
"Morning hubby!
Bara tersenyum lebar,dikecupnya bibir sang istri tercinta. Binar tersenyum menatap wajah pria yang kini menjadi suaminya.
"Morning too istriku!
"Aku mandi dulu ya mas. " Binar langsung turun dan pergi ke kamar mandi. Bara mengambil ponselnya, mengerutkan kening membaca pesan dari Rifaya.
"Aku harus cari tahu. " gumam Bara pelan.
Satu jam berlalu Binar ke luar dan segera berpakaian, dia menghampiri suaminya yang melamun. "Mas Bara. " panggil Binar dengan lembut.
"Eh iya sayang, mas mandi dulu dan kalau kamu mau turun, turun aja dulu. " Bara bangkit, pergi meninggalkan istrinya yang menatapnya heran. Binar hanya mengedikkan bahunya, gadis itu ke luar dari kamarnya dan menuruni tangga.
"Bara mana sayang?" tanya Nyonya Aditama pada menantunya.
"Mas Bara lagi mandi Mom. " jawabnya sambil tersenyum, Binar beralih memperhatikan puteranya yang makan dengan lahap. Tak lama Bara datang dan bergabung bersama mereka.
Selesai sarapan mommy dan daddy berpamitan pada putera dan menantunya, mereka membawa serta cucu tampan mereka untuk sementara. Bara dan Binar memilih bersantai di dekat kolam renang, Binar tampak duduk di pangkuan sang suami. Gadis itu melepaskan kancing dress bagian depannya, lalu terpampanglah dua bulatan kenyal yang terbalut pakaian dalam terpampang di hadapan Bara. "Mainin ini mas, maaf ya sayang aku belum bisa melayani kamu. "
Bara segera melepas pengait braa milik istrinya lalu menaruhnya di bawah. Pria itu segera menyesapnya dengan rakus, Binar mengeliat geli, tangannya meremas rambut suaminya. Sementara tangan kanannya kini tengah bermain dengan chocochipsnya itu. Binar mendekap kepala sang suami agar tetap berada di bawah dagunya.
Bara mengakhiri kegiatannya itu, dia langsung memperbaiki penampilan istrinya yang setengah polos di bagian atasnya. "Kau mau honeymoon ke mana sayang? " tanya Bara tiba tiba pada sang istri.
"Em bagaimana kalau Maldives!
__ADS_1
"Okey, kita berangkat setelah tiga hari lagi. " lanjut Bara sambil mengulas senyumnya. Binar mengangguk, dia menuruti keinginan sang suami tercinta. Bara mengulum senyumnya, tangannya terangkat dan mengusap wajah cantik Binar. Binar mengambil ponselnya, terlihat nama sang kakak memenuhi layarnya.
"Halo kak Berlin, ada apa? " tanya Binar lembut.
"Lihatlah di sosial media Bi. " ujar Berlin dengan nada paniknya. Binar buru buru melihat topik trending di sosial media, gadis itu begitu terkejut setelah membacanya.
"Siapa yang menyebarkan gosip seperti ini. " gumam Binar dengan tubuh bergetar. Bara merebutnya dan melihat berita di sosial media mengenai Binar. Binar menoleh kearah sang suami dengan sorot mata sendunya.
"Aku bukan pembawa sial mas, bagaimana bisa gosip ini menyebar begitu cepat. "
Bara menaruh ponselnya, buru buru menenangkan sang istri yang tengah terkejut. Dalam hatinya dia mengumpati pelaku yang menyebar gosip murahan tersebut. Binar mendorong tubuh suaminya, air matanya luruh seketika. "Aku bukan pembawa sial mas, aku bukan penyebab daddy Aiden pergi untuk selamanya. " elak Binar dengan nada putus asa.
"Jangan dengarkan gosip murahan itu sayang, kamu bukan pembawa sial. " Bara bangkit, berusaha menenangkan sang istri namun Binar menepisnya. Gadis itu berlari ke luar sambil menangis, Bara langsung mengejarnya ke luar.
Selama di dalam taksi, Binar terus menangis dan kembali menyalahkan dirinya sendiri. Dia seperti trauma tentang kelahiran dirinya yang menyebabkan kehilangan sosok sang daddy. Dari belakang diam diam Rifaya mengikutinya, sepertinya gadis itu belum puas mencari masalah dengan Binar. Binar menepuk dadanya yang terasa sesak, hatinya kembali sakit jika mengingat kepergian sang daddy.
"Aku sudah melihat kabar mengenai kamu, ternyata kamu tak lebih seorang pembawa sial bagi keluargamu sendiri ya. " ucap Rifaya sambil tersenyum miring.
"Apa kau tak pernah berfikir kehadiranmu hanya akan merusak hidup orang lain terutama keluargamu dan Bara. Jika itu terjadi pada Bara kelak, bukankah itu akan sangat sangat mengerikan dan tidakah kamu kasihan pada Bara Bi!
"Cukup hentikan. " geram Binar pelan.
"Oh ayolah kau jangan egois, jangan sampai kau menyesal nantinya setelah Bara mendapat kesialan berada di sisimu. " Rifaya tersenyum licik, sepertinya dia berhasil mempengaruhi Binar dan dia sangat tahu jika Binar dalam keadaan rapuh sekarang.
"Yang perlu kau lakukan adalah pergi dari hidup Bara sekarang juga!
"Aku bilang hentikan sekarang juga. " teriak Binar dengan keras setelah itu memilih pergi dari sana dengan buru buru. Rifaya menatap kepergian Binar dengan senyuman merekah di bibir. Dia tak menyangka rencananya akan berhasil seperti ini, membuat hidup Binar hancur berantakan dan hubungan rumah tangga Binar dan Bara renggang secara perlahan. Rifaya memilih pergi sebelum Bara datang ke sini, dia tak ingin Bara menemukan keberadaannya dan marah besar.
__ADS_1
Binar terus terngiang dengan pernyataan Rifaya barusan, gadis itu terus menangis tanpa henti. Kini dia berada di salah satu apartemen milik keluarganya yang letaknya tak jauh. Binar memang tak membawa ponsel hingga Bara tak bisa menghubungi dirinya.
"Aaa aku pembawa sial hiks. " gumam Binar dengan lirih. Tubuh Binar merosot ke lantai, gadis itu menguncinya dari dalam. Binar menepuk nepuk berusaha menghilangkan rasa sesak dalam dadanya.
"Seharusnya aku enggak hadir di hidup mas Bara!
Binar menunduk, di pandangi cincin pernikahannya dengan Bara yang melingkar di jarinya. Lagi lagi rasa sesak kembali hadir, gadis itu mengusap wajahnya kasar dan bingung harus berbuat apa sekarang. Di satu sisi dia sangat mencintai suaminya itu namun di sisi lain dia tak ingin suaminya mendapatkan kesialan darinya.
"Mas Bara hiks. "
Di sisi lain Bara mengumpat kesal, dia kehilangan jejak istrinya. Dia mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Binar. Dia juga menghubungi orang tuanya dan Galen sepupu sang istri dan mengatakan kejadian sebenarnya mengenai gosip itu.
"****, sayang kamu ke mana, mas khawatir sama kamu. " gumam Bara dengan raut paniknya. Pria itu begitu panik dan takut jika sang istri berbuat nekat. Dia kesulitan mencari Binar mengingat istrinya tak membawa ponsel saat pergi. Bara memukul stirnya kuat, mengusap wajahnya kasar dan merutuki kebodohannya yang gagal menjaga Binar.
"Ah sialan!
"Kau bukan pembawa sial sayang, mas mohon pulanglah karena mas enggak bisa hidup tanpa kamu. " jerit Bara frustrasi. Melihat istrinya yang rapuh membuat hatinya begitu sakit, kini kepergian istrinya membuat hidupnya terasa hampa. Bara kembali melajukan roda empatnya, mengemudi dengan kencang. Bara menghela nafas kasar, dipandanginya cincin yang tersemat di jarinya.
"Sayang mas tak akan membiarkan kamu pergi dari sisi mas. " gumam Bara kemudian fokus ke depan. Dia tak akan menyerah, mencari keberadaan istrinya hingga dapat. Selama pencarian Bara seringkali mengumpat kasar karena sering terjebak macet, membuat rencananya mencari istrinya sedikit terhambat.
"Maafkan aku sayang, maaf. Aku gagal menjaga dan melindungi kamu. "Bara segera menghubungi Farrel asistennya.
"Farrel, cepat redam gosip murahan di seluruh sosial media, lalu cari tahu siapa yang menyebarkan gosip murahan hingga membuat istriku pergi. " geram Bara.
"Baik Tuan. " Bara menyimpan ponselnya dan kembali fokus menyetir.
tbc
__ADS_1