Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Epson 60 - GAK PEKA TAPI SAYANG


__ADS_3

Ada bawangnya sekilo gaes wkakka


Hah gitu doang?


Maya melongo atas ucapan Rega barusan, dia tak menyangka om tua di depannya mengajaknya menikah namun tak ada cincin dan kata kata romantis.


"Enggak jadi aja deh Om nikahnya. "


"Lho kenapa Maya? "


Maya mendengus kesal, selain kaku dan menyebalkan om tua di hadapannya ini memang benar benar gak peka sama sekali.


"Mana cincinnya dan kata kata romantisnya om, masa iya nglamar anak orang gak pake cincin hadeh. " pekik Maya dengan raut jengkelnya.


Rega menggaruk tengkuknya yang tak gatal, apa yang di katakan Maya ada benarnya. Maya mendengus kesal, lalu turun dari mobil Rega dan berjalan sambil menghentakkan kakinya, melampiaskan kekesalannya. Rega segera turun dan menyusul calon istri kecilnya itu, grep dia menahan tangan Maya. Maya menoleh dan menatap kesal kearah Rega.


"Apa? " ujarnya dengan nada galak.


"Besok kita cari cincinnya oke, jangan marah ya Maya. " rayu Rega sang pria kaku. Maya langsung menahan nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia mengangguk kecil, Rega bernafas lega dan langsung membawa kedalam rengkuhannya dada bidangnya.


Maya membalas pelukan Rega dengan erat, meski kesal nyatanya dia sayang sama si om tua yang masih gagah perkasa ini. Rega melepaskan pelukannya, lalu mereka masuk ke dalam rumah. "Ibu, Maya pulang. " ucapnya setengah berteriak.


Maya menaikkan sebelah alisnya, sepertinya rumahnya kosong, lalu di mana ibunya berada pikirnya bingung. Diapun membawa Rega ke ruang tamu, duduk di sofa dan Maya langsung mengeluarkan ponselnya yang dibelikan oleh Rega.


"Halo bu, ibu ada di mana? "


(..........)


Maya menutup sambungannya, dia menghela nafas kasar. Ternyata Ibunya berada di rumah Kevin, kakaknya. Rega mengenggam tangan Maya dengan erat, dia menatap lekat wajah calon istrinya. "Mungkin Ibu di sana ada keperluan Maya, kamu jangan sedih ya!


" Iya Om!


Hah Maya kembali menghela nafas panjang, dia sudah terbiasa dengan sikap ibunya. Sejak kecil ibunya itu selalu membanggakan abangnya Kevin, sedangkan dirinya selalu saja di sindir enggak bisa apa apa. Tangan kanan Rega mengusap punggung Maya dengan lembut, Maya menoleh dan berhambur ke dalam pelukan Rega.

__ADS_1


Ternyata kamu gadis yang rapuh ya Maya!


Maya menangis dalam diam, dia mengeratkan pelukannya di tubuh Rega. Setidaknya dia masih punya Rega yang selalu ada untuknya, meski setiap saat mereka berdebat hanya karena hal sepele. Sesaat kemudian Maya melepaskan pelukannya, dia sudah merasa baikan. "Sebentar ya Om, aku buatin minuman dulu. " Mayapun bangkit dan langsung pergi ke dapur, Rega menatap kepergiannya dengan raut cemas.


15 menit berlalu


Maya kembali dan menaruh dua minuman di atas meja, dia kembali duduk di sebelah Rega. Dia tampak kembali ceria seperti pertama kali, Rega memperhatikannya dengan intens.


"Oh ya Maya, apa kamu dan kakak laki lakimu tidak dekat? "


"Enggak Om, buat apa aku dekat dengan abang Kevin, toh di mata Ibu aku hanya anak yang tak berguna. Ibu hanya membanggakan abang di hadapan teman temannya, tidak denganku. " jelas Maya sambil tersenyum santai.


Rega terdiam, dia melihat jelas ada kesedihan di bola mata Maya, namun Maya sangat jelas sekali berusaha menutupinya dengan rapat. Diapun menyesap kopinya perlahan, sesekali mencuri pandang kearah gadis kecil kesayangan nya itu.


Selesai minum, Rega mengambil ponselnya dan mengirim chat pada bossnya, Zayn.


From Rega


Boss, aku minta bantuan sama boss dan Nyonya untuk menyiapkan kejutan untuk Maya


"Sayang kok Maya!


" Kalau cinta? "


"Ya Cinta." balasnya singkat. Maya mendengus keras, pria tua di hadapannya memang super duper gak peka dan sangat menyebalkan. Rega menahan tawa, melihat raut kesal di wajah Maya. Dia sebenarnya tahu apa yang di maksud oleh calon istrinya itu.


"Om gak peka banget jadi laki laki. " omel Maya sambil melipat tangan di dadanya.


Pft Rega menahan tawa, melihat tingkah gadisnya yang merajuk. Dia kembali merengkuh tubuh Maya kemudian menatapnya penuh kelembutan. "Haruskah dikatakan dengan kata kata Maya, harusnya kamu cukup tahu dengan semua sikapku selama ini padamu. "


Maya memutar bola matanya malas, dia sebenarnya sangat malas menjawab pertanyaan dari calon suaminya. "Ya harus dong om, gimana sih! Perempuan itu perlu pengakuan dan juga bukti kali. "


"Iya, Om sayang dan cinta sama kamu, udah puas belum gadis kecil manisku. " ungkap Rega dengan nada serius.

__ADS_1


"Puas hehe. " balasnya sambil nyengir.


❣️❣️


klek Pintu terbuka dari luar masuklah seorang wanita paruh baya bersama anak dan menantunya. Mereka semua langsung duduk di ruang tamu, berhadapan dengan Rega dan Maya. "Ternyata ada tamu rupanya, " jawab Ibu.


Maya hanya memasang wajah datarnya, di hadapan abang dan iparnya. Dia mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan Rega. Rega menghela nafas pelan, lalu kembali menatap Ibu. "Maaf Bibi, saya Rega, datang ke sini ingin meminta restu sama bibi, saya akan menikahi Maya secepatnya.


Ibu langsung menoleh kearah puterinya, Maya malah memalingkan wajahnya kearah lain. Dia sepertinya masih kesal dan kecewa dengan sikap ibunya itu. " Baiklah Ibu merestui kalian berdua. "


"Terimakasih Bibi, satu lagi Maya mulai hari ini akan tinggal di tempat sahabat saya jadi Bibi tidak akan merasa terbebani lagi. " ujar Rega setengah menyindir.


Wanita paruh baya itu menunduk, ucapan Rega menohok hatinya. Maya membisikkan sesuatu di telinga Rega kemudian bangkit dan ke luar lebih dulu. Kevin menatap kepergian adiknya dengan tatapan nanar. "Kalau begitu saya permisi semuanya!


Rega bangkit dan pergi ke luar, semua orang langsung menyusul mereka. Kevin bergegas mendekati calon adik iparnya itu sambil tersenyum. " Tolong jaga Maya dengan baik, selama ini dia tak pernah bahagia di sisi kami!


"Pasti aku akan menjaganya dan memberi kebahagiaan untuknya. " tegas Rega. Diapun masuk ke dalam mobil, Rega tancap gas dan. pergi dari halaman rumah Maya. Ibu menangis tersedu sedu melihat kepergian Maya dari rumah tanpa pamit padanya.


"Sudahlah Bu, lagian selama ini Maya sudah banyak tertekan atas sikap ibu dan aku! ujar Kevin merangkul bahu ibunya. Tangis Ibu langsung pecah dalam dekapan puteri sulungnya, menyesali sikap egoisnya selama ini pada puteri bungsunya.


Di sisi lain Maya menitikkan air matanya, dia sangat mencintai keluarganya tapi dia sudah tidak tahan dengan sikap ibunya yang selalu membandingkan dirinya dengan sang kakak setelah kepergian sang Ayah. Maya dengan cepat menghapus air matanya, dia harus tegar dan selama ini dia tak benci pada sang ibu, hanya kecewa saja saat ini.


" Kamu nanti tinggal di kediaman Nyonya Senja ya sayang, di sana kamu aman dan bisa menganggu kemesraan Tuan dan Nyonya. " candanya.


"Bisa bisa kak Zayn, gantung aku di pohon tauge Om. " balas Maya sambil bercanda.


Merekapun tertawa bersama, Rega bernafas lega melihat calon istrinya tak lagi bersedih. Dia kembali fokus menyetir, sesekali melirik kearah Maya. "Sayang apa kamu benci sama ibu? "


"Enggak lah Om, aku sangat sayang sama ibu dan abang kevin tapi saat ini hanya kecewa saja kok sama mereka!


" Syukurlah kalau begitu,saat pernikahan Mas undang mereka ya boleh 'kan!


"Tentu saja boleh Om, eh cie manggil diri sendiri dengan sebutan Mas, Om pengen di panggil Mas ya sama aku. " goda Maya.

__ADS_1


"Iya dong sayang, aku 'kan calon suami kamu bukan Om kamu. " tegasnya.


bersambung


__ADS_2