
MAAFKAN OTHOR YANG KEMARIN ENGGAK UP SOALNYA ENGGAK PUNYA KUOTA,🤣🤣
Like, vote dan komen yang banyak ya hehe
langit berubah gelap, di sertai hujan deras dan petir yang menggelegar. Meira datang membawakan secangkir kopi untuk Aiden di ruang tamu. Ya Aiden menginap di kediaman orang tua Meira, Meira sempat protes pada papanya namun papa Alan berpihak pada Aiden.
"Ini aku buatin kopi tanpa sianida ya. " Meira menaruh minuman itu di atas meja, Aiden menoleh kearah Meira sebentar.
"Kamu lagi ngapain? "
"Cek Email dari Dean, asistenku. " Aiden menutup laptopnya, menyesap kopinya secara perlahan dan menaruhnya kembali ke tempatnya. Dia melirik Meira yang sepertinya tengah kedinginan, pria itu bangkit dan mengambil selimut. Tak lama dia kembali, mendekap Meira dari belakang dengan selimut menutupi tubuh mereka.
"Apa masih dingin Mei? "
"Tidak, oh ya aku panggil kamu Bee aja ya. " celetuk Meira. Aiden mengangkat alisnya, Meirapun menjepaskan alasannya membuat pria itu paham.
"Terserah kamu Amor! Aiden semakin mengeratkan pelukannya, Meira merasakan hangat dan nyaman dalam pelukan Aiden. Keduanya masih mengenali rasa yang tengah mereka rasakan saat ini, masih dalam tahap menuju rasa yang sebenarnya.
Rasa kagum atau hanya sebatas nyaman sebagai teman entahlah.
Cinta, masih terlalu dini jika menganggap rasa asing itu sebagai rasa cinta.
Aiden menyibak selimutnya, membopong tubuh Meira ke dalam gendongannya. Dia tersenyum kecil, melihat Meira yang terlelap jatuh ke dalam mimpi indahnya. Pria itu segera membawanya menuju ke kamar gadis itu. Setelah itu dia kembali ke kamar tamu, mengistirahatkan dirinya di sana.
##
Minggu yang cerah ini Meira tengah menyiram berbagai bunga kesukaan mendiang mamanya. Gadis itu merawat bunga bunganya dengan suka cita, tak akan membiarkan bunganya layu. Dari belakang Aiden memperhatikan kegiatan Meira saat ini, gadis itu kini bersenandung kecil. Ya Aiden baru saja bermain catur dengan papa Alan, sedangkan si kecil Alana bermain di ruang tamu di temani pengasuh.
Ehem
__ADS_1
Meira menoleh, menaruh selang airnya lalu berjalan pelan kearah Aiden. Tatapan mereka bertemu, Aiden seolah tersihir dengan penampilan Meira yang begitu cantik Alami.
"Kamu selalu menyirami bunga bunga itu Amor? "
"Iya Bee, taman bunga ini di buatkan papa untuk mama sebagai salah satu bukti cintanya pada mama. Mama sangat menyukai bunga, terutama bunga mawar merah. " ungkap Meira dengan senyum megembang di bibirnya.
"Seandainya waktu bisa di ulang, aku ingin menemani mama di saat saat terakhirnya, membuat mama bahagia. " Mata Meira berkaca kaca, mengingat kejadian di mana mamanya meninggal karena penyakitnya.
Grep Aiden langsung memeluknya, dia juga bisa mengerti dengan perasaan Meira, karena nasib mereka sama. Sama sama kehilangan sosok ibu, bedanya Aiden memiliki saudara sedangkan Meira anak tunggal.
"Sst Amor tenanglah masih ada aku dan papa kamu! Meira menyusupkan wajahnya di dada bidang Aiden, meluapkan segala kesedihannya. Setelah tenang gadis itu menegapkan wajahnya, menatap lekat kearah Aiden. Aiden masih memeluknya dengan erat dan Meira langsung mengecup pipinya singkat.
"Terimakasih Bee, ternyata kamu bisa bijak juga ya hehe. " Aiden mencubit pelan hidung gadisnya, dia ikut tersenyum melihat Meira yang kembali ceria.
..."Aku tidak akan membiarkanmu bersedih lagi Meira!...
Aiden merangkul bahu Meira, mengajaknya kembali ke mansion utama. Meira tersenyum tipis, berjalan kearah Alana yang tengah bermain. "Lana, lagi main apa sayang? "
"Eh mami? "
"Iya Mami. kata opa, Alana harus panggil tante dengan mami dan om ganteng sebagai papi. " Meira langsung menoleh kearah papa Alan, pria paruh baya itu tergelak dan tersenyum tanpa dosa pada puterinya. Meira kembali mengusap kepala Alana dengan lembut, dia tak keberatan dengan panggilan mami padanya.
"Yuk Lana sayang, ikut mami. Kita beli pakaian dan mainan buat kamu sayang. Mau tidak hemm? "
"Mau Mami! Alana berlari ke kamarnya, tak lama gadis cilik itu kembali dan menggandeng tangan Meira. Setelah masuk mobil, Aiden langsung tancap gas, meninggalkan kediaman Meira.
Setibanya di pusat perbelanjaan Meira dan Aiden membawa Alana ke tempat pakaian anak anak. Di sana Meira memilih berbagai dress cantik untuk si kecil Alana, lalu mereka pergi ke toko mainan. Meira mengulum senyumnya, hatinya begitu bahagia melihat Alana bahagia.
"Mami aku suka bonekanya, terimakasih telah beliin Lana baju dan mainan. " ucap alana dengan tulus.
__ADS_1
"Iya sayang sama sama. "
Alana menatap kearah jauh, matanya berkaca kaca melihat seseorang yang dia kenal dan begitu dia rindukan. "Papa Ryan. " teriak Alana dengan keras. Ryanpun menoleh begitu juga dengan Velove, Alana berlari kearah mereka berdua. Gadis cilik itu langsung memeluk sang papa kandung.
"Alana kangen papa. " gumam Alana lirih.
"Papa juga kangen nak. " Ryan hendak menggendong puterinya namun Velove memcegahnya. Wanita itu tidak ingin calon suaminya memikirkan mantan istri dan anaknya itu.
"Dengar Ryan, aku tidak mau kamu berhubungan dengan Saras dan puterimu itu lagi. " geram Velove. Velove langsung mendorong tubuh kecil Alana, Meira dan Aiden berlari kearahnya. Aiden langsung menggendong Alana, menenangkan gsdis cilik itu yang menangis.
"Papi hiks, tante itu jahat. "
"Kamu enggak punya otak ya, beraninya sama anak kecil. " maki Meira emosi. Dia tidak terima atas perlakuan Velove pada Alana. Velove tersenyum sinis, melirik penampilan Meira dari atas sampai bawah.
"Kamu siapa hah, berani beraninya ikut campur dan di mana Saras? " ketusnya. Ryanpun meradang, melihat puteri kandungnya memanggil pria lain dengan sebutan papi, hatinya terasa panas dan tidak terima.
"Alana sayang, ayo sama papa nak. Papa adalah ayah kandung kamu. " bujuk Ryan dengan lembut. Alana mengeratkan pelukannya di leher Aiden, mendengar pengakuan Ryan kembuat Meira tersenyum sinis dan mengerti dengan kenyataan yang ada.
"Kamu tidak pantas di panggil papa tuan, puteri anda sendiri di berlakukan tidak baik dengan wanita murahan yang anda bawa itu dan anda hanya diam saja. " sarkas Meira. Ryanpun tsk biss berkata kata, pernyataan Meira sangat benar.
"Jaga mulutmu. " Velove melayangkan tangannya kearah Meira namun Aiden memcekalnya dan menghempasnya dengan kasar. Tatapan pria itu begitu tajam kearah Velove yang kini tengah ketakutan.
"Bee, ayo kita ke kasir setelah itu pergi dari
sini. " Meira sudah tidak tahan melihat Ryan dan Velove hanya akan membuatnya semakin emosi, apalagi Alana kini menangis ketakutan. Segera saja Aiden Meira pergi dari sana setelah membayar barang belanjaannya.
Ryan menatap kepergian Aiden Meira dengan tatapan penuh amarah, tangannya terkepal kuat. Dia tidak akan membiarkan puterinya berada di tangan orang asing, Velove yang melihat reaksi Ryan tersenyum licik. "Sebaiknya kita pikirkan cara untuk merebut hak asuh Alana sayang!
"Kamu benar Ve, ayo kita pergi! Velove merangkul lengan sang kekasih setelah itu pergi dari sana. Sepertinya wanita licik itu tengah memikirkan rencana untuk mekbalas Meira dan Aiden.
__ADS_1
tbc