan dengan Bara. Gadis itu berlari kearahnya, memeluk tubuh atasannya itu dengan erat. Bara yang tiba tiba di peluk merasa sangat terkejut. Binar melepaskan pelukannya, kemudian mengatakan mimpinya iru pada Bara. Bara mengulum senyumnya, melihat senyuman manis yang diperlihatkan Binar untuk pertama kalinya di hadapannya.


"Cantik. "


"Eh. " Pipi Binar merona mendengar pujian Bara, Pria itu justru terkekeh melihat tingkah malu malu dari Binar.


"Kenapa malam malam kamu ke luar? " tanya Bara.


"Aku haus tuan mau ke dapur. "


"Ayo kita ke dapur sama sama. " Binar mengangguk, mansion terlihat sepi mengingat hari sudah larut malam. Mereka menuruni tangga dan pergi ke dapur.


tbc

__ADS_1


__ADS_2