
jam 01.00 siang.
"Bang, es cendolnya satu ya. " pinta Senja dengan ramah.
"Iya Neng siap!
Senja terkekeh, dia telah berhasil kabur dari majikan tampan super mesumnya itu. Disaat super genting untungnya otak cantiknya masih bisa diandalkan. Senja segera menyerahkan uangnya, lalu mengambil esnya.
"Ah segarnya. Ngomong ngomong mas duda ke mana ya. " gumamnya sambil terkikik mengingat dia menjahili Zayn tadi.
Saat hendak berlalu pergi tiba tiba ada yang mencekal tangannya. Senjapun menoleh, melihat Zayn yang kini tersenyum miring kearahnya. Tanpa ragu Zayn memanggulnya seperti karung beras dan mengabaikan ocehan Senja. Keduanya masuk ke dalam mobil dan Zayn melajukannya kencang.
"Dasar gadis nakal! Sebagai hukumannya mulai sekarang kamu panggil aku Mas atau sayang. " Zayn melirik sekilas kearah Senja dengan senyum miringnya.
"Enggak mau, lagian tuan Zayn cuma majikan aku. " jawab Senja dengan santainya.
"Ya sudah terserah kamu kalau enggak mau, aku akan membuat kamu hamil anakku bagaimana. " seringai miring terlihat jelas di bibir Zayn.
Senja mencebikkan bibirnya, dia merasa trjebak dengan akal licik Zayn. Terpaksa dia harus mengiyakannya membuat Zayn bersorak penuh kemenangan. Merekapun akhirnya sampai di kediaman adiknya Livia. Keduanya turun dari mobil, Zayn merengkuh pinggang Senja lalu bersama sama memasuki mansion Darren.
Di ruang tamu
Livia menyambut kedatangan keduanya dengan senyuman hangat. Darrenpun tersenyum licik, dia menyerahkan puteranya Bryan pada sang kakak ipar. "Kakak ipar tolong jaga puteraku, kami mau membuatkan adik untuk Bryan. "
Darren langsung membopong istrinya menuju ke kamar mereka di lantai atas. Sementara Zayn merutuki sikap kurang ajar adik iparnya itu. Senja tertawa melihat raut kesal di wajah Zayn, dia kini mengambil alih Bryan ke atas pangkuannya.
"Aunty, Bryan kangen sama Aunty. " ucap Bryan dengan bibir manyunnya.
"Iya sayang bibi juga kangen sama kamu. " Senja mengusap kepala Bryan dengan lembut. Zayn yang melihat interaksi Senja dengan keponakannya membuatnya tersenyum senang. Senja sudah sangat pantas memjadi seorang ibu pikirnya.
"Bryan kamu main sendiri ya, Uncle mau bicara sama Aunty Senja. "
__ADS_1
Bryan mengangguk, turun dari pangkuan Senja. Dia kembali bermain mobil mobilannya. Zayn merengkuh posesif tubuh Senja, Senja merasa risih ingin melepaskannya namun gagal. Senja menoleh kearah Zayn kemudian berkata. "Aku Risih Mas, bisakah kamu menarik tanganmu dati pinggangku. "
Zayn tidak menghiraukannya. Hal itu seketika membuat Senja merasa kesal padanya. Zayn menatap intens gadis disebelahnya. "Nja, bagaimana perasaanmu padaku!
"Entahlah Mas, lalu bagaimana dengan kamu Mas bukankah mendiang istrimu masih seutuhnya menjadi pemilik hatimu sampai sekarang. " cecar Senja.
Zayn hanya diam.Lagi lagi dirinya dikalahkan gengsinya yang setinggi langit itu, Senja sudah tahu arti diamnya Zian saat ini. Tak dipungkiri Senja kecewa, ternyata usahanya selama ini sia sia. Diapun mendesah pelan, berusaha menyembunyikan rasa kecewanya saat ini. Senja segera melepaskan tangan Zayn dari pinggangnya kemudian memberi jarak diantara mereka.
Drt drt drt
Senja mengambil ponselnya, terlihat senyuman tersungging di bibirnya. Tanpa ragu dia langsung mengangkatnya mengabaikan Zayn yang kini memperhatikan dirinya.
"Sore Singa. " ledeknya.
Terdengar suara tawa diujung sana membuat Senja ikut ikutan tertawa. Zayn lagi lagi merasa cemburu melihat senyum lepas dibibir Senja kala dia bersama pria lain bukan bersama dirinya.
"Oh ya baiklah singa, bisakah kamu jemput aku di jalan xxx no. " Ucapan Senja terhenti, Zayn merebut ponselnya kemudian melemparnya kesembarang arah. Dia merasa tak tahan dengan obrolan Senja dan Leo yang membuat hatinya kian terbakar api cemburu.
Senja tersulut emosinya kala ponsel miliknya dibanting oleh Zayn. Zayn mencengkeram tangan Senja dan menatap tajam kearahnya. Tak lama kemudian Livia turun disusul Darren, Bryan berlari kearah orang tuanya setelah mendengar teriakan Senja tadi.
"Kenapa Bry sayang, katakan ada apa!
"Aunty dan Uncle bertengkar Mommy. " ungkap Bryan dengan pelan.
Livia dan Darren saling melirik satu sama lain. Keduanya bergegas menemui Zayn dan Senja. Senja menepis kasar tangan Zayn namun Zayn meraih dagunya hingga tatapan mereka bertemu. "Aku sangat cemburu melihatmu tertawa bersama pria lain Senja, apa kamu tidak paham akan hal itu. " Zayn menurunkan nada suaranya menjadi lembut.
Senja hanya diam, tanpa disadari cairan bening menetes dan turun membasahi pipinya. Zayn yang melihatnya langsung menghapusnya kemudian meminta maaf pada Senja. "Maafkan aku, kamu pasti kesakitan karena tanganku mencengkeram tanganmu Nja. "
Senja menggeleng dan menatap tajam kearah Zayn. "Dasar bodoh, kamu menghancurkan ponselku. " geram Senja melihat ketidakpekaan Zayn.
Suasana melow berubah menjadi gelak tawa karena Senja.
__ADS_1
Zayn melongo tidak percaya. Sedangkan Livia dan Darren tersenyum geli melihat tingkah keduanya yang terduga itu. Zayn mengusap wajahnya kasar dan kini dia terlihat sangat serius. "Aku sangat mencintaimu Senja. " ujar Zayn dengan lembut, terlihat ketulusan didalam ucapannya.
Deg Senja terkejut mendengar pengakuan cinta dari Zayn. Jantungnyapun kian bertalu talu kencang, namun tak dipungkiri hatinya sangat bahagia mendengarnya. Tanpa ragu Senja langsung mencium bibir Zayn, sontak membuat Livia menutup mata puteranya. Zayn sangat senang membalas ciuman Senja, nampak Livia dan Darren mendengus keras.
"Kak Zayn sebaiknya ganti baju sana. " Livia menurunkan tangannya dari kedua mata Bryan.
Zaynpun bangkit mengulurkan tangannya, disambut sukacita oleh Senja. Keduanya langsung pergi dari sana menuju ke lantai atas. Sementara Livia hanya bisa mengelus dadanya sabar, kemudian duduk di sofa.
"Yang aku lihat mereka sama sama saling cinta hanya saja ego mereka yang tinggi, membuat keduanya tak saling mengungkapkan cinta. " gumam Livia.
"Iya sayang kamu benar, Bryan sebaiknya kamu main lagi sana. " Bryan mengangguk dan kembali bermain, namun tak luput dari pengawasan Livia dan Darren.
Livia berharap kakaknya bisa bahagia bersama dengan Senja. Meski dia baru mengenal Senja, tapi yang dia lihat Senja merupakan gadis yang tepat untuk kakaknya yang berhati es dan tinggak dikutub utara itu.
Darren sangat mencintai Livia begitupun sebaliknya, kisah cinta keduanya juga terbilang tak cukup mudah mengingat adanya orang ketiga dalam hubungan mereka. Namun kokohnya dinding kepercayaan serta cinta mereka mampu melewati badai yang menerjang hubungan mereka.
"Yank, kapan kamu hamil lagi. Aku ingin sekali menebus kesalahanku di masa lalu saat kamu hamil putera kita Bryan. "
"Em tunggu, sebenarnya aku sudah telat satu bulan haidku apa jangan jangan. " Livia menatap suaminya dengan lekat, entah kenapa tebakannya saat ini mungkin saja benar.
"Sebaiknya kita besok pergi ke dokter ya sayang. " Livia mengangguk, berharap tebakannya tidak meleset kali ini.
Livia kembali menyandarkan tubuhnya di tubuh sang suami. Keduanya kembali mengobrol dan tak lama kemudian Zayn dan Senja turun bergabung bersama mereka.
"Pokoknya Mas harus ganti ponsel aku. " desis Senja dengan tatapan tajamnya.
"Iya iya lalu bagaimana jawabanmu, apa kamu cinta aku apa tidak sayang. " desak Zayn merasa penasaran.
Senja mengedikkan bahunya, dia ingin mengerjai Zayn karena telah merusak ponsel bututnya itu. Livia hanya bisa menggeleng, melihat perdebatan kakaknya dengan Senja.
bersambung
__ADS_1