
"Mom, lakuin sesuatu pada gadis itu. " ucap Rifa pada sang mommy. Nyonya Alina menenangkan puterinya itu, Rifaya semakin kesal dengan apa yang di lakukan Binar padanya.
"Tenanglah dulu sayang, jangan gegabah. " ujar Nyonya Alina.
"Suruh orang untuk mencari tahu latar belakang gadis itu, setelah itu baru kita pikirkan langkah selanjutnya. "
Rifaya mengikuti perintah mommynya, dia menyuruh seseorang untuk mencari tahu informasi tentang Binar. Setelah itu bangkit dan pergi ke kamarnya setelah mengobati luka di pipinya.
Siang ini Binar datang ke perusahaan Bara, gadis itu di antar asisten Farrel menuju ke ruangan Bara. Setelah mengetuk pintu Binar masuk ke dalam, mengulum senyumnya melihat sang kekasih terlihat serius dengan pekerjaannya. "Hubby. " ucap Binar dengan senyuman nakalnya.
Bara menoleh, terkejut melihat kedatangan Binar. Pria itu beranjak dari kursinya, mendekati sang kekasih dan melingkarkan tangannya ke pinggang Binar. "Katakan lagi sayang, aku mau dengar panggilan tadi!
"Tidak, aku tadi hanya menggodamu saja
mas. " jawabnya sambil tersenyum lebar. Bara mendengus pelan melihat cengiran lebar di wajah kekasihnya.
"Ayo kita makan mas. " Binar menarik tangan Bara lalu duduk di sofa, gadis itu begitu cekatan menyiapkan makan siang yang dia bawa.
"Suapi sayang. " ucap Bara sedikit merengek. Binar tergelak pelan, melihat tingkah lucu Bara dan segera menyuapi bayi besarnya itu. Sambil mengunyah pria itu terus menerus memperhatikan Binar.
"Kamu enggak bosen mas lihatin aku terus? " tanya Binar.
"Enggaklah sayang, lagian aku malah enggak sabar menikah dengan kamu, setiap bangun pagi selalu memeluk dan mencium kamu sayang. " balas Bara sambil tersenyum.
"Gombal!
Selesai menyuapi Bara, gadis itu bersandar di bahu sang kekasih. Binar mengambil ponselnya, membaca pesan dari mami tercintanya. "Dari siapa sayang hm? "
"Dari mami mas, katanya mereka sudah sampai di Maldives. " ujar Binar. Bara hanya mengangguk, terus menciumi pucuk kepala Binar dengan sayang. Bara mengeratkan pelukannya, Binar mengusap lengan Bara yang tengah memeluknya.
"Sayang kita cari cincin yuk sekalian pergi belanja. " ajak Bara. Binar mengangguk, keduanya bangkit dan ke luar melewati para karyawan. Binar hanya diam saat mendengarnya suara bisik bisik tentang dirinya. Gadis itu sungguh terlihat tak nyaman namun dia tak mengatakannya pada Bara, selama perjalanan Binar lebih banyak diam.
__ADS_1
Mereka sibuk memilih cincin untuk pernikahan mereka, setelah menemukan yang cocok keduanya bergegas pergi ke pusat perbelanjaan. Selama di sana Bara tak henti hentinya menggoda Binar dengan sebuah Lingerie, wajah Binar nampak memerah malu mendengarnya.
"Mesum kamu mas!
"Ayolah sayang, kamu pilih yang banyak ya buat kita malam pertama setelah menikah. " goda Bara sambil menaikturunkan alisnya. Binar melototi calon suaminya itu, diapun akhirnya memilih beberapa lingerie yang cukup seksi.
"Dasar duda mesum. " gumam Binar pelan.
Binar segera membawa barangnya ke kasir,lalu Bara langsung membayarnya. Keduanya hendak ke luar namun terhenti setelah mendengar seseorang memanggil nama Bara. Seorang pria yang tinggi dan kulitnya putih,, wajahnya bule datang menemui Binar.
"Kamu Binar 'kan? " tanya pria itu.
"Iya aku Binar. " jawab Binar pelan. Pria itu memekik senang, tanpa ragu memeluk Binar. Bara melotot, mengepalkan kedua tanganya dan rasa cemburu menyeruak dalam dadanya. Tanpa ragu dia langsung menarik pria itu lalu mendorongnya menjauh, kini dia merangkul Binar dengan posesif.
"Kau siapa,kenapa kamu mendorong
aku? "protes pria itu.
"Aku Bara Yuda Aditama, Calon Suami Binar, gadis yang kau peluk. " geram Bara. Pria itu terkejut, menoleh kearah Binar meminta
"Ya Dia adalah Bara, calon suamiku. " jelas Binar singkat.
"Tapi bagaimana bisa Bi, apa kau lupa dengan janjimu dulu padaku saat masih kuliah? "cecar Dika.
"Sebaiknya kita cari tempat untuk bicara
Dika. " tegas Binar.
"Baiklah kita pergi ke Cafeku sekarang. " mereka bertiga pergi dari pusat mall. Menempuh waktu hanya tiga puluh menit, mereka tiba di cafe. Dika masih terkejut sekaligus hatinya hancur, mengetahui gadis yang dicintainya akan menikah dengan pria lain.
"Sejak dulu aku hanya menganggap kamu sebagai teman Dika. " ucap Binar dengan lembut. Dika terlihat sangat kecewa dengan pernyataan Binar barusan, pria itu memegang tangan Binar.
__ADS_1
"Aku kecewa Bi, kenapa kamu memilih dia daripada menunggu aku, selama inj aku berjuang agar bisa bersanding dengan kamu. " gumam Dika dengan lirih.
"Sekali lagi maafkan aku Dika, cinta tak bisa di paksa dan suatu saat kamu pasti menemukan gadis yang lebih baik dari aku. " Binar menarik tangannya dari genggaman Dika. Tanpa banyak bicara Dikapun langsung pergi begitu saja, Binar menatap kepergiannya dengan rasa bersalah. Gadis itu ke luar dari Cafe dan berlari kearah Bara, memeluknya dengan erat.
Sebaiknya kita pulang. " Bara mendorong pelan tubuh Binar lalu masuk ke mobil diikuti gadis itu. selama perjalanan terasa hening, keduanya larut dalam pikiran masing masing. Binar menoleh, menatap lekat wajah calon suaminya itu.
"Apa mas Bara marah sama aku? " tanya Binar dengan hati hati.
"Tidak. " jawab Bara singkat. Binarpun memilih diam, dia tak lagi bertanya pada Bara, dia jelas tahu jika Bara tengah marah padanya. Hingga akhirnya mereka tiba di kediaman orang tua Binar. Sebelum turun Binar menoleh kearah Bara dengan raut sendunya.
"Maafkan aku karena aku buat mas Bara marah, sampai tiga hari ke depan kita jangan bertemu dulu ya mas. Dan mas harus tahu jika mas Bara, pria yang aku cintai. "ucap Binar lirih. Gadis itu segera turun dan mengambil barang barangnya, lalu menutup pintu mobilnya kemudian masuk ke dalam rumah.
"****. " Bara memukul stir, dia menyadari kesalahannya yang cemburu pada Binar secara berlebihan. Bara segera turun dan menyusul kekasihnya ke dalam, dia bergegas menghampiri Binar.
Grep
Dia langsung memeluknya erat, mengatakan maaf pada Binar berulang kali. Binar membalas pelukannya, keduanya berciuman dengan mesra kemudian menyatukan kening mereka.
"Maafkan aku sayang. " sesal Bara sambil mendekap tubuh kekasihnya.
"Iya mas aku paham kalau kamu cemburu melihatku berdekatan dengan Dika, tapi percayalah jika aku cintanya mas Duda. " ucap Binar setengah menggoda Bara. Bara yang awalnya sedih kini tergelak mendengarnya. Di kecupnya seluruh wajah Binar setelah itu berpamitan pulang. Binar senyum senyum sendiri menatap kepergian sang kekasih, dia sudah tak sabar menikah dengan Bara.
Drt
Binar mengambil ponselnya, dia mengernyitkan dahi melihat nomor baru mengirim pesan padanya.
From xxx
Tunggulah kehancuranmu!
__ADS_1
Binar yang ketakutan segera memblokir namanya setelah itu bergegas menuju kamar. Dia mencoba berfikir positif, berharap hanya orang iseng yang menjahili dirinya.
tbc