Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Epson 136 ~ Aaron Story Chap 3


__ADS_3

Zinnia kini tengah di kejar kejar wartawan saat gadis itu berada di pusat perbelanjaan, dia berjalan dengan cepat karena tak ingin menjadi pusat perhatian semua orang.


"Nona tunggu, kami ingin bicara sama nona! teriak salah satu wartawan.


Setelah berlari cukup jauh, Zinnia segera bersembunyi. Satu jam kemudian setelah di rasa aman Zinnia ke luar dari tempat persembunyiannya. Pluk Ada yang menyentuh pundaknya, tubuhnya bergetar kemudian menoleh ke belakang. Gadis itu bernafas lega setelah tahu jika Rendralah yang menyentuh bahunya. "Zi ada apa, kenapa sepertinya para wartawan itu mengejarmu!


"Ceritanya panjang kak huft, bisakah kakak mngantarku pulang. "


"Ayo aku antar! Zinnia mengangguk, keduanya pergi ke parkiran lalu masuk ke mobil. Rendra melajukan mobilnya dengan kencang menuju alamat yang di sebutkan Zinnia. Setibanya di mansion, Rendra menoleh dan menatap pekat kearah Zinnia. Zinnia merasa gugup, dia berusaha tenang setelah itu kembali menatap Rendra. "Ini rumah majikanku kak, dan terimakasih telah mengantar aku pulang. "


"Iya Zi sama sama, kalau perlu apa apa kamu hubungi aku. " Zinnia mengangguk, turun dari mobil dan melambaikan tangannya. Rendra melajukan mobilnya meninggalkan pelataran mansion Aaron.


Zinnia masuk ke dalam, seketika aura dingin dirasakannya. Dia tampak mengerjabkan kedua matanya, melihat tatapan tajam nan menusuk tertuju kearahnya. Aaron bangkit dan berjalan pelan menghampiri Zinnia yang mematung. "Sudah puas nona jalan jalannya, katakan siapa pria itu!


"Maksud kamu kak Rendra, dia teman aku. memangnya ada apa Aaron? " Zinnia menaikkan sebelah alisnya, melihat ekspresi Aaron yang terlihat kurang puas dengan jawabannya.


"Tidak apa apa!


"Apa kau tahu aku tadi di kejar wartawan, untungnya ada kak Rendra. " Zinnia merasa lega, terus berbicara mengabaikan ekspresi Aaron. Gadis itu langsung pergi ke ruang tamu, mengistirahatkan dirinya di sana, Aaron menyusulnya. Zinnia menoleh kearah Aaron dengan cepat lalu menunjuknya. "Ini semua karena sandiwara bodohmu itu Aaron, hidupku yang aman dan damai harus terusik dengan para wartawan.


Aaron hanya diam tak bereaksi apa apa, hal itu membuat Zinnia semakin kesal. Zinnia hanya bisa menghela nafas panjang, bersandar di sofa sambil melipat tangannya. "Lakukan sesuatu tuan Aaron, astaga.Jangan diam saja. " geram Zinnia.


"Hanya ada satu cara yang bisa kita lakukan!


"Memangnya apa? "


"Mengadakan konfrensi pers, dan mengakui hubungan kita. Aku akan bilang jika kita saling mencintai satu sama lain, mengenai Helena itu urusan nanti. "

__ADS_1


Zinnia langsung melotot kemudian memukuli Aaron, Aaron meringis kesakitan kemudian menahan kedua tangan gadisnya. "Diamlah sweety, atau kamu mau aku cium!


Zinnia mendelik, lalu memilih diam. Aaron menyeringai melihat sikap macan betinannya yang langsung menurutinya. Pria tampan itu merangkul bahu gadisnya dari samping, Zinnia berusaha menghindar namun Aaron mengeratkan pelukannya. "Sweety, jangan cemas sebagai kekasihmu aku akan mlindungimu, tak akan kubiarkan pria lainlah yang membantumu!


Zinnia merasa aneh dengan ucapan Aaron, seperti seorang kekasih yang posesif dan cemburu pada gadisnya. "Masa si kulkas ini cemburu melihat aku dengan kak Rendra. " pikirnya. Zinnia segera mengenyahkan pikiran konyolnya yang tiba tiba terlintas.



Zinnia menoleh, semakin gugup kala wajahnya berdekatan dengan wajah Aaron. Aaron tersenyum tipis, menarik tengkuk gadisnya kemudian mulai memagut bibir Zinnia dengan lembut. Zinnia membuka mulutnya, memberikan akses untuk Aaron menyesapi bibirnya.


Zinnia POv


Aku benar benar gadis munafik, bibirku berkata tidak nyatanya aku menikmati setiap ciuman dari Aaron. Entah kenapa ada rasa nyaman berada di dekat pria yang di kenalnya sejak masih sekolah ini. Ingin sekali aku menciumi wajah tampannya, cih tidak tidak. jangan bilang aku sudah tertular virus gilanya Aaron. Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan tadi, menciumi wajahnya astaga.


Zinnia mengusap rahang Aaron, kala ciuman mereka terhenti. Sekali angkat Gadis mungil itu berada di pangkuan Aaron, Zinnia merasa malu dan ingin sekali turun namun Aaron tak mengizinkannya. "Hei apa yang kamu pikirkan sweety, kamu ingin menciumi wajahku bukan? "


Zinnia tercengang mendengar Aaron yang seperti tahu apa yang di pikirkannya, diapun memasang wajah galak. "Tidaklah, untuk apa aku menciummu. " sewotnya. Aaron terkekeh, merasa lucu dengan sikap kekasihnya ini, tangan keduanya saling bertautan satu sama lain.


"Apakah itu kesan pertama kamu saat kamu bertemu aku pertama kali di sekolah? " Zinnia mengangguk, mengiyakan ucapan Aaron. Aaron menghela nafas panjang, kemudian kembali menatap Zinnia dengan lembut.


"Mommy selalu berpesan jika aku tak boleh menyakiti hati perempuan, makanya aku jarang dekat dengan wanita kecuali Helena. " Zinnia melihat pancaran kesedihan di kedua manik kelam Aaron, di pegangnya di kedua sisi wajah Aaron kemudian tersenyum.


"Jangan bersedih Aar, mommy kamu sudah bahagia di atas sana lagian kamu masih memiliki daddy dan ketiga adikmu. " ucap Zinnia dengan tulus. Aaron menatap lekat Zinnia dengan pandangan sulit diartikan, tanpa basa basi dua benda kenyal itu kembali beradu.


Zinnia meremas rambut Aaron kala ciuman mereka semakin panas dan liar serta memabukkan. Setelah beberapa saat mereka menyudahinya, Zinnia tersenyum kaku kala merasakan sesuatu menusuknya, dia melirik kearah Aaron.


"Junior sepertinya ingin berkenalan dengan Senior sweety!

__ADS_1


"Mesum. " pekiknya. Aaron tertawa tanpa dosa, Zinnia semakin kesal dibuatnya. Diapun menurunkan Zinnia, sebelum bangkit Aaron mengecup kening dan bibirnya sekilas.


"Aku mau menuntaskan sesuatu Sweety, kamu mau ikut tidak. " godanya. Zinnia melotot, Aaron terkekeh lalu bangkit dan pergi dari sana menuju ke kamarnya di atas. Setelah kepergian Aaron, Zinnia menyentuh bibirnya kemudian tersenyum. Masih terasa jelas saat Aaron menciumnya dengan lembut, liar, panas dan menuntut.


Dua jam kemudian


Aaron turun ke bawah, kembali ke ruang tamu. Tak lama Zinnia datang membawakan minuman, lalu menaruhnya di meja. Aaron menaikkan sebelah alisnya melihat pakaian Zinnia yang berubah. "Kamu habis mandi tadi Sweety? "


"Enggak tadi aku berenang, segar banget tahu. " balasnya sambil nyengir.


"Ck tahu gitu aku ikut renang sama kamu. " Zinnia melirik tajam kearahnya lalu meminum jusnya. Aaron terkekeh, menyesap kopinya pelan lalu menaruhnya kembali. Zinnia langsung mengambil remot, memindah chanel televisi, mencari tayangan yang menghibur.


"Gimana kalau nonton film biru aja. " ujar Aaron dengan jahil.


"Diam mr mesum, film romantis saja kalau


ada. " Aaronpun mengangguk, dia akhirnya memutar film romantis. Zinnia menyandarkan kepalanya di bahu Aaron, sudut bibir Aaron melengkung. Zinnia mengangkat kepalanya, menoleh dan memandang Aaron dengan serius.


"Aar, sudah aku putusin mulai besok aku mau cari pekerjaan, aku enggak mau disebut parasit karena numpang di rumah kamu!


"Kerja saja di perusahaanku Zi! Zinnia menggeleng, dia tak mau menyusahkan orang lain dan lagi pula dia ingin mencari pekerjaaan dengan hasil jerih payahnya sendiri.


"Enggak perlu Aaron, aku bisa mencarinya sendiri. " ujarnya dengan tulus. Aaron menghela nafas pelan, kedua manik mata Zinnia mengatakan keseriusanya hal itu membuatnya tak bisa untuk memaksanya.


"Kalau perlu apapun, kamu bisa hubungi aku. " Zinnia mengangguk, senyumannya kian merekah dan semangatnya menggebu. Dia sudah tak sabar ingin segera mencari pekerjaan sendiri. Lagipula Zinnia ingin mengembalikan uang Freya yang dia pinjam namun belum bisa di kembalikan. Zinnia tak ingin memiliki hutang budi, apalagi hubungan pertemanan dengan sahabatnya itu renggang karena Freya marah padanya.


Bersambung

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN KOMEN


LEMPAR MAWAR DAN KOPI YA


__ADS_2