Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
JMC PART 16 - KEPERGIAN LILY


__ADS_3

Hari ini Lily di bawa ke rumah sakit, dia mengalami pendarahan. Setelah hampir beberapa jam, para dokter yang menanganinya segera keluar dan memberi tahu Ryan. Lily harus kehilangan janin dalam perutnya, di sebabkan oleh stress yang berlebihan, apalagi kemarin dia sempat bertemu Darren. Ryan saat itu melihatnya bertengkar dengan Darren lalu membawanya ke rumah sakit.


Cklek Ryan masuk ke ruangan rawat Lily, dia memperhatikan pandangan Lily yang terlihat kosong. Pria itu berjalan kearahnya hingga berdiri di hadapan Lily. Dia genggam tangan Lily dengan lembut sambil berkata. "Kamu yang sabar ya Ly, kamu harus tetap kuat. " ujar Ryan.


Ryan membawa Lily ke dekapannya, dia merasa kasihan dengan wanita dalam pelukannya saat ini. Lily hanya diam, wanita itu masih syok akan apa yang terjadi pada dirinya. "Aku gagal menjaga janinku mas Ryan, aku gagal. " gumam Lily dengan nada penyesalannya.


"Sut tenang Ly, kamu harus merelakannya dan melanjutkan hidupmu. "


Dua bulan kemudian


Lily sudah melupakan kejadian kemarin, kini wanita itu tengah bermain bersama Alana di rumah Ryan. Tawa keduanya terdengar, Ryan yang datang langsung mengulum senyumnya.


"Bunda, kapan bunda menikah dengan papa? " ucap Alana.


"Eh em itu. " Lily merasa bingung dengan jawaban yang harus dia berikan pada bocah manis itu. Ya Alana kini memanggil Lily dengan sebutan bunda, Meiralah yang memberitahunya sehingga Lily tak bisa menolak. Wanita itu melirik kearah Ryan yang kini tersenyum miring padanya.


"Alana sayang, bunda akan menikah dengan ayah bulan depan. " sahut Ryan enteng.


Lily langsung melototinya, Ryan terkekeh melihat reaksinya.


"Yeay, benarkah bunda? "


"Huum sayang. " Alana berjingkrak, gadis manis itu berlari ke kamarnya, meninggalkan dua orang dewasa yang kini akan berperang adu mulut eheheh..


"Kenapa mas Ryan berbicara seperti itu, kamu seakan memberi harapan pada Alana yang nantinya akan menyakiti hatinya. " protes Lily.


"Apa kau tidak mau menikah denganmu Ly? "


"Tidak, aku tidak ingin di bohongi oleh lelaki mas, dan kamu tahu alasanku apa. " Ryan menghela nafas berat, wajahnya nampak kecewa hal itu disadari Lily tentunya.


"Aku dulu memang brengsek Lily dan aku tahu masa laluku begitu kejam, aku berusaha menjadi lebih baik demi Alana dan KAMU. " pungkasnya penuh penekanan. Ryan jatuh cinta pada Lily yang bersikap lembut selama ini padanya dan juga Alana, dia tahu jika Lily begitu sayang pada puterinya.

__ADS_1


Dia tidak mempedulikan masa lalu Lily, karena dirinya juga memiliki masa lalu yang lebih mengerikan.


"Maaf mas aku tidak bisa, aku tidak pantas untuk kamu. " ucap Lily memelankam suaranya.



Ryan meraih dagu Lily, menatap lekat wanita pujaannya. "Aku sungguh sungguh padamu Ly, jika aku mempermainkanmu, kamu bisa menusukku dengan sebilah pisau. "


Lily membekap mulut Ryan, dia tidak ingin mendengar penuturan Ryan yang begitu menusuk hatinya. Ryan tersenyum kecil, pria itu mengecup telapak tangan Lily, membuat Lily menarik tangannya cepat.


"Tapi mas aku bukan wanita suci lagi. "


"Aku tidak peduli, aku ingin menikah denganmu karena aku jatuh cinta padamu, bukan karena kesucianmu. " tegas Ryan.


Lily begitu terharu mendengarnya, dia merasakan kesungguhan Ryan terlihat dari kedua manik kelam pria itu. Namun dengan cepat memalingkan wajahnya, dia tak boleh luluh begitu saja.


"Baiklah aku tak akan memaksamu Lily, tapi bagaimana dengan Alana, dia sangat berharap banyak sama kamu. " ujar Ryan.


"Sudahlah, lupakan saja ucapanku tadi. " Ryan bangkit, berlalu pergi meninggalkan Lily sendirian.


##


Mereka bertiga dinner bersama. Lily nampak diam mendengarkan obrolan sepasang ayah dan anak tersebut. Entahlah apa yang dipikirkannya saat ini, di tambah sikap Ryan yang kini bersikap dingin padanya, berbicara seperlunya saja saat mereka hanya berdua.


"Aku sudah terlalu merepotkan mas Ryan selama ini, apa aku pergi saja ya dari sini besok. " batin Lily.


"Antarlah Alana ke kamar mas, biar aku yang bereskan. " Ryan pergi membawa puterinya tanpa mengatakan apa apa. Lily memghela nafas pelan, segera mencuci piringnya di dapur, setelah itu pergi ke kamarnya. Wanita itu langsung beristirahat setelah berkemas kemas.


##


Pagi pagi buta Meira dan Aiden datang, menjemput si kecil dan mengajaknya piknik. Alana sudah berpamitan pada bunda dan papanya, hal itu menjadi kesempatan untuk Lily pergi. Wanita itu menarik kopernya buru buru menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Tunggu. "


Langkah Lily terhenti, Ryan berjalan ke arahnya dengan penampilan santainya. Pria itu nampak menahan amarahnya melihat Lily yang membawa kopernya. "Kau mau pergi, iyakan? "


"Iya. "


"Setelah kamu memberiku dan Alana perhatian hingga tumbuh rasa itu di hatiku, seenaknya kamu mau pergi Lily. " geram Ryan.


"Maafkan aku mas!


Ryan mencekal tangan Lily dengan kuat, membuat wanita itu meringis. "Mas, sakit lepaskan tanganku. "


Pria itu melepaskan cekalan tangannya, raut wajahnya masih terlihat begitu marah sekaligus kecewa pada Lily. Lily ikut merasakan sakit melihat Ryan yang begitu frustrasi, tak di pungkiri dirinya telah terjatuh pada pesonanya. Namun dia memilih berbohong, dia tak ingin merepotkan Ryan lagi setelah selama ini pria itu membantunya bangkit dari keterpurukan.


"Jika itu keputusanmu, maka pergilah! Raut wajah Ryan tampak datar dan dingin, menatap kearah Lily.


"Aku pergi mas, jaga dirimu dan Alana baik baik. " Lily berbalik, melangkahkan kakinya ke luar dari mansion milik Ryan. Ryan menatap kepergiannya dalam diam, dia tak berniat mencegah kepergian Lily.


"****. " Ryan berlari ke luar, terlambat taksi yang ditumpangi Lily telah melesat jauh. Diapun mengepalkan tangannya, meninju pintu yang ada di belakangnya.


"Kenapa kau tidak memikirkan perasaan Alana, Lily. " geram Ryan. Ryan tidak bisa membayangkan, bagaimana jika puteri kecilnya tahu jika bunda tersayangnya pergi. Memikirkan hal itu, membuat dadanya terasa nyeri dan sesak.


Lagi lagi dia gagal mewujudkan keinginan puteri kecilnya, dia tak pantas di panggil papa oleh Alana. Pria itu kembali masuk ke dalam, dengan langkah gontai Ryan berjalan menuju ke lantai atas.


Kini Lily berada di sebuah rumah yang letaknya dipinggiran kota, dia menatap sendu foto Alana yang berada dalam genggamannya. "Maafin bunda sayang, bunda pergi tanpa izin sama kamu. Bunda sayang banget sama Alana, bunda harap Alana bahagia sama papa. "


Dada Lily begitu sesak jika memikirkan gadis cilik itu yang dianggap seperti puterinya sendiri.


Alanalah selama ini yang menjadi pelipur laranya saat dirinya dalam keterpurukan, beberapa waktu lalu. Keputusan ini memang berat, namun dia harus memilihnya karena jika dirinya menerima Ryan, aku yakin akan banyak orang yang akan menjatuhkan Ryan. Dia tak mungkin membiarkan itu terjadi, apalagi bagaimana pandangan orang tua Ryan padanya.


"Maafkan aku mas Ryan, kamu boleh membenciku seumur hidupmu setelah itu berbahagialah walau tanpa aku. " gumam Lily dengan lirih.

__ADS_1


tbc


__ADS_2