Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Season 3 Part 27


__ADS_3


Usia Kandungan Rifa memasuki ke empat bulan. Karan tetap setia mendampinginya meski berulang kali wanita itu ingin pergi dan menolak kehadirannya. Pria itu memeluknya dari belakang, mengusap perutnya yang membuncit. Ya keduanya telah menikah beberapa minggu lalu, pernikahan itu di lakukan secara sederhana.



Rifaya baru saja melayani sang suami di atas ranjang, dia melihat bagaimana puas dan ganasnya seorang Karan Danuarta dalam hal ini. Namun dia tetap saja bersalah karena Karan mendapati dirinya yang tengah hamil anak orang lain. "Kenapa kau melamun hem? " tanya Karan.


"Mas Danu, apa kamu tidak menyesal menikah denganku mas, apalagi aku hamil bukan.. " ucapannya terhenti kala Karan membungkamnya dengan ciuman.


"Bayi dalam perutmu itu anakku sweety, jadi berhentilah membahas hal hal yang tak penting!


"Kenapa kamu baik sekali mas. " Rifaya merasa terharu dengan kebaikan dan ketulusan suaminya. Dia sentuh wajah suaminya kemudian di kecupnya singkat bibir Karan.


"Mas sentuh perutku deh, kayaknya calon anak kita senang di jenguk Daddynya. " ucap Rifa dengan antusias. Karan segera mendekatkan wajahnya, pria itu tersenyum lebar merasakan gerakan dari perut sang istri.


Karan mendekapnya dari samping, menciumi kedua pipi istrinya dengan lembut. Hidupnya berwarna semenjak Rifa hadir dalam kehidupannya. "Kita besarkan dia bersama sama sweety, aku ingin punya anak yang banyak darimu. " bisiknya.


"Iya mas aku setuju, sekali lagi terimakasih telah menerimaku apa adanya dan maaf aku belum bisa menjadi istrimu yang


sempurna. "


"Gak papa sayang, lagian aku cukup senang bisa mengunjungi calon anak kita tadi, nanti malam lagi ya. " Karan mengedipkan mata, Rifaya tampak tersipu melihat tingkah nakal sang suami.


"Mesyum. "


Rifaya membelai dada bidang suaminya, lalu di kecupnya singkat dan kembali bersandar di sana. Dia sangat bersyukur bisa bertemu pria sebaik Karan, mengingat masa lalunya rasa rasanya dia tak pantas bersanding dengan Karan.


"Yuk mandi sayang. " Karan langsung menggendongnya ke kamar mandi. Setelah tiga puluh menit mereka ke luar dan segera berpakaian. Keduanya ke luar kamar dan turun ke bawah. Rifaya mengulas senyumnya, dirinya begitu bahagia di perlakukan lembut oleh suaminya.


Drt


drt


Rifaya melihat nomor asing menghubungi dirinya, dia langsung mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo. " ucapnya.


"Hai sudah lama kita tak saling menyapa Rifaya. " sahut Dika dengan santai. Rifaya mendadak terkejut, ternyata Dika yang menghubungi dirinya saat ini.


"Buat apa kamu menghubungi aku Dika? " ketusnya dengan nada sinis. Terdengar suara kekehan membuat Rifaya semakin kesal.


"Tentu saja merindukanmu, merindukan percintaan panas kita hari itu. " Mengingat malam itu Rifaya segera memutusnya sepihak. Karan segera memeluk istrinya, pria itu mengumpat dalam hati akan kelakuan Dika yang menganggu Rifa.


"Mas, Dia menghubungi aku mas. " gumam Rifa dengan tubuh bergetar.


"Ada aku di sini, aku tak akan membiarkan dia menganggumu sweety! Karan memberikan pelukan hangatnya, menenangkan istrinya yang ketakutan. Rifa masih sakit hati akan penghinaan dan penolakan Dika padanya.


Di sisi lain Dika tertawa puas, dia sangat yakin jika saat ini Rifaya tengah ketakutan sekarang. Pria itu kembali menyesap rokoknya, memikirkan langkah selanjutnya untuk membayangi hidup Rifaya. "Aku sangat yakin dia telah mengugurkan janin itu. " ucapnya penuh keyakinan.


Rifaya terus mengusap perutnya, dia tak pernah menyalahkan janin dalam perutnya meski dirinya membenci Ayah kandung dari anak dalam kandungannya saat ini. "Sayang, mami takut. Apa sebaiknya kita pergi dari kota ini sayang agar ayah kandungmu tak menemukan kita. " gumam Rifa dengan lirih.


"Bagaimana dengan mas Danu, walaupun begitu dia suamiku sekarang. Dia telah berkorban banyak untukku dan calon bayi dalam perutku!


Rifaya hanya ingin hidup tenang tanpa di usik namun sebelum itu dia harus menemui Binar, meminta maaf padanya. Karan kembali, pria itu menemani istrinya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Dia melihat istri nya sudah tenang. membuat pria itu sedikit lega.


"Binar, isteri dari Bara Yuda? "


"Iya Mas. " jawabnya sambil mengangguk. Karan mengiyakan keinginan istrinya tanpa curiga sedikitpun.


"Kita berangkat sekarang sayang. " Mereka ke luar kamar setelah bersiap. Sebelumnya Karan mencari alamat tempat tinggal Bara dan Binar. Selama perjalanan Rifa lebih banyak diam, Karanpun membiarkannya.


Tok


tok


"Ada apa Nyonya? " tanya Maid.


"Kami ingin bertemu Nyonya Binar. " ujar Rifaya yang di persilakan masuk oleh pelayan. Keduanya menunggu di ruang tamu, tak lama Binar dan suaminya datang menemui mereka. Sebenarnya Binar enggan menemui Rifaya karena moodnya belum membaik.


"Ada perlu apa kamu ke sini, belum puas menganggu rumah tanggaku dengan Binar. " sahut Bara dengan nada datarnya.

__ADS_1


"Binar, Aku minta maaf atas sikapku kemarin padamu dan Bara, aku mengaku salah karena menganggu rumah tangga kalian. " sesal wanita itu.


"Pura pura menyesal huh, kami tidak


percaya. " sela Bara. Binar segera mencubit tangan sang suami sambil melototinya.


"Diamlah mas, kau juga salah kembali dengan wanita lain. Jika aku tidak tegas, aku yakin wanita itu akan menjadi duri selanjutnya dalam rumah tangga kita sama seperti Rifaya kemarin. " ketus Binar. Bara langsung diam, sindiran sang istri begitu menohok padanya. Rifaya tersenyum getir, sepertinya Binar masih sakit hati namun diapun cukup memakluminya.


Tersadar dengan ucapannya, Binar melirik kearah Rifaya sambil berkata. "Maafkan aku, tak seharusnya aku mengungkit hal kemarin, aku hanya terbawa suasana. " ucap Binar.


"Gak papa Bi, wajar jika kamu marah atas sikapku yang kemarin. Mana ada istri yang tak marah melihat suaminya di goda dan hendak di rebut wanita lain. " sahut Rifaya.


"Aku sudah memaafkanmu Rifaya, aku tidak ingin menyimpan kemarahan dalam hatiku. " jawab Binar dengan bijak.


"Terimakasih Bi, sekali lagi maafkan aku dan aku harap setelah ini kita bisa berteman. " timpal Rifa sambil tersenyum tulus. Binar mengangguk, perhatiannya tertuju pada perut bulat Rifa.


"Aku telah melewati semuanya Bi, mungkin karmaku karena menyakiti kamu dan Bara. Tapi aku sangat senang dengan kehadiran baby dalam perutku. " Rifaya tampak antusias mengatakan keadaan calon bayi dalam perutnya serta keadaan sebenarnya.


"Aku ikut senang melihat kamu menemukan bahagiamu Rifa, berbahagialah dan lupakan pria pengecut itu karena kamu sudah memiliki suami tampan. " ujarnya sedikit menggoda.


"Ehem. " Bara cemburu melihat istrinya memuji pria lain di depannya. Binar meliriknya sekilas lalu kembali menatap Rifaya, dia ingin membalas suaminya itu


"Sayang. " rengek Bara pada sang istri.


"Apa? " tanya Binar tanpa menoleh pada suaminya.


"Aku cemburu!


"Aku cuma bilang tampan aja kamu cemburu, apalagi aku yang menahan rindu dan memelukmu justru sakit hati saat kamu pulang dengan membawa wanita lain. " sindir Binar kesekian kalinya.


"Hah itu lagi itu lagi, sindir terus. " batin Bara kesal.


Rifaya dan Karan tersenyum canggung melihat pasangan di depan mereka itu tengah berdebat. Binar memilih mengajak Rifa mengobrol, moodnya semakin buruk jika melihat suaminya. Barapun memilih mengalah, membiarkan istrinya pergi bersama Rifaya.


"Jadi kau suami Rifaya? " tanya Bara membuka obrolan.

__ADS_1


"Ya. " jawab Karan singkat. Bara memilih membahas bisnis dan mengesampingkan masalah pribadi mereka, lagipula dia juga memaafkan Rifaya dan melupakan kejadian yang lalu.


__ADS_2