Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
JMC Part 5


__ADS_3

"Kemarilah dan pijat kepalaku!


What the hell?


Meira melongo mendengar ucapan Aiden barusan, dia semakin jengkel dengan pria di hadapannya yang sok berkuasa. Dengan terpaksa gadis itu bangkit dan memijit lembut kepala Aiden sambil menggerutu tak jelas. Aiden diam diam mengulas senyumnya, menikmati pijitan di kepalanya yang begitu enak dan nyaman.


Setelah satu jam, Aiden menarik tangan gadis itu hingga Meira jatuh di atas pangkuannya. Meira berusaha turun namun Aiden memeluknya erat. "Tuan lepaskan saya, jangan bersikap begini. Saya takut akan ada orang yang salah paham dengan posisi kita ini Tuan!


"Tipe pria apa yang kamu sukai Meira? "


"Hem yang jelas tampan, kaya dan baik yang pastinya Good Man bukan Bad Man seperti anda tuan Aiden. " sindir Meira secara gamblang. Aiden mendengus, merasa tersinggung dengan pernyataan Meira barusan. Dengan wajah datar, pria itu menurunkan Meira di sofa begitu saja. Meira yang melihat sikap Aiden hanya bisa menggeleng, bingung dengan sikapnya yang berubah ubah.


"Hey jangan minum Alkohol Aiden. " Meira mencegah Aiden agar pria itu tidak meminum alkohol. Aiden menepis tangan gadis itu, menuangkan alkohol ke dalam gelas dan hendak meneguknya.


Meira merebutnya, lalu menaruhnya di meja dengan kasar. "Alkohol tidak bagus untuk kesehatan Aiden, kenapa kamu selalu meminumnya jika sedang kesal hah. " omel Meira dengan kesal.


"Jangan sok menasehatiku Mei, Aku tidak butuh!



Prang Meira melempar gelasnya dengan kasar, emosinya meledak meledak menatap kearah Aiden. Gadis itu menarik wajah pria itu, menyatukan bibir mereka berdua. Aiden terkejut dengan tindakan Meira yang begitu berani, pria itu membalas mencecap bibir manis Meira.


Hosh hosh hosh


Meira terengah engah, mencoba mengatur nafasnya yang tersengal sengal. Diapun menangkup sisi wajah Aiden, mematap lekat manik kelam pria itu. "Dengar sebaiknya kamu hentikan kebiasaan burukmu, aku tak berniat ikut campur dalam urusanmu Aiden. Hanya saja Alkohol tidak akan menyelesaikan apa yang tengah kamu alami saat ini. " tegur Meira yang menghilangkan rasa malunya hanya untuk kali ini.


Aiden diam membisu, pria itu mencerna ucapan Meira padanya. Dia mengenggam tangan Meira yang ada di wajahnya, tubuhnya semakin rapat dengan tubuh gadis itu. Meira merasakan gugup, hembusan nafas Aiden menerpa wajahnya.


Cup


Meira mengalungkan tangannya ke leher Aiden, hingga pria itu semakin memperdalam ciumannya. Setelah ciuman itu berakhir, tangan pria itu masih melingkar manis di pinggang Meira. "Apa kau tahu begitu sakit, saat kita berjuang untuk seseorang namun perjuangan kita tak pernah dianggapnya. "


Tangan Meira mengusap lembut dada bidang Aiden yang terbalut kaos polos, dia mencoba menenangkannya yang terlihat emosional. Aiden membuang nafas kasar, ingatan di masa lalu kembali muncul dan itu sangat menganggunya. Ini semua di sebabkan oleh wanita bernama VALERIE, semua perubahan sikap Aiden terjadi karena wanita itu.


"Kamu harus berusaha melupakan masa lalumu Aiden, aku tahu tak mudah tapi aku yakin kamu bisa! Hanya itu yang bisa di katakan Meira, jelas sekali gadis itu tak punya pengalaman dalam hal cinta.

__ADS_1


"Caranya? "


"Ya dengan membuka hatimu untuk gadis lain, tidak semua wanita itu sama Den. Aku yakin kelak kamu akan menemukan wanita impianmu yang kamu inginkan selama ini. "


"Oh ya bagaimana kalau aku carikan saja dari yang muda, perawan, janda sampai nenek nenekpun ada, kamu tinggal pilih aja. " tawar Meira dengan senyuman jahilnya.


Ctak Meira meringis kesakitan, keningnya di sentil keras oleh Aiden, membuat gadis itu merengut. Aiden menatap sinis kearah Meira, kekagumannya pada gadis itu langsung sirna setelah mendengar ucapan Meira yang terakhir.


Memangnya dia pikir aku tidak laku cih


Drt


drt


drt


"Halo Pa ini aku lagi di rumah teman aku, memangnya ada apa? "


(......)


"Aku harus pulang sekarang, kata papa ada temanku yang datang mencari aku. " kata Meira dengan jujur.


"Biar aku antar kamu! Aiden langsung bangkit, menyambar kunci mobilnya lalu berjalan lebih dulu dan mau tak mau Meira menyusulnya. Selama di dalam mobil, Meira merasakan resah mengingat ucapan sang papa mengenai Darren.


Tiga puluh menit berlalu keduanya sampai di kediaman keluarga Fernandez. Mereka langsung turun dan masuk ke dalam setelah pelayan membukakan pintu. Meira berjalan cepat menuju ke ruang tamu, sampai di sna tatapannya bertemu dengan manik cokelat Darren.


"Darren, ada apa kata papa kamu mencari


aku? "


"Duduklah dulu Mei! Meira langsung mendaratkan bokonngnya begitu juga dengan Aiden. Papa Alan berjengit heran, kenapa puterinya pulang bersama putera bungsu dari tuan Adam Liem.


"Begini Meira, aku ingin mengajakmu ke puncak besok, ada proyek yang harus aku kerjakan di sana. Bisakah kamu menemaniku ke sana Mei? " ucap Darren dengan penuh harap.


Mata Aiden berkilat, ada rasa marah terlihat dari manik kelam itu yang tertuju pada Darren. Darren juga melempar tatapan tajamnya pada pria yang bersama Meira. Papa Alan yang pekapun diam diam tersenyum geli, melihat tingkah dua pria dewasa di hadapannya yang merebutkan Meira.

__ADS_1


"Puteri papa tumbuh menjadi gadis cantik yang direbutkan dua pria tampan sama seperti mamanya dulu. " batin papa Alan mengenang masa lalu. Merasakan situsi yang mencekam Meira berdehem cukup keras agar dua pria di depannya tidak saling berseteru.


"Kayaknya aku harus lihat jadwal dulu deh, kalau sudah aku pasti hubungi kamu. " Meira tersenyum tipis pada pria yang dia anggap seperti kakaknya itu.


"Ya sudah aku pamit pulang, jangan lupa kabarin aku. " Darren bangkit, pria itu berpamitan pada ayahnya Meira setelah itu pergi begitu saja.


"Oh ya Papa, Lana di mana? "


"Cucu papa berada di kamar, bermain bersama salah sau maid. " Meira mengangguk angguk, dia melirik Aiden yang kini menatapnya penuh tanya.


"Oh ya sayang, kenapa kamu bisa bersama dengan tuan Aiden nak? "


"Panggil saya Aiden saja paman, biar lebih akrab. Meira adalah pelayan pribadi saya, dia yang menyiapkan keperluan saya. " ungkap Aiden dengan santai. Papa Alan terkejut, pria paruh baya itu melirik kearah puterinya. Meirapun langsung nyengir, memberi kode papanya agar tenang.


"Kalian mengobrolah, Papa akan menyusul cucu papa di kamarnya. " pria paruh baya itu pergi meninggalkan Meira dan Aiden berduaan di sana. Aiden melipat tangannya di dada, menatap lekat Meira meminta penjelasan.


"Katakan siapa pria tadi? suami kamu! "


"Hah, suami? " Meira langsung tergelak mendengar pertanyaan konyol Aiden, raut wajah pria itu berubah masam melihat reaksi Meira.


"Dia Darren Fahreza, mantan suami Alice mendiang sahabatku. Lagian aku dan dia cuma teman kok, Kenapa kamu terlihat kesal begitu Tuan Aiden! Meira menatap curiga kearah Aiden, Aiden sempat salah tingkah dan langsung mengontrol dirinya.


Ehem


"Tidak, aku cuma bertanya saja dan kenapa kamu mau mau saja diajak pria itu. Siapa tahu dia memiliki maksud lain, kamu jangan mudah di rayu pria itu Meira. " dengus Aiden.


"Kalau diapa apain ya tinggal minta di nikahi sama si dudalah haha. " jawab Meira enteng. Aiden semakin melirik sinis kearah Meira yang tertawa. Hatinya begitu panas melihat respon yang di berikan Meira, seakan akan gadis itu mengharapkan hal itu terjadi.


"Tenang aja kali, aku bisa jaga diri jika Darren macam macam tinggal tendang masa depannya hingga impoten. " pungkasnya. Aiden menelan salivanya kasar, membayangkan hal iti terjadi membuat pria itu bergidik ngeri.


Meira menatap Aiden dengan seringainya lalu melirik ke bawah di mana junior Aiden berada sambil berujar. "Mau coba tidak siapa tahu kamu ingin merasakan tendangan mautku!


"Tidak, dasar gadis gila. " maki Aiden sambil mengumpatinya. Meira tergelak, tawanya pecah melihat raut wajah Aiden yang pucat.


tbc

__ADS_1


__ADS_2