Duda Tampanku Yang Seksi

Duda Tampanku Yang Seksi
Season 3 Terjerat Cinta Sang Duda Part 8 - Cemburu


__ADS_3

Kedatangan mantan mertua Bara membuat pria itu membuatnya diam. Bara mengajak Binar untuk duduk,keduanya di hubungi oleh nyonya Vina agar pulang ke kediaman keluarga Aditama.


"Mas kayaknya aku ke kamar saja deh. " bisik Binar di telinga Bara.


"Kau tetap di sini sayang. " tegas Bara tanpa mempedulikan tatapan seseorang yang tertuju padanya.


"Bagaimana kabar kamu Bara? " tanya Tuan Mahen pada mantan menantunya.


"Saya baik om. "


Binar melirik kearah seorang gadis yang memperhatikan Bara dengan lekat, sontak membuatnya kesal. Adrian kini berada di pangkuan kakek dan neneknya. "Kakek, Adli inin belcama mommy. " ujar Adrian menunjuk kearah Binar.


"Tapi kakek rindu sama Adri. " bujuk Tuan Mahendra pada sang cucu.


Adrian menggeleng, dengan mata berkaca kaca bocah itu menunjuk kearah Binar. Tuan Mahen mengalah, menyerahkan cucunya itu pada Binar. Adrian memeluk erat kearah mommynya itu, Binar mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Bocah tampan itu tampak anteng dalam pangkuan Binar, seseorang menatapnya tak suka.


"Siapa dia sebenarnya, bagaimana bisa ada di keluarga Aditama? "


"Mommy, Ayo main dilual. " ajak Adrian sambil merengek. Binar langsung meminta izin, membawa Adrian ke luar. Gadis bernama Rifaya itu langsung mengikuti Binar, merasa penasaran dengan sosok Binar.



Visual Rifaya Laurinda


"Siapa kamu, kenapa kamu berada di mansion keluarga Aditama? tanya Rifaya ketus. Binar memberikan mobil mainan untuk Adrian, menyuruh puteranya bermain. Gadis itu menoleh dan sedikit menjauh dari puteranya, Rifa hanya berdecak pelan melihat tingkahnya.


"Aku Binar Almahyra Liem, kalau kamu siapa? " tanya Binar dengan senyuman manisnya.


"Rifaya Laurinda itu namaku, aku sudah mengenal Bara sejak kami kuliah dan kau hanyalah orang asing di sini, jadi sadar dirilah!Rifaya menyenggolnya, pergi meninggalkan Binar. Binar hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya itu, gadis itu kembali bermain dengan Adrian.


Grep


"Eh mas Bara. " Binar mengulum senyum manisnya,melihat sepasang tangan kekar memeluk perutnya.

__ADS_1


"Kok kamu ke sini mas, bukankah masih ada tamu. "


"Malas sayang apalagi Rifa terus menerus mendekati ku, membuatku Risih saja. " keluh Bara sambil menopang dagunya di bahu Binar. Binar tergelak mendengarnya, dia menoleh kearah Bara dan meledeknya.


"Bukankah Rifa gadis yang manis mas, harusnya mas Bara senang donk. " goda Binar sambil menaikturunkan alisnya.


Bara merengut kesal, Binar tertawa melihatnya merajuk. Dia mengusap lengan Bara agar dia meredakan kekesalannya itu. "Lebih manis kamu sayang, sudah cantik, manis, baik dan tubuh kamu seksi seperti gitar spanyol. " bisik Bara sambil mencium telinga Binar.


"Mas Bara ish. " Binar mengerucutkan bibirnya, Bara yang melihatnya merasa gemas. Mereka kembali fokus pada Adrian yang asyik bermain, Binar membawa Adrian ke pangkuannya.


"Kau sudah pantas jadi seorang ibu sayang, nyatanya Adrian selalu diam saat bersama kamu. " gumam Bara. Binar menanggapinya dengan senyuman, dia tidak ingin Adrian seperti dirinya saat kecil merasakan kurangnya kasih sayang orang tua, oleh sebab itu dirinya begitu mencurahkan kasih sayangnya pada si tampan Adrian.


"Karena aku tak ingin nasib Adrian sama sepertiku mas, daddyku meninggal saat aku masih bayi. " Binar mengatakan alasan dirinya bersedih kemarin, Bara yang mendengarnya ikut merasakan sedih. Dikecupnya kening Binar dengan penuh kasih sayang.


"Aku bangga sama kamu, kamu gadis yang kuat sayang, jangan bersedih lagi, Aku dan Adrian adalah keluargamu sekarang. " Binar mengangguk, bersandar di dada Bara, keduanya tertawa mendengar celotehan Adrian.


"Mi, mommy angan cedih, Adli ikut cedih lihatnya. " ucap Adrian dengan polos.


"Iya sayang, mommy janji tidak akan sedih


"Geli mom. " gumam Adrian sambil tertawa kecil. Bara dan Binar ikut tertawa, Hati Bara menghangat seakan melihat keluarga kecil jika mereka bertiga, beserta adik Adrian kelak. Membayangkan hal itu membuat Bara senyum senyum sendiri.


##


Melihat kemesraan Bara dan Binar, membuat Rifa mengepalkan tangannya. Gadis itu begitu cemburu melihat pria pujaannya bersama gadis lain.


"Bara kamu tega, kenapa kamu begitu memilih gadis itu daripada aku. " gumam Rifa merasa sakit hati akan sikap Bara yang tak pernah mempedulikan dirinya. Rifa menitikkan air matanya, hatinya sangat sakit sekaligus cemburu melihat sikap Bara pada Binar. Dengan cepat menghapus air matanya kasar, berusaha menahan gemuruh dalam dadanya melihat pemandangan menyesakkan itu.


Dengan tekad bulat Rifa menghampiri Bara dan Binar. "Bara. " panggil Rifa sambil tersenyum. Seketika Bara menoleh diikuti Binar, Rifa menghela nafas panjang.


"Tadi aku naik taksi Bara, bisakah kau mengantarku pulang, sekalian aku ingin bicara padamu. " pinta Rifaya sambil memohon. Bara melirik kearah Binar, Gadis itu menanggapinya dengan senyuman kemudian mengangguk.


"Daddy antar rante Rifa dulu ya boy. " ucap Bara pada puteranya.

__ADS_1


"Jangan lama lama Daddy. " ucao Adrian


Bara mengangguk, pria itu mencium kening puteranya lalu kening dan bibir Binar setelah itu pergi bersama Rifaya. Binar menatap kepergian mereka dengan raut tak bisa diartikan.


Binar POV


Benarkah aku jatuh cinta sama mas Bara? Melihat Bara bersama Rifa entah kenapa seakan tidak rela, aku begitu cemburu melihat mereka berduaan. Aku tahu aku baru mengenal mas Bara selama dua tahun hanya sebagai atasan dan sekertaris. Tapi setelah merasa nyaman dan semenjak mas Bara mengatakan rasa cintanya, aku merasa takut kehilangan dirinya. Apa aku salah dengan perasaan ini pada mas Bara, jelas jelas aku mencintai mas Bara seutuhnya. Hatiku sakit melihatnya bersama gadis lain, meski dirinya tahu jika mas Bara hanya menganggap Rifa sebagai teman.


"Sudah sore ayo kita masuk ke dalam. " Binar mengendong puteranya, membawanya ke dalam mansion. Adrian terus berceloteh, Binar tertawa melihat ocehan puteranya itu.


Di sisi lain Bara sampai di depan apartemen milik Rifaya. Keduanya turun dari mobil, Rifa segera menubruk tubuh Bara, Bara terkejut dengan tindakan yang dilakukan Rifaya. "Rifa, apa apaan kau kenapa kau memelukku seenaknya. " Bara berusaha melepas pelukan Rifaya, gadis itu mengeratkan pelukannya.


Bara yang kesal mendorongnya dengan keras hingga pelukan Rifa terlepas. "Aku mencintai kamu Bara, kau dengar aku mencintaimu!


"Lalu aku harus apa? "


"Aku ingin menjadi kekasihmu Bara. " ujar Rifa dengan tatapan memohon.


"Maaf Rifa aku tidak bisa, aku hanya menganggap kamu sebagai teman. " tegas Bara. Rifa hendak meraih tangannya, namun Bara menepisnya kasar.


"Tapi Bara.. "


"Cukup, aku tidak mau dengar hal ini lagi. " Bara berbalik melangkah masuk ke dalam mobil,melajukan roda empatnya dengan kencang. Bara menatap nanar kepergian pria yang sangat dia cintai itu.


"Bara. " teriak Rifa frustrasi. Tubuhnya lunglai ke tanah, gadis itu menangis histeris terngiang penolakan Bara padanya. Rifa sangat sakit hati, selama ini dia meyakini jika Bara juga menyukainya ternyata dirinya salah, setelah kepergian mantan istri Bara. Rifa selalu mendekatinya, namun selalu usahanya berakhir dengan penolakan.


"Hiks Bara, kenapa kau kejam Bara, kenapa!


"Aku membencimu Bara, Aku benci!


Rifa terus mengamuk, melampiaskan rasa kecewanya dan sakit hati akan penolakan Bara. Ternyata usahanya selama ini hanyalah sia sia, bagaimana mungkin Bara menolaknya sekejam ini setelah apa yang selam ini dia lakukan untuk pria itu.


"Sialan. " makinya dengan keras.

__ADS_1


"Ini semua pasti karena kehadiran gadis asing itu hingga Bara menolaknya seperti ini. " desis Rifa dengan nada sinisnya.


tbc


__ADS_2