
"Sudah kenyang mas. " rengek Berlin pada suaminya, Daniel. Daniel menaruh piringnya, diusapnya perut bulat sang istri. Berlin mengulum senyumnya, mengusap kepala sang suami.
Berlin bersandar di bahu suaminya, Daniel terus mengusap perut sang istri. Pria itu menggenggam tangan istrinya erat, lalu mengecupinya berulang ulang. Berlin menahan senyumnya, menarik tangannya perlahan kemudian menangkup wajah sendu Daniel.
"Sudah mas jangan di ingat ingat lagi yang lalu, tersenyumlah dan lupakan hal buruk yang kau ucapkan kemarin. " Berlin menatap suaminya sambil tersenyum, wanita itu terlihat santai dan juga tegar tak seperti kemarin.
Daniel membawa Berlin ke pangkuannya, menyibak dress sang istri kemudian menyatukan tubuh mereka perlahan. Berlin menahan nafasnya, mendesah kala terjangan suaminya yang begitu dalam dan memabukkan. Pria itu menciumi dada wanitanya, lalu kembali ******* bibir manis Berlin.
Setelah hampir satu jam Daniel segera melepas penyatuan mereka, keduanya sama sama telah mencapai puncak kepuasan. Berlin tengah mengontrol dirinya, nafasnya masih memburu. "Maafkan aku sayang, maaf. " ucap Daniel dengan suara seraknya.
"Maafkan Papa sayang. " di kecupnya perut bulat sang istri di mana calon anaknya tengah tumbuh di dalam sana. Daniel segera membopong istrinya menuju ke kamar untuk beres beres.
Tak lama mereka turun, dengan posesif Daniel menuntun istrinya dan tak membiarkan istrinya ke manapun tanpa dirinya. Berlin hanya bisa berdecak pelan, tak ayal menuruti perintah suaminya. "Mas Daniel enggak ke kantor? " tanyanya sambil mengusap wajah suaminya.
"Aku sudah hubungi Farrel agar menggantikan aku sayang, aku ingin menemani kamu. " jawab Daniel.
"Kita ke rumah mami yuk mas, sekalian kita menginap bagaimana? "
Daniel mengangguk, keduanya ke luar. Pria itu menyuruh sopir untuk mengantarkan mereka. Berlin hanya bisa menggeleng pelan, melihat sikap protektif suaminya yang berlebihan menurutnya.
"Tiba di rumah sang mami, Berlin cepat cepat memeluk mami tercintanya dan tak lupa mencubit pipi Binar adiknya. Binar hanya mencibir kelakuan usil kakaknya itu, namun dia tetaplah senang akan kehadirannya.
"Wah wah kalian rupanya tengah berkumpul. " ujar seseorang. Mami Meira menatap masam kearah pria paruh baya itu, Binar terkekeh melihatnya.
"Pagi om Kenan. " sapa Binar.
"Pagi juga calon puteriku yang cantik. " ujar Om Kenan pada Binar sambil tersenyum, mengabaikan pelototan dari Mami Meira. Pria paruh baya yang masih gagah itu langsung duduk begitu saja, Dia terus menerus menatap mami Meira sambil mengedipkan matanya. Mami Meira menatap jengah pada pria tak tahu malu, sahabat mendiang suaminya itu.
"Mami aku pergi ke teras ya. " Binar bangkit di ikuti Berlin dan suaminya yang meninggalkan mami bersama Om Kenan. Wajah Tuan Kenan tampak serius kali ini, pria itu duduk di sebelah mami lalu digenggamnya tangan Mami Meira.
"Berilah aku kesempatan Meira, aku ingin bersamamu menemanimu sampai nanti. " ujar Tuan Kenan dengan wajah seriusnya.
"Kenan kita sudah tua, aku sebentar lagi punya cucu dan kau tahu alasanku kenapa tidak menikah lagi. " balas Mami Meira dengan halus.
__ADS_1
"Aku tahu tapi Berlin dan Binar sudah setuju tentang kita Mei, terutama Binar yang menginginkan sosok ayah untuk dirinya dan kamu. "
Meira terdiam, setelah beberapa saat wanita itu mengangguk akhirnya. Tuan Kenan tersenyum sumringah, pria itu langsung mendekapnya dengan erat. Mami Meira menikmati ciuman Kenan di kening serta bibirnya.
"Meski tua tua begini, aku masih bisa membuatmu lemas di atas ranjang Meira. " bisik Tuan Kenan dengan sensual yang mendapat cubitan oleh Mami Meira. Mami begitu malu mendengar ucapan Vulgar dari Kenan.
"Kau tahu Ken, setiap malam aku bermimpi Aiden datang dan memberitahu untuk melupakannya, kata dia aku perlu melanjutkan hidup dan mencari kebahagianku. Aiden juga kecewa sama aku karena aku selalu menangisinya saat aku sendirian. "
"Dengarkan kata kata Aiden Nyonya Galak, sekarang ada aku jadi jangan sedih lagi. " ledek Tuan Kenan.
"Dasar pria tua menyebalkan. " sahut Mami Meira kesal. Tuan Kenan justru tertawa, dia sangat suka membuat Meira kesal dan marah marah.
Dari jauh Binar melakukan tos bersama sang kakak, keduanya berhasil menjadi mak comblang bagi mami mereka dengan Tuan Kenan. Mereka bertiga kembali ke ruang tamu, memberikan selamat pada mami dan calon papi mereka.
"Selamat mami, papi. Papi Kenan berjanjilah, bahwa papi akan selalu membahagiakan mami. " ujar Berlin.
"Tentu saja Papi akan membahagiakan mami kalian, kalau perlu memberikan adik kecil untuk kamu dan Binar. " Tuan Kenan menaikturunkan alisnya menggoda kedua puteri sambungnya.
Berlin hanya tergelak, sedangkan Binar menggelengkan kepalanya. Mami Meira hanya bisa memutar bola matanya jengah,kesal dengan tingkah mesum Kenan yang tidak sadar diri. "Ingat umur Kenan, kau sudah tua. " ujar Mami sambil menjewer telinga tuan Kenan.
"Sudahlah Mami, kasihan papi lho, kesakitan itu. " ujar Binar sambil mengulum senyumnya, melihat tingkah lucu calon papinya itu. Mami Meira melepas jewerannya, melipat tangannya di dada.
"Aku sudah menyiapkan pernikahan sederhana sesuai keinginanmu honey. " ujar Tuan Kenan.
"Mami dan Papi pergi dulu sayang, kalian boleh menyusul ya. " Binar mengangguk, menatap kepergian mami dan papinya. Gadis itu segera menghubungi Bara, memberitahukan keberadaannya pada pria itu setelah itu bergegas menyusul kedua kakaknya.
Di sinilah mereka, Binar dan Berlin kini menyaksikan pernikahan sederhana Mami dan Papi barunya di gereja, sesuai keinginan Mami tercinta. Keduanya saling berucap janji, Tuan Kenan begitu bahagia setelah perjuangan panjangnya mengejar cintanya pada Meira, wanita yang kini menjadi istrinya. Sebelumnya Tuan Kenan sempat pergi ke makam mendiang sahabatnya, Aiden dan meminta izin padanya.
"Maaf jika kamu menunggu lama mas. " ujar Mami Meira pada Kenan, suaminya.
"Tak apa sayang, lagian aku paham sama perasaanmu. " ujar Tuan Kenan pada istrinya. Mami Meira merengkuhnya erat, pria itu membalas pelukan sang istri. Setelah acara menyematkan cincin selesai, kedua mempelai itu menghampiri kedua puteri mereka.
"Selamat mami, papi dan semoga kalian selalu bahagia. Binar sangat senang melihat Mami memiliki pendamping, setidaknya mami memiliki seseorang yang bisa menjaga mami selain aku dan kakak. "
"Terimakasih sayang, maaf karena keegoisan mami selama bertahun tahun, kamu tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang papa. " sesal Mami.
__ADS_1
"Sudahlah mami, aku tak apa! Binar kembali memeluk sang mami, lalu berganti memeluk papi barunya itu. Tuan Kenan menciumi kening dua puteri sambungnya secara bergantian. Setelah itu kembali merangkul sang istri tercinta.
"Ayo kita pulang. " mereka ke luar dari Gereja, masuk ke mobil masing masing. Selama perjalanan pulang, Mami Meira melirik kearah suaminya dan tak menyangka dirinya akan menikah lagi. Tuan Kenan menoleh, tersenyum pada wanita yang baru saja dia nikahi.Pria itu menggenggam tangannya erat, Lalu menciumnya singkat membuat Mami Meira mengulas senyum manisnya.
"Terimakasih mas, kamu begitu menyayangi kedua puteriku dengan tulus. " ucap Mami Meira.
"Berlin dan Binar puteri kita sayang, tentu saja aku menyayangi mereka. "
Visual Mami Meira dan Papi Kenan
"Sayang, aku sudah menyiapkan penthouse untuk kita tinggali, ya sekalian di sana bisa berbulan madu sayang. " ucap Tuan Kenan.
"Tapi Mas haruskah, mengingat umur kita.. "
"No problem sayang, kita jangan kalah dari Daniel dan Berlin. " kekehnya. Mami langsung tergelak mendengarnya, dia tak percaya jika suaminya ini tak ingin kalah dari menantu dan puteri mereka.
Keduanya turun dari mobil, berjalan santai memasuki mansion. "Aku sudah tak sabar membuat bayi dengan kamu sayang. "
"Hah Papi, awas Papi encok kamu kumat
nanti. " ledek mami berlari meninggalkan suaminya. Papi melongo, langsung mengejar istrinya dan terjadilah aksi kejar kejaran. Papi berhasil membopong mami, membawanya ke dalam kamar mereka.
"Dasar Papi. " gumam Berlin menatap kepergian orang tuanya. Daniel mengiringinya ke ruang tamu diikuti Berlian dari belakang.
"Haish jangan jangan papi dan mami mau memberikan adik untuk kita kak. " ujar Binar menatap kearah kakaknya.
"Biarkan sajalah, asal mami dan papi bahagia. Aku tak masalah punya adik bayi meski nanti aku juga punya bayi sendiri. " kelakar Berlin sambil terkekeh. Daniel langsung menciumnya, Binar yang melihatnya melotot horor.
"Yak kak Daniel, ada aku di sini hey. " protes Binar sang kakak ipar.
"Makanya cepat cari pasangan sana, biar enggak jomblo dek. " ledek Berlin yang diblas cibiran dari Binar.
tbc
__ADS_1