
Dua hari setelahnya, Sherry merasa lega setelah bertemu mommy dan daddy meski harus berdebat dengan Adrian. Dia merasa terlalu banyak menyusahkan keluarga Adhitama, karena dirinya hanya orang asing.
Saat ini dia dan Moza menghadiri pesta, tanpa sengaja manik matanya melihat sosok Adrian datang bersama seorang perempuan.
"Za aku ke toilet ya. " bisik Sherry pada sahabatnya.
"Ya sudah sana. " Moza mengangguk, Sherry segera pergi dari sana. Adrian tanpa sengaja melihat kepergian Sherry, pria itu segera menyusulnya.
"Hatiku sakit melihat kak Adrian bersama wanita lain. " gumam Sherry lirih. Sherry segera mencuci wajahnya, lalu ke luar dari toilet. Terkejut melihat sosok Adrian berdiri tak jauh darinya, Adrian datang dan merapatkan tubuh mereka.
"Sepertinya hidupmu begitu tenang dan bahagia. " ujar Adrian sinis. Sherry hanya diam, dia berusaha melepaskan diri dari Kungkungan Adrian.
"Kak, menjauhlah dariku dan ingat kakak sudah punya tunangan. " ujar Sherry. Gadis itu mengeliat kala tangan Adrian membelai pahanya. Adrian mengabaikan ucapannya, dengan sorot matanya yang tajam menatap lekat wajah Sherry.
"Kak Adrian umh. " Adrian membungkamnya dengan ciuman panas dan liar, Sherry awalnya terkejut namun tak lama terbuai dengan ciuman Adrian. Adrian melepaskan ciumannya, nafas Sherry tersengal sengal.
"Aku menginginkan kamu Sherry, menginginkan kamu sebagai pemuas nafsuku!
Plak Sherry begitu marah dengan ucapan Adrian, dia tak terima Adrian menganggapnya murahan. "Kakak boleh saja membenci dan memakiku, tolong jangan menghinaku lagi dan anggap saja kita tak saling mengenal. " Sherry berlalu pergi dengan rasa sakit hatinya.
Adrian hanya diam menatap kepergian Sherry, lalu menghela nafas panjang dan segera kembali ke pesta. Sherry menekan rasa sesak dalam dadanya mengingat ucapan Adrian.
"Sherry. "
Sherry menoleh, tersenyum melihat kehadiran Rayden, teman lamanya. Rayden merasa ada yang tak beres dengan Sherry, pria itu segera memeluknya. "Kamu kenapa Sherry? " tanya Rayden mendengar suara isak tangis dari Sherry.
Tak mendapat jawaban, Rayden memilih diam. Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap tajam, penuh amarah kearah mereka berdua. Adrian tak suka melihat Sherry di peluk pria lain. Setelah tenang Rayden melepaskan pelukannya, Sherry segera menghapus air matanya kasar. Menghela nafas dalam dalam lalu menghembuskan nafas perlahan. "Aku hanya kecewa dengan diriku sendiri Ray, kenapa aku begitu lemah!
"Iya Lemah, kenapa hatiku mudah sekali jatuh cinta pada Adrian, berkali kali pria itu mengatakan kata kata kasar padanya. " batin Sherry miris.
"Udah jangan nangis lagi, wajahmu tambah jelek nanti. " kelakar Rayden dengan tawa meledeknya. Sherry merengul sebal, memukul dahi temannya itu. Tawa keduanya terdengar di tengah ballroom hotel, Adrian semakin mengepalkan tangan melihat Sherry tertawa bersama pria lain.
__ADS_1
Catherine yang merasa di abaikan Adrian hanya bisa mengumpat. "Sayang, apa sih yang kamu lihat sejak tadi. " rengeknya dengan manja.
"Cath, pulanglah lebih dulu, aku ada urusan sebentar. " pinta Adrian dengan nada datar nya. Catherine hendak bersuara namun tatapan tajam Adrian mencintaimu dari nya, membuatnya urung. Gadis itu pergi dari hotel dengan kekesalan di hatinya.
pukul delapan pesta itu baru usai, Adrian menyusul Sherry yang ke luar bersama Rayden. Sherry melambaikan tangan, menatap kepergian Moza dan Rayden.
Tin
tin
Sherry menoleh, dia abai dan memilih jalan kaki. Dia masih sangat marah dan kecewa dengan sikap Adrian padanya. Adrian tak menyerah, pria itu terus mengikutinya. Merasa tak sabar, Adrian mendorongnya ke mobil, melajukan roda empatnya dengan kencang.
Bukan kearah apartemen Moza namun Adrian justru membawanya ke pantai. Sherry hendak bersuara namun dia urungkan, malas berdebat dengan Adrian. Keduanya turun dari mobil, berdiri di tepi pantai. Adrian memeluk pinggang Sherry dengan posesif sambil berkata. "Aku tak suka melihat kamu tertawa dengan pria itu Sherry!
"Tidak seharusnya kita kayak gini Adri, kau sudah punya Catherine!
"Aku tak peduli Sherry! Adrian kembali menciumnya, kali ini dengan penuh kelembutan, Sherry membalasnya. Bintang dan bulan menjadi saksi dua insan yang tengah melepas rindu itu.
"Terima aku Sherry please, aku akan membantumu mencari kedua orang tua kandungmu!
"Tapi bagaimana dengan Chaterine Adri? "
"Sebenarnya aku dan Cath bukan sepasang kekasih, Cath begitu terobsesi padaku dan selama ini aku mengawasi pergerakannya!
Jujur Sherry terkejut, dia mengangguk sebagai jawaban. Sherry juga mengatakan alasannya keluar dari keluarga Adhitama, mengucapkan maaf pada Adrian.
"Ayo pulang ke penthouseku, mulai sekarang kau tinggal bersamaku baby! Sherry memekik kala tubuhnya melayang dalam gendongan Adrian. Keduanya pergi meninggalkan pantai, raut wajah keduanya begitu bahagia.
"Eungh. " Sherry mendesah, meremas rambut Adrian. Pria itu sibuk mencium belahan dada gadisnya, ya saat ini Sherry mengenakan gaun seksi. Adrian menyudahi kegiatannya itu, menatap lekat wajah sang kekasih. Sherry tampak mengulum senyumnya, tangannya membelai dada bidang Adrian.
"Aku akan menunggu kita menikah dulu, setelah itu aku akan menerkam kamu dengan buas, hingga tak bisa berjalan. " Sherry menelan salivanya, melihat seringai menyebalkan sang kekasih. Adriane
__ADS_1
mengusap paha mulus kekasihnya dengan sensual, sebenarnya hasratnya kini tengah melambung tinggi namun dia terpaksa memukul mundur hasratnya.
Melihat tatapan tak biasa dari kekasihnya, membuat Sherry paham. "Sudah malam sayang, sebaiknya kita istirahat!
Sherry turun dari pangkuan Adrian, mereka pergi ke kamar masing masing.
#
Paginya Sherry tengah memasak di dapur, sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Gadis itu mengulas senyumnya, mematikan kompor lalu berbalik. "Pagi baby. " ujar Adrian setelah mencium bibirnya.
"Pagi juga sayang!
Adrian menciumnya dalam, pria itu merapatkan tubuh mereka. Sherry mengakhirinya, tangannya menyentuh dada bidang Adrian. Saat ini Adrian bertelanjang dada, hanya memakai celana panjang.
"Ssst. " Adrian menikmati sentuhan tangan mungil Sherry yang berpetualang di dadanya. Ingin sekali dirinya menerkam Sherry namun belum bisa.
"Biarkan aku melanjutkan acara memasakku sayang! Sherry segera melanjutkan apa yang tertunda tadi, selesai memasak gadis itu menyiapkan semuanya di meja makan di bantu Adrian. Mereka sarapan bersama, Sherry menyuapi Adrian begitu sebaliknya. Selesai sarapan Adrian kini menyuapinya dengan buah anggur, dia segera menempelkan bibirnya.
"Umh. "
"Manis sayang!
Pipi Sherry bersemu merah, Adrian terkekeh melihat rona merah di pipi sang kekasih. Drt det Adrian merogoh ke dalam saku, mengambil ponselnya lalu berdecak melihat nama Catherine. Dia menatap kearah Sherry, Sherry mengangguk kecil. Dengan terpaksa Adrian mengangkat teleponnya.
"Ya Cath, ada apa? " tanya Adrian tanpa basa basi.
"Dri, bisa temani aku di hotel. " jawab Catherine dengan manja.
"Maaf Cath, aku tak bisa. Lagipula kenapa fi hotel, memangnya kau sakit? " tanya Adrian curiga. Sambungan terputus begitu saja, Adrian dan Sherry saling melirik satu sama lain.
"Sepertinya Catherine merencanakan sesuatu untukmu Adrian. " tebak Sherry menyampaikan apa yang dia pikirkan.
"Sudah baby, jangan pikirkan dia. Aku masih ingin bermesraan sama kamu. "
__ADS_1