
Note : IKUTIN SAJA ALURNYA
"Kita harus menemui Jenny sekarang juga Winnie, dia saat ini perlu dukungan kita, mengingat bang Willy masih marah pada Jenny! jelas Jingga sambil menatap kearah Winnie.
"Ya sudah ayo kita pergi! Mereka berdua bangkit, berlalu pergi setelah pamit pada orang tua Senja. Winnie tancap gas, melajukan mobilnya kencang. Sementara Jingga berusaha menghubungi nomor Jenny namun tak aktif.
"Halo Edzard, katakan di mana kalian berada sekarang, aku dan Winnie ingin bertemu dengan Jenny. "
Tut Jingga mengakhiri obrolannya dengan Edzard, disimpannya kembali ke dalam tas. Raut wajahnya nampak khawatir, memikirkan keadaan sahabat mereka.
**
Jenny terdiam kaku melihat kehadiran kedua sahabatnya, Winnie dan Jingga bangkit, lalu menerjang tubuh sahabat mereka itu. "Kenapa kamu mesti malu sih Jen ketemu kami, aku dan Winnie tahu apa yang terjadi antara kamu dan Edzard karena tanpa kesengajaan. "
"Tapi Ji, abang Willy pasti sangat marah dan kecewa padaku, kamu tahu sendiri 'kan gimana posesifnya dia menjaga aku. " gumam Jenny dengan lirih.
"Kamu sabar ya Jen, kami akan mencoba bantu membujuk bang Willy. " sahut Winnie dengan bijak sambil melepaskan pelukannya begitu juga dengan Jingga. Jenny sedikit lega mendengarnya meski sebenarnya dia sangat ragu. Winnie dan Jingga kembali duduk di sofa, keduanya tengah mencari ide untuk membantu permasalahan Jenny dan Edzard.
"Jen, pokoknya kamu harus nikah sama Edzard, terima dia dan berbahagialah, mengenai si wanita munafik itu aku dan Winnie akan mengurusnya. "
"Tapi Ji kamu tahu aku bagaimana bukan, paling anti dengan namanya pelakor apalagi sampai merusak rumah tangga orang. " jelas Jenny sambil menghela nafas panjang.
Winnie dan Jingga saling melirik satu sama lain, kemudian mereka kembali memandang kearah Jenny. "Ya kami tahu diantara kita bertiga, meski usia kamu muda, kamu paling dewasa dan bijak. "
Jingga melirik jam tangannya sekilas, diapun berpamitan pada Jenny begitu juga dengan Winnie. Setelah kepergian kedua sahabatnya, Jenny kembali menjadi pendiam.
Jenny bangkit, menarik tangan Edzard lalu keduanya kembali ke ruang tamu. "Edzard, sebaiknya kamu kembali ke penthouse, Melisa pasti sangat mencemaskan dan merindukanmu. "
__ADS_1
Edzard hanya diam, dia mengamati gerak gerik dari Jenny, wanitanya. "Apa sebegitu tak nyamannya kamu Jen hingga kamu menyuruhku pulang!
"Bukan begitu Edzard, tapi Melisa lah yang berhak di dekat kamu bukan aku! tegas Jenny sambil tersenyum tipis.
"Oke, aku akan pergi sesuai keinginanmu! ujar Edzard dengan nada datarnya, bangkit dan berlalu pergi. Jenny menatap kepergian Edzard dengan tatapan tak bisa diartikan.
**
Di Penthouse
Melisa bangkit dan menghampiri sang suami, dia memegang lengan Edzard dengan erat. " Kamu kemana saja sih sayang, sejak kemarin aku menunggumu!
"Menungguku heh! seringai terbit di sudut bibir Edzard, dia tersenyum remeh kearah sang istri.
"Bukankah kemarin kamu menghabiskan waktu bersama partner ranjangmu Melisa! Melisa terdiam membeku, Edzard berjalan melewatinya dan pergi ke kamarnya di lantai atas.
skip di kamar
Dia melangkah gontai menuju ke kamar mandi. Sesaat kemudian selesai mandi dan berganti pakaian, Edzard menyambar ponselnya dan menyuruh bodyguard menjaga dan melindungi Jenny. Setelah selesai di taruhnya ponsel itu di atas meja, Edzard kini memikirkan keluarganya.
***
Malam harinya, Edzard ke luar dari kamar dan menuruni anak tangga, dia tak peduli dengan istrinya. Dia bergegas ke luar dari penthouse, Melisa merasa curiga dengan kepergian suaminya. Dia segera menghubungi Dexter, memintanya mengawasi kegiatan Edzard.
Empat puluh lima menit, akhirnya Edzard sampai di tempat tinggal Jenny. Dia bergegas masuk ke dalam, menghampiri Jenny di ruang tamu. Jenny bangkit, terkejut melihat kedatangan Edzard, dia hendak menyela namun Edzard membungkam bibirnya dengan ciuman.
Setelah ciuman mereka berakhir, Edzard segera menggendongnya ala bridal style. Dia membawa tubuh wanitanya menuju kekamar lantai atas, mereka masuk ke dalam.
__ADS_1
Edzard menyatukan tubuh mereka, dia bergerak dengan lembut dan berubah cepat. Jenny mendesahkan namanya membuat Edzard semakin bersemangat. Dia mengalungkan tangannya ke leher Edzard, menatap lembut pria yang bergerak di atasnya itu dengan pandangan sayu. "Emh oh emh Ed.. zard. "
Edzard tersenyum tipis kala wanitanya mendapatkan pelepasan yang kedua, dia kembali bergerak seirama dengan lembut. Ranjang ikut bergoyang akibat gerakan cepat mereka berdua, AC dalam kamar tak mampu meredam hawa panas di sekitar mereka.
Dua jam kemudian, kegiatan panas itu berakhir dengan tiga ronde. Edzard menjatuhkan dirinya ke samping, menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. Dengan lembut dia menghapus peluh di dahi Jenny, lalu melabuhkan ciuman di sana. Jenny segera mendusel ke dada Edzard, membuat menyembunyikan wajahnya. Edzard memeluknya, mengusap lembut punggung polos Jenny. "Edzard, jangan tinggalin aku apapun yang terjadi. " gumam Jenny.
"Iya sayang aku janji!
Tak lama terdengar suara dengkuran halus, Edzard menatap Jenny yang terlelap dalam pelukannya. "Maafkan aku Jenny, takdirlah yang menyatukan kita lewat cara seperti ini. Aku tak menyesalinya, mungkin bersama kamu, aku bisa bahagia dan memperbaiki segala sikap burukku selama ini. "
Cup Edzard mencium kening dan bibir Jenny sekilas kemudian berbisik. "Good Night my future wife! Setelah itu dia ikut memejamkan kedua matanya, dia sangat lelah setelah kegiatan mereka tadi.
***
Esok harinya Jenny terbangun, menoleh ke samping, memperhatikan Edzard yang tertidur sambil memeluknya. " Dia sangat tampan meski dalam keadaan tidur sekalipun tapi sayang suami orang!
"Ed bangun, sudah pagi ini! Jenny mengusap lembut rahang Edzard. Edzardpun terusik, lalu membuka kedua matanya dan bibirnya melengkung membentuk senyuman. Dengan cepat Edzard mengecup bibir Jenny, Jenny hanya berdecak melihat kelakuan Edzard.
Edzard menyibak selimutnya, dia bangun dan membopong tubuh Jenny ke kamar mandi. Satu jam kemudian mereka selesai berpakaian dan beres beres, keduanya langsung ke luar dari kamar. Jenny merasa tubuhnya luar biasa remuk, Edzard tadi meminta jatahnya lagi di dalam kamar mandi dan diapun terpaksa melayaninya.
Jenny mengaktifkan ponselnya, banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Willy dan kedua sahabatnya. Dengan cepat dia segera menghubungi nomor Winnie.
"Halo Jen, ada apa? "
"Win, bisakah kamu mintakan cuti sama dosen, aku lagi enggak enak badan! pinta Jenny.
"Istirahatlah Jenny, biar aku mintakan izin buat kamu enggak masuk kuliah. " Jenny menyudahi sambungannya, dia bisa bernafas lega karena sahabatnya itu sangat pengertian padanya. Edzard mengenggam tangan Jenny, meyakinkan semuanya akan baik baik saja.
__ADS_1
"Sayang kita hadapi ini bersama sama, aku tak akan membiarkan orang lain menghinamu termasuk Melisa! Jenny tersenyum tipis mendengar ucapan Edzard, keduanyapun sarapan berdua di meja makan.
bersambung